MANAGED BY:
MINGGU
16 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Kamis, 29 November 2018 10:18
Dipertemuka Rasa Perduli Sosial, Kisah Relawan Asal Banua
BERBAGI PENGALAMAN: Wahyu Ramadhan, Rima Nur Anjani dan Alvina Rahmah (dari kiri ke kanan) dalam Ngobrol Kemanusiaan di aula Rektorat ULM, kemarin sore. Dengan peran berbeda, mereka berupaya membantu daerah-daerah bencana seperti Lombokdan Palu.

PROKAL.CO, Beberapa orang dikaruniai dosis kepedulian berlebih. Ketika mendengar berita bencana alam, memanjatkan doa atau menyumbangkan recehan dirasa belum cukup. Mereka ingin terjun langsung demi membantu korban.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

RIMA Nur Anjani adalah mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Lambung Mangkurat. Sementara Alvina Rahmah baru lulus kuliah dan kini berprofesi sebagai guru.

Sedangkan Ariyanto adalah mantan Presiden BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) ULM yang bekerja di sebuah media online di Banjarmasin. Terakhir adalah Wahyu Ramadhan, pewarta foto harian Radar Banjarmasin.

Keempatnya datang dari latar belakang berbeda. Tapi disatukan oleh minat yang sama: daerah bencana. Rima, Ariyanto dan Wahyu baru saja pulang dari Palu, Sulawesi Tengah. Sedangkan Vina dari Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Negeri ini memang sedang dirundung duka. Bencana datang susul-menyusul. Pada akhir Juli, Pulau Lombok digoncang gempa berkekuatan 6,4 Mw.

Lombok belum pulih, giliran Palu yang dihajar gempa berkekuatan 7,4 Mw pada akhir September. Gempa itu bahkan dibarengi bencana tsunami dan likuifaksi.

Mereka tidak berangkat barengan, tapi dibantu oleh pihak yang sama. Yakni Aksi Cepat Tanggap (ACT) dan Masyarakat Relawan Indonesia (MRI).

"Apa bedanya ACT dan MRI? ACT adalah lembaga penggalangan dana. Sedangkan MRI adalah lembaga kerelawanannya," jelas Retno Sulisetiyani dari ACT Kalsel.

Keempatnya kemudian diundang dalam NgoKem (Ngobrol Kemanusiaan) di Aula Rektorat ULM, kemarin (28/11) sore. Untuk berbagi pengalaman kepada mahasiswa.

"Sulit menggambarkan skala kerusakannya dengan kata-kata. Ketika saya pulang, masih ada 11 ribu pengungsi tertahan di tenda. Orang Kalimantan harus bersyukur. Mereka tak pernah menghadapi bencana seperti gempa," ungkap Ariyanto.

Dia dan Wahyu membuat peliputan selama empat hari. Menyusuri Palu, Sigi dan Donggala. Wahyu mengaku terkesan dengan kearifan lokal masyarakat setempat. Bangunan yang roboh rata-rata berkonstruksi modern dengan pondasi menempel ke tanah.

"Sedangkan rumah adat dengan pondasi panggung, tak mengalami kerusakan berat. Kesimpulannya, orang-orang tua zaman dulu lebih awas dan siap dalam menghadapi bencana gempa," jelas Wahyu.

Apa hal paling utama yang dibutuhkan untuk peliputan bencana? Jawabannya bukan peralatan, melainkan empati. "Harus berempati kepada korban. Meski ingin, Anda tak bisa berselfie di depan bangunan-bangunan yang hancur. Warga sekitar bakal sakit hati melihatnya," tegas Wahyu.

Yang paling awal berangkat adalah Rima. Dia pula yang paling pulang belakangan. Gadis berkacamata itu tiba di Palu sepekan setelah bencana. Posko yang ditempatinya pun baru saja dibentuk. Rima pula satu-satunya relawan perempuan di sana.

"Antara bayangan dan kenyataan di lapangan jauh berbeda. Ternyata banyak hoax. Ada cerita-cerita seram yang terlalu dibuat-buat. Contoh, posko saya itu terbilang nyaman untuk ditiduri," kisahnya.

Namun, bukan berarti tugasnya menjadi lebih mudah. Ketika mendaftarkan diri menjadi relawan, Rima memilih penugasan administrasi posko dan pemulihan trauma korban.

"Setiba di sana, tak bisa memilih-milih pekerjaan. Apa saja yang membantu dikerjakan. Dari mengurusi dapur umum sampai distribusi logistik," tukasnya.

Rima berada di Palu selama satu bulan penuh. Dia bahkan sempat meminta perpanjangan masa penugasan. "Mungkin saya terlanjur betah," ujarnya dengan nada setengah berguyon.

Pernyataan Rima dibenarkan Vina. Sebagai guru, mulanya dia memilih penugasan pemulihan trauma. Targetnya adalah anak-anak yang rumah dan sekolahnya hancur. Atau bahkan menjadi yatim karena orang tuanya turut dalam daftar korban.

Namun, Vina tak bisa mengelak saat diminta membantu distribusi logistik kemanusiaan. "Ada satu lokasi yang jalur daratnya putus. Mustahil untuk dilewati kendaraan. Saya kemudian ikut berjalan kaki memanggul beras sejauh dua kilometer untuk menembus lokasi tersebut," ujarnya.

Keempatnya sepakat. Bahwa pemberitaan tentang Lombok dan Palu mungkin sudah surut. Media nasional telah berpindah ke isu-isu baru yang lebih seksi. Tapi bukan berarti daerah-daerah bencana itu sudah benar-benar pulih. "Donasi tidak boleh dihentikan," pungkas Ariyanto. (fud/at/nur)


BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .