MANAGED BY:
RABU
24 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 28 Februari 2019 09:18
Jangan Salah, Bapandung Bukan Stand Up Comedy
BAPANDUNG: Kesenian ini mirip dengan monolog.

PROKAL.CO, Terkadang, orang salah tanggap. Bapandung dikira stand up comedy. Padahal, kesenian khas Kalsel ini punya ciri berbeda. Itulah yang ditekankan dalam Workshop Seni dan Budaya Bapandung, di Balairung Sari Taman Budaya.

---------------------------------------

NOORHIDAYAT, Banjarmasin

---------------------------------------

Workshop ini digelar selama tiga hari. Dimulai Selasa (26/2) tadi, dan berakhir besok (28/2). Setiap harinya, workshop dimulai pada pukul 09.00 Wita, hingga 20.00 Wita.

Pesertanya adalah para guru yang datang dari berbagai daerah di Kalsel.

Jumlahnya ada 90 orang. Intrukturnya adalah Abdusukur, seorang seniman bapandung.

Satu hal dasar yang paling ia tekankan dalam workshop; bapandung, bukan stand up comedy. Keduanya berbeda jauh.

Abdusukur mencoba memberi pemahaman. Bahwa bapandung punya ciri-ciri yang tak dimiliki stand up.

"Kalau stand up comedy di bungkus dengan kata-kata komedi biar lucu. Kalau bapandung itu boleh lucu, sedih dan boleh tragis. Dan juga memakai properti agar mendalami setiap peran yang dimainkan, semirip mungkin," jelasnya.

Ciri khas lainnya adalah pendalaman cerita. Di mana pelakunya tak cuma sekadar menyampaikan kisah. Tapi juga menggambarkan sejelas-jelasnya karakter yang diceritakan.

"Bisa dilihat saat pentas. Kalau bakisah hanya bicara, kalau bapandung harus menjadi karakter yang diperani. Misalkan jadi acil-acil, harus bekekamban, ya supaya lebih mirip lah," sebutnya.

Ahmad Sapriadi, guru SDN Alalak Tengah 4, baru pertama kali mengikuti workshop ini. Bahkan menjadi penampilan perdananya bepandung di depan peserta lain. Dia membawakan kisah berjudul Menantu Ku Malang, Menantu Ku Sayang.

Tak tanggung-tanggung. Dia harus memerankan empat karakter sekaligus. Sebagai menantu, mertua, suami dan kakek.

"Jelas saja. Peran-peran karakter itu harus dilakukan sendiri. Termasuk mesti gonti-ganti properti. Tetapi dengan kelelahan ini saya sangat bangga akhirnya bisa selesai dan membuat teman-teman yang lain bisa terhibur," ucap. Sapriadi tampil saat workshop, hari ke-2, kemarin (27/2).

Cerita bapandung mesti punya pesan untuk disampaikan penonton. Dalam kisah yang dibawakan Sapriadi, ia mencoba mengajak penontong untuk memaklumi seorang mertua.

Meskipun jahat, harus tetap dibalas dengan perbuatan baik. Hingga akhirnya, kebaikan meluluhkan kejahatan.

"Jadi kejahatan jagan dibalas dengan kejahatan, harus dibalas dengan kebaikan," ucapnya.

Beda dengan guru seni budaya di SDN Kertak Anyar 1-1, Sri Purnami. Dia kesulitan karena harus menggunakan bahasa banjar.

"Karena saya asli orang Jawa Tengah di Kediri. Kadang bingung, tapi saya terus belajar biar tidak ada kendala lagi. Tapi saya sangat mendukung budaya ini. Karena asli Kalsel, tidak ada di tempat lain. Jadi harus dilestarikan," tuturya.

Penting untuk diketahui. Bapandung masuk dalam kategori teater. Sejenis monolog yang menggunakan bahasa Banjar. Artinya hanya ada satu orang di atas panggung. Pemainnya disebut pandung.

Kembali pada Abdusukur. Dia berharap ada generasi penerus budaya bapandung. Agar kesenian Banjar ini tak menghilang.

"Perlu diketahui, pada bulan Mei nanti rencana akan diadakan Festival Bapandung, di Taman Budaya. Dari pesrta yang ikut Workshop ini juga," pungkasnya.

Biar tahu saja, workshop bapandung ini digelar oleh UPTD Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalsel. (mr-154/at/nur)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*