MANAGED BY:
RABU
22 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 16 Maret 2019 11:45
Cincin Talipuk Acil Rida di Pasar Induk Amuntai, Sering DIbawa Sampai Makkah
SETIA: Acil Rida saat beraktivitas menjual kue cinta di depan Pasar Induk Amuntai Jumat (15/3) kemarin. | Foto: Muhammad Akbar/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Cinta atau kue cincin talipuk, kue unik yang terbuat dari tepung teratai. Penjual saat ini sudah mulai langka termasuk tepung teratai sebagai bahan baku utama. Untungnya masih ada orang seperti Rida yang melestarikan kue khas jadul tersebut.

Muhammad Akbar, Amuntai

Hari Jumat (15/3) pagi, Rida (45) atau Acil Rida sejak pukul 09.30 Wita, ia sudah menggelar dagangannya, kue cincin talipuk di emperan Pasar Induk Amuntai.

Rida merupakan generasi kedua penjual kue berbahan dasar tepung dari biji kambang talipuk atau bunga teratai (Nelumbo nucifera), setelah ibundanya memilih untuk beristirahat karena faktor usia.

Warga Desa Bitin Kecamatan Danau Panggang ini, harus menempuh perjalanan kurang lebih 18 kilometer untuk menuju ke lokasi dia berjualan di pasar induk kabupaten ini. Untuk peralatan berupa kompor minyak tanah, wajah ukuran sedan dan minyak goreng, disimpan di pasar. Sementara tepung talipuk ia bawa ke rumah, jika selesai berjualan.

Setiap hari, perempuan ramah ini harus menenteng dua ember ukuran 10 liter, tempat ia menyimpan tepung teratai yang harganya ternyata cukup mahal. Satu ember tersebut bernilai Rp700 ribu.

“Dibawa pulang, sebab modalnya mahal,” terang Acil sembari menawarkan menyantap kue jualannya yang masih baru diangkat dari wajan panas.

Selain berjualan di pasar, sesekali Rida diajak pemerintah setempat untuk ikut pameran, saat hari jadi kabupaten. Ada juga warga yang menjadikan cincin talipuk sebagai panganan saat hajatan.

“Biasa dibeli satu ember bahan tepung senilai Rp700 ribu, untuk dihidangkan di acara hajatan. Dan biasanya kuenya ludes tak bersisa,” ujarnya.

Rida mengaku, selain menjual kue cinta, ia juga sering menjual tepungnya, untuk dibawa warga Amuntai yang bermukim di Mekkah, Arab Saudi. “Kalau Jakarta dan Jawa jangan ditanya lagi, sering sekali,” ungkapnya.

Warga Banjar di perantauan menurutnya membeli tepung teratai ini, untuk nantinya diolah sendiri menjadi cincin.  “Ada juga yang beli kue cincin untuk oleh-oleh ke Jakarta. Sebab kue ini tahan berhari-hari. Jika dingin tinggal dipanaskan,” ujar Rida yang 10 tahun berjualan.

Di tengah semangatnya bercerita tentang cincin talipuk, ada kerisauan disimpan Rida. Yakni semakin mahalnya harga tepung talipuk. Hal ini terjadi karena semakin berkurangnya perajin tepung talipuk, sementara proses membuatnya tidak mungkin ia lakoni sendiri.

Sebagai gambaran, untuk membuat tepung talipuk, dimulai dengan memanen bunga teratai tanaman khas rawa ini. Kemudian bunga tersebut dimasukkan dalam karung dan direndam selama beberapa hari, untuk memudahkan terlepasnya biji. Selanjutnya, biji talipuk dijemur hingga kering, lalu digiling.

Saat ini, harga 1 kilogram tepung talipuk sudah Rp 50.000. Di sisi lain, dagangan Rida juga tidak selalu ramai. “Yang beli juga orang tertentu saja. Bahkan sehari sangat untung bisa menghabiskan adonan 1 kilogram. Satu cincin kami harga Rp500 rupiah,” terangnya.

Harapannya mudahan peminat kue bahari ini tetap ada khususnya pada anak muda. Di Pasar Amuntai sendiri hanya tinggal dua orang penjual cincin talipuk. Akankan kue khas dari kampung di atas air ini akan lenyap ditelan zaman. Waktulah yang akan membuktikan. (mar/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*