MANAGED BY:
SABTU
23 MARET
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 22 Desember 2018 10:18
Kisah Optimis Pengerajin Terompet di Banjarmasin, Kusnandar

23 Tahun Menjadi Pengerajin Terompet

SIAPKAN PESANAN: Kusnandar membuat terompet di rumahnya, kemarin (21/12).

PROKAL.CO, Ini kisah optimis dari seorang penjual terompet. Yang meyakini bahwa keberadaan benda berbunyi melengking itu takkan kehabisan peminat.

WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Terompet sudah menjadi bagian dari pergantian tahun. Tanpa bunyinya yang melengking, perayaannya takkan berasa.

Setidaknya itulah yang diyakini Kusnandar. Pria 48 ini adalah perajin terompet. Rumahnya di Gang Bambu Indah, Jalan Pekapuran Raya, Banjarmasin Tengah.

Rumahnya itu saat ini dipenuhi dengan terompet. Dengan berbagai ukuran dan bentuk. Mulai dari kerucut, hingga menyerupai seekor naga.

Ada yang tergantung di dinding, adapula hanya menumpuk di lantai. Saking banyaknya terompet di ruang tamu, untuk duduk atau sekadar bersandar sulit.

Bahkan saat penulis mampir, pria asli Tuban itu harus menggeser puluhan terompet yang siap untuk dipasarkan. Maklum, menjelang pergantian tahun, Kusnandar mengaku menerima banyak pesanan.

“Ini pesanan hotel. Ada sekitar 150 buah,” ucapnya. Dia terlihat memegang kertas berbentuk kerucut yang dilapisi kertas berwarna keemasan. Kusnandar rupanya sedang membuat terompet.

Dalam bisnis ini, Kusnandar bukan orang baru. Dia sudah 23 tahun menjadi perajin terompet. Dimulai pada 1995 silam.

Pada masa itu, dia baru merantau ke Banjarmasin. Kebetulan profesi perajin terompet cukup menjanjikan.

Sisa uang dari pembelian tiket kapal yang ia pakai menuju kota ini ia belikan sebuah terompet. Ukurannya kecil. “Waktu itu, uang saya sisa Rp2.500,” kenangnya. Sekarang, uang segitu cuma cukup buat bayar parkir. Tapi pada masa itu, bisa buat beli makan.

Sebelum membeli terompet, lelaki murah senyum ini mengaku sempat bertanya ke penjual, dari mana mereka mendapatkan dagangannya. Setelah tahu bahwa didapat dari luar daerah, ia lantas berpikir untuk membuatnya di Banjarmasin. Agar orang-orang tak lagi perlu bepergian jauh hanya untuk membeli terompet.

“Terompet kecil yang saya beli, saya bongkar. Saya pelajari bahan dan cara membuatnya. Alhamdulillah, ternyata saya bisa,” ungkapnya.

Keahlian membuat terompet pun mulai dikembangkan. Di tahap awal percobaan, karena tak lagi punya modal, Kusnandar harus berusaha keras untuk mendapatkan bahan dasar pembuatan terompet: kertas.

“Saat itu, saya paling suka mengumpulkan kotak besar pembungkus rokok sebagai bahannya. Saya bersihkan kotak-kotak itu, saya bikin jadi terompet kemudian saya jual,” ujarnya, seraya terkekeh.

Kini Kusnandar sudah punya banyak pelanggan. Tapi bukan berarti semuanya berjalan lancar. Bisnis ini tak selalu mudah dijalani.

Beberapa tahun ini penjualan terompet menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Kendalanya pun bermacam-macam. Dari sulitnya mendapatkan bahan baku hingga cuaca yang kurang bersahabat.

“Yang paling saya ingat, tahun 2010 paling ramai terompet. Saya saja sempat membuat 15 ribu terompet. Yang membeli, tak hanya di Kalimantan selatan. Tapi juga dari Kalimantan Tengah, khususnya Palangkaraya,” ungkapnya.

Meski tak seramai dahulu, Kusnandar tak ingin ambil pusing. Baginya, selama masyarakat masih kerap merayakan momen pergantian tahun, maka selama itu pula terompet akan selalu ada.

“Giat mencari referensi, salah satu upaya agar terompet selalu bisa digemari. Contoh dengan memvariasikan bentuk. Terompet berbentuk naga ini, mungkin banyak yang mengira buatan luar daerah. Padahal, buatan di sini juga,” ucapnya.

Sejak kecil, Kusnandar sudah menyukai terompet. Baginya, ada rasa haru dan bahagia ketika menyaksikan orang-orang memegang kemudian membunyikan. Baginya, itu tak bisa dihargai dengan materi.

“Masa kecil saya tergolong sulit. Tak mudah untuk punya terompet. Saya perlu menabung cukup lama untuk bisa punya terompet,” ucapnya.

Kini, Kusnandar mengaku sangat bersyukur. Dari hasil menjadi perajin terompet, ia tak cuma mampu membuat dapur rumahnya tetap mengepul. Atau bisa membiayai pendidikan kedua anaknya hingga kuliah. Tapi juga menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka yang menginginkan.

Dari keahliannya, Kusnandar dengan senang hati mengajari siapapun yang ingin belajar membuat terompet. Ia ajarkan cuma-cuma, tanpa biaya.

“Siapapun yang mau belajar silakan. Yang penting, jangan ada persaingan dan hingga terjadi perselisihan seperti rebutan pelanggan,” pesannya.

Istri Kusnandar, Rimawati bangga dengan suaminya itu. Menurutnya, tak sedikit pedagang terompet yang mampir ke rumahnya. Untuk membeli ataupun belajar. Bahkan, hingga rela tak tidur berhari-hari.

“Bapak, orangnya senang berbagi. Kata bapak, terompet tak sekadar penyambung kehidupan. Terompet, bisa mendatangkan banyak teman. Mempererat silaturahmi dan tentunya banyak kebahagiaan. Dan memang kelihatan usaha sepele, tapi kalau ditekuni, hasilnya luar biasa,” tutupnya. (war/ma/nur)


BACA JUGA

Jumat, 22 Maret 2019 14:50

Kala Jeruji Besi Tak Menyurutkan Niat untuk Belajar

Pendidikan adalah hak semua warga negara.  Tak terkecuali mereka yang…

Rabu, 20 Maret 2019 14:22

Kesempatan untuk Belajar Jadi Minoritas

Sulit menjawab pertanyaan siapa sebenarnya orang asli Singapura. Negara itu…

Selasa, 19 Maret 2019 15:20

Jalan 17 Ribu Langkah Sehari, Makan Nasi Lemak Tiap Hari

Selama perjalanan di Singapura bersama Chairman Kaltim Post Group (KPG)…

Senin, 18 Maret 2019 10:37

Menikmati Air Minum ‘Termahal’

Meskipun sudah berulang kali ke Singapura, jalan-jalan kali ini cukup…

Minggu, 17 Maret 2019 10:18
Aulia Aziza

Meneliti Seks dalam Bahasa Tutur Masyarakat Banjar

BANJARMASIN -- Di bawah atap rumah orang Banjar, seks adalah…

Sabtu, 16 Maret 2019 11:45

Cincin Talipuk Acil Rida di Pasar Induk Amuntai, Sering DIbawa Sampai Makkah

Cinta atau kue cincin talipuk, kue unik yang terbuat dari…

Jumat, 15 Maret 2019 10:59

Padi Raksasa Milik Aliansyah di HST

Petani Indonesia Menggugat (PIM), bukanlah nama sebuah organisasi aktivis. Ini…

Selasa, 12 Maret 2019 11:57

Ke Bukit Mangkun HST, Medan Berat Terbayar Indah Pemandangan dan Anggrek Liar

Radar Banjarmasin mengikuti para pegiat alam ke Bukit Mangkun. Inilah…

Senin, 11 Maret 2019 09:56

Masih Jomblo, Si Cantik Ini Malah Berasa Sudah Punya Anak

Priskila Dwi Utami, paling senang dipanggil Kila. Usianya 25 tahun.…

Senin, 11 Maret 2019 09:03

Ziarah Sekumpul, Ziarah Cinta

Haul Guru Sekumpul tidak mungkin pernah ada jika tak pernah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*