MANAGED BY:
SELASA
23 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 12 April 2019 14:09
Meiry Dwi Setianti, Penyandang Disabilitas Banjarbaru yang Sukses Berwirausaha

Omzet Belasan Juta, Siap Jadi Mentor Difabel

Meiry Dwi Setianti, 31 tahun.

PROKAL.CO, Penyandang Difabel satu ini layak dijadikan panutan. Lahir sebagai tuna rungu tidak membuat dirinya putus asa menjalani kehidupan. Bahkan ia terjun berwirausaha bersama rekan-rekan difabel lainnya di Kelurahan Cempaka Kota Banjarbaru. Bagaimana kisahnya?

Oleh: RAHMAT HIDAYATULLAH, Cempaka

TANGAN-nya cekatan ketika memasukan satu per satu bumbu masakan ke dalam mangkok plastik. Cabai, bawang merah, bawang putih, babycumi, tomat, gula merah dan lainnya akan dibuatnya sambel olahan khas produk Cempaka. Saraba Sambel. Itu salah satu produk Meiry Dwi Setianti, 31 tahun.

Ibu dua anak kelahiran Banjarbaru 13 Mei 1987 itu bisa dibilang difabel sukses. Sebulan omzetnya mencapai belasan juta. Produknya beragam, mulai dari sambel olahan, catering dan snack seperti seluang kriuk.

Pasarnya tidak hanya warga Cempaka, namun di kecamatan lainnya di Kota Banjarbaru. Bahkan kendati baru diseriusi satu tahun terakhir, sudah mendapatkan pelanggan dari luar Kota Banjarbaru.

Dari segi perizinan, Meiry memang termasuk warga yang patuh. Ia sudah mengantongi Laik Hygiene Sanitasi Jasa Boga dan izin Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (PP-IRT) dari Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru.

Karena sebelumnya ia mendapatkan rekomendasi dari Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (PLUT-KUMKM) Kota Banjarbaru untuk layak edar. Selain itu ia juga sudah mengantongi izin usaha mikro dan kecil dari Kecamatan Cempaka.

Awalnya warga Perumahan Pesona Cempaka Indah Blok C Kelurahan Cempaka Banjarbaru berusaha sendiri. Namun karena banyaknya orderan, ia pun merekrut rekan-rekannya di komunitas.

Dua orang difabel ia jadikan rekan kerja. Satu warga Cempaka, dan satunya warga Kemuning. Alhasil, Meiry berani menerima banyaknya orderan yang masuk.

Selain pandai bercakap, Meiry juga sudah terlatih menggunakan smartphone. Hal inilah salah satu kelebihannya memasarkan produk.

Kliennya biasanya memesan via WhatsApp. Saat ini Meiry juga punya toko sendiri di Jalan Mistar Cokrokusumo. Di toko seluas 4 x 11 meter persegi ini, ia menjual beragam produknya.

Memang, tidak semua pekerjaan dilakukan Meiry dan rekannya. Ada ibunda Meiry, Siti Masitah, 59 tahun dan ayahnya Nioto Sobari, 60 tahun yang selalu siap jika Meiry butuh bantuan. Namun diakui Siti Masitah, anak keduanya tersebut ingin mandiri sendiri.

“Dia nggak mau saya dan bapak ikutan. Pengen sendiri katanya. Cuman kadang, saya tetap bantu anak. Apalagi kalau ada pelanggan yang ingin komunikasi langsung,” ujar guru Teknik Elektro SMKN 3 Banjarbaru.

Meiry merupakan alumnus Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) Banjarmasin, SMPLB Banjarmasin dan SMALB Banjarmasin. Praktis, 12 tahun mengenyam bangku pendidikan, keterampilan Meiry terasah. Ia juga merupakan siswa berprestasi. Ia sempat mengikuti kejuaraan nasional lari dan tolak peluru.

Kemudian karena semangat juang dan motivasinya di bidang wirausaha tinggi, saat jenjang SMA, Meiry sudah berani membuka salon di rumahnya di Jalan Sutoyo S Banjarmasin.

“SMA sudah punya salon sendiri. Makeup sama potong rambut. Langganannya banyak sekali waktu di Sutoyo. Sekitar delapan tahun buka salon sendiri,” ujar Masitah.

Selain usaha salon, Meiry juga membuka warung makan di kantin sekolah. Kebetulan ibunya sebelum pindah ke Banjarbaru baru-baru tadi, merupakan guru di SMKN 5 Banjarmasin.

Kala itu Meiry yang menjadi capten di warungnya. Ia juga merekrut dua pekerja normal, agar bisa berkomunikasi dengan pelanggan. Alhasil, pekerjaannya pun semakin banyak.

Salonnya tutup lantaran ingin fokus ke anak-anak Meiry. Saat ini Meiry juga seorang single parent. Ia harus bisa berjuang untuk kedua anaknya. Satu normal. Meiry bertekat untuk memberikan yang terbaik kepada kedua anaknya.

Kendati punya keterbatasan, Meiry mengaku tak ingin putus asa. Bahkan keterbatasan tersebut ingin dijadikannya kelebihan untuk bisa berbagi dengan rekan-rekannya. Ia pun siap memberikan pelatihan kewirausahaan bagi kaum difabel terutama yang ada di Kota Banjarbaru.

“Kalau sama Difabel, boleh. Takutnya nanti, kalau saya jadi mentor, orang nggak bisa ngerti penjelasan saya,” ujar Meiry berbahasa isyarat kepada penulis. (ay/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*