MANAGED BY:
SABTU
16 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 28 November 2018 10:15
Haekal, Mahasiswa Penjual Es Mambo di UIN Antasari
LAYANI PEMBELI: Es mambo yang dijajakan Muhammad Fiqri Haekal tergolong laku. Yang menjadi pelanggannya didominasi oleh mahasiswi.

PROKAL.CO, Jika kebanyakan mahasiswa cuma menunggu kiriman uang dari keluarga di kampung halaman, lain halnya dengan Muhammad Fiqri Haekal. Dia justru berani berjuang menafkahi hidupnya sendiri. Inilah kisahnya.

WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Memakai kemeja motif kotak-kotak berlengan panjang dan celana kain berwarna hitam. Haekal berjalan di lorong-lorong Fakultas Pendidikan dan Guru, Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin. Dia menyinggahi tiap ruangan untuk menjajakan es mambo dagangannya.

Pundak sebelah kirinya tampak miring lebih rendah. Pundak kanannya mencoba menahan berat termos nasi yang diisi penuh es mambo. Besarnya hampir sama seperti galon yang berisi 19 liter.

Sesekali, Haekal tampak berhenti berjalan. Sekadar meregangkan bagian tubuhnya agar tak terasa penat.

Tak ada rasa genggsi yang tersirat di wajah Haekal. Sebaliknya, ia tampak bersemangat. Terlihat dari senyumnya yang mengembang ketika satu persatu mahasiswi mengerumuninya untuk membeli es mambo.

Seperti itulah keseharian pemuda kelahiran 9 Oktober 1999 itu. Senin hingga Jumat, waktu istirahat kuliah, ia gunakan untuk berjualan es mambo. Bisnis kecil ini baru saja ia jalankan.

Ia mengaku tak peduli terhadap penialaian orang lain. Yang ia lakukan, hanya sebatas berusaha dan berjuang, agar bisa menghidupi kebutuhan dia dan keluarganya di rumah. “Jualan es mambo, baru jalan tiga pekan ini. Awalnya sih minder. Tapi sudah jadi biasa saja,” tuturnya.

Berjualan bukan menjadi hal baru bagi anak kedua dari tiga bersaudara ini. Sebelum berstatus sebagai mahasiswa semester pertama jurusan Pendidikan Matematika, ia juga menjajakan es mambo dan berjualan pulsa saat SMA.

“Yang menyarankan ibu guru di sekolah. Saya mendapatkan dukungan dari beliau dan mendapatkan modal awal. Karena saat itu, saya baru ditinggal ayah saya yang wafat,” ujarnya.

Haekal tinggal di Jalan Kelayan B, Gang Kurnia, Nomor 5, Rt 2 Rw 1, Kelurahan Kelayan Timur, Banjarmasin Selatan. Bersama ibu dan seorang adik perempuan yang kini duduk di bangku kelas III SMA.

Ibunya bernama Raisyah. Seorang ibu rumah tangga yang kini cuma mengandalkan uang pensiun almarhum suaminya untuk menafkahi ketiga anaknya. “Kakak saya laki-laki. Sekarang sedang menempuh pendidikan S2 di Universitas Negeri Yogyakarta,” ucapnya.

Terenyuh ingin meringankan beban orang tua, Haekal pun memutuskan untuk mencoba peruntungan dengan berdagang. Pilihan untuk menjual es mambo, karena menurutnya cepat laku.

Selain itu, modalnya juga tergolong cukup ringan. Selama berjualan, dalam sehari, Haekal mampu menjual lebih dari 50 es mambo. Harganya Rp2.000 per potong.

“Jualan pas istirahat saja. Bila waktu belajar, termos nasi berisikan es mambo ini juga saya masukkan ke kelas. Selesai mata kuliah, saya tawarkan. Alhamdulillah, yang beli enggak hanya mahasiswa, tapi juga ada dosen,” ucapnya seraya tersenyum.

Es mambo yang dijual Haekal punya berbagai varian warna dan rasa. Ada yang rasa biskuit oreo, susu, bubur kacang, hingga rasa buah. Semuanya ia olah sendiri di rumahnya.

Wajahnya yang rupawan dan murah senyum, makin menambah nilai tersendiri. Tak heran jika pembeli didominasi kalangan mahasiwi.

Tak cukup membeli satu es mambo, bahkan ada pula yang membeli beberapa. “Mungkin karena rasa es yang manis. Makanya banyak mahasiswi yang suka,” ujarnya, terkekeh.

Jika Senin hingga Jumat ia manfaatkan untuk berjualan, waktu luang Sabtu dan Minggu ia gunakan untuk membuat es mambo. “Sabtu dan Minggu kebetulan enggak ada jadwal kuliah," katanya.

Haekal membuat semuanya sendiri. Mulai dari mencari bahan ke pasar hingga mengolahnya menjadi es. Kecuali untuk rasa bubur kacang.

Seperti halnya pedagang lain, Haekal tentu juga ingin menuai sukses. Jika lancar, ia berniat memperluas area jualannya ke fakultas lain.

Hasilnya, selain untuk membantu biaya hidup di rumah dan biaya kuliah, dia juga pengin menabung untuk membeli lemari es yang baru serta sepetak tanah sebagai aset. “Doakan saja semoga lancar,” harapnya.

Begitulah cerita singkat Haekal. Penjual es mambo di UIN Antasari ini menjadi perbincangan mahasiswa di kampus. Banyak yang memujinya. Salah satunya Dessy Jayanti.

“Di tengah paradigma mahasiwa yang suka berbangga diri dengan jerih payah orang tua, saya dibuat kagum dengan sosok Haekal. Ia menjadi inspirasi serta motivasi agar para mahasiswa tak mudah patah semangat. Apalagi berkecil hati untuk bisa menghasilkan sesuatu yang lebih baik,” tutur mahasiswi semester lima, jurusan Bahasa Inggris itu. (war/at/nur)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*