MANAGED BY:
MINGGU
20 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 14 Desember 2018 14:46
Moses Sulap Puing Kayu Menjadi Seni Bernilai Tinggi

Moses Foresto, Seniman Ukir Andal Asal Banua

JIWA SENI: Nenek Buyut Angkin, karya Moses (kiri). Moses Foresto di galerinya (kanan).

PROKAL.CO, Beri Moses Foresto puing-puing kayu, dia bisa menjadikannya apa saja.

TIA LALITA NOVITRI, Banjarmasin

Beberapa pekan lalu, penulis mengunggah foto bersama nenek buyutnya dengan membubuhkan caption tentang bangganya punya buyut yang berumur hampir seabad. Seulas senyum mengembang diantara cekungan pipinya.

Postingan ini mencuri perhatian pengguna media sosial, salah satunya datang dari Moses. Ia berniat membuat patung figur dengan nenek buyut ini sebagai modelnya. Membalas iktikad baik Moses, penulis mengirim beberapa foto sang nenek bernama Angkin (99) ini.

Tak sampai seminggu berselang, Wujud patung dengan nenek buyut yang sedang duduk sembari memegang guci telah selesai.

Rambutnya diikat bertumpuk, persis seperti di foto. Senyumnya pun tak hilang. Bagian bawah patung kayu yang tak beraturan memperjelas bahwa itu bukanlah bagian batang pohon. 

"Akar jati tua, berusia ratusan tahun," sebut laki-laki kelahiran Banjarmasin, 23 Oktober 1968 itu.

Kemahirannya mengukir dengan tetap mempertahankan liukan pangkal pohon itu jelas mengundang decak kagum. Patung nenek buyut itu kemudian di masukkan oven selama sepuluh hari untuk menghilangkan kadar air dan membuatnya menjadi awet.

Sebelumnya, Moses juga pernah membuat patung bertema serupa. Patung yang dipesan oleh penikmat seni dari Chile tersebut diberi nama 'Nenek Ceria'.

Clue-nya singkat namun menantang. Moses diminta membuat patung yang melambangkan kekuatan. Sempat terbersit sosok singa, Lingga dan Yoni di pikirannya. "Ah, sudah terlalu sering. Coba ambil sosok manusia saja," tuturnya.

Entah dari mana ide itu datang. Moses terpikir untuk menggambarkan sosok perempuan yang ia yakini sebagai kekuatan sejati yang penuh perjuangan dan menyetarakan hak.

Perempaun yang mempertaruhkan hidup dan matinya, melahirkan, membesarkan, dan mendidik. "Tak putus-putus perjuangan perempuan hingga menjadi manula," imbuhnya.

Setelah meyakinkan kliennya selama setahun, patung tersebut akhirnya diterbangkan ke Chile. Ini bukan kali pertama Moses menerima pesanan lintas negara. Karyanya sudah sampai hingga Malaysia, Thailand, Cina, Hongkong dan beberapa negara lainnya.

Tak hanya patung, Moses juga mengolah kayu menjadi barang berharga lainnya. Sebut saja seperti alat musik cajon, gitar, bingkai cermin, peralatan rumah tangga, gazebo, kamar det dan dapur set.

Ada tiga jenis kayu yang kerap ia pakai yaitu kayu kuku, ulin dan jati. Tapi yang paling unik, Moses pernah memakai kayu sisa dari kebakaran hebat di Kalimantan Tengah beberapa tahun lalu.

Kebetulan ia juga seorang konsultan tambang di salah satu perusahaan di Kalteng. "Puing-puing kayu terbakar itu saya bawa ke rumah saudara di Palangkaraya," tuturnya.

Moses bereksperimen. Arangnya dibuang dengan cara dicungkil dan digerinda. Dinding ruang kerjanya menjadi hitam, bekas sebaran arang. Hasilnya sangat menarik dan tak biasa. Ada yang berbentuk dinosaurus, menara Eiffel dan kerbau.

Moses meenyebutnya Seni Kebakaran Hutan. Kelak, Seni Kebakaran hutan diikutsertakan dalam beberapa eksibisi nasional di Jakarta, Bali dan Medan.

Ketika Moses dipercaya menjadi koordinator dekorasi natal di sebuah gereja, sisa-sisa kayu terbakar tadi dijadikan ornamen dekorasinya. Hasilnya mencengangkan jemaat gereja. Anak-anak sangat antusias dalam bertanya, memuaskan rasa penasaran mereka.

Dari seni, jadi media edukasi. "Anak-anak kita beri edukasi seputar kepedulian menjaga kelestarian hutan," ujar alumni SMAN 1 Banjarmasin itu.

Seni mengolah kayu, alias wood art bukan hobi kemarin sore bagi Moses. Tahun 1982 Moses kecil yang duduk di bangku sekolah dasar terlihat lihai memainkan perkakas tukang. Sang ayah kemudian membelikannya peralatan.

Karya pertamanya adalah membuat bidang miring. Ini merupakan alat bantu untuk menaikkan ban motor masuk ke dalam rumah. Yang paling berkesan, ketika ia bisa membuat kursi taman.

Tak ada yang lebih membahagiakan baginya, selain karya yang berguna. Di lain waktu, permintaan spesial datang dari adik perempuan satu-satunya. Moses diminta membuatkan congklak. Peralatan dapur ibunya pun ia buatkan, salah satunya talenan.

Ketertarikannya pada seni ini membuahkan hasil. Tahun 2006, Moses membuka galeri. Ia sebut GLM, singkatan dari Galeri Lukisan Moses. Jangan terkecoh dengan namanya. Sebab, Moses juga menggeluti seni lukis, begitu juga dengan seni musik.

GLM berdiri di Ungaran, Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Tahun 2006, Moses sekeluarga pindah ke sana. Di Banjarmasin sendiri, ia tinggal di Citra Garden, Kilometer 6,5. Ia sering bolak-balik di dua pulau ini untuk berbisnis.

36 tahun menggeluti seni ukir, tak terhitung jumlah karyanya. Yang pasti sudah menembus mancanegara. "Sejak 2006, sudah mulai mengekspor ukiran ke Timur Tengah, Eropa, dan Amerika," bebernya.

Untuk membuat sebuah ukiran, setidaknya ada enam tahap yang ia lakukan. Mulai dari pembentukan segi (shaping), memahat, mengukir, menghaluskan, menegaskan detail dan finishing reka oles.

Peralatan yang digunakan pun sangat beragam. Pahat dan palu jadi peralatan yang paling penting. Ada ratusan mata pahat yang ia miliki. Baik yang bergaya ukiran biasa, khas Bali hingga Jepara. Dari yang manual hingga yang bermesin.

Tidak semudah dibayangkan, mengukir juga punya tantangan tersendiri terutama ketika memahami kayu yang hendak dipahat. Dilihat dari segi memahami kembang susut kayu dan menentukan peralatan apa yang hendak digunakan.

"Ketika ukiran menyalahi arah serat, salah-salah bisa patah," ujarnya.

Dalam waktu dekat, Moses berencana menambah galeri. Kali ini di Banjarmasin. Tepatnya di sebuah ruko Jalan H Hasan Basri, Kayu Tangi ujung.

Sebelum menetap di sana. Ia lebih dulu mengenalkan beberapa karyanya kepada masyarakat Banua. Seperti lewat pameran di kafe, jalanan, hingga ngopi bareng di garasi rumahnya.

Ia berharap, seni di Kalsel kian berkembang pesat melalui pembentukan komunitas yang mewadahi para seniman di Banua, terlebih seni ukir. Baginya, seniman bukan sekadar profesi. "Tanggung jawab seniman ada pada edukasi, baru bisa diapresiasi," pungkasnya. (tia/ay/ran)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*