MANAGED BY:
KAMIS
17 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 02 Januari 2019 10:35
Menelusuri Jejak Monumen Perang Banjar

Si Kembar Tiga yang Hilang

BUKAN TUGU INI: Tugu Nol Kilometer di Jalan Sudirman. Banyak yang mengira di sini lah dulu Monumen Perang Banjar berdiri. Dugaan itu meleset. Posisi sebenarnya berada di seberang, di halaman kantor gubernur lama (foto kanan). Foto repro monumen dari buku Bandjarmasin Tempo Doeloe karya Mansyur (foto kiri).

PROKAL.CO, Jika Anda rajin mengulik arsip foto Banjarmasin tempo dulu di internet, pasti pernah melihat monumen gotik ini. Namanya Monumen Perang Banjar. Di mana sisa bangunan itu sekarang? 

BANJARMASIN adalah kota tua. Usianya kini 492 tahun. Setahun lebih tua dari Jakarta. Namun, tak banyak peninggalan bersejarah yang bisa diselamatkan.

Penyesalan itu terlontar dari mulut Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina. Dia mengambil contoh Monumen Perang Banjar yang dulu berdiri di alun-alun kota. Persis di depan kediaman Residen Banjarmasin. Kini menjadi kantor gubernur di Jalan Sudirman.

Tak jauh dari situ, berdiri Fort Van Tatas (Benteng Tatas). Simbol dari pencaplokan Belanda di Tanah Banjar. Kini menjadi Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

"Saya beberapa kali menanyakan keberadaan monumen itu pada tetua dan sejarawan. Sayang, memang tak bisa ditemukan lagi. Jejaknya benar-benar sudah menghilang," ujarnya.

Ketertarikan Ibnu bermula dari sebuah fakta sejarah. Monumen itu ternyata kembar tiga. Satu dipancang di Batavia (Jakarta), satu lagi di Padang, dan terakhir di Banjarmasin. "Ketiganya dikirimkan langsung dari Belanda," imbuhnya.

Sejarah mencatat, monumen itu diresmikan pada 19 Februari 1867. Terbuat dari besi tuang. Dindingnya dipenuhi relief. Lantainya dilapisi marmer. Sementara bagian atasnya runcing dihias salib kecil. Kental oleh pengaruh arsitektur kuno Eropa bergaya gotik.

Pemerintah Hindia Belanda membangun monumen untuk mengenang banyaknya serdadu mereka yang gugur selama Perang Banjar.

Dalam versi Belanda, peperangan itu hanya berlangsung dari tahun 1859 sampai 1863. "Meski singkat, ini bukti betapa dahsyatnya Perang Banjar," tegasnya.

Ibnu pun berandai-andai, jika monumen itu masih ada, tentu bukan sekadar menjadi objek wisata. Tapi juga menjadi pelajaran bagi anak dan cucu. "Artinya Belanda menganggap perlawanan orang Banjar itu sangat sengit," pungkasnya.

Beberapa orang kerap salah paham. Mengira lokasi Monumen Perang Banjar berada di Siring Nol Kilometer, Jalan Sudirman. Kebetulan, di samping panggung terbuka siring, berdiri tugu besar berwarna putih.

Maklum, tugu itu tidak dilengkapi prasasti yang memuat penjelasan kepada pengunjung. Padahal, namanya adalah Tugu Nol Kilometer.

"Tidak. Posisi monumen diperkirakan di seberang tugu. Di halaman kantor gubernur yang lama," kata Mansyur, dosen sejarah dari FKIP Universitas Lambung Mangkurat, kemarin (1/1).

Posisinya terungkap dari beberapa foto tua yang disimpan Tropenmuseum, Belanda. Foto-foto itu diambil sekitar tahun 1890. Dari model manusia yang berdiri di samping monumen, ditaksir ketinggiannya antara tujuh sampai delapan meter.

Kisah monumen ini ditulis Mansyur dalam buku berjudul Bandjarmasin Tempo Doeloe: Sketsa Kecil dari Bingkai Masa Lalu. Buku setebal 219 halaman itu diterbitkan Mei 2018 tadi oleh Rujak Center for Urban Studies.

"Pendirian monumen ini sebetulnya merupakan usulan Letnan TM Verspijck. Dialah pemimpin ekspedisi Perang Banjar. Merujuk pada jurnalnya tertanggal 5 Februari 1960 di Amuntai dan 2 Maret 1860 di Banjarmasin," beber pria berkacamata itu.

Sempat terjadi perdebatan, di mana mestinya monumen itu ditempatkan. Usulan pertama, Martapura. Alasannya, kota ini terpandang di mata bangsawan Banjar. Mengingat di sana berdiri keraton kesultanan.

Usulan kedua, Banjarmasin. Belanda menilai, dalam waktu yang lama, kota ini bakal terus dikunjungi pendatang. Alasan itu rupanya sudah cukup kuat.

Mansyur sanggup menghidupkan adegan peresmian monumen dengan banyak rincian. Ketika tiba di Banjarmasin, monumen diarak awak kapal Angkatan Laut Belanda. Dibantu oleh garnisun setempat.

Kesempatan untuk pidato peresmian diserahkan pada Mayor Infanteri Schuack. Dia menyatakan, monumen ini saksi dari keberanian dan kesetiaan armada kepada ratu. Sambutan kelar, dilantunkan lagu kebangsaan.

"Jenis logam dan gaya yang sama ditemukan pada Monumen Waterlooplein di Batavia dan Monumen Michielsplein di Padang," tukas Mansyur. Ke mana monumen itu kini? "Monumen Perang Banjar diperkirakan hancur ketika Jepang menginvasi Banjarmasin," jawabnya. (fud/at/nur)


BACA JUGA

Selasa, 15 Januari 2019 12:33

Buana Mistik, Komunitas Penguak Mitos dan Hal Gaib di Banjarbaru

Kalau kebanyakan orang takut ditemui makhluk gaib. Orang-orang di komunitas…

Sabtu, 12 Januari 2019 12:50

Linda Wahyuni, Siswi SMAN 1 Pelaihari Berhasil Lolos ke LIDA 2019

Linda Wahyuni (16), gadis asal Kota Pelaihari ini, berhasil meraih…

Sabtu, 05 Januari 2019 11:31

Lappenka, Grup Band yang Beranggotakan Penghuni Lapas Banjarbaru

Lappenka selalu tampil enerjik. Lagu-lagu all genre dibabat habis. Namun…

Rabu, 02 Januari 2019 14:01

Maskot Legenda Rakyat

Kotabaru memang sudah lama menjadikan ikan todak sebagai maskot. Todak…

Rabu, 02 Januari 2019 10:35

Menelusuri Jejak Monumen Perang Banjar

Jika Anda rajin mengulik arsip foto Banjarmasin tempo dulu di…

Senin, 31 Desember 2018 09:28

Sepi Pengunjung, Pengelola Danau Seran Tiadakan Acara Malam Tahun Baru

BANJARBARU - Masyarakat Kota Banjarbaru kali ini tidak bisa lagi…

Minggu, 30 Desember 2018 10:55

Ibnu Pre Order 300 Keping Album Kedua JEF (2)

PELUNCURAN album Gawi Manuntung dihadiri tamu spesial. Wali Kota Banjarmasin,…

Minggu, 30 Desember 2018 10:50

Album Kedua JEF Lebih Dewasa dan Kritis (1)

JEF Band meluncurkan album baru, Gawi Manuntung. Seratus persen keuntungan…

Rabu, 26 Desember 2018 13:22

Sejarah Kerukunan Beragama Dibalik Berdirinya GKE di Banjarmasin

Sebagai gereja tua di Kalimantan, Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) menyimpan…

Senin, 24 Desember 2018 10:32

Pebiola Cilik Fellycia Sita Perhatian Pengunjung Siring Pierre Tendean

Ada yang tak biasa Siring Pierre Tendean, kemarin (23/12) sore.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*