MANAGED BY:
RABU
27 MARET
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Minggu, 16 Desember 2018 12:00
Ketupat Paling Enak di Kandangan?? Ini Dia Ketupat Keganangan
MENGGODA: Ketupat Kandangan kuliner gurih yang menjadi buruan setiap pagi di Kalsel. Di Kandangan, ketupat kandangan dijual hingga malam hari.

PROKAL.CO, Di mana ketupat yang paling enak di Kandangan? Selera boleh menunjukan tempat berbeda. Tapi semua sepakat satu tempat: Ketupat Kaganangan.

Mencari ketupat kandangan yang paling enak di Kandangan semudah mencari rokok di kios. Ya, dari sinilah kuliner gurih itu berasal. Sebuah tugu berbentuk ketupat berukuran besar, sebagai penanda ini adalah daerah dengan ketupat sebagai kuliner kebanggaan masyarakatnya.

Banyak sekali warung menyajikan ketupat kandangan. Di sepanjang jalan A Yani mulai dari Simpang Lima sampai arah menuju ke luar kota wilayah Barabai, HST, banyak sekali warung ketupat kandangan.

Sentral ketupat kandangan terdapat di Parincahan. Parincahan sudah lama terkenal sebagi sentral ketupat Kandangan sejak tahun 80 an. 

Warung yang paling populer di Parincahan adalah adalah warung Ketupat Kaganangan yang berada di kawasan Jalan Ahmad Yani No 21, Parincahan, Muara Banyu Barau, Kecamatan Kandangan.

Para pelancong yang berkunjung ke Kandangan ini tidak pernah melewatkan untuk menikmati hidangan ketupat kandangan di sini.

Warung yang berada persis di pinggir Jalan Parincahan ini sudah ada sejak tahun 1975 dan merupakan warisan keluarga Hj Nani (45). Ia merupakan generasi ketiga setelah neneknya Hj Masiah, sang penidiri, meninggal dunia.

Awal berdiri warung ketupat kandangan hanya menggunakan satu meja dan kursi panjang. Waktu itu, warungnya pun belum ada namanya.

“Dulu bukanya dari dini hari sekitar pukul 01. 00 sampai siang pukul 11.00,” kenang Hj Nani. Saat itu, satu porsi ketupat kandangan berisi tiga potong ketupat dan ikan haruan (Gabus) harganya berkisar Rp 350 sampai Rp 500.

Seiring perkembangan, usaha warisan keluarga ini baru dilengkapi dengan kursi dan meja setelah orang tua Hj Nani yaitu Hj sumiati melanjutkannya sekitar tahun 1998.Jam buka pun diganti dari pagi sampai malam hari.

“Sekitar jam enam pagi sampai selesai salat Isya,” cerita Hj Nani. Bahkan sejak saat itu, atas dasar saran dari pelanggan, warung itu diberi nama Kaganangan. Alasannya supaya pelanggan bisa menandai dan mudah mencari.

Warung Ketupat Kaganangan dikelola Hj Nani sejak 2014 setelah orang tuanya meninggal memiliki citarasa khas. Karena diolah melalui proses memasak dari resep warisan keluarga.

“Bahannya sama seperti kebanyakan orang. Cuma ciri khas warung ketupat Kaganangan berasnya dari unus dan ketupatnya tidak pernah dipanasi (tidak di olah lagi) kalau tidak habis terjual,” ujar Hj Nani.

Satu porsi dihargai Rp 18 ribu. Selain iwak haruan, warung ketupat Kaganangan juga menyediakan lauk lain seperti telur itik atau jeroan ikan gabus (paparutan).

Warung warisan keluarga sudah berjualan sekitar 43 tahun ini pernah didatangi berbagai kalangan, mulai dari Gubernur Kalsel berbagai periode, bupati, artis sampai turis mancanegara. " Banyak pejabat yang pernah datang kalau ke Kandangan,” ingat Hj Nani.

Dalam sehari warung ketupat Kaganangan bisa menghabiskan 200 porsi ketupat kandangan. Bahkan jika akhir pekan atau hari libur, banyak pembeli datang dan bisa menghabiskan mencapai 1.500 porsi. “Warung ketupat Kaganangan tidak buka cabang, hanya ada satu di Kandangan,” katanya.

Jika warga atau pembeli ingin memesan ketupat juga bisa. Harganya jika pesan banyak bisa mendapatkan potongan. “Mau lebaran biasanya banyak yang pesan,” pungkas Hj Nani. (shn/by/ran)


BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*