MANAGED BY:
SENIN
18 MARET
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Minggu, 09 Desember 2018 10:32
Launching Buku Astakona Warisan Kuliner Banjar
LAUNCHING: Tak cuma mencatat rekor MURI, Nasi Astakona juga dibukukan. Penulisnya adalah istri Wali Kota Banjarmasin, Siti Wasilah (paling kanan). Dalam penulisan, dia juga dibantu budayawan Banjar Kawang Yoedha, Chef Agus Sasirangan serta beberapa Tetuha Banjar.

PROKAL.CO, Tak cukup hanya membuat versi jumbo, Nasi Astakona juga dibukukan. Launching-nya digelar pada momen yang sama dengan pencatatan rekor MURI, kemarin (8/12).

TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Buku Astakona Warisan Kuliner Banjar dibagikan cuma-cuma. Sebanyak 500 eksemplar. Anggota TP PKK Kota Banjarmasin, dengan ringan hati memberikan. Bagi siapa saja, yang ingin mengetahui lebih dalam soal nasi ini.

Bukunya tak seberapa besar. Berukuran 20cm x 15cm persegi. Tidak juga tebal. Hanya berisi 40 lembar, terdiri dari 80 halaman. Masih ringan untuk dibawa ke mana saja.

Pokok ulasan buku ini sudah jelas. Nasi Astakona, yang barangkali masih asing di telinga sebagian orang. Penulis sekalipun, baru kali ini mendengar jenis nasi ini.

Buku ini ditulis oleh Siti Wasilah, Istri Wali Kota sekaligus Ketua TP PKK Kota Banjarmasin. Hatinya tergerak untuk membukukan tentang Nasi Astanoka. Pasalnya, Wasilah pernah dimandatkan, oleh pelestari budaya Banjar almarhumah Yoerliani Djohansyah.

"Beliau memberi amanah bagi saya, untuk melestarikan kuliner khas ini," tutur Wasilah.

Almarhumah Yoerliani Djohansyah lahir di Banjarmasin, 21 Januari 1929. Belum lama, ia dipanggil Sang Kuasa diusianya yang ke-89 tahun. Yakni pada 14 Agustus 2018, lantaran sakit.

Menurut penuruturan orang yang mengenalnya, Yoerliani masih merupakan keturunan Kerajaan Banjar. Kecintaannya terhadap budaya Banjar, menghantarkannya memperoleh gelar sebagai Datuk Adat.

Resep autentik Nasi Astakona, ada pada catatan-catatan kecilnya. Selebihnya, ia tularkan kepada siapa saja yang ingin tahu dan belajar. Kepeduliannya terhadap kuliner Banjar terlihat pada foto-foto di buku Nasi Astakona. Yoerliani tampak sibuk merangkai panganan unik tersebut.

Nasi Astakona juga menjadi salah satu kuliner Banjar yang terus dilestarikan. Juga diperkuat dengan Perwali No 881 tahun 2017 tentang kuliner Banjar.

Tepat sehari sebelum Yoerliani meninggal dunia, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Banjarmasin mengadakan dialog budaya seputar Nasi Astakona. Siti Wasilah turut hadir dalam acara tersebut. Buah pembicaraan, mereka sepakat mulai penggarapan.

Buku ini tidak ditulis sendiri. Wasilah dibantu oleh budayawan Banjar Kawang Yoedha, Chef dan Penulis kenamaan Agus Sasirangan serta beberapa Tetuha Banjar. Hingga akhirnya rampung pengerjaan, dalam tiga bulan.

Buku ini mengupas tuntas soal Nasi Astakona. Yang merupakan kuliner khas Suku Banjar. Biasanya disajikan oleh kalangan Kesultanan Banjar. Untuk menyambut tamu kehormatan, hingga untuk perayaan pernikahan.

Yang tak kebagian jatah gratisan, buku ini dapat dibaca di perpustakaan Kota Banjarmasin dan Perpustakaan Daerah Kalsel.

Astakona artinya bersegi banyak. Nasi ini disajikan dengan banyak macam lauk pauk dan sayuran.

Tak hanya itu, Nasi Astakona juga disertai dengan sajian pendamping. Yakni pisang mahuli, jeruk limau, manisan alua dari pepaya, wadai sumapan, kopi manis, kopi pahit, teh manis, air putih dan seperangkat piduduk.

Dari seginya yang banyak, nasi ini menggambarkan rasa syukur. Yang menyajikannya penuh dengan kebahagiaan. "Si penyaji berniat menyajikan makanan dalam jumlah besar, sebagai bentuk rasa syukurnya," ujar Wasilah.

Untuk yang ingin mencoba membuat, resep autentik Nasi Astakona juga tersedia dalam buku itu. Lengkap dengan tutorial hingga cara penyajiannya. Uniknya, nasi ini disajikan dalam rangkap ganjil. Dari tiga, lima hingga tujuh rangkap talam.

Wasilah berharap, nasi ini dapat kembali populer. Dengan dibukukan, masyarakat jadi lebih tahu. Bahkan sedetil mungkin cara pembuatannya. "Dengan mengenalkan kembali Nasi Astakona, khasanah kuliner Banjar kita kian beragam," ucapnya.

Sementara itu, Budayawan Banjar Kawang Yoedha, menyebut nasi ini eksklusif. Sebab, dibuat dan disajikan dengan cara yang berbeda. Dan pastinya tak sembarangan.

Untuk Nasi Astakona 3 rangkap, biasanya dihargai Rp 2,5 juta. Harga yang sepadan dengan rasa dan bahan-bahannya. Sedangkan rangkap lima dan tujuh, dipatok mulai Rp4 juta ke atas.

Yoedha berguru membuat nasi ini pada almarhumah Yoerliani. Pertama kali tahun 1985. Tepatnya selepas ia menjabat sebagai Nanang pertama kota Banjarmasin. Dedikasinya dituntut. Untuk tak putus melestarikan kebudayaan Banjar.

"Tahun 1986 saya sudah bisa membuat sendiri dan berani menerima pesanan, bahkan hingga sekarang. Berkat beliau yang saya anggap seperti ibu sendiri," kenang Yoedha sembari mengusap air mata.

Diajak dalam penyusan buku, Yoedha terbuka. Ini kesempatan emas menurutnya. Untuk menularkan ilmu, agar semakin banyak yang tahundan bisa membuat nasi itu. Sehingga tak punah.

Ada tantangan tersendiri dalam membuat nasi ini. Yakni dari segi pemilihan bahan yang tak boleh asal ganti. Hingga pengolahan lauk yang cukup ribet.

Ia berharap nasi ini tak hanya populer di Banjarmasin. Tetapi hingga ke seluruh kabupaten di Kalsel. Bahkan hingga ke nasional. "Sebab ini kekayaan milik orang Banjar secara keseluruhan," tuntasnya. (tia/at/nur)


BACA JUGA

Senin, 18 Maret 2019 12:50

Pemuda Banua Tak Mau Dipecah Belah Karena Beda Pilihan

BANJARMASIN - Belakangan, perpolitikan kian diperbincangkan. Disuarakan agar lebih memilenial,…

Senin, 18 Maret 2019 10:48
Berita Tabalong

Tekadkan Pembangunan yang Lebih Sempurna

TANJUNG - Visi misi Menuju Kabupaten Tabalong Lebih Agamis, Sejahtera…

Senin, 18 Maret 2019 10:45
Berita Tabalong

Anang Syakhfiani: Menjadi Bupati itu Ibadah

"Bagi saya niat menjadi Bupati adalah sebagai ibadah, bukan untuk…

Senin, 18 Maret 2019 10:41
Berita Tabalong

H Anang Syakhfiani - H Mawardi Resmi Dilantik Jadi Bupati dan Wakil Bupati Tabalong

BANJARMASIN - Gubernur Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel), H Sahbirin Noor…

Senin, 18 Maret 2019 10:27

Kalsel Bebas Dari Penyelundupan Ikan

BANJARBARU - Memiliki sejumlah wilayah pesisir, membuat Kalsel menjadi salah…

Senin, 18 Maret 2019 10:01

Untuk Pembangunan Infrastuktur 2020, PUPR Banjarmasin Butuh Rp300 Miliar

BANJARMASIN – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin…

Senin, 18 Maret 2019 09:31
Pemko Banjarbaru

Banjarbaru Sampaikan Belasungkawa Atas Penembakan di Selandia Baru

BANJARBARU - Wakil Walikota Banjarbaru H Darmawan Jaya Setiawan, didampingi…

Senin, 18 Maret 2019 09:26
Parlementaria

DPRD Banjarbaru: Sosialisasi Perda KTR Belum Maksimal

BANJARBARU - Anggota Komisi 3 DPRD Banjarbaru Nurkhalis Anshari menyoroti…

Senin, 18 Maret 2019 09:20

Kemeriahan MRSF 2019 Bertabur Rekor MURI

BANJARBARU - Area Car Free Day Kantor Sekretariat Daerah Provinsi…

Senin, 18 Maret 2019 09:15

Masih Bocah, Sudah Minta Presiden Perhatikan Meratus

BARABAI - Selesai menggambar deretan pegunungan dan matahari, Nadine Oriana…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*