MANAGED BY:
SENIN
18 MARET
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 02 Januari 2019 10:35
Menelusuri Jejak Monumen Perang Banjar

Si Kembar Tiga yang Hilang

BUKAN TUGU INI: Tugu Nol Kilometer di Jalan Sudirman. Banyak yang mengira di sini lah dulu Monumen Perang Banjar berdiri. Dugaan itu meleset. Posisi sebenarnya berada di seberang, di halaman kantor gubernur lama (foto kanan). Foto repro monumen dari buku Bandjarmasin Tempo Doeloe karya Mansyur (foto kiri).

PROKAL.CO, Jika Anda rajin mengulik arsip foto Banjarmasin tempo dulu di internet, pasti pernah melihat monumen gotik ini. Namanya Monumen Perang Banjar. Di mana sisa bangunan itu sekarang? 

BANJARMASIN adalah kota tua. Usianya kini 492 tahun. Setahun lebih tua dari Jakarta. Namun, tak banyak peninggalan bersejarah yang bisa diselamatkan.

Penyesalan itu terlontar dari mulut Wali Kota Banjarmasin, Ibnu Sina. Dia mengambil contoh Monumen Perang Banjar yang dulu berdiri di alun-alun kota. Persis di depan kediaman Residen Banjarmasin. Kini menjadi kantor gubernur di Jalan Sudirman.

Tak jauh dari situ, berdiri Fort Van Tatas (Benteng Tatas). Simbol dari pencaplokan Belanda di Tanah Banjar. Kini menjadi Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

"Saya beberapa kali menanyakan keberadaan monumen itu pada tetua dan sejarawan. Sayang, memang tak bisa ditemukan lagi. Jejaknya benar-benar sudah menghilang," ujarnya.

Ketertarikan Ibnu bermula dari sebuah fakta sejarah. Monumen itu ternyata kembar tiga. Satu dipancang di Batavia (Jakarta), satu lagi di Padang, dan terakhir di Banjarmasin. "Ketiganya dikirimkan langsung dari Belanda," imbuhnya.

Sejarah mencatat, monumen itu diresmikan pada 19 Februari 1867. Terbuat dari besi tuang. Dindingnya dipenuhi relief. Lantainya dilapisi marmer. Sementara bagian atasnya runcing dihias salib kecil. Kental oleh pengaruh arsitektur kuno Eropa bergaya gotik.

Pemerintah Hindia Belanda membangun monumen untuk mengenang banyaknya serdadu mereka yang gugur selama Perang Banjar.

Dalam versi Belanda, peperangan itu hanya berlangsung dari tahun 1859 sampai 1863. "Meski singkat, ini bukti betapa dahsyatnya Perang Banjar," tegasnya.

Ibnu pun berandai-andai, jika monumen itu masih ada, tentu bukan sekadar menjadi objek wisata. Tapi juga menjadi pelajaran bagi anak dan cucu. "Artinya Belanda menganggap perlawanan orang Banjar itu sangat sengit," pungkasnya.

Beberapa orang kerap salah paham. Mengira lokasi Monumen Perang Banjar berada di Siring Nol Kilometer, Jalan Sudirman. Kebetulan, di samping panggung terbuka siring, berdiri tugu besar berwarna putih.

Maklum, tugu itu tidak dilengkapi prasasti yang memuat penjelasan kepada pengunjung. Padahal, namanya adalah Tugu Nol Kilometer.

"Tidak. Posisi monumen diperkirakan di seberang tugu. Di halaman kantor gubernur yang lama," kata Mansyur, dosen sejarah dari FKIP Universitas Lambung Mangkurat, kemarin (1/1).

Posisinya terungkap dari beberapa foto tua yang disimpan Tropenmuseum, Belanda. Foto-foto itu diambil sekitar tahun 1890. Dari model manusia yang berdiri di samping monumen, ditaksir ketinggiannya antara tujuh sampai delapan meter.

Kisah monumen ini ditulis Mansyur dalam buku berjudul Bandjarmasin Tempo Doeloe: Sketsa Kecil dari Bingkai Masa Lalu. Buku setebal 219 halaman itu diterbitkan Mei 2018 tadi oleh Rujak Center for Urban Studies.

"Pendirian monumen ini sebetulnya merupakan usulan Letnan TM Verspijck. Dialah pemimpin ekspedisi Perang Banjar. Merujuk pada jurnalnya tertanggal 5 Februari 1960 di Amuntai dan 2 Maret 1860 di Banjarmasin," beber pria berkacamata itu.

Sempat terjadi perdebatan, di mana mestinya monumen itu ditempatkan. Usulan pertama, Martapura. Alasannya, kota ini terpandang di mata bangsawan Banjar. Mengingat di sana berdiri keraton kesultanan.

Usulan kedua, Banjarmasin. Belanda menilai, dalam waktu yang lama, kota ini bakal terus dikunjungi pendatang. Alasan itu rupanya sudah cukup kuat.

Mansyur sanggup menghidupkan adegan peresmian monumen dengan banyak rincian. Ketika tiba di Banjarmasin, monumen diarak awak kapal Angkatan Laut Belanda. Dibantu oleh garnisun setempat.

Kesempatan untuk pidato peresmian diserahkan pada Mayor Infanteri Schuack. Dia menyatakan, monumen ini saksi dari keberanian dan kesetiaan armada kepada ratu. Sambutan kelar, dilantunkan lagu kebangsaan.

"Jenis logam dan gaya yang sama ditemukan pada Monumen Waterlooplein di Batavia dan Monumen Michielsplein di Padang," tukas Mansyur. Ke mana monumen itu kini? "Monumen Perang Banjar diperkirakan hancur ketika Jepang menginvasi Banjarmasin," jawabnya. (fud/at/nur)


BACA JUGA

Minggu, 17 Maret 2019 10:18
Aulia Aziza

Meneliti Seks dalam Bahasa Tutur Masyarakat Banjar

BANJARMASIN -- Di bawah atap rumah orang Banjar, seks adalah…

Sabtu, 16 Maret 2019 11:45

Cincin Talipuk Acil Rida di Pasar Induk Amuntai, Sering DIbawa Sampai Makkah

Cinta atau kue cincin talipuk, kue unik yang terbuat dari…

Jumat, 15 Maret 2019 10:59

Padi Raksasa Milik Aliansyah di HST

Petani Indonesia Menggugat (PIM), bukanlah nama sebuah organisasi aktivis. Ini…

Selasa, 12 Maret 2019 11:57

Ke Bukit Mangkun HST, Medan Berat Terbayar Indah Pemandangan dan Anggrek Liar

Radar Banjarmasin mengikuti para pegiat alam ke Bukit Mangkun. Inilah…

Senin, 11 Maret 2019 09:56

Masih Jomblo, Si Cantik Ini Malah Berasa Sudah Punya Anak

Priskila Dwi Utami, paling senang dipanggil Kila. Usianya 25 tahun.…

Senin, 11 Maret 2019 09:03

Ziarah Sekumpul, Ziarah Cinta

Haul Guru Sekumpul tidak mungkin pernah ada jika tak pernah…

Jumat, 08 Maret 2019 10:32

Masih Bocah, Tiga Bersaudara Ini Keliling Jualan Kerupuk

Masih bocah, tiga bersaudara ini malah ikut memikirkan kebutuhan hidup…

Selasa, 05 Maret 2019 10:02

Komunitas Driver Mahligai Sehati

Berapa jumlah driver online yang ada di Banjarmasin? Jawabnya; ribuan.…

Kamis, 28 Februari 2019 10:43

Terminal Catur Minggu Raya Lahirkan Master Internasional

Terminal biasanya identik dengan tempat pemberhentian angkutan umum. Namun Terminal…

Kamis, 28 Februari 2019 09:18

Jangan Salah, Bapandung Bukan Stand Up Comedy

Terkadang, orang salah tanggap. Bapandung dikira stand up comedy. Padahal,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*