MANAGED BY:
KAMIS
21 FEBRUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 26 Januari 2019 12:40
Komunitas Wasaka Pamerkan Pedang VOC Produksi Tahun 1744
WARISAN BUDAYA: Pengunjung Siring Pierre Tendean melihat-lihat Pameran Wasi Pusaka Banua, kemarin (25/1) sore. Pameran ditutup pada Senin (27/1) malam nanti. (Syarafuddin/Radar Banjarmasin)

PROKAL.CO, Wasi memang tak ada matinya. Dulu dimiliki karena fungsi. Senjata untuk membela diri. Kini digemari karena seni. Di mata pecintanya, harga sebilah wasi bisa mencapai puluhan juta rupiah.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

DALAM Bahasa Banjar, secara harfiah, wasi artinya besi. Tapi secara budaya, wasi diartikan sebagai senjata tradisional hasil tempaan. Dan Suku Banjar mengenal banyak sekali jenis wasi.

Seperti Mandau, Parang Bungkul, Raja Tumpang, Balitung, Sampana, dan banyak lagi. Semua jenis wasi itu dipamerkan di panggung terbuka Siring Pierre Tendean, samping Rumah Anno 1925.

Pameran dibuka sejak kemarin (25/1) sore hingga Senin (27/1) malam nanti. Penggagasnya adalah Komunitas Wasi Pusaka Banua (Wasaka).

Wasaka punya 250 anggota yang tersebar di Kalsel dan Kalteng. Jumlah pengikut Wasaka di media sosial bahkan sudah mencapai enam ribu.

"Sedikitnya ada 500 bilah wasi yang kami pamerkan hari ini. Dari wasi tua sampai wasi muda," kata Ketua Komunitas Wasaka Korwil Banjarmasin, Muhammad Rahmadi.

Salah satu yang paling menarik perhatian pengunjung adalah pedang produksi VOC tahun 1744. VOC adalah kongsi dagang Hindia Timur milik penjajah Belanda.

Pameran ditujukan bagi masyarakat awam. Terutama generasi muda yang belum mengenal wasi.

"Tujuannya edukasi. Kami ingin mengikis kesan negatif wasi yang terlanjur dekat dengan kekerasan," tegasnya.

Sebagai orang Hulu Sungai, Rahmadi mengakui, wasi dimiliki untuk mempersenjatai diri. Itulah mengapa wasi Banjar didesain kecil. Supaya bisa diselipkan di pinggang. Tersembunyi dari balik pakaian.

"Supaya tak kentara. Makanya keris Banjar cenderung mungil. Bandingkan misalnya dengan keris Jawa yang besar dan panjang," jelasnya.

Perbedaan budaya juga turut mempengaruhi selera. Orang Jawa mengenal Warangan. Minyak khusus untuk menjaga keapikan logam.

"Keris Jawa cenderung purna. Mulus dan bersih. Tapi selera orang Banjar malah yang bergurat-gurat," tukasnya.

Rahmadi melihat, tren wasi telah bergeser. Karena berjalan-jalan sambil mengantongi senjata tajam tergolong tindak pidana.

"Sekarang wasi dipandang sebagai barang seni. Warisan budaya. Bukan senjata untuk gagah-gagahan," imbuhnya.

Maka jangan heran, wasi tua yang tampak tumpul, justru lebih diburu ketimbang wasi tempaan baru yang tajam dan mengkilat.

Para pecintanya juga tak ragu merogoh kocek jutaan rupiah demi sepaket gagang dan sarung. 

"Kumpang yang bagus harganya berkisar antara Rp3 juta sampai Rp5 juta. Mahal karena bahannya langka. Ukirannya juga rumit dan indah," terangnya.

Perkara harga memang rumit. Lantaran wasi tak memiliki patokan harga. Sebelum pameran di Banjarmasin, Wasaka pernah pameran di Kandangan dan Banjarbaru.

"Di Banjarbaru, seorang pengunjung menawar sebilah keris hingga Rp30 juta," kisahnya.

Lalu, bagaimana mendeteksi wasi KW? Maksudnya, wasi muda yang ditua-tuakan demi mendongkrak harga. Jawaban diberikan Ketua Umum Komunitas Wasaka, Muhammad Syafii.

"Ya, penipuan begitu mulai marak. Tapi benar atau dusta, bisa dikenali dari wasi itu sendiri. Masing-masing empu memiliki sentuhan khas yang tak bisa ditiru," bebernya.

Pengetahuan wasi amat tergantung dari level sang pembeli. Dengan nada setengah berguyon, Syafii menyebut ada tiga level: peminat, pecinta, dan dan penggila.

"Level paling tinggi itu penggila. Gilanya enggak pakai pura-pura," ujarnya tergelak.

Anggota komunitas kerap kopi darat untuk bertukar informasi terkait wasi buruan. Jangan dikira anggotanya cuma dari generasi tua. Pemuda yang masih kuliah pun banyak.

Wasaka juga punya agenda wajib setiap 1 Suro (1 Muharram).

"Koleksi wasi anggota dikumpulkan dan dibersihkan. Lalu dibacakan doa selamat. Yang didoakan bukan si wasi, tapi keselamatan para pemilik wasinya," imbuhnya terkekeh. 

Selain mengikis imej negatif dari wasi, Syafii juga menekankan sikap terbuka. Selama pameran berlangsung, pelaku seni Kuntaw Banjar dan Japin diajak tampil untuk menghibur pengunjung.

"Bahwa orang wasi itu tidak tertutup. Siap berkolaborasi dengan penjaga budaya lainnya," pungkasnya. (fud/by/bin)


BACA JUGA

Kamis, 21 Februari 2019 09:11

Fatmathalia Ranti Wakili Kalsel di Ajang Puteri Indonesia

BANJARMASIN - Fatmathalia Ranti tak setenar model-model ternama di Banjarmasin.…

Senin, 18 Februari 2019 09:34

Amira Amelia, Cewek Banjarmasin yang Menaklukkan Ibukota

Jika Anda penggemar FTV, maka familiar dengan wajah cantik ini.…

Kamis, 14 Februari 2019 11:20

Menilik Pembuatan Wayang Kulit Banjar di Kabupaten HST

Taufik Rahman Hidayat tak hanya piawai memainkan Wayang Kulit Banjar.…

Senin, 11 Februari 2019 10:11

Mengenal Nadia Asfaq, Atlet Senam & Dance Calon Guru BK

Namanya Nadia Asfaq. Berusia 22 tahun. Dia berdarah Pakistan yang…

Senin, 11 Februari 2019 10:04

Dakwah Sang Sultan di Tanah Banjar

Sultan Suriansyah. Begitula judul yang tertera pada cover buku ini.…

Kamis, 07 Februari 2019 10:47

Pasang Surut Bisnis Jual Beli Sepeda Bekas di Banjarbaru

Di tengah gaya & gengsi yang kian menjadi-jadi. Ternyata peminat…

Senin, 04 Februari 2019 12:07

Petani Buat Kipas Pendingin Menggunakan Barang Bekas

Ahmad Rifani (29) punya inovasi supaya jumlah hewan ternak yang…

Senin, 04 Februari 2019 10:00

Konflik Perebutan Takhta Negara Daha

Penonton berteriak histeris, sembari bertepuk tangan. Pangeran Samudera akhirnya memenangkan…

Sabtu, 02 Februari 2019 10:45

Smart Mikroskop SMK Telkom Banjarbaru

Kecanggihan elektronik yang ada saat ini tak disia-siakan SMK Telkom…

Rabu, 30 Januari 2019 11:39

Mengenal Ichsan Anwary, Calon Hakim Konstitusi dari ULM

Dalam sejarah Mahkamah Konstitusi, belum pernah ada orang Kalimantan Selatan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*