MANAGED BY:
JUMAT
19 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 08 Desember 2018 09:03
Kisah Bocah-bocah Penjual Buku Mewarnai di Banjarmasin
Demi Sesuap Nasi Mereka Sampai Dikejar-Kejar Satpol PP
DEMI PERUT: Bocah-bocah ini sadar, bahwa melanggar aturan. Tapi apa boleh buat, mereka tak punya pilihan selain berjualan buku.

PROKAL.CO, Mobil partoli Satpol PP Kota Banjarmasin melintas di perempatan Jalan Jenderal Sudirman. Tiga bocah tiba-tiba bergegas mengambil langkah seribu. Seorang lainnya memilih bersembunyi di antara deretan kendaraan yang berhenti menunggu lampu merah.

WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Empat bocah ini adalah Fajrul, Ikhsan, Rizki dan Rahmat. Keempatnya berjualan buku mewarnai di kawasan tersebut. Bagi mereka perempatan Jenderal Sudirman itu bagaikan zona pertemupran.

Umur paling tua dari bocah-bocah ini 12 tahun. Sedangkan yang termuda baru berusia 10 tahun. Tiga di antara mereka masih berstatus siswa SD. Cuma Fajrul yang sudah SMP. Keempatnya tinggal di daerah yang sama, di Kelurahan Kelayan, Banjarmasin Selatan.

Kenapa nama bocah-bocah ini tak disamarkan? Karena mereka bukan pelaku kriminal, korban kekerasan seksual ataupun kejahatan. Keempatnya juga tidak melakukan perbuatan memalukan.

Kamis (6/12) tadi, empat sekawan itu menjajakan buku mewarnai. Mereka menghampiri satu per satu pengendara yang berhenti di lampu merah. Tanpa memaksa, ataupun meronta agar dibeli.

Mereka sudah menjalankan aktivitas itu setahun ini. Rutin enam hari dalam sepekan, dimulai dari siang, hingga sore hari.

Selain buku, tak ada dagangan lain yang dijual. Harganya tak dipatok, alias sukarela. Berapapun uang yang diserahkan si pembeli, pasti mereka terima. Tak sedikit pengendara tertarik untuk membeli dagangan mereka. Apalagi yang membonceng anak-anak.

“Kalau uang yang dikasih lebih dari modal awal kami beli buku, kami kasihkan kembaliannya. Kalau kurang dari modal, enggak apa-apa. Suka rela saja om,” ujar Ikhsan. Dalam sehari mereka berempat mampu membawa pulang masing-masing Rp50 ribu hingga Rp150 ribu.

“Aku dapat Rp47 ribu om. Kalau kamu berapa Ikhsan,” lanjut Rizki, sembari menolehkan wajahnya kepada Ikhsan. Bocah berkaus merah muda itu sudah mendapat Rp60 ribu dari buku yang ditawarkannya.

Saat dihampiri, kedua bocah ini memang sedang asyik menghitung uang hasil penjualan. Dari senyum mereka yang mengembang, tampaknya hasil jualan cukup memuaskan.

Dari mana buku-buku mewarnai itu didapat? Fajrul mencoba menjelaskan. Mereka membelinya di pasar, seharga Rp900. Kemudian dijual seberapa pun nilainya.

“Selain itu, rata-rata yang beli pasti menghargai lebih dan tak mau menerima kembalian. Ada pula yang enggak mau mengambil buku gambar, alias langsung memberikan sejumlah uang,” ungkapnya.

Sebenarnya, Fajrul dkk tak cuma berjualan di kawasan perempajan Jenderal Sudirman. Tapi juga pada beberapa titik lainnya yang terpasang traffic light. Alasannya, karena dianggap cepat laku untuk berjualan.

Berjualan di lampu merah, bukan tanpa risiko. Selain berpotensi terserempet pengendara, mereka juga berhadapan dengan Satpol PP. Yang datang melaksanakan tugas razia. Kalau sudah begitu, terpaksa harus menghindar.

“Pokoknya kalau ada tanda-tanda mereka (Satpol PP, Red) berhenti, kami langsung lari atau bersembunyi,” cerita Rahmat. Dia memang belum pernah terjaring razia.

Berbeda dengan Ikhsan dan Fajrul. Keduanya sudah punya pengalaman terjaring. Barang dagangan mereka disita.

“Kalau uang hasil jualan, biasanya saya simpan di sini. Enggak ketahuan, dan aman,” ujar Ikhsan, sembari memperlihatkan kantong kresek berisikan uang yang diselipkannya di dalam celana.

Bagaimana dengan Fajrul? Dia rupanya sedikit nekat. Dirinya pernah melakukan perlawanan dengan mempertahankan barang dagangannya. Ia pun harus berkali-kali merasakan berada di rumah singgah.

Fajrul sadar. Apa yang mereka lakukan, melanggar aturan. Tapi dia tak punya pilihan.

“Kami tau, kalau kami berjualan di tempat yang salah. Tapi mau gimana lagi om, kami juga perlu uang buat makan. Kami bukan minta-minta,” tuntas bocah yang kini hidup sebatang kara itu.

Cuaca yang silih berganti, menerobos hujan ataupun menahan terik matahari plus debu jalanan, tak mengurangi semangat keempat bocah tersebut. Justru sebaliknya, mereka tampak riang gembira menawarkan dagangan kepada pengendara. Menawarkan ketika lampu merah menyala, menyingkir saat nyalanya berganti menjadi hijau.

Di kota sudah berusia 492 tahun ini, pemandangan seperti itu mudah ditemui. Yang membedakan, hanya profesinya saja. Ada yang mengamen, berdagang, bahkan meminta-minta.

Kepala Seksi Operasi dan Pengendalian Satpol PP dan Damkar Banjarmasin, Hendra mengaku pihaknya gencar melalukan penanganan. Berupa patroli serta razia. Sanksi yang diberikan pun beragam. Mulai memberikan teguran, peringatan hingga membuat surat pernyataan.

“Alasan mereka yang masih ngeyel selalu sama. Faktor urusan perut. Hal itulah yang membuat mereka tidak jera. Biasanya, kalau sudah berkali-kali terjaring, mereka kami serahkan ke Rumah Singgah yang dikelola oleh Dinas Sosial Kota Banjarmasin, untuk penanganan lanjutan,” ujarnya.

Bocah-bocah itu, bekerja demi perut. Sedangkan Satpol PP, merazia karena tugas. Keduanya tak bisa disalahkan. Sejauh ini lembaga maupuun instansi terkait sedang berupaya. Mencari formula terbaik untuk mengatasi fenomena tersebut. (war/at/nur)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*