MANAGED BY:
KAMIS
17 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Minggu, 06 Januari 2019 12:40
Wisata Sungai Gak Kalah Seru Loh Sama Wisata Pantai, Tengok Yuk!!
UNIK: Bila umumnya payung besar dengan warna mencolok ada di atas pasir pantai, di Riam Bajandik payung ada di atas sungai berarus.

PROKAL.CO, Masyarakat banua adalah masyarakat yang suka jalan-jalan. Setidaknya itu bisa terlihat dari momen Natal dan Tahun Baru (Nataru) lalu. Puluhan ribu orang memadati objek-objek wisata alam dan buatan untuk berekreasi. Penasaran, objek wisata mana yang paling hits di Kalsel dalam Nataru lalu?

Pantai biasanya menjadi tempat wisata favorit warga banua. Karakter alam Kalsel yang kebanyakan rawa dan sungai membuat masyarakat merindukan suasana setiap kali musim liburan tiba.

Namun, tahun ini sedikit berbeda. Dari catatan Dinas Pariwisata Tanah Bumbu --daerah yang menjadi destinasi wisata pantai--tren kunjungan ke pantai selama Nataru menurun drastis dibanding tahun lalu.

Hanya ada 7.138 orang yang datang ke Pantai Rindu Alam selama Nataru lalu. Bandingkan pada Nataru tahun sebelumnya yang mencapai 14.925 orang. Di pantai lainnya di Tanah Bumbu, tren serupa juga terjadi.

Pantai Angsana misalnya, hanya dikunjungi 4.200 orang. Tahun sebelumnya, pantai ini dikunjungi 11.800 wisatawan. Pantai Cemara? Jangan ditanya. Hanya 400 orang saja di tahun ini!

Dari wawancara Radar Banjarmasin dengan beberapa orang, sepinya wisata pantai di Natari ditengarai karena banyak wisatawan yang ketakutan.

Tsunami yang menyapu beberapa daerah di Indonesia di akhir tahun membuat warga memilih berekreasi ke tempat yang jauh dari ombak. Salah satu yang paling banyak dipilih adalah wisata sungai arung jeram dan wahana air buatan.

Salah satu yang lagi hits adalah wisata Riam Bajandik yang terketak di Desa Waki, Hulu Sungai Tengah (HST). Objek wisata yang baru berumur setengah tahun ini memang ramai dikunjungi di Nataru lalu.

"Seribuan lebih, Yang datang bukan hanya masyarakat HST, tapi juga ada yang dari luar," ujar Syamsudin (65), salah seorang tetua di Desa Waki, yang menjadi penggagas Riam Bajandik.

Ya, objek wisata ini memang dibuat. Syamsudin menuturkan, pada awalnya Riam Bajandik ini merupakan padang ilalang yang sangat lebat. Saking lebatnya, aliran sungai seolah tertutupi tumbuhan air.

Syamsudin kemudian mendapat ide, untuk membenahi sungai. "Siapa tau bisa jadi objek wisata," pikirnya.

Kakek dengan tujuh cucu ini tak sendirian. Dia dibantu H Aidi, mantan kepala desa setempat. Mereka kemudian mengumpulkan warga di Desa Waki.

Gayung bersambut, warga sangat antusias. Mereka perlahan membersihkan kawasan sungai dari lebatnya ilalang.

"Pagi kami pergi bertani dan berkebun, siangnya sampai malam kami mulai menata kawasan ini sedikit demi sedikit," ujar Syamsudin.

Perlahan namun pasti, wujud sungai yang indah mulai terlihat. Aliran air yang turun ke bawah menghantam bebatuan, menjadikannya riam atau jeram kecil yang tenang. Bahkan, aliran airnya tampak seperti sedang menari.

"Dari sifat aliran air yang seakan menari atau batandik (bajandik), oleh masyarakat desa setempat objek wisata ini dinamakan Riam Bajandik," tuntas Syamsudin.

Warga Desa Waki kemudian mulai mempercantik sungai sehingga layak menjadi objek wisata. Pohon-pohon yang roboh di hutan, dibawa ke tempat tersebut kemudian disulap menjadi tempat peristirahatan. Mulai dari bangku, meja kecil dan lain-lain.

"Sampai bambu-bambu liar yang ada di hutan juga kami manfaatkan secukupnya untuk membuat pagar," tutur Yunan (57), warga Desa Waki lainnya.

Riam Bajandik, memang mengandalkan air sebagai objek wisatanya. Tapi jangan salah, untuk menambah sensasi serta nilai jual kawasan tersebut, masyarakat secara bergotong royong juga membeli payung besar berwarna-warni yang dapat dibongkar pasang, lengkap dengan meja dan kursi, kemudian diletakkan di atas sungai.

"Di atas aliran sungai itu, wisatawan bisa duduk santai atau sekadar berselfie layaknya di cafe-cafe," ujar Yunan.

Perlu diketahui, untuk menikmati objek wisata Riam Bajandik, pengelola tak mematok tarif masuk. Alias suka rela.

Sedangkan untuk tarif parkir, khusus hari libur atau hari Minggu, wisatawan hanya dikenakan tarif Rp5 ribu untuk kendaraan roda dua, dan Rp10 ribu untuk kendaraan roda empat.

Dari Kota Barabai, objek wisata ini hanya berjarak 9 KM atau memakan waktu selama 19 menit dengan menggunakan roda dua maupun roda empat.

Bagaimana dengan objek wisata sejarah?

Tanpa adanya pembenahan untuk membuat nilai tambah, objek wisata edukasi dan sejarah kini mulai ditinggalkan.

Salah satu contohnya adalah Candi Agung yang menjadi situs purbakala sisa peninggalan kerajaan Negara Dipa di Amuntai. DI libur Nataru hanya ada ratusan orang perhari. itu tidak menyebut hari biasa yang hanya puluhan orang.

Wisata religi masih lebih mendapat perhatian bagi masyarakat banua yang memang cenderung religious. Meski demikian, ada waktu-waktu tertentu kunjungan religi banyak dilakukan.

Misalnya pada Haul Guru Sekumpul. Kabupaten Banjar berhasil menyambut pengunjung dari dalam dan luar negeri pada setiap haul. Jumlah kunjungan mencapai 3.121.886 orang pada Maret silam. (kry/war/mar/mam/by/ran)


BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*