MANAGED BY:
SELASA
23 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 29 Januari 2019 11:32
Pegiat Seni Rupa Gemakan Penyelamatan Hutan Meratus
SAVE MERATUS: Panorama alam Desa Nateh, difoto dari atas Bukit Kukup. Perbukitan Karst yang berjejer, membentuk formasi layaknya benteng.

PROKAL.CO, Gaung Save Meratus terus menggema dilakukan melalui berbagai macam cara. Seperti halnya Sanggar Seni Lukis Solihin, yang berjuang melalui sketsa.

WAHYU RAMADHAN, Nateh

Minggu (27/1) pagi, hujan baru saja reda. Hampir semalam suntuk air turun dari langit mengguyur beberapa kawasan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Tak terkecuali, di Desa Birayang Surapati, Kecamatan Batang Alai Selatan, tempat para pegiat seni rupa dari Sanggar Seni Solihin asal Banjarmasin menginap.

Sembari menyesap secangkir kopi hitam,  para anggota Sanggar Seni Lukis Solihin menyiapkan perlengkapannya, pagi itu. Mulai dari ransel yang berisi penuh pakaian, kamera, hingga peralatan lukis. Mereka bersiap menuju Desa Nateh, Kecamatan Batang Alai Timur.

Tujuan para seniman ini bukan sekadar berwisata sambil memboyong anggota keluarga. Tapi, lebih dari itu. Salah seorang anggota sanggar, Aswin Noor, menjelakan bahwa para anggota Sanggar Seni Lukis Solihin, ingin melihat langsung kawasan Desa Nateh, untuk dituangkan dalam bentuk karya seni lukis.

“Pelukis juga perlu inspirasi untuk menghasilkan sebuah karya. Salah satunya, dengan mengunjungi berbagai macam tempat,” ujarnya.

Lantas, mengapa harus Desa Neteh? Tentu tujuan para pegiat seni rupa lintas generasi ini juga bukan tanpa alasan. Mereka sadar, beberapa waktu lalu kawasan ini tengah jadi pesakitan.

Bagaimana tidak, kawasan yang dikelilingi oleh bentangan gugusan karst serta hutan belantara, ini mulai terusik kedamaiannya dengan kisruh pertambangan batu bara.

Tak ayal, gaung penolakan pun tersiar ke mana-mana. Tak hanya dilakukan oleh masyarakat beserta tokoh di kabupaten HST. Tapi, juga dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat di beberapa daerah di Kalsel.

"Kami ingin menggambarkan kemudian memberitahukan kepada khalayak ramai khususya di Banjarmasin. Bahwa Nateh, tak boleh ditambang. Pegunungan Meratus tak boleh dicederai," tegas lelaki yang akrab disapa Aswin, ini.

Pagi itu, dengan menggunakan tiga unit mobil, mereka menuju Desa Nateh. Letaknya berjarak hampir 30 kilometer dari Barabai, pusat Kabupaten Hulu Sungai Tengah.

Jarak tersebut sebenarnya bisa ditempuh dalam waktu yang cukup singkat. Namun, akses jalan yang dahulu mulus, beberapa ruas jalannya kini tampak dipenuhi lubang.  

Memasuki Desa Nateh, Anda bakal disajikan pemandangan sebuah desa yang dikelilingi perbukitan karst.

Oleh masyarakat setempat, yang kesehariannya bekerja sebagai petani, berkebun dan pemecah batu, perbukitan karst itu mempunyai nama yang berbeda-beda. Mulai dari Balu, Sawar, hingga bukit Kukup.

Seperti yang sudah diketahui sebelumnya. Selama beberapa bulan terakhir, objek wisata alam kian bermunculan hampir di tiap kecamatan yang ada di Kabupaten HST.

Nah, di Desa Nateh, Kecamatan Batang Alai Timur pun demikian. Yang beberapa waktu lalu sempat booming serta hingga kini masih didatangi masyarakat dari berbagai daerah, yakni wisata Arung Jeram Nateh.

Di situ, wisatawan yang berkunjung tak hanya disajikan keseruan menaklukkan jeram. Tapi, juga disuguhi lansekap hutan belantara serta gugusan pengunungan karst menjulang tinggi.

Seakan menjadi benteng di Desa Nateh. Di objek wisata inilah titik kumpul rombongan Sanggar Seni Lukis Solihin, pagi itu.

Sesampainya di objek wisata, rombongan berpencar. Ada yang asyik berjalan mengitari kawasan objek wisata, ada yang duduk-duduk sambil berdiskusi, ada pula yang bersantai menyesap kopi.

Setelah dirasakan cukup, waktunya memulai. Aswin Noor tampak mulai menggoreskan pulpennya di atas kertas putih. Berawal dari hanya sekadar corat-coret acak, kemudian berubah menjadi sebuah gambar rombongan wisatawan yang berdiri di pinggir sungai di Desa Nateh.

Hal yang serupa juga dilakukan oleh Fathurrahmi. Dengan santainya, lelaki ini berdiri di samping sungai. Di seberangnya, tampak dua buah rumah berada tepat di pinggir sungai yang berlatar perbukitan karst. Ada beberapa bocah sedang asyik mandi di sungainya.

"Selesai," ujar lelaki yang memakai ikat kepala, ini sembari meletakkan hasil sketsanya di gazebo. Sketsa yang dibuatnya memang tak sedetail pemandangan yang di hadapannya, tapi goresan-goresan yang dihasilkan menggambarkan pemandangan yang dilihatnya.

Beranjak dari pinggir sungai, penulis menemui salah seorang pelukis lainnya, Umar Sidiq. Pelukis yang kerap membuat karya seni lukis tentang kehidupan masyarakat dan budaya, ini lebih memilih duduk santai, mengamati sekitar, bermain air dengan terjun ke sungai, hingga kembali duduk sembari menyesap secangkir kopi.

"Saya kurang terbiasa dengan sketsa. Jadi saya hanya ingin melihat kawasan ini, kemudian nanti saya tuangkan di atas canvas dan cat," ungkapnya.

Seperti halnya Aswin Noor dan Fathurrahmi, Umar Sidiq pun ingin membuka mata khalayak melalui lukisannya. Ia juga ingin, Pegunungan Meratus beserta isinya tak diusik oleh mereka yang gemar mengeruk kekayaan alamnya. Misalnya, melalui pertambangan batu bara.

"Saya ingin lukisan saya nanti tentang Nateh, bisa dipahami secara gampang. Untuk menambah minat masyarakat yang melihat, mungkin saya masukkan semacam ilustrasi," ungkapnya.

Salah seorang masyarakat yang tinggal di Kecamatan Batang Alai Selatan, Nursiwan, sangat mengapresiasi hal yang dilakukan oleh para seniman dari Sanggar Seni Lukis Solihin.

Menurutnya, kampanye Save Meratus, bisa dilakukan dengan berbagai macam cara. Tentunya, agar bisa disentuh oleh berbagai lapisan masyarakat. Terlebih lagi, mereka yang menjalani masa muda.

“Tak punya keahlian melukis, kita bisa dengan memakai kuota internet. Contoh memajang keindahan panorama alam serta kearifan budaya yang ada kaitannya dengan Pegunungan Meratus,” usul lelaki yang juga menjadi pencetus terbentuknya Organisasi Pencinta Alam Garimbas (Gabungan Anak Rimba Meratus Batang Alai Selatan), ini.

Meski begitu, menggelorakan semangat semua orang agar terus berjuang menggemakan Save Meratus, memang tak segampang membalikkan telapak tangan. Bahkan, menurut Penyair Banjar, YS Agus Suseno, menggelorakan semangat Save Meratus sama halnya dengan Cinta.

"Tak bisa dipaksakan, tapi bisa dimulai pelan-pelan," tuntasnya. (war/ay/ran)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*