MANAGED BY:
SELASA
16 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 10 April 2019 09:19
MEREKA YANG HIDUP DI UJUNG MAUT
Tutup Lubang, Pendulang Pumpung Bekerja Kembali
DIBAWA KE RUMAH DUKA: Para petugas saat mengevakuasi korban longsor di pendulangan intan tradisional desa Pumpung, Senin (8/4). | Foto: Muhammad Rifani/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Lima orang meninggal dunia, lantaran tertimbun tanah. Membuat jumlah korban dalam musibah tanah longsor di lokasi pendulangan intan Pumpung, Cempaka, Senin (8/4) tadi menjadi yang terbanyak dalam kurun waktu 14 tahun terakhir.

----

Ijar, warga Pumpung menghitung-hitung. Dia mengungkapkan, musibah longsor di Pumpung terakhir kali memakan banyak korban pada 2005 silam. "Jumlah korban sama dengan kemarin, lima orang meninggal dunia," ungkapnya.

Setelah tragedi pada 2005 itu, selanjutnya korban yang berjatuhan akibat aktivitas pendulangan tak pernah lebih dari tiga orang. "Setelah 2005, paling satu atau dua orang. Baru akhirnya, kemarin kembali lima orang," kata pria yang dulunya pernah jadi pendulang ini.

Meski, banyak korban yang tewas akibat tertimbun tanah. Dia meyakini, masyarakat dalam waktu dekat akan kembali beraktivitas mendulang intan. "Paling empat hari lagi sudah ada yang mendulang. Tapi, mungkin di lubang yang lain," ucapnya.

Sementara di lubang tempat lima orang yang baru saja tertimbun, Ijar menyebut masyarakat sekitar berencana untuk menutupnya. "Lubang itu disebut Lubang Si Mayat. Sebab, sudah ada sekitar 20 orang meninggal dunia di sana," ujarnya.

Para pendulang sendiri tak ingin meninggalkan aktivitasnya, lantaran tak punya usaha lain untuk menghidupi keluarganya. Padahal menurut Ijar, intan saat ini sangat sulit didapatkan. "Tapi walaupun tak dapat intan, pendulang bisa menjual pasir yang sudah diisap ke atas menggunakan mesin pompa," jelasnya.

Lanjutnya, dari hasil penjualan pasir para pendulang yang beranggotakan tujuh orang masing-masing bisa mendapatkan Rp50 ribu perhari. "Sehari mereka bisa menjual lima truk pasir, dengan harga Rp250 ribu per truk. Hasilnya dibagi rata, 40 persen untuk pemilik mesin. Lalu, 40 persen lagi milik kelompok pendulang dan sisanya untuk pemilik lahan," paparnya.

Ijar mengaku sejak dirinya lahir 40 tahun silam aktivitas pendulangan di Pumpung sudah ada."Pada 1965 saja sudah ada penemuan Intan Trisakti di sini. Jadi, pendulangan sudah ada sebelum itu," ucapnya.

Namun, dia memaparkan pendulangan zaman dulu lebih aman dibandingkan sekarang. Lantaran tidak menggunakan mesin pompa. "Sistem sekarang risiko tertimbun sangat besar. Sejak 1995, ketika mulai beralih menggunakan pompa sudah 200 lebih pendulang yang meninggal akibat tertimbun. Padahal sebelum itu, jarang ada musibah," paparnya.

Lebih lanjut Ijar menyampaikan, dirinya sendiri pernah tertimbun longsoran pada 2001 silam. Beruntung saat itu dia berhasil menyelamatkan diri. "Badan saya sudah tenggelam sampai dada. Tapi, masih bisa keluar. Namun, saya harus beristirahat selama satu setengah bulan karena cedera pinggang," kisahnya.

Saat ini, dia berhenti menjadi pendulang dan memilih untuk berjualan batu akik. Sebab, tak ingin mengalami peristiwa serupa. "Masyarakat yang mendulang memang terus berkurang, lantaran terlalu berisiko dan mulai sulit untuk mendapatkan intan," ujarnya.

Dengan banyak korban yang berjatuhan, pihak kepolisian ternyata mulai memiliki rencana untuk melokalisasi lubang pendulangan yang dianggap rawan. "Iya kemungkinan lubang Si Mayat itu akan dilokalisasi. Ini sesuai dengan hasil masukan sejumlah tokoh masyarakat di sana," ungkap Kapolres Banjarbaru AKBP Kelana Jaya.

Akan tetapi, sebelum bergerak dia mengaku akan berkoordinasi dengan Pemerintah Kota Banjarbaru dan Instansi terkait lainnya. Karena permasalahan di pendulangan intan Cempaka bukan hanya tugas kepolisian. “Langkah ke depan akan kita lakukan bersama dengan Pemko Banjarbaru. Yang jelas semua aspirasi akan kita tampung, termasuk suara dari tokoh masyarakat dan LSM di Kecamatan Cempaka,” ujarnya.

Terkait suara aspirasi dari masyarakat sekitar, pihaknya mendapatkan masukan langsung dari para tokoh masyarakat, agar lubang Si Mayat ditutup. “Di sana memang lubang pendulangan yang berbahaya, berulang kali memakan korban. Tahun ini saja sudah enam orang meninggal. Januari satu orang dan kejadian baru ini lima orang korban," katanya.

Sementara itu, terkait perkembangan evakuasi lima korban yang tertimbun longsor di kawasan itu. Setelah, lebih dari 15 jam melakukan pencarian. Akhirnya, warga bersama relawan serta tim gabungan dari Basarnas Banjarmasin, BPBD Banjarbaru dan Provinsi, unsur TNI-Polri, Tagana serta barisan pemadam kebakaran dan rekanan emergency berhasil menemukan korban terakhir pada Selasa (9/4) pukul 04.45 Wita. Menjelang azan subuh berkumandang.

Korban terakhir yang berhasil dievakuasi adalah Saltani alias Toni. Warga Kertak Baru Cempaka Banjarbaru. Saat ditemukan korban sudah dalam keadaan tak bernyawa dan langsung dibawa ke rumah duka.

Proses pencarian korban terakhir sendiri berlangsung alot. Pasalnya posisi korban diketahui sangat dalam tertimbun longsoran. Bahkan interval waktu dengan korban ke empat cukup lebar. Yakni hampir tujuh jam.

Disebutkan juga, salah seorang warga yang bekerja keras melakukan pencarian sampai pingsan akibat kelelahan. Sehingga harus mendapatkan perawatan berupa tambahan oksigen dan ditandu keluar areal longsor.

Dengan ditemukannya Toni, maka kelima pendulang yang tertimbun sudah berhasil dievakuasi. "Alhamdulillah berkat kerja keras seluruh elemen serta warga, semua korban berhasil ditemukan dan dibawa ke rumah duka," kata Kepala Pelaksana BPBD Banjarbaru, Suriannor Akhmad.

Para korban sendiri baru ditemukan pada pukul 16.30 Wita. Setelah, longsor terjadi pada 13.30 Wita. Korban pertama yang berhasil dievakuasi ialah Muhammad (30). Kemudian, pada pukul 17.55 Wita korban kedua atas nama Aulia Rahman (25) juga ditemukan.

Meski hari mulai malam, tim rescue ternyata tetap melakukan pencarian dengan menggunakan lampu sorot. Pada pukul 21.30 Wita korban ketiga; Rofi'i (25) Als Jomang Bin Asnan berhasil ditemukan. (ris/ema)


BACA JUGA

Selasa, 16 Juli 2019 11:50

Istri Sempat Keberatan, Penyelamat Buah Langka ini Akhirnya Dapat Kalpataru

Dedikasi Mohamad Hanif Wicaksono dalam menyelamatkan buah lokal dan langka…

Senin, 15 Juli 2019 11:07

Mohamad Hanif Wicaksono, Pahlawan Buah-Buahan Lokal dari Balangan

Namanya Mohamad Hanif Wicaksono. Usianya masih relatif muda, 36 tahun.…

Senin, 15 Juli 2019 10:31

Laporan dari Panggung Terbuka Bachtiar Sanderta

Sembilan grup tari asal Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Hulu Sungai Selatan,…

Minggu, 14 Juli 2019 10:29

Normanto, Kades Karya Maju dan Mimpi Agrowisata Anggurnya

Hidup sebagai warga transmigrasi di desa, membuat Kades Normanto harus…

Sabtu, 13 Juli 2019 12:24

Bawa Kuyang, SMKN 2 Barabai Tembus ke Pentas Nasional

Kuyang, adalah folklor. Tapi cerita tentangnya mampu mengantarkan Miftahul Jannah,…

Jumat, 12 Juli 2019 11:12

Orang Tua Tak Punya Biaya, Tubuh Sudah Ditumbuhi Jamur

Jika anak remaja lainnya bermain dengan teman sebayanya, Siti Sarah…

Kamis, 11 Juli 2019 13:58

Kisah Pasangan Tunanetra di Banjarbaru Perjuangkan Anak Bersekolah Negeri

Ini kisah pilu pasangan tunanetra di Banjarbaru, Fahmi, 41, dan…

Kamis, 11 Juli 2019 10:40

Cerita Pilu dari Kuin Kecil: Penantian Panjang Penderita Atresia Ani

Di Kuin Kecil ada cerita pilu. Seorang bocah empat tahun…

Rabu, 10 Juli 2019 11:15

Banua Local Pride, Geliat Anak Muda Kalsel mengenalkan Brand Lokal

Berbisnis di industri yang sama. Sekumpulan anak muda Banua membentuk…

Selasa, 09 Juli 2019 12:08

Pernah Nekat Melaut saat Pasang, Terapung di Laut Empat Hari

Beberapa hari terakhir gelombang di perbatasan Selat Makassar lumayan tinggi.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*