MANAGED BY:
SENIN
22 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 04 Februari 2019 10:00
Konflik Perebutan Takhta Negara Daha

Opera Caronong Samudera

BAHAGIA: Inilah adegan saat Putri Galuh Intan menimang anaknya; Pangeran Samudera. Bersama sang suami, Mentri Jaya.

PROKAL.CO, Penonton berteriak histeris, sembari bertepuk tangan. Pangeran Samudera akhirnya memenangkan perangnya melawan pamannya sendiri. Inilah kisah perebutan takhta yang digambarkan dalam Opera Caronong Samudera.

Opera ini dipentaskan, Sabtu (2/2) malam. Di Gedung Sultan Suriansyah, oleh mahasiswa STKIP PGRI Banjarmasin.

Pertunjukan dibuka dengan munculnya segerombolan orang. Laki-laki dan perempuan. Mereka menari sambil membawa lampion yang menyala. Penampilan itu, cuma sekitar satu menit. Setelah itu, barulah masuk seorang perempuan hamil. Mengenakan pakaian khas kerajaan berwarna kuning keemasan. Dia menari gemulai dengan raut ceria. Di belakangnya ada dua pria yang mengawalnya.

Perempuan ini adalah Putri Galuh Intan. Ibu dari Pangeran Samudera. Sosok ini diperankan oleh Rima Permatasari, mahasiswi semester 5 di STKIP PGRI.

Pada adegan pembuka itu, Galuh Intan sedang mengandung Pangeran Samudera. Dia bahagia menjalani hidupnya di Kerajaan Negara Daha. Dari awal hingga pertengahan opera, banyak adegan-adegan romantis. Antara Galuh Intan dan suaminya Mentri Jaya yang diperankan Gazali Rahman. Mereka menari dan bernyanyi.

Berbagai adegan dilalui. Hingga sampai pada situasi pertemuan petinggi kerajaan. Di mana dilakukan sidang untuk menentukan siapa pewaris takhta kerajaan. Yang akhirnya diputuskan jatuh pada anak Mentri Jaya dan Galuh Intan; Pangeran Samudera.

Pangeran Tumenggung yang diperankan oleh Lukman Nurhakim tak terima atas keputusan itu. Dia adalah paman Pangeran Samudera. Sejak itulah terjadi konflik di kerajaan. Setelah kelahirannya, nyawa Pangeran Samudera terus terancam. Sang paman berupaya membunuhnya. Demi menyelamatkan takhta kerajaan, Pangeran Samudera Kecil (diperankan Ahmad Raisuddin Izzat) akhirnya dilarikan ke Balandean.

Singkat cerita, sang paman akhirnya menemukan tempat pelarian Pangeran Samudera yang sudah dewasa (diperankan oleh Surgi Mukti). Selanjutnya, terjadilan peperangan.

Pangeran Samudera meminta bantuan ke Kerajaan Demak. Untuk membelanya dalam peperangan. Permintaan itu disetujui. Asalkan sang pangeran mau masuk Islam. Pada puncak pertunjukan, Pangeran Tumenggung dan Pangeran Samudera saling berhadapan. Sang paman begitu berambisi menghabisi keponakannya itu.

Bukannya melawan, Pangeran Samudrea justru mempersilahkan pamannya itu untuk membunuhnya.

Di bagian inilah klimaks dari pertikaian itu. Pangeran Tumenggung melunak. Hatinya tiba-tiba saja luluh setelah Pangeran Samudera mempersilakan untuk membunuhnya.
Ending-nya, mereka pun berdua berpelukan. Konflik panjang itu berujung bahagia.

Dan Pangeran Samudera akhirnya masuk Islam. Sesuai dengan kesepakatan dengan Kerajaan Demak. Pertunjukan pun ditutup dengan histeria dan tepuk tangan penonton.

Selain ada konflik dan kisah romantis kerajaan, opera ini juga menampilkan kesedihan seorang Galuh Intan. Yang ditinggal pergi Ayahnya karena meninggal dunia.

Opera Caronong Samudra merupakan ujian dari mata kuliah Manajemen Pertunjukan dan Produksi Tari. Pertunjukan ini adalah yang ketiga sejak 2017 lalu.

Sebelumnya, mereka pernah mengangkat kisah Ramayanan Full Story dan Manjalung Ratu Zaleha pada 2018 lalu. Pementasan sendiri digelar dua sesi. Pertama pada pukul 16.00 Wita dan sesi kedua pada pukul 20.00 Wita. Diperkirakan jumlah penonton yang hadir mencapai 2.000.

Ketua Pelaksana, Siti Rahayu menyebut, pertunjukan ini melibatkan 39 orang tim manajemen, 20 lainnya teknis, serta 150 pemain yang tampil di atas panggung.

"Yang terlibat tidak cuma mahasiswa aktif. Alumni kampus dan beberapa sekolah SD, SMP dan SMA juga disertakan," kata mahasiswi Jurusan Seni Tari itu.

Dalam penggarapan opera ini, satu-satunya kendala adalah masalah dialog. Hal itu diakui oleh Anggi Pradana Irfansyah, selaku penulis naskah. "Karena harus dilagukan dan disesuaikan dengan irama," sebutnya.

Anggi tak mengahadpi kendalanya sendiri. Ia bersama Muhammad Syarif. Kordinator musik pada opera tersebut. Mereka berdua sama-sama alumni STKIP PGRI Banjarmasin. Keduanya masih aktif dalam IKALASTRI (Ikatan Alumni Seni Tari) di kampus itu.

Khusus untuk penggarapan naskah dan musik, mereka membutuhkan waktu tiga bulan. Tak bisa disebut sebentar.

"Kami tidak pernah lepas dari tradisi. Untuk penggarapan musik bersandar pada lagu lagu Banjar. Seperti Curiak, Ampar-ampar Pisang dan Ma-Iwak,” kata Syarif.

Tapi kerja keras itu akhirnya terbayar dengan kesuksesan. Opera tersebut berhasil memukau penonton.

Ketua Program Studi Pendidikan Seni Tari STIKIP PGRI Banjarmasin, Suwarjiya menyebut, ada yang berbeda pada opera kali ini.

"Jika dua karya sebelumnya berbentuk Sendratari, tahun ini mencoba menampilkan sajian dalam bentuk yang berbeda. Yaitu dengan memasukkan unsur lagu dan dialog yang dilagukan,” jelasnya.

Apa perasaan pemeran? Ungkapan pertama datang dari Surgi Mukti. Pemeran Pangeran Samudera (Sultan Suriansyah) itu merasa bangga. Meski sempat kesulitan, tapi ia berupaya agar bisa tampil maksimal.

"Saya berterimakasih karena sudah dipercaya. Saya merasa terhormat. Berkat bantuan dari dosen dan rekan-rekan, saya bisa belajar sedikit demi sedikit untuk memerankan sosok kebanggaan ini," ungkap mahasiswa semester 7 itu.

Lalu bagaimana dengan Rima? Dari awal hingga pertengahan pertunjukan, dia banyak beradegan romantis sebagai Putri Galuh Intan. Dirinya juga dituntut untuk menyanyi.

"Di sisi lain, merasa khawatir. Karena takut tidak bisa memerankan tokoh tersebut secara maksimal dan sesuai dengan yang diharapkan," ungkapnya.

Dia juga berterimakasih kepada para pembimbingnya. Termasuk dosen. Tanpa mereka, Rima pesimis mampu berperan.

"Meskipun saya merasa masih banyak kekurangan dalam diri saya," kesannya.

Selain empat pemeran yang disebutkan sebelumnya, opera ini juga diperankan tokoh lainnya. Yakni; Ahmad Razikin sebagai Khatib Dayan. Rhony Arifin sebagai Patih Masih. Muhammad Khairani Fiqri sebagai Mangkabumi. Gazali Rahman sebagai Sultan Demak. Muhammad Maulana sebagai Mangkabumi. Dan Patih Sarapat sebagai Mugi Prayoga.

Lantas, seperti apa tanggapan penonton? Rata-rata mengakun puas. Salah satunya Rahma. Mahasiswi ini bahkan sempat dibuat berkaca-kaca.

"Saya sangat puasa melihat pertunjukaan ini. Terlebih lagi melihat peran dari Putri Galuh Intan yang sangat mendalami perannya. Terlihat dia sampai mengeluarkan air mata, saya pun juga ikut terharu melihat cerita yang dimainkan," ungkapnya sambil terisak. (mr-154/ma/nur)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*