MANAGED BY:
MINGGU
19 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 15 Maret 2019 10:59
Padi Raksasa Milik Aliansyah di HST

Setengah Petak Bisa Hasilkan Lima Ton, Lebih Kebal dan Pulen

LEBIH BESAR LEBIH BERISI: Seorang warga berfoto di antara rimbunan varietas PIM yang ditanam Aliansyah, warga Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan Kabupaten HST. | Foto:PPL HST for Radar Banjarmasin.

PROKAL.CO, Petani Indonesia Menggugat (PIM), bukanlah nama sebuah organisasi aktivis. Ini adalah salah satu jenis padi raksasa yang ditanam dengan semangat menyelamatkan petani.

 Ditulis: WAHYU RAMADHAN, Barabai.

Ada banyak varietas padi yang ditanam petani Kalsel. Bahkan menurut catatan Dinas Pertanian Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), ada lebih dari 40 varietas padi unggulan dibudidayakan oleh para petani padi di banua. Sebut saja IR, Inpari, Ciherang, Cibogo, Menkongga dan lain sebagainya.

Berbeda dengan ragam jenis itu, di Desa Jatuh, Kecamatan Pandawan, Kabupaten HST, seorang warga bernama Aliansyah, mulai mencoba membudidayakan varietas padi baru. Yakni, varietas PIM (Petani Indonesia Menggugat).

Namanya memang terdengar unik dan sangar.  Bentuknya malah lebih mencolok. Mulai dari diameter tinggi padi yang mencapai dua meter, serta bulir padi yang montok dibandingkan bulir padi pada umumnya.

“Bulir padinya, dua kali lebih besar dari pada bulir padi pada umumnya,” jelas Hj Murhaniah, salah seorang Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di Desa Jatuh.

Ditemani Hj Murhaniah serta dua penyuluh pertanian lainnya, pada Rabu (12/3) lalu, penulis menemui Aliansyah di area persawahan miliknya. Ayah dua anak ini, adalah satu-satunya petani di Kabupaten HST yang membudidayakan varietas padi tersebut. Ketika ditemui, Aliansyah, tampak tersenyum lebar. Dengan ramah, ia menyalami kami satu persatu.

Area persawahan milik lelaki berumur 45 tahun, ini hanya seluas dua petak. Terletak limabelas meter di belakang bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Jatuh. Varietas padi yang mendapat julukan sebagai padi raksasa ini tampak sudah mulai menguning, bulirnya memadati malai hingga membuat padi semakin merunduk. Menandakan siap untuk dipanen.

“Gara-gara angin kencang dan hujan deras yang mengguyur, padinya jadi roboh. Padahal sudah ditopang dengan batang-batang bambu,” ujar Aliansyah.

 

Puas mengamati padi raksasa, penulis bersama rombongan penyuluh pertanian, beranjak menuju kediaman Aliansyah. Ketika tiba di kediamannya, ternyata varietas padi raksasa ini tidak hanya ditanam di area persawahan. Melainkan juga ditanam di depan rumah di dalam sebuah parit kecil berjejer lurus layaknya pagar.

Dari keterangan Aliansyah, ketertarikannya menanam varietas padi PIM setelah dirinya  berselancar di dunia maya. Di sebuah saluran YouTube, dia melihat hasil padi sebanyak lima ton mampu dihasilkan hanya dengan lahan seluas setengah hektare. Dari situlah dia pun menjadi termotivasi untuk mencoba menanamnya.

“Sebagai contoh kecil seperti ini, misalkan kita punya lahan hanya satu petak. Kalau ditanam dengan varietas padi pada umumnya, hasilnya hanya limabelas atau tujuhbelas per blek. Tapi bila ditanami PIM, perkiraan bisa sampai 25 blek per petak,” jelas ayah dua anak ini.

Tidak hanya itu, yang juga membuat Aliansyah tertarik untuk menanam, ternyata PIM  tahan terhadap gejala penyakit blas, bercak  cokelat yang kerap menyerang tanaman padi pada masa pertumbuhan, dari bagian daun hingga tangkainya.

“Kalau perawatan, mulai dari penyemaian hingga bercocok tanam tidak ada yang berbeda. Alias sama seperti padi pada umumnya. Kesulitannya cuma pada saat penyemprotan. Karena batangnya yang tinggi, jadi alat semprot khususnya di bagian selang pun harus sedikit dimodifikasi,” ujarnya, kemudian terkekeh.

Dari masa penyemaian, varietas padi PIM membutuhkan waktu kurang lebih 120 hari untuk sampai ke masa panen. Selain lebih singkat beberapa hari bila dibandingkan dengan varietas padi lainnya, PIM juga dinilai Aliansyah memiliki banyak bulir padi. Dari yang pernah dihitung oleh Aliansyah, satu malai bisa menghasilkan 450 bulir.

“Saya menanam sejak Desember 2018. Ini sudah memasuki bulan Maret 2019, tinggal beberapa hari lagi sudah bisa dipanen. Kata orang, beras yang dihasilkan  rasanya pulen,” ucapnya. Dia mengaku tidak sabar untuk mencicipi.

Lantas di mana Aliansyah mendapatkan bibit PIM ? Kepada penulis, dia membeberkan bahwa bibit dibeli seharga Rp50 ribu per kilo dari  seorang karyawan perusahaan pestisida khusus tanaman. Bibit itulah yang akhirnya dia semai.

“Kalau ingin lebih bagus, sebaiknya ketika menanam perhatikan juga jarak tanam. Jangan terlalu rapat. Kemudian, jangan lupa meletakkan bambu atau tongkat, agar tidak mudah roboh diterpa angin atau hujan deras karena ukurannya yang tinggi dan besar,” pesannya.

Melihat hasil dari PIM yang ditanam oleh Aliansyah,  tidak heran banyak masyarakat yang ingin mencoba. Saking banyaknya, menjelang panen saja sudah ada beberapa orang yang ingin memesan bibit PIM kepadanya. Selain itu, beberapa warga yang penasaran ingin melihat jenis padi ini juga kerap mendatangi area persawahan miliknya.

“Sampai-sampai ada yang mengupload ke media sosial dan menulis bahwa bibit padi yang saya tanam berasal dari Thailand,” kekehnya.   

Terlepas dari berbagai macam keunikannya,   PIM ternyata memiliki sejarah panjang. Konon, varietas padi PIM ini muncul sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah, khususnya dalam hal regulasi di bidang pertanian yang dinilai menghambat peningkatan kesejahteraan para petani.

Hal itulah kemudian yang menginisiasi penamaan varietas padi ini, yang dinamakan Petani Indonesia Menggugat (PIM). Kemudian dengan pertumbuhannya yang besar dibandingkan dengan padi lainnya, maka varietas PIM juga dijuluki dengan nama padi raksasa.

Terkait hal tersebut, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten HST, Zainuddin, menjelaskan bahwa varietas PIM, diketahuinya merupakan hasil dari inisiatif para petani yang berasal dari luar daerah di Kalimantan Selatan. Saat itu, para petani menghendaki agar kesejahteraan petani lebih diperhatikan oleh pemerintah.

“Sebenarnya ada banyak varietas padi unggulan yang dikembangkan oleh petani. Namun, tidak semuanya disertifikasi termasuk varietas PIM. Karena, tidak sedikit biaya yang diperlukan untuk itu,” ujarnya, kepada Radar Banjarmasin, Kamis (14/3) pagi.

Meski begitu, Zainuddin, juga tak menampik bahwa prospek pengembangan jenis padi PIM, ini cukup menjanjikan dan menguntungkan. Apalagi PIMdiklaim sebagai padi yang tahan terhadap hama penyakit.

“Selama untuk kesejahteraan petani sendiri, petani bebas untuk berinovasi. Tapi dari Kementerian Pertanian, Balai Benih, hingga Dinas Pertanian beserta jajaran terkait yang ada di Provinsi dan Kabupaten/Kota, tetap merekomendasikan kepada petani yakni varietas yang sudah disertifikasi,” tuntasnya. (war/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*