MANAGED BY:
MINGGU
16 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Selasa, 16 April 2019 00:14
Jalan Kaki, Mengantar Demokrasi ke Ujung Terpencil Kalsel
MELELAHKAN : Pejuang demokrasi di daerah terpencil Kalimantan Selatan. Mereka harus berjalan kaki mendaki gunung, penuh perjuangan. | Foto: Wahyu Ramadhan / Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, BARABAI --Sekitar 2,8 Juta warga Kalimantan Selatan akan memilih dalam Pemilu 2019.  Mereka bukan hanya berada di perkotaan atau daerah yang mudah diakses. Beberapa juga berada di pulau, gunung, dan daerah yang terisolasi. Apa boleh buat, negara harus menjamin setiap orang bisa mendapatkan hak setara di alam demokrasi. Tangguh menempuh perjalanan jauh membawa beban berat membuat  masyarakat di kawasan Pegunungan Meratus kerap ditunjuk sebagai porter atau jasa pengangkut logistik pemilu.

Gelaran Pesta Demokrasi tinggal sehari. Sejak Sabtu (13/4) lalu, logistik Pemilu di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) terus dipasok hingga menjangkau mereka yang tinggal di pelosok. Di kabupaten yang bergelar Bumi Murakata, ini ada dua desa terpencil yang dengan penduduknya yang terdata dalam DPT.  Yakni Desa Aing Bantai dan Desa Juhu.

Secara administratif, kedua desa tersebut masuk di Kecamatan Batang Alai Timur (BAT). Meski begitu, untuk menuju kedua desa ini tak hanya membutuhkan waktu yang lama, melainkan juga tenaga yang prima. Maklum, dibandingkan dengan 9 desa lainnya di Kecamatan BAT, akses ke sana hanya bisa dilakukan dengan berjalan kaki selama dua hari. Dimulai dengan menerobos hutan belantara, menaiki dan menuruni perbukitan, hingga menyeberangi sungai.

Dari keterangan Ketua Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) Kecamatan BAT, Masrawan, Daftar Pemilih Tetap (DPT) di kecamatan BAT berjumlah 5.188 pemilih. Terbagi di 28 TPS yang tersebar di 11 desa. Tiga TPS di antaranya, berada di dua desa terpencil tersebut. “Dua TPS di Desa Aing Bantai dan satu TPS lagi di Desa Juhu,” paparnya.

Tak ayal, sulitnya akses membuat Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten HST memutar otak agar logistik Pemilu bisa sampai ke sana. Helikopter tentu kemahalan. Akhirnya, pilihan jatuh pada porter yakni warga Meratus yang tinggal di desa itu.

Minggu (14/4) pagi, lima belas warga, tampak asyik mengepak barang bawaannya di sebuah rumah yang terletak tidak jauh dari Kantor Camat Batang Alai Timur, 47 Kilo Meter dari Kota Barabai. Lima belas warga, terdiri dari dua desa berbeda. Lima orang dari Desa Juhu dan sepuluh warga lainnya berasal dari desa Aing Bantai. Dikawal delapan personel Polri, masing-masing dari mereka, bertugas memanggul kotak beserta bilik suara, yang merupakan logistik untuk keperluan Pemilu Serentak 2019.

“Sudah tigakali bahambin,” ujar Muhin. Maksudnya, dia sudah tigakali jadi porter. Khususnya dalam gelaran Pemilu Serentak.

Muhin, adalah warga Desa Aing Bantai dan satu-satunya porter perempuan. Bersama sembilan warga lainnya, dia mendapat tugas untuk membawa logistik menuju desanya. Tidak hanya membawa logistik Pemilu saja, Nenek dua belas cucu, ini juga memanggul berbagai kebutuhan pokok. Mulai dari garam, gula, rokok, serta keperluan rumah lainnya.

Ya, baik warga Desa Aing Bantai dan Desa Juhu bahkan warga yang berada tepat di Pegunungan Meratus, turun ke pasar atau kawasan perkotaan hanya dilakukan sekali atau dua kali dalam sebulan. Itu pun, hanya sekadar menjual hasil alam misalnya kayu manis, atau membeli kebutuhan untuk di rumah.

“Bila turun atau naik, kami terbiasa memanggul beban berat. Bisa lima sampai sepuluh kilo gram,” jelas porter lainnya, Ijud. Dia, merupakan menantu Muhin. 

Radar Banjarmasin sempat mencoba memanggul bawaan yang bakal dibawa Ijud. Benar, perlu usaha berkali-kali agar barang bawaan yang dikepak bisa diangkat. Itu pun, harus minta tolong ke Ijud agar penulis bisa berdiri.  

Gunung dan hutan  seakan sudah menjadi taman bermain dan hidup  warga yang tinggal di kawasan Pegunungan Meratus. Selain terbiasa hidup dengan kondisi alam liar hingga menggantungkan hidupnya dari hasil alam, mereka juga terkenal mampu memangkas waktu bila bepergian. Hal itu pula yang menjadi pertimbangan, mengapa mereka kerap ditunjuk sebagai porter.

Masyarakat awam atau pendaki gunung pada umumnya  memerlukan waktu dua hari untuk menuju Desa Juhu.  Maruit, warga Desa Juhu yang turut jadi porter, hanya membutuhkan waktu setengahnya. Atau, paling lama hanya perlu waktu dua belas jam saja.

“Itu karena kami sudah terbiasa,” ujarnya. Terkekeh, sambil mengencangkan kepakan barangnya. Hingga mengecek barang bawaannya berkali-kali.

Untuk menghindari kerusakan pada logistik Pemilu, khususnya kotak surat suara, dimasukkan ke dalam plastik warna hitam berukuran besar. Begitu pula bilik suara. Semua itu dilakukan, untuk menghindari kerusakan khususnya yang diakibatkan oleh air hujan.

Kemudian, guna memudahkan membawanya, logistik dimodifikasi dengan menambahkan beberapa tali yang terbuat dari akar atau kain, untuk sekadar menjerat hingga menjadikan layaknya tas ransel berukuran besar. Bedanya dari tas ransel lainnya, ransel modifikasi ini tampak kaku karena bentunya yang kotak.

“Dibandingkan dengan kotak suara sebelumnya, kali ini memang sedikit ringan. Tapi, kami jadi lebih khawatir karena bahannya yang gampang rusak. Otomatis, bila berjalan juga perlu hati-hati dan bisa jadi sedikit menghambat perjalanan,” tambah Ijud.

Lantas, berapa upah yang diterima para porter? Baik Ijud, Muhin dan Maruit, sama sekali tak mengetahui berapa bayaran angkut yang bakal mereka terima. Mereka bakal dapat bayaran nantinya, ketika membawa kembali logistik Pemilu ke Kantor Kecamatan, setelah selesai pencoblosan serta penghitungan surat suara dilakukan.

Di antara lima belas porter, dua di antara porter tampak masih muda. Umurnya, tak sampai 17 tahun. Agin dan Reka. Keduanya, adalah warga Desa Aing Bantai dan bersekolah di SD Negeri Batu Perahu, yang terletak di desa sebelum Aing Bantai. Seperti para porter lainnya, mereka juga tampak sibuk mengepak barang bawaannya. Kepada penulis, mereka menuturkan bahwa di desanya, mayoritas penduduk bekerja di perkebunan. Bertani dan berkebun.

“Karena hari libur, jadi bisa bantu bapak jadi porter. Lumayan, upahnya bisa untuk membeli kebutuhan sekolah,” tutur Agin.

Menuju SD Negeri Batu Perahu, jangan dikira gampang. Dari Desa Aing Bantai tempat tinggalnya, menuju ke sekolah tersebut memerlukan waktu satu hari. Maka tidak heran, bila kedua bocah tersebut juga terbiasa menjelajahi hutan serta perbukitan.

“Kalau sudah lulus dan mau melanjutkan sekolah, ya harus rela turun ke sini (ke pusat Kecamatan BAT,red). Biasanya, menginap di rumah keluarga atau menyewa rumah kayu,” timpal Reka.

Perlu diketahui, sulitnya akses jalan hingga persoalan susahnya mendapatkan pendidikan masih menjadi salah satu persoalan yang diharapkan dapat benar-benar teratasi. Jarkasi, salah seorang warga Desa Kiyu atau desa terakhir sebelum menuju ke Desa Juhu, menjelaskan bahwa untuk desanya sendiri, hampir 75 persen warga tidak bisa baca tulis.

“Dan terkait Pemilu, ini tentu membuat para warga kesulitan mengenali para peserta Pemilu. Zaman dahulu, banyak warga yang tidak sekolah. Hanya anak-anak kami yang sekarang saja, bisa baca tulis karena sekolah sudah dekat,” katanya. Dia berharap, semoga seusai Pemilu Serentak yang digelar kali ini, hal tersebut bisa teratasi.

 Komisioner KPU Provinsi Kalimantan selatan  Eddy Ariansya mengaku melakukan sudah sosialisasi Pemilu Serentak kepada khususnya warga yang mayoritas buta huruf. “Dalam hal Pemilu, ini merupakan tanggungjawab kami. Guna memastikan seluruh warga mengerti dan memahami cara pencoblosan,” ujarnya yang  Sabtu (13/4) sore melakukan pendakian gunung ke Desa Juhu yang merupakan salah satu Desa terpencil di Kabupaten HST.  

Dia menambahkan, melalui sosialisasi yang dilakukan yakni menggunakan  alat peraga berupa poster, pemutaran video dan  tata cara pencoblosan,   warga yang buta huruf bisa mengenal warna dan simbol-simbol peserta Pemilu yang ditransformasikan secara menyeluruh dan mudah dipahami. (war/ay/ran)


BACA JUGA

Minggu, 16 Juni 2019 09:46

Pemko Banjarmasin Telat Usulkan Formasi CPNS

BANJARMASIN – Tahun ini Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi…

Minggu, 16 Juni 2019 09:43

Dari Isu Jadi Nyata, Ibnu dan Herman Pecah Kongsi

BANJARMASIN - Awalnya cuma isu. Wali Kota dan Wakil Wali…

Minggu, 16 Juni 2019 09:34

Petugas Dishub dan Jukir Ulin Ricuh

BANJARMASIN - Setelah loket parkir Rumah Sakit Ulin disegel, kemarin…

Minggu, 16 Juni 2019 09:06

NYAMANNYA EH..! Bulan Depan Pegawai Gajian Dua Kali

BANJARMASIN - Setelah mendapatkan tunjangan hari raya (THR) pada bulan…

Minggu, 16 Juni 2019 09:04

Darurat, Stok Darah Defisit, Pendonor Minim

BANJARMASIN – Stok darah di Unit Transfusi Darah (UTD) PMI…

Sabtu, 15 Juni 2019 15:38

Tanpa Izin, Pertambangan Ilegal Rambah Hutan Tanjung

BANJARMASIN - Meski dunia pertambangan batubara di Kalsel masih tak…

Sabtu, 15 Juni 2019 12:20
PT Arutmin Indonesia

Arutmin Intenskan Koordinasi ke Posko Bencana

TANAH BUMBU – Banjir yang menerjang di sejumlah kawasan di…

Sabtu, 15 Juni 2019 12:17
PT PLN Kalselteng

Diskon..! Dua Ribu Pelanggan Sudah Tambah Daya

BANJARBARU – Sejak diberlakukannya promo diskon tambah daya 50 persen…

Sabtu, 15 Juni 2019 10:05

Parkir RS Ulin Disegel, Dishub: Mereka Sama Dengan Parkir Liar!

BANJARMASIN - Dianggap ilegal, loket parkir Rumah Sakit Ulin ditutup…

Sabtu, 15 Juni 2019 09:58

Kemana Ideologi Partai? Pengamat: Parpol Masuk Jebakan Kapitalis

BERKACA pada Pilwali 2015 silam, ada dua koalisi unik. Partai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*