MANAGED BY:
MINGGU
20 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 18 Desember 2018 12:40
Perjuangan Rosyadi Mengenalkan Gua Limbuhang Haliau ke Publik Wisata
BERKELILING GUA: Seorang pengelola Gua Limbuhang Haliau mengayuh perahu karet yang disediakan

PROKAL.CO, Sepekan usai Muhammad Rosyadi beserta sejumlah pemuda desa meresmikan objek wisata Gua Limbuhang Haliau, ia mendapati papan nama objek wisata itu dirusak oleh seseorang. Alih-alih mencari tahu siapa yang merusak, ia justru semakin bersemangat.

WAHYU RAMADHAN, Haliau

Hujan baru saja reda. Bekas hujan menyisakan genangan air yang membuat becek dan licin sebagian tanah berwarna cokelat di kawasan hutan yang berada di tengah desa Haliau yang termasuk dalam Kecamatan Batu Benawa Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Desa ini berjarak 8 kilometer dari pusat Kabupaten HST, yakni Barabai.

Hawa dingin khas pegunungan seketika menyergap penulis pasca melangkahkan kaki memasuki kawasan hutan, Kamis (12/12) pekan lalu.

Meski begitu, kicauan burung serta nyanyian serangga yang terdengar nyaring seakan menyibak dinginnya suasana. Di hutan inilah Gua Limbuhang Haliau atau oleh warga desa setempat disebut Lubang Haliau berada.

Tak memakan waktu lama untuk sampai ke mulut gua. Hanya perlu berjalan kaki sekitar empat menit dari pintu masuk hutan. Di dalam hutan, Anda akan disambut oleh pemandangan berupa batu-batu cadas berukuran besar yang berserakan di antara deretan pohon-pohon karet dan pohon-pohon besar lainnya.

“Nah, ini guanya. Selamat datang,” ujar pengelola gua, Muhammad Rosyadi seraya tersenyum. Dia kemudian mempersilakan penulis menuruni tangga yang terbuat dari kayu dan bambu.

Gua Limbuhang Haliau tidak berada di atas tebing batu atau di dataran tinggi, melainkan di dalam tanah. Sekilas bila dilihat dari atas, gua ini tak ubahnya seperti lorong bawah tanah.

“Dari atas ke dasar gua, kira-kira tingginya 50 meter,” jelas pemuda kelahiran 20 september 1987 ini sembari menuruni satu persatu anak tangga perlahan-lahan.

Sampai di dasar gua, pemandangan berganti. Dasar gua ternyata sangat lebar, hampir selebar lapangan basket. Dasarnya bukan lah batu-batu an cadas melainkan hamparan air berwarna biru kehijauan.

Cahaya matahari yang menembus dedaunan dari atas mulut gua, menerpa dinding gua hingga dasar air, menyajikan pemandangan yang memukau. Belum lagi akar-akar pohon bak ayunan yang menggelayut dari atas hingga hampir menyentuh air di dasar gua, menambah suasana menjadi semakin syahdu.

“Kalau tadi tidak hujan, airnya bisa lebih biru dan bening,” ujar Rosyadi, membuyarkan lamunan penulis yang asyik melihat sekeliling gua. Bila dilihat dari atas mulut gua, dasarnya hanya berukuran kecil. Bila diukur, lebarnya tak lebih dari lebar tiga orang dewasa yang berdiri berjejer.

Di dasar gua, Rosyadi menyediakan satu perahu karet dengan dua dayungnya yang dipinjamkan oleh pemerintah setempat. Dijaga oleh dua orang rekannya, perahu yang didominasi dengan warna kuning inilah yang biasanya digunakan pengunjung untuk mengitari dasar gua.

Berswafoto di antara dinding-dinding dasar gua atau menuju ke bagian tengah dasar gua yang menjadi tempat akar pohon yang bergelantungan, yang siapapun bisa duduk di atasnya.

Puas melihat-lihat dasar gua dan berkeliling mengitari dasar gua dengan mengunakan perahu, penulis pun beranjak ke tempat peristirahatan berdinding bambu berlantai kayu setelah mengambil beberapa foto.

Letaknya berada persis di seberang mulut gua. Di tempat peristirahatan itu, duduk lelaki tua. Namaya Yuni (45), warga asli desa Haliau yang bekerja sebagai pencari batu dan pasir di sungai.

Dari keterangan Yuni, gua ini sudah ada sejak zaman dahulu, namun keberadaannya tak banyak diketahui. Hanya beberapa orang yang berani melintas atau sengaja masuk ke dalam gua tersebut.

Mungkin karena tertutupi kelebatan hutan yang ditumbuhi rumput-rumput liar, pepohonan karet serta kebun warga desa setempat, gua ini dianggap menyeramkan. Bahkan, sebagian orang menganggap tempat ini menyimpan banyak nuansa mistis.

“Setahu saya dari cerita yang sejak dahulu berkembang, kawasan hutan di sekitar gua ini jadi tempat orang-orang yang datang dari jauh untuk balampah (bertapa;red). Mereka mencari wangsit untuk mendapatkan angka togel. Makanya dianggap angker. Dan terus terang, saya merasa bersyukur dengan dibukanya objek wisata di sini, isu itu jadi tidak terdengar lagi,” ujarnya kemudian terkekeh.

Lantas, mengapa Rosyadi berani menjadikan gua tersebut sebagai objek wisata? Jawabannya tak lain dan tak bukan hanya untuk mengenalkan kampung halamannya yakni desa Haliau kepada masyarakat luar serta membantu menyediakan lapangan pekerjaan bagi para pemuda di desanya.

“Saya merasa miris melihat banyak pemuda desa yang merasa kesulitan untuk mencari pekerjaan,” tuturnya.

Menjadikan Gua Limbuhang Haliau sebagai objek wisata, bukan lah perkara mudah. Perlu lebih dari setahun untuk membenahi kawasan tersebut. Mulai dari meminta izin kepada pemilik lahan, merekrut para pemuda dari Karang Taruna Citra Banawa di desanya, hingga mencari letak persis Gua Limbuhang Haliau.

“Bulan Juni tahun 2017 saya mencari keberadaan gua ini. Baru bulan Agustus 2018 saya dan kawan-kawan berhasil menemukannya. Jadi, umur objek wisata ini baru berjalan lima bulan,” ungkap Rosyadi.

Tak hanya itu, sebagai modal awal untuk membangun sarana pendukung objek wisata seperti tempat peristirahatan hingga toilet, anak keempat dari enam bersaudara ini juga harus merelakan laptop serta sebagian bajunya untuk dijual.

“Jadi, waktu itu modal usaha dari kantong pribadi. Benar-benar dari nol. Ketika persiapan sudah siap, saya mengundang warga desa untuk meresmikan,” ucapnya.

Gayung pun bersambut. Perlahan namun pasti, objek wisata Gua Limbuhang Haliau mulai dikenal banyak orang. Dalam sehari, berpuluh-puluh orang menyambangi desa Haliau.

Mereka yang datang pada umumnya mengaku penasaran, bagaimana bentuk dasar gua dengan airnya yang bisa berubah-ubah warna itu. Tak ketinggalan, berswafoto sambil mengelilingi dasar gua, menggunakan perahu karet menjadi hal lain yang ingin dinikmati.

“Alhamdulillah, penghasilannya lumayan. Bisa membantu meringankan pemuda desa di sini. Ya paling tidak untuk jajan, mereka tidak minta dengan orang tua lagi,” ungkapnya.

Kemasyhuran Gua Limbuhang Haliau rupanya tersebar hingga ke Provinsi Kalimantan Timur. Belum lama ini, Rosyadi mengaku mendapat kunjungan tamu beberapa pemuda dari Kalimantan Timur. Tak hanya sekedar mengunjungi, para pemuda itu juga mendokumentasikan gua dengan menggunakan kamera video.

“Katanya sih untuk dimasukkan ke Youtube, biar semakin dikenal,” ujarnya.

Perjalanan Rosyadi tak selalu berjalan mulus. Beberapa rintangan kerap ia temui dalam usahanya mengenalkan objek wisata tersebut. Pemuda murah senyum ini mengakui bahwa hingga saat ini, masih ada suara-suara sumbang yang ingin menjatuhkan semangatnya untuk membangun objek wisata di desanya.

“Mulai dari menyebar isu mistis bahwa gua dihuni naga dan lain-lain. Bahkan papan nama objek wisata ini pun sempat dirusak oleh oknum yang tidak bertanggung jawab, tepat sepekan ketika mulai ramai dikunjungi,” ungkapnya.

Meski begitu, tidak ada rasa sesal atau sedih di raut wajah Rosyadi. Justru sebaliknya, hal tersebut membuatnya semakin bersemangat untuk mengembangkan lebih jauh objek wisata di desanya. Ia juga mengaku tak ingin terpengaruh oleh isu-isu yang sama sekali tak bisa dibuktikan kebenarannya.

“Di kawasan ini, sedikitnya ada lima gua. Empat gua dasarnya air dan satu sisanya tidak berair. Insyaallah ke depan juga bakal kami berdayakan. Saya percaya warga desa selalu mendukung, asalkan demi kemaslahatan bersama” ujarnya.

Untuk lebih memaksimalkan objek wisata yang dikelolanya, Rosyadi juga nantinya akan menyediakan lapak bagi warga desa Haliau yang ingin berdagang. Mulai dari cinderamata atau oleh-oleh yang dibuat oleh penduduk desa.

“Di desa ini masyarakatnya cukup kreatif, sayang kalau tidak dimaksimalkan. Tentunya masih dengan harapan agar nama desa Haliau menjadi terangkat dan mampu mendatangkan wisatawan dari luar negeri,” tuntasnya. (war)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*