MANAGED BY:
RABU
19 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 01 Desember 2018 13:11
Perjuangan Ibu Dua Anak yang Hidup Bersama HIV/AIDS
TEGAR: IP usai wawancara di kantor Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Kalsel Global Found, di Banjaramsin, Jumat (30/11).

PROKAL.CO, Fenomena diskriminasi para Orang Dengan HIV/AIDS sering terjadi. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang penyakit ini membuat penderita virus berbahaya ini sering dikucilkan. Itu pula yang dirasakan oleh wanita berinisial IP, ibu muda dengan dua putra.

ENDANG, Banjarmasin.

Perempuan berusia 28 tahun yang tinggal di kawasan Banjarmasin Utara ini positif mengidap Human Immunodeficiency Virus (HIV).

Usahanya melawan virus, stigma negatif di masyarakat dikisahkannya dengan tegar kepada Radar Banjarmasin, Jumat (30/11) kemarin di kantor Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Kalsel Global Found.

Bermula sekitar tahun 2006 silam. Saat suami pertamanya didiagnosa HIV. Dia belum tahu bagaimana suami tercinta yang menikahinya tahun 2004 itu terkena.

Ternyata lewat jarum suntik narkoba jenis putaw. “Saya tahu suami saya pengguna narkoba suntik (Penasun), tapi saya tidak tahu kalau dia kena HIV/AIDS lewat situ,” tuturnya.

Semenjak didiagnosa positif, kondisi kesehatan suami IP mengalami penurunan drastis. Pengobatan medis diupayakan, namun tetap tak ada perubahan. Hingga akhirnya meninggal dunia.

Virus tersebut dengan kejam menggerogoti tubuh suaminya. Hal ini membuat IP khawatir, jangan-jangan ikut tertular. Apalagi setelah merasakan kondisi tubuhnya yang sangat mudah merasa lelah. Dia lantas berinisiatif untuk memeriksakan diri.

“Dua kali tes pada tahun 2007, pertama hasilnya negatif, tes kedua ternyata hasilnya positif,” tuturnya sedih.

Tahu positif, IP sedih, tapi ia tidak marah dengan almarhum suaminya. Meski sudah mulai berobat, kekhawatiran tetap menghantui.

Setiap kali bangun tidur dia selalu terpikir apakah dirinya masih bisa hidup dengan penyakit sangat ganas ini. Sementara putranya masih kecil dan perlu kasih sayang orangtua.

Semula tidak ada yang tahu mengenai penyakitnya ini. Hanya beberapa orang teman saja dan kakak yang diberitahu. Sementara ayahnya belum. Atas saran dari teman di sekolah tempatnya mengajar, dia pun memberitahukan kepada bapaknya.

“Semula takut diusir, karena saya tinggal di rumah bapak, ternyata setelah bapak dengar pengakuan saya, beliau yang suport agar saya menjalani pengobatan,” katanya.

Kepercayaan dirinya kembali bangkit. Tahun 2008, dia mulai menjalani pengobatan atau disebut terapi Antiretroviral (ARV). Pengobatan ini harus dilakukannya seumur hidup. Setiap hari, IP harus minum dua kali, sekali minum 2 butir.

ARV berguna untuk mengurangi risiko penularan HIV, menghambat infeksi oportunistik, meningkatkan kualitas hidup penderita HIV, dan menurunkan jumlah virus (viral load) dalam darah sampai tidak terdeteksi.

“Efek samping ARV setiap ODHA itu berbeda-beda, ada yang seminggu, sebulan atau berbulan-bulan. Bisa sampai enggak bisa bangun,” jelasnya.

Meski terus menjalani pengobatan, ternyata sekitar tahun 2011, kondisi kesehatan IP menurun. Hasil pemeriksaan, dia pastikan terkena infeksi opurtunistik, TB Kelenjar dan TB Herves.

Disitu dia lagi-lagi mengalami cobaan. Kondisinya yang menurun membuatnya harus dibawa ke rumah sakit. Padahal dia ingat betul, petugas medis di salah satu rumah sakit di Banjarmasin tempat suaminya di rawat pada masa itu tidak memberikan pelayanan bagus. Cenderung diskriminasi. Tentu ini membuatnya trauma.

Ingat ini, ketegaran IP pun luluh, air matanya mengalir. Tapi ia tetap mampu meneruskan kisahnya. Sebagaimana ia mampu melanjutkan perjuangan hidup setelah peristiwa itu.

Mendapat dorongan dari sanak saudara dan beberapa teman, dia pun akhirnya mau di bawa ke rumah sakit dan dirawat. Apa yang ditakutkan IP ternyata juga menimpanya. Bukan hanya perawat saja melainkan juga dokter.

Tetapi, dengan dukungan keluarga, teman-teman serta Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang juga menderita ODHA, IP terus menjalani pengobatan.

Hal lain yang membuat IP sempat sedih adalah sikap kerabatnya, tante dan sepupu yang menjaga jarak. “Sampai acara keluarga saja, saya tidak pernah diundang lagi,” tuturnya sedih.

Perlahan kesehatannya mulai membaik. IP kembali dapat beraktivitas seperti masyarakat umumnya. Bekerja, di sebuah lembaga pendidikan. Sampai suatu ketika, dia kembali menjalin hubungan kasih dengan seorang pria. Dan memutuskan untuk menikah.

Kebetulan lelaki yang akan menikahinya juga ODHA. Lelaki itu adalah sahabat waktu kecil. Keputusannya untuk menikah sempat ditolak keluarga. Namun setelah diberikan penjelasan, baik pihak orangtua suami maupun bapaknya merestui hubungan keduanya.

Meski setelah resmi menikah dia dan suami sepakat tidak akan mempunyai anak, ternyata Tuhan berkata lain. IP ternyata positif hamil.

Dia rutin melakukan cek dengan dokter kandungan khusus menangani pasien sepertinya. Namun perasaan waswas tetap saja ada. Karena itu, ketika akan lahiran, dia pun memutuskan tidak lagi di rumah sakit yang pernah merawat suaminya.

Pemikiran IP ternyata salah, maksud hati ingin mencari rumah sakit alternatif yang mau memberikan pelayanan terhadap pasien ODHA, malah sebaliknya. Dokter di rumah sakit itu malah merujuknya ke rumah sakit tempat dimana suaminya dirawat dulu.

“Yang membuat sakit hati, dokternya bilang tidak melayani pasien seperti saya, sakit hati rasanya,” ucapnya.

Karena waktu kelahiran semakin dekat, dia hanya bisa bersabar dan berusaha bertahan sekuat tenaga demi bayi yang di kandungnya.

Setibanya di rumah sakit yang dirujuk, dimana rumah sakit itulah suaminya mendapat perlakuan diskriminasi pelayanan kesehatan, dia menduga akan mendapatkan perlakuan serupa.

“Ternyata rumah sakit itu sudah melakukan pembenahan, saya malah dilayani dengan baik, mereka melayani dengan tim yang sudah terlatih, pelayanan juga cepat,” ucapnya.

Sekarang, sepeninggal suami keduanya yang juga tiada, IP semakin tegar meniti hidup, demi dua buah hati yang sekarang berusia 14 dan 6,5 tahun. Apalagi ternyata, Tuhan telah menghindarkan keduanya dari HIV/AIDS. ***


BACA JUGA

Selasa, 18 Desember 2018 12:40

Perjuangan Rosyadi Mengenalkan Gua Limbuhang Haliau ke Publik Wisata

Sepekan usai Muhammad Rosyadi beserta sejumlah pemuda desa meresmikan objek…

Sabtu, 15 Desember 2018 12:50

Sisi Lain Pelatih Tinju kalsel, Arbain

Menjadi pelatih tinju rupanya bukan satu-satunya pekerjaan yang digeluti oleh…

Sabtu, 15 Desember 2018 09:55

Berawal Ketiadaan Toilet Buat Kencing, Berdirilah Galeri Unik Ini

Apa yang dilakukan oleh warga RT 05 RW 02 Kelurahan…

Jumat, 14 Desember 2018 14:46

Moses Sulap Puing Kayu Menjadi Seni Bernilai Tinggi

Beri Moses Foresto puing-puing kayu, dia bisa menjadikannya apa saja.…

Kamis, 13 Desember 2018 13:20

Bekali Santri Keterampilan Untuk Hadapi Tantangan Zaman

Nyantri bukan melulu tentang ngaji. Di Pondok Pesantren Nurul Muhibbin,…

Sabtu, 08 Desember 2018 11:45

Tidak Mudah, Honorer Ini Pantau CCTV di Menara Pandang Hingga Larut Malam

Di depan layar monitor yang lebarnya tak lebih lebar dari…

Sabtu, 08 Desember 2018 09:03
Kisah Bocah-bocah Penjual Buku Mewarnai di Banjarmasin

Demi Sesuap Nasi Mereka Sampai Dikejar-Kejar Satpol PP

Mobil partoli Satpol PP Kota Banjarmasin melintas di perempatan Jalan…

Jumat, 07 Desember 2018 11:31

Jejak Laskar Pelangi di Banua (2)

Belajar di gudang kecil kadang membuat siswa SD Dusun Munggu…

Kamis, 06 Desember 2018 13:02

Jejak Laskar Pelangi di Banua

Hanya 12 siswa dan satu gedung kecil. Tapi mereka semangat…

Rabu, 05 Desember 2018 12:25

Gol A Gong Berbagi Motivasi ke Penulis Muda Balangan

Yang mengalami masa remaja di era 80’ dan 90’ an,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .