MANAGED BY:
SELASA
23 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 30 Januari 2019 11:39
Mengenal Ichsan Anwary, Calon Hakim Konstitusi dari ULM

Satu-Satunya Wakil dari Pulau Kalimantan

MEMBACA SEJAK KECIL: Ichsan Anwary dipotret di perpustakaan pribadinya. Tahun 2018, dia menerbitkan buku berjudul Lembaga Negara dan Penyelesaian Sengketa.

PROKAL.CO, Dalam sejarah Mahkamah Konstitusi, belum pernah ada orang Kalimantan Selatan duduk sebagai Hakim Konstitusi. Harapan muncul pada sosok Ichsan Anwary. Inilah sekelumit kisah hidupnya.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

KARIR Ichsan sebagai akademisi dimulai tahun 1990. Tiga tahun setelah menyabet gelar sarjana pada Jurusan Hukum Tata Negara. 13 tahun berlalu, Ichsan dilantik sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Hukum ULM.

"Karir saya memang agak lamban. Andaikan saya lebih ambisius, mungkin sudah sejak lama menjadi profesor," kata pria kelahiran Banjarmasin 21 Juni 1966 itu.

Kemarin (29/1) sore, penulis berkunjung ke rumah Ichsan di Kompleks Bunyamin Permai I Jalan Ahmad Yani kilometer 6,7. Jangan bayangkan rumah Ichsan seserius dunia yang digelutinya.

Wallpaper, sofa, dan karpetnya didominasi warna krem, pink, dan toska. Ada tiga lukisan besar dipajang. Semua menampilkan lukisan bunga-bunga berwarna cerah. "Ya, ini sentuhan istri," imbuhnya tersenyum.

Selama wawancara, Ichsan juga tampil santai. Mengenakan kaus berkerah warna hijau lembut dengan celana kain hitam longgar. Dia menggunakan tiga smartphone sekaligus.

Nama Ichsan mencuat setelah pengumuman calon Hakim Konstitusi. Ada 11 calon dalam daftar itu. Nomor empat menerakan nama Ichsan. Dan hanya Ichsan seorang yang berasal dari Pulau Kalimantan.

Ceritanya, 11 Januari lalu, Komisi III DPR RI mengumumkan pembukaan lowongan Hakim Konstitusi di halaman koran nasional. Mengingat pada Maret mendatang ada dua Hakim Konstitusi yang mengakhiri masa tugas.

MK punya sembilan Hakim Konstitusi. Tiga dari presiden, tiga dari Mahkamah Agung, dan tiga dari DPR. Ichsan mendaftar dari jalur yang disebut terakhir.

"Senior dan junior di fakultas, semua kompak mendorong saya mendaftar. Mahasiswa juga terus-menerus menyemangati. Saya akhirnya mengalah," ujar istri Yanti Yoshida ini.

Tahun 2013 silam, Ichsan juga pernah ditawari pendaftaran calon Hakim Konstitusi, tapi dia tolak. Alasannya, ingin fokus pada jabatan wadek yang baru saja dipercayakan kepadanya.

Baginya, MK memang bukan lembaga asing. Dia pernah menjadi pembicara pada seminar internasional terkait hukum tata negara. Pernah pula masuk tim revisi modul milik MK.

"Tahun 2018 tadi jabatan saya berakhir. Saya kini dosen biasa. Ternyata kesempatan itu muncul. Ya sudah, kenapa tak mencoba," imbuhnya.

Kamis (17/1) subuh, Ichsan berangkat ke Jakarta. Mendatangi KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk melaporkan harta kekayaan. Lalu menyerahkan berkas pendaftaran ke DPR.

Ternyata Ichsan lolos. Seleksinya masih panjang. Dari penulisan makalah, penyusuran jejak rekam, uji kepatutan dan kelayakan, hingga pemungutan suara di dewan.

Apa saja yang sudah dipersiapkan? Ichsan tampak bingung. "Apa ya? Biasa saja. Saya jalani semua apa adanya. Saya tak ingin terbebani," jawabnya seraya tertawa.

Ichsan seorang pemegang kukuh konsep syukur. Baginya, hidup bakal menjadi neraka jika kita sibuk mendongak ke atas. Menengok ke bawah selalu lebih baik.

Dia meyakini jalan hidup manusia sudah digariskan. "Bukan berarti meremehkan doa dan ikhtiar. Tapi takdir sudah dituliskan. Termasuk juga dalam hal pemilihan Hakim Konstitusi ini," tegasnya.

Namun, sosok bersahaja Ichsan bisa berubah dalam sekejap. Di kampus, dia terkenal kritis. Tak sungkan berbicara keras tanpa bahasa yang diperhalus. Bahkan di depan muka rektor sekalipun.

Dari tahun 2014 sampai 2018, Ichsan mengabdi di senat universitas. Di lembaga elit itu Ichsan bak lampu alarm. Yang otomatis menyala ketika ada aturan kampus dilabrak.

"Saya memang agak keras kalau menyangkut aturan. Sampai-sampai di kampus ada guyonan. Sepeninggal Ichsan, senat menjadi sunyi-senyap," selorohnya.

Kepercayaan senat itu tak berlebihan. Tahun 1997, Ichsan menyabet predikat Dosen Teladan dari fakultas. Piagam yang sudah menguning itu dipajang disamping foto besar keluarga.

Sederhana dan kritis, kepribadian itu sudah dipupuk sejak kecil. Ichsan lahir dari keluarga yang religius.

"Bapak dulu bekerja di Jawatan Penerangan. Beliau mengajarkan banyak hal," akunya.

Lahir dari pasangan Mohammad Hassan dan Hilmiah Gais, Ichsan merupakan anak kedelapan dari 11 bersaudara. Masa kecil dihabiskan di Jalan Kuripan. Keluarga besar itu kemudian pindah ke Jalan Pahlawan.

Dia sudah gemar membaca sejak kecil. Kakak sulungnya kerap membelikan majalah, koran, dan buku.

"Saya tidak seperti anak SMA zaman sekarang. Membaca melulu. Saya melahap apa saja untuk dibaca," ujarnya.

Salah satu kegemarannya adalah majalah Panji Masyarakat asuhan Buya Hamka.

"Tahun 70-an, saya dibawa bapak melihat kunjungan Pak Natsir ke Banjarmasin. Dari sekian banyak orang, saya berhasil bersalaman dengan beliau," kenangnya bangga.

Mohammad Natsir adalah pendiri Partai Masyumi. Perdana Menteri ketika Dwitunggal Sukarno-Hatta belum terpecah. Ini kebetulan yang menarik. Mengingat guru Natsir adalah tokoh bernama Hassan. Dan Hassan adalah nama ayah Ichsan.

Karena bacaan pula, Ichsan kepincut dengan dunia hukum tata negara. Dia kemudian menulis skripsi tentang Dekrit Presiden 5 Juli 1959. "Tebalnya sampai 215 halaman," ujarnya tergelak.

Program master ditempuh di Universitas Airlangga pada tahun 2003. Tesisnya mengulas tentang pergeseran kekuasaan legislatif. Masih di kampus yang sama, dia melanjutkan program doktor.

Disertasinya tentang lembaga negara dan penyelesaian sengketa kemudian dibukukan. Dia terharu ketika Ketua MK Prof Arief Hidayat bersedia menuliskan kata pengantarnya.

Andaikan (semoga) terpilih sebagai Hakim Konstitusi, maka karir dan integritas Ichsan akan menemui ujian sebenarnya. Di Jakarta sana, godaan dan tekanan bakal berlipat-lipat.

Contoh kasus suap yang menimpa Patrialis Akbar. Lalu kasus pencucian uang yang menyeret Akil Mochtar. Ichsan prihatin ketika nasib kedua hakim itu disinggung.

"Bagi saya, prinsip harus dipegang kukuh. Itulah integritas. Kalau digadaikan, habislah semuanya. Anda boleh tanyakan kepada kawan-kawan di kampus. Betapa keras kepalanya saya dalam perkara ini," tukasnya serius.

Menghadapi tantangan di Jakarta nanti, Ichsan memiliki satu pegangan. Yakni pesan dari keluarga.

"Mereka berpesan, kalau menjadi Hakim Konstitusi bisa membawa kebaikan dunia dan akhirat, maka teruskan. Jika ternyata tidak, tinggalkan saja," pungkasnya. (fud)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*