MANAGED BY:
RABU
27 MARET
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 08 Desember 2018 09:03
Kisah Bocah-bocah Penjual Buku Mewarnai di Banjarmasin
Demi Sesuap Nasi Mereka Sampai Dikejar-Kejar Satpol PP
DEMI PERUT: Bocah-bocah ini sadar, bahwa melanggar aturan. Tapi apa boleh buat, mereka tak punya pilihan selain berjualan buku.

PROKAL.CO, Mobil partoli Satpol PP Kota Banjarmasin melintas di perempatan Jalan Jenderal Sudirman. Tiga bocah tiba-tiba bergegas mengambil langkah seribu. Seorang lainnya memilih bersembunyi di antara deretan kendaraan yang berhenti menunggu lampu merah.

WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Empat bocah ini adalah Fajrul, Ikhsan, Rizki dan Rahmat. Keempatnya berjualan buku mewarnai di kawasan tersebut. Bagi mereka perempatan Jenderal Sudirman itu bagaikan zona pertemupran.

Umur paling tua dari bocah-bocah ini 12 tahun. Sedangkan yang termuda baru berusia 10 tahun. Tiga di antara mereka masih berstatus siswa SD. Cuma Fajrul yang sudah SMP. Keempatnya tinggal di daerah yang sama, di Kelurahan Kelayan, Banjarmasin Selatan.

Kenapa nama bocah-bocah ini tak disamarkan? Karena mereka bukan pelaku kriminal, korban kekerasan seksual ataupun kejahatan. Keempatnya juga tidak melakukan perbuatan memalukan.

Kamis (6/12) tadi, empat sekawan itu menjajakan buku mewarnai. Mereka menghampiri satu per satu pengendara yang berhenti di lampu merah. Tanpa memaksa, ataupun meronta agar dibeli.

Mereka sudah menjalankan aktivitas itu setahun ini. Rutin enam hari dalam sepekan, dimulai dari siang, hingga sore hari.

Selain buku, tak ada dagangan lain yang dijual. Harganya tak dipatok, alias sukarela. Berapapun uang yang diserahkan si pembeli, pasti mereka terima. Tak sedikit pengendara tertarik untuk membeli dagangan mereka. Apalagi yang membonceng anak-anak.

“Kalau uang yang dikasih lebih dari modal awal kami beli buku, kami kasihkan kembaliannya. Kalau kurang dari modal, enggak apa-apa. Suka rela saja om,” ujar Ikhsan. Dalam sehari mereka berempat mampu membawa pulang masing-masing Rp50 ribu hingga Rp150 ribu.

“Aku dapat Rp47 ribu om. Kalau kamu berapa Ikhsan,” lanjut Rizki, sembari menolehkan wajahnya kepada Ikhsan. Bocah berkaus merah muda itu sudah mendapat Rp60 ribu dari buku yang ditawarkannya.

Saat dihampiri, kedua bocah ini memang sedang asyik menghitung uang hasil penjualan. Dari senyum mereka yang mengembang, tampaknya hasil jualan cukup memuaskan.

Dari mana buku-buku mewarnai itu didapat? Fajrul mencoba menjelaskan. Mereka membelinya di pasar, seharga Rp900. Kemudian dijual seberapa pun nilainya.

“Selain itu, rata-rata yang beli pasti menghargai lebih dan tak mau menerima kembalian. Ada pula yang enggak mau mengambil buku gambar, alias langsung memberikan sejumlah uang,” ungkapnya.

Sebenarnya, Fajrul dkk tak cuma berjualan di kawasan perempajan Jenderal Sudirman. Tapi juga pada beberapa titik lainnya yang terpasang traffic light. Alasannya, karena dianggap cepat laku untuk berjualan.

Berjualan di lampu merah, bukan tanpa risiko. Selain berpotensi terserempet pengendara, mereka juga berhadapan dengan Satpol PP. Yang datang melaksanakan tugas razia. Kalau sudah begitu, terpaksa harus menghindar.

“Pokoknya kalau ada tanda-tanda mereka (Satpol PP, Red) berhenti, kami langsung lari atau bersembunyi,” cerita Rahmat. Dia memang belum pernah terjaring razia.

Berbeda dengan Ikhsan dan Fajrul. Keduanya sudah punya pengalaman terjaring. Barang dagangan mereka disita.

“Kalau uang hasil jualan, biasanya saya simpan di sini. Enggak ketahuan, dan aman,” ujar Ikhsan, sembari memperlihatkan kantong kresek berisikan uang yang diselipkannya di dalam celana.

Bagaimana dengan Fajrul? Dia rupanya sedikit nekat. Dirinya pernah melakukan perlawanan dengan mempertahankan barang dagangannya. Ia pun harus berkali-kali merasakan berada di rumah singgah.

Fajrul sadar. Apa yang mereka lakukan, melanggar aturan. Tapi dia tak punya pilihan.

“Kami tau, kalau kami berjualan di tempat yang salah. Tapi mau gimana lagi om, kami juga perlu uang buat makan. Kami bukan minta-minta,” tuntas bocah yang kini hidup sebatang kara itu.

Cuaca yang silih berganti, menerobos hujan ataupun menahan terik matahari plus debu jalanan, tak mengurangi semangat keempat bocah tersebut. Justru sebaliknya, mereka tampak riang gembira menawarkan dagangan kepada pengendara. Menawarkan ketika lampu merah menyala, menyingkir saat nyalanya berganti menjadi hijau.

Di kota sudah berusia 492 tahun ini, pemandangan seperti itu mudah ditemui. Yang membedakan, hanya profesinya saja. Ada yang mengamen, berdagang, bahkan meminta-minta.

Kepala Seksi Operasi dan Pengendalian Satpol PP dan Damkar Banjarmasin, Hendra mengaku pihaknya gencar melalukan penanganan. Berupa patroli serta razia. Sanksi yang diberikan pun beragam. Mulai memberikan teguran, peringatan hingga membuat surat pernyataan.

“Alasan mereka yang masih ngeyel selalu sama. Faktor urusan perut. Hal itulah yang membuat mereka tidak jera. Biasanya, kalau sudah berkali-kali terjaring, mereka kami serahkan ke Rumah Singgah yang dikelola oleh Dinas Sosial Kota Banjarmasin, untuk penanganan lanjutan,” ujarnya.

Bocah-bocah itu, bekerja demi perut. Sedangkan Satpol PP, merazia karena tugas. Keduanya tak bisa disalahkan. Sejauh ini lembaga maupuun instansi terkait sedang berupaya. Mencari formula terbaik untuk mengatasi fenomena tersebut. (war/at/nur)


BACA JUGA

Minggu, 24 Maret 2019 07:59

Berbincang dengan Julita Intan Sari, Peserta Masterchef dari Banjar

BANJARMASIN -- Julita Intan Sari atau akrab disapa Lita, saat…

Jumat, 22 Maret 2019 14:50

Kala Jeruji Besi Tak Menyurutkan Niat untuk Belajar

Pendidikan adalah hak semua warga negara.  Tak terkecuali mereka yang…

Rabu, 20 Maret 2019 14:22

Kesempatan untuk Belajar Jadi Minoritas

Sulit menjawab pertanyaan siapa sebenarnya orang asli Singapura. Negara itu…

Selasa, 19 Maret 2019 15:20

Jalan 17 Ribu Langkah Sehari, Makan Nasi Lemak Tiap Hari

Selama perjalanan di Singapura bersama Chairman Kaltim Post Group (KPG)…

Senin, 18 Maret 2019 10:37

Menikmati Air Minum ‘Termahal’

Meskipun sudah berulang kali ke Singapura, jalan-jalan kali ini cukup…

Minggu, 17 Maret 2019 10:18
Aulia Aziza

Meneliti Seks dalam Bahasa Tutur Masyarakat Banjar

BANJARMASIN -- Di bawah atap rumah orang Banjar, seks adalah…

Sabtu, 16 Maret 2019 11:45

Cincin Talipuk Acil Rida di Pasar Induk Amuntai, Sering DIbawa Sampai Makkah

Cinta atau kue cincin talipuk, kue unik yang terbuat dari…

Jumat, 15 Maret 2019 10:59

Padi Raksasa Milik Aliansyah di HST

Petani Indonesia Menggugat (PIM), bukanlah nama sebuah organisasi aktivis. Ini…

Selasa, 12 Maret 2019 11:57

Ke Bukit Mangkun HST, Medan Berat Terbayar Indah Pemandangan dan Anggrek Liar

Radar Banjarmasin mengikuti para pegiat alam ke Bukit Mangkun. Inilah…

Senin, 11 Maret 2019 09:56

Masih Jomblo, Si Cantik Ini Malah Berasa Sudah Punya Anak

Priskila Dwi Utami, paling senang dipanggil Kila. Usianya 25 tahun.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*