MANAGED BY:
SABTU
20 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 18 Maret 2019 10:37
Menikmati Air Minum ‘Termahal’

Jalan-Jalan Bersama Chairman KPG Zainal Muttaqin

SARAPAN: Rombongan Kaltim Post Group saat sarapan di Ali Ming, resto yang berada di kawasan Orchad, Singapura. Mereka kompak memesan air mineral sebagai teman sarapan nasi lemak. | FOTO: TATAS DWI UTAMA/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Meskipun sudah berulang kali ke Singapura, jalan-jalan kali ini cukup spesial. Kali ini perjalanan ke negara tetangga itu bersama Chairman Kaltim Post Group Zainal Muttaqin, 8-11 Maret lalu.

=========================

TATAS DWI UTAMA, Singapura

=========================

Ini adalah perjalanan ketiga penulis ke Singapura. Dua perjalanan sebelumnya ditempuh melalui Batam kemudian menggunakan kapal cepat menuju Harbour Front di Singapura. Kali ini penulis naik pesawat udara dari Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan menuju Changi Airport Singapura menggunakan Silk Air, maskapai anak perusahaan Singapore Airlines.

Perjalan melalui udara tentu lebih enak. Bukan cuma soal waktu yang lebih cepat, namun juga bisa sedikit banyak tahu bagaimana rasanya penerbangan internasional. Sekilas memang tidak ada yang berbeda dengan penerbangan domestik namun ada sejumlah detail yang harus diperhatikan dalam penerbangan internasional. Salah satunya adalah dilarang membawa cairan dalam botol lebih dari 100 ml.

Singapura termasuk dalam jajaran negara mungil di dunia. Mungil dari segi luas wilayah. Bayangkan saja, luas negaranya hanya 72.150 hektare. Bandingkan dengan luas Kota Banjarbaru yang mencapai 37.140 haktare, artinya luas Singapura hanya dua kali luas Banjarbarbaru. Isu di negara itu dari dulu tak lepas dari kebutuhan air minum dan perluasan wilayah darat dan udara.

Makanya penulis tak kaget ketika membaca harian terbesar di Singapura, The Straits Times edisi 8 Maret di atas pesawat Silk Air dari Balikpapan ke Singapura. Ada dua masalah yang menjadi topik hangat harian yang bernaung dibawah Singapore Press Holding tersebut yakni isu harga air yang dinilai terlalu murah oleh Malaysia dan isu wilayah udara Singapura. Yang paling menarik tentu isu pertama karena menjadi sorotan berbagai media di Asia Tenggara.

Masalah harga air pertama kali mencuat dari pernyataan PM Malaysia Mahathir Mohammad yang geram karena harga air yang dijual Negara Bagian Johor Malaysia ke Singapura terlalu murah. Harga murah yang dimaksud adalah 3 sen dolar per 1.000 galon.  Harga itu merujuk pada perjanjian tahun 1962. Kesepakatan itu baru akan berakhir pada 2061. Sementara Singapura berhak mengambil air baku hingga 250 juta galon per hari (mgd) dari Sungai Johor. Di sisi lain, Johor berhak membeli lima mgd air olahan dari Singapura dengan harga 50 sen per 1.000 galon.

Masalah air memang pelik di Singapura. Negara ini memang tak memiliki sumber air tanah. Oleh karena itu mereka mendirikan Public Utility Board (PUB). Mereka bertugas memberikan pelayanan air bersih kepada masyarakat.

Mengelola dan mengatur air bersih seefektif dan seefisien mungkin, mau tak mau harus dilakukan. Karena, Singapura tidak bisa menggunakan air tanah, hanya tergantung pada air hujan dan air laut.

Langkah pertama yang dilakukan untuk mendapatkan air adalah membuat area tangkapan air. Hingga saat ini, dua per tiga lahan Singapura digunakan sebagai lokasi penyimpanan air untuk memenuhi kebutuhan 1,8 juta meter kubik air bersih di negeri itu.

Langkah kedua, mengimpor air baku dari Johor, Malaysia. Langkah kedua inilah yang sedang ramai dibahas.

Selain mengimpor, kebutuhan air bersih Singapura diperoleh penyulingan air laut (10 persen) atau desalinasi, dan pengolahan air limbah menjadi air bersih (30 persen) atau disebut NEWater.

Singapura telah memulai upaya pengolahan air limbah menjadi air bersih sejak pertengahan tahun 1970-an. Pada tahun 2003, Singapura berhasil membangun pabrik pengolahan air limbah yang diolah menghasilkan air bersih. Setelah melalui 130.000 tes, akhirnya air bersih dari olahan air limbah dapat memenuhi syarat Badan Perlindungan Amerika Serikat dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Model tersebut kemudian direplikasi dalam skala yang lebih luas di Singapura. Hingga saat ini, dapat dikatakan 100 persen air limbah di Singapura dikumpulkan melalui jaringan dan diproses untuk kemudian didistribusikan kembali sebagai air bersih dengan nama NEWater.

Pengolahan air limbah NEWater terbesar ada di Changi yang dibangun sejak tahun 2010. NEWater mencakup 30 persen kebutuhan air bersih di Singapura. Ditargetkan keberadaan NEWater ini dapat mencakup 55 persen kebutuhan air bersih warga Singapura.

Untuk menambah jumlah produksi air bersih, Singapura juga memanfaatkan air laut. Pada akhir tahun 2005, Singapura mendirikan pabrik desalinasi air laut. Pabrik desalinasi ini dibangun dengan skema private public partnership (PPP).

Penulis merasakan sendiri betapa air minum yang dijual di Singapura cukup mahal. Di warung makan sekitaran Orchad Road, harga air minum botol 600 ml berkisar 1 dolar Singapura atau sekitar Rp10.500,-. Di Indonesia, harga termahal air minum 600 ml hanya Rp5.000,-, bahkan beberapa merek berani menjual hanya Rp2.500,-.

Belum lagi jika kita membeli di Food Court yang ada di kawasan premium seperti Marina Bay Sands. Di sana, harga air minum misalnya di Rasapura Masters 2 dolar Singapura untuk ukuran terkecil yakni 330 ml.

Sebenarnya, di Singapura banyak disediakan air minum gratis namun terbatas hanya di kawasan wisata yang terbuka untuk umum seperti Universal Studio atau di fasilitas pelayanan publik. Sementara di sejumlah restoran tentu Anda tidak akan menemukan fasilitas kran air minum gratis. Jadi bukankah kita harus bersyukur hidup di Indonesia?  (*)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*