MANAGED BY:
SABTU
25 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 12 Maret 2019 11:57
Ke Bukit Mangkun HST, Medan Berat Terbayar Indah Pemandangan dan Anggrek Liar
Bukit Mangkun

PROKAL.CO, Radar Banjarmasin mengikuti para pegiat alam ke Bukit Mangkun. Inilah salah satu situs yang harus diselamatkan karena kekayaan karstnya.

Oleh: WAHYU RAMADHAN, Barabai

Dibandingkan teman-temannya sesama bukit, Bukit Mangkun terbilang kecil. Berbeda dengan Bukit Kukup atau Bukit Sawar yang gemuk. "Postur" yang berbeda itu membuat Mangkun paling mencolok di antara rangkaian karst yang mengelilingi Desa Nateh di Kecamatan Batang Alai Timur. Jaraknya sekitar 28 kilometer dari Barabai, ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST).

Minggu (10/3) pekan lalu, penulis bersama enam belas pegiat olahraga alam di Kabupaten HST, menjajaki Mangkun. Ada dua alasan di balik pendakian. Pertama, sekadar jalan-jalan. Kedua, menyaksikan langsung lansekap alam Pegunungan Meratus dari puncaknya.

Sejak awal, para pecinta alam yang mengajak bertualang sudah mengingatkan penulis untuk membawa bekal. Maklum, penulis bukan pendaki ulung. Bekal boleh camilan atau roti. Tapi, utamakan air minum. Sebab, jangan harap bertemu aliran air di Mangkun. Kalaupun ada, letaknya tidak di jalur pendakian. Akan makan banyak waktu untuk mencarinya.  

Menemukan jalur pendakian Mangkun bukan perkara sulit. Di Nateh, Anda bakal bertemu persimpangan jalan. Satu mengarah ke Desa Manta atau Pambakulan, dan yang satu lagi ke arah Desa Kukup. Ikutilah jalan menuju Desa Kukup. Di kiri kanan jalan berjajar kebun sayur dan karet serta persawahan milik warga.

Tapi, dari Kukup tidak bisa langsung mendaki. Kami masih harus terlebih dahulu berjalan kaki menuju jalur pendakian selama kurang lebih satu jam. Jalan yang dilalui pun bervariasi. Mulai area persawahan, hingga perkebunan milik masyarakat setempat. Di area persawahan, penulis berkali-kali menelan ludah. Melihat dengan jelas bahwa ternyata Mangkun tak selandai bukit lainnya.

Ya, selain langsing, bila terus diamati, Mangkun ternyata juga runcing. Penulis juga mencoba memompa semangat   untuk menjajak puncak Mangkun.  

Tiba di kaki bukit, pendakian dimulai. Sebelumnya, Ibuy, warga Nateh yang mengantarkan kami sampai kaki bukit, menjelaskan bahwa jalur menuju puncak sudah pasti. Artinya sudah ada jalan. Tapi, dia berpesan kepada kami untuk mencari pijakan yang kokoh.

“Kalau tidak, batu yang diinjak bakal jatuh,” pesannya.

Meski bukit batu, bukan berarti Mangkun tak memiliki selimut pepohonan. Sama seperti bukit lainnya, Mangkun diselimuti pepohonan rimbun. Untuk bisa mendaki, penulis dan rombongan harus menyibak ranting-ranting pohon atau akar yang bergelantungan. Seringkali, harus mengambil jalan memutar karena tubuh sudah tak mampu menerobos tumbuhan liar yang berulang-ulang melilit tubuh. Nekat menabrak pun percuma. Sekarang bisa lolos, tapi belum tentu selanjutnya.

Untuk terus bisa mencapai puncak, tak hanya harus mencari pijakan berupa batu kokoh. Kedua tangan juga diperlukan untuk berpegangan ke batang-batang pohon atau akar yang bergelantungan. Gunanya, sekadar menarik tubuh dan kaki agar berpindah dari pijakan satu ke pijakan lainnya. Seperti Spiderman atau manusia laba-laba.  

Mangkun, memiliki sudut kemiringan 40 hingga 80 derajat. Bagi pendaki awam seperti penulis, tentu merupakan pendakian yang berat. Napas seakan hampir habis. Terengah-engah sepanjang jalan, plus keringat bercucuran. Setiap kali melihat tempat landai, penulis memilih berhenti karena capek. Alhasil, baru setengah perjalanan,   sudah hampir menghabiskan sebotol air mineral.

Satu jam pendakian, puncak mulai kelihatan. Penulis kembali bersemangat. Karena kali ini pemandangan alam cukup terbuka, gugusan panjang perbukitan yang mengitari Nateh mulai kelihatan bentuknya.

Didominasi bebatuan cadas dan tumbuh-tumbuhan, penulis dan rombongan akhirnya bisa dengan santai rebahan. Beberapa di antaranya, asyik mengabadikan pemandangan yang tersaji. Cekrek…cekrek. Mulai foto hingga membikin video. Meskipun bukan puncak yang sesungguhnya, tapi pemandangannya benar-benar menawan.

Namun, kegembiraan itu tak berlangsung lama. Cuaca yang sedari awal cerah, tiba-tiba murung. Gemuruh terdengar bersahutan. Dari ketinggian, kami bisa melihat beberapa kawasan sudah diguyur hujan deras. Perlahan namun pasti, bergerak menuju Mangkun. Sesekali, kilat tampak menyambar. Alhasil, kami sempat merasakan guyuran hujan meskipun sekadar gerimis dan tak berlangsung lama. Hanya beberapa menit saja. Separuh dari rombongan termasuk penulis  memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke puncak.  

Penulis sempat menduga perjalanan menuju puncak tak lagi berat seperti semula. Apesnya, dugaan itu salah. Medannya sungguh berat. Lebih mengkhawatirkan dari pendakian. Bagaimana tidak, bebatuan yang diinjak lebih rapuh dan gampang menggelinding dibandingkan bebatuan di kaki bukit. Jalurnya, tak ada yang pasti. Lagi-lagi ditutupi semak belukar.   

“Goyang-goyang dahulu batunya sebelum dipegang,” ujar M Yusmi, seorang rekan, mengingatkan. Penulis pun lantas berulangkali meraba-raba permukaan batu mana yang kokoh untuk dipegang.

  Kedua tangan penulis sudah berpegangan pada batu yang dianggap kokoh. Ketika pijakan kaki kiri sudah mantap, perlahan-lahan penulis mulai menaikkan kaki kanan agar berpijak ke batu yang lain. 

“Brek, brek.”

Terlalu lebar mengangkat kaki,   celana robek. M Yusmi, yang sedari awal menunggu di tempat yang landai, hanya tertawa terbahak-bahak. Sambil mengeluarkan kamera, dia mengabadikan momen penulis yang terengah-engah mendaki.

Terus terang, penulis sempat berpikir untuk menyerah saja dan kembali ketitik semula agar duduk santai bersama rombongan yang lain, daripada melanjutkan pendakian menuju puncak. Selain medannya yang berat, cuacanya  benar-benar  tak mendukung.

Ketika penulis mendaki jalur yang hanya ada bebatuan, rasanya ingin cepat-cepat menyingkir. Khawatir kalau sewaktu-waktu petir menyambar. Maklum, di jalur itu lebih banyak bebatuan cadas dan semak belukar ketimbang pepohonan. Di sini, penulis sempat berpikiran untuk melempar ransel yang dibawa. Setidaknya, bisa meringankan beban. Namun, alih-alih membuang ransel, justru pikiran itu yang penulis buang jauh-jauh.

Usaha keras, memang tak pernah mengkhianati hasil. Dalam waktu yang ternyata lebih dari satu jam, akhirnya penulis sampai di puncak Mangkun. Di sini, dari delapan orang yang naik, sudah ada enam orang yang sampai lebih dulu. Penulis dan M Yusmi, adalah yang terakhir sampai.

Dari puncak Mangkun, sejauh mata memandang, di kiri dan kanan hanya ada puncak perbukitan serta hutan hijau yang membentang. Tanpa ada satu pun yang menghalangi pandangan. Bukit Sawar yang montok, Bukit Panyulingan yang memanjang layaknya tembok raksasa, serta perbukitan lainnya yang tak kalah megahnya. Penulis bersyukur bisa sampai di titik ini.

“Kalau mau sampai ke sana, mungkin cuma nafsu yang bermain. Bukan akal,” ucap Nursiwan, pencetus Organisasi Pencinta Alam Gabungan Anak Rimba Meratus Batang Alai Selatan (Orpala Garimbas), sembari memalingkan wajahnya ke belakang.

Ya, ternyata puncak yang kami gapai bukanlah puncak yang sesungguhnya. Hanya berjarak enam meter dari tempat kami bersantai dan menikmati pemandangan, masih ada dinding batu. Untuk mencapai ke atasnya, tak satu pun dari kami yang bisa melihat jalur pendakian. Satu-satunya cara, yakni hanya dengan memanjat tebing.

Kami tidak bisa berlama-lama beristirahat di tempat yang kami anggap puncak itu. Selain khawatir kemalaman di jalan pulang, sebagian dari kami  sudah merindukan segelas es teh manis. Maklum, sampai di puncak ini, air yang penulis bawa sudah habis. Melihat wajah-wajah tua para pendaki lainnya, penulis benar-benar tak tega untuk minta air milik mereka. Otomatis, sebagai yang muda, penulis harus menahan haus sebelum sampai ke sungai di kaki bukit atau permukiman penduduk.

Menuruni Bukit Mangkun, memang tak selambat ketika mendaki. Tapi kewaspadaan serta kecermatan tetap diutamakan. Kalau ceroboh, dijamin bakal tak hanya mencelakakan diri sendiri, tapi juga orang lain. Penulis menyatakan demikian bukan tanpa alasan. Rekan pendaki yang berulang kali naik turun gunung saja tampak kesulitan.  

Salah satunya Hudhari, pemuda yang tinggal di Kabupaten Tabalong. Dia berulang kali merelakan kakinya terperosok karena batu yang diinjak tiba-tiba lepas atau menggelinding.  

Di saat melakukan pendakian maupun turun,  selain bisa melihat pemandangan alam yang memukau, ada banyak hal lain yang membuat para rombongan terkesan. Salah satunya bisa melihat bunga-bunga anggrek tumbuh subur hampir sepanjang jalur pendakian.

M Yusmi, yang memang menggilai tanaman ini berkali-kali berhenti dan mengabadikannya melalui kamera. Tak jarang, dia memanggil penulis untuk menunjukkan anggrek cantik yang dilihatnya. Dari yang tumbuh di sekitar bebatuan hingga pepohonan.  

“Anggrek, memang lebih mengasyikkan bila dilihat ditempat yang seperti ini. Tanpa ada yang mengusik apalagi memetik,” ujarnya.

Tak terasa, rombongan sudah sampai di kaki bukit. Penulis bertemu dengan Atung, warga Desa Manta. Ia bersama dua anak dan istrinya, baru kembali dari kebun. Melihat kami yang hampir serentak turun dari bukit, Atung mengira kami adalah hantu.

“Hati-hati bila di sini. Beberapa pekan berturut-turut, anjing penjaga kebun hilang habis menyalak sesuatu di rimbunan pohon,” ungkapnya seraya menjelaskan bahwa ternyata ada beberapa ular sanca berukuran besar yang menghuni kawasan tersebut. Penulis yang mendengar ceritanya, hanya bisa terdiam. Andaikan  bertemu Atung sebelum mendaki Mangkun, bisa jadi niat untuk mendaki Mangkun penulis urungkan.   (war/ema)


BACA JUGA

Jumat, 24 Mei 2019 09:11
Ustad Arifin Ilham, Ulama Kondang Asal Kalsel Berpulang

Ingin Dimakamkan di Gunung Sindur, Minta Dikubur Malam Jumat

Ustad Arifin Ilham berpulang semalam. Setelah sempat kritis selama satu…

Kamis, 23 Mei 2019 15:01
Mengikuti Peringatan Nuzulul Quran di Masjid Lapas Banjarbaru

Berderai Air Mata, Ratusan Napi Teringat Keluarga

Ratusan napi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Banjarbaru berkumpul.…

Kamis, 23 Mei 2019 09:48

Kisah Kerusuhan 23 Mei: Telepon Guru Sekumpul Bikin Karno Tenang

Peristiwa itu masih melekat kuat di ingatan H Karno. Pria…

Rabu, 22 Mei 2019 12:54
Berkunjung ke Eks Bangunan Rumah Sakit Paru dr H Andi Abdurrahman Noor di Batulicin

Tak Terawat, Mulai Jadi Sumber Cerita Angker

Eks bangunan rumah sakit Andi Abdurrahman Noor ini sudah tidak…

Senin, 20 Mei 2019 11:38
Tradisi Bapapai, Mandi di Malam Pertama bagi Trah Ulu Benteng

Yang Menghindari Tradisi ini Bisa Gila

Mau jadi penganten di Ulu Benteng, Batola harus siap mental.…

Minggu, 19 Mei 2019 10:22

Berbincang dengan Guru Haji Abul Hasan Desa Gadung Keramat Bakarangan

Desa Gadung Keramat Kecamatan Bakarangan dari dulu terkenal akan banyaknya…

Sabtu, 18 Mei 2019 10:54
Melihat Tradisi “Tempur Meriam” di Hulu Sungai Tengah

Rayakan dengan Dentuman untuk Pupuk Kebersamaan

Setiap Ramadan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah selalu menjadi ajang pertempuran…

Jumat, 17 Mei 2019 11:38
Berbincang dengan Nelayan Tanjung Selayar di Musim Tenggara

Jangankan Baju Baru, Buat Makan Saja Susah

Angin tenggara berembus kencang. Pondok Ahmad di tepi pantai bergetar…

Kamis, 16 Mei 2019 12:21
Ustaz Muhammad Kasim, Pengajar Alquran di Pegunungan Meratus HST

Ajarkan Alquran Sambil Memasak, Jadikan Santri Sebagai Keluarga

Tak rela menyaksikan sebuah surau di atas pegunungan terbengkalai, Muhammad…

Rabu, 15 Mei 2019 15:41
Pengasuh Ponpes Tarbiyatul Furqan, Cetak Para Pendakwah Tangguh

Ratusan Ustaz Dikirim ke Desa Terpencil sampai Perkotaan

Tinggal sedikit pesantren yang memiliki misi untuk mencetak para dai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*