MANAGED BY:
SABTU
25 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 21 April 2019 11:27
Semalaman Berburu Teri di Atas Bagang Pulau Kerasian
REZEKI:Bagang tempat Fahrul mencari ikan teri. | Foto: Abdi Zalyan Sodiq / Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Fahrul begadang di bagang, dari petang sampai subuh, menangkap ikan teri. Istrinya sedang hamil tua, perlu biaya banyak melahirkan nanti.

===============================

Zalyan Shodiqin Abdi, Pulau Kerasian

================================

Akhir pekan awal April. Wartawan Radar Banjarmasin, berkesempatan menuju selatan Pulau Laut. Ke pulau kecil, Pulau Kerasian.

Kerasian berada di seberang Pulau Laut. Penulis ditemani seorang rekan, Safri, menanti Fahrul di dermaga Tanjung Lalak. Dari dermaga terlihat Kerasian di depan, di belakangnya ada Pulau Keramputan dan Kerayaan.

Dermaga sibuk. Perahu penumpang hilir mudik. Dari tahun ke tahun, mobilisasi warga pulau grafiknya meroket. Banyak nelayan alih profesi menjadi tukang ojek lautan.

Ongkos menyeberang dari Tajung Lalak ke Kerasian Rp5.000. Penumpang penuh baru berangkat. Jika mau cepat carter saja, Rp50 ribu, operator kapal sudah mau mengantar.

Dekat Tanjung Lalak, ada desa terkenal namanya Desa Oka-Oka. Terkenal, karena desa itu berdampingan dengan Bukit Saranjana. Saranjana dipercaya sebagai pintu gerbang kerajaan gaib terbesar di Kalimantan.

Jelang petang, Fahrul, pemuda lulusan SMA, kelahiran Kerasian datang. Memakai kapal kecil. Di dalam kapal penuh karung-karung berisi ikan teri kering. "Tunggu dulu ya. Saya mau jual ikan dulu," ujarnya.

Harga satu kilogram ikan teri sekarang Rp50 ribu. Satu malam membagang dapat ikan jumlahnya tidak tentu. Kadang puluhan kilo saja. Kalau beruntung, bisa sampai satu kuintal.

Jelang Magrib, berangkat kami ke Kerasian. Berapa hasil penjualan ikan? Fahrul mengatakan, cukup dibagi-bagi dengan keluarga. Satu buah bagang memang dikelola beberapa orang.

Rafi, warga Teluk Temiang, tidak punya bagang. Hanya ikut membantu di bagang. Dia sudah sebulan menangkap teri. "Nanti saya mau dikasih Rp7 juta. Sebulan upah bantu di bagang," ujarnya memberikan gambaran berapa hasil pemilik bagang.

Rencananya Fahrul langsung mau mengantar ke bagang. Tapi di pelabuhan tadi, pasangan suami istri muda ada ikut nebeng ke Kerasian. Mereka membawa anak kecil. Jadi kami pun menuju Kerasian dulu.

"Berarti malam kita sampai bagang. Gak bisa casting. Mancing dasaran aja lo gitu nanti," kata Safri.

Di perjalanan, kami melewati puluhan bagang. Terbuat dari kayu dan bambu yang ditancapkan ke laut. Bangunan bagang dibuat persegi empat sama sisi. Di tengah bangunan ada pondok kecil, tempat menaruh mesin genset.

Tidak sampai 30 menit, sampai kami ke depan pulau. Saat itu langit berubah warna. Lembayung di bagian barat. Rumah-rumah berjejer di pulau. Katanya, jika terbiasa jalan kaki cepat, tidak sampai satu jam selesai mengelilingi pulau Kerasian.

Di bagian pulau yang landai, penuh rumah. Di bagian bukitnya jadi kebun. Ada pisang, ubi kayu. Tapi paling banyak tumbuh: pohon kelapa. Tanaman ini memang jadi andalan para nelayan. Hampir semua bagian pohon mereka manfaatkan.

Ibu-ibu dan anak-anak ramai di dermaga. Mereka menanti keluarga dari seberang, bawa barang-barang. Ada yang belanja kursi baru. Kipas angin. Fahrul sendiri membawa banyak minyak dari Tanjung Lalak.

Jalan kaki kami ke rumah Fahrul. Melalui bangunan PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) milik PLN. Sinyal internet bagus. Dua petugas muda PLTD asyik main hape. Hape dipegang horizontal, seperti sedang main game.

Sampai rumah Fahrul. Kami disambut ramah. Istri Fahrul, Lisna, ke luar membawa kopi hangat. Perutnya melendung. Sedang hamil tua. "Kalau di sini banyak Jokowi sepertinya. Saya Jokowi. Tapi suami Prabowo," ujar Lisna tertawa, ketika ditanya di pulau banyak milih siapa.

Ia lantas pamit. Ke dapur. Menyiapkan bekal makan malam suaminya nanti di bagang. Praktis selama musim bagang ini, Fahrul dan Lisna hampir tidak pernah bertemu malam hari.

Usai Magrib berangkat kami. Fahrul ditemani Asgan, rekannya. Juga ikut ayah Fahrul. Sekitar lima menit di laut, sampai ke bagang milik ayah Fahrul. Sementara bagang Fahrul posisinya agak ke tengah. Kami memilih ke bagangnya Fahrul.

Dan ternyata. Naik ke bagang tidak semudah terlihat. Tidak ada tangga. Arus sedang kencang. Kapal oleng. Naik harus memanjat.

Sampai ke atas bagang lebih kaget lagi. Hampir semua bagian bagang hanya berupa bambu silang-menyilang. Sedikit sekali yang ada lantai berupa pipihan bambu yang disusun.

"Kamu beruntung. Ini sudah mending. Rata-rata bagang gak ada lantainya. Makanya kubawa ke sini," kata Safri.

Memancing nanti posisinya di ujung-ujung bagang. Jalan satu-satunya memijak silangan bambu. Jarak dari satu bambu ke bambu lainnya ada setengah meter. Jika salah pijak alamat langsung nyemplung ke laut ke dalaman delapan meter.

Tapi katanya tenang saja. Kalau nyemplung, jaring penangkap teri persis ada di bawah. Ukurannya seluas bagang itu.

Penulis yang baru pertama naik ke bagang memilih ngaso duduk di lantai depan pondok. Yang lain sudah hilir mudik ke sana ke mari. Fahrul dan rekannya menurunkan lampu-lampu ke bawah mendekati air laut. Genset di dalam pondok dinyalakan. Suasana berubah terang benderang.

Ikan teri, cumi, juga ikan-ikan kecil lainnya nanti bergerombol datang ke bawah lampu. Jika ikan banyak, jaring akan diangkat. Mengangkat jaring memakai sistem katrol. Katrol terbuat dari kayu bundar panjang. Diputar biasanya dengan tenaga dua orang dewasa.

Semua beres. Sederhana ternyata. Tinggal menyalakan lampu. Tunggu ikan datang. Mengisi waktu kami semua memancing. Mancing dasaran, umpan cumi mati.

Wartawan dibimbing menuju pinggir bagang. Lutut masih gemetar. Belum terbiasa. Selain umpan dasaran, kami juga memakai umpan palsu, casting.

Sampai jelang Isya tidak ada ikan nyantol di kail. Kata Fahrul, umpan cumi mati memang kurang bagus. Perut sudah gerocokan. Kami pun memilih mengisi perut dulu.

Makanannya nasi putih, mie goreng, telur dadar dan ikan serisi panggang. Langit cerah. Angin sepoi. Laut hijau, ikan-ikan kecil semakin banyak bermain di bawah lampu. Suasananya, membuat lahap makan. Sepiring nasi cepat habisnya.

Habis makan. Ngopi, cerita-cerita. Lanjut mancing lagi. Sekitar pukul 23.00, Fahrul menaikkan satu lampu dari atas laut. Lampu di atas pondok dimatikan. Saatnya mengangkat jaring.

Katrol kayu dan tali laso berdecit. Bagang itu kokoh. Tidak bergoyang. Perlahan-lahan jaring nyaris tanpa lubang terangkat dari dasar laut. Warnanya hitam. Ikan teri menggelepar. Dengan sebuah serokan, ikan dalam jaring diangkat. Jaring diturunkan lagi. Lampu dinyalakan kembali.

Ikan dihampar di atas lantai beralaskan jaring. Dapat cumi dan teri masing-masing hampir se ember. "Kalau begini sedikit dapatnya," kata Fahrul.

Apakah semua bagang dapat sedikit malam itu? Kata Fahrul tidak pasti. Setiap bagang, setiap malam, punya hasilnya sendiri-sendiri. "Seperti memancing juga. Kadang dapat, kadang kosong."

Karena sudah dapat cumi segar, umpan pancing diganti. Benar saja. Tidak perlu nunggu lama, ikan-ikan naik. Ada ikan kakap putih ukuran sedang. Dan ikan-ikan karang.

Tidak lama, giliran kail milik penulis dibetot. Keras sekali tarikannya. Sayangnya ikan membawa lari ke arah bagang. Nilon pun putus kena kulit kerang tajam yang banyak menempel di tiang.

Tapi arus semakin deras. Hanya beberapa ekor ikan besar berhasil dinaikkan. Ikan-ikan itu langsung dipanggang. Pakai sabut. Selan ikan, Fahrul juga membakar cumi. Aromanya tercium ke udara. Sedap.

Tengah malam kami makan lagi. Sepintas, bekerja di bagang sepertinya menyenangkan. Ikan panggang, di bawah langit di atas laut. Semua menyenangkan, selain lubang-lubang di antara silangan bambu.

Mengapa semua bagian bagang tidak diberi lantai? Alasannya ternyata hemat biaya. Satu bagang tiang bambu modalnya mencapai Rp7 juta. Kalau bagang Fahrul tembus Rp25 juta, tiangnya terbuat dari kayu akasia, tahan bertahun-tahun. Yang tiang bambu hanya tahan satu musim.

Kami pun melalui malam dengan memancing. Tapi benar-benar sedang apes sepertinya. Tidak ada lagi ikan besar naik. Kalau ada naik, ikan karang kecil, yang langsung kami lepas lagi ke laut.

Subuh, Fahrul dan Asgan kembali memutar katrol. Kali ini ikan teri lebih banyak dari sebelumnya. Cuminya juga. Biasanya, satu malam mereka memutar katrol lima kali. Malam itu dua kali saja. Ikan sedikit.

Tidak terasa, langit pun berubah warna. Fahrul sibuk kemas-kemas. Lantai dibersihkan. Ikan-ikan kecil dikeringkan di atas bagang. Dari arah tengah kapal-kapal kecil pulang. Mereka seperti berlomba.

Tidak lama kami pun turun ke kapal. Melaju ke arah pulau. Sebelum sampai pulau, jemput dulu ayah Fahrul. Benar ternyata, tiap bagang beda cerita. Ikan teri tangkapan ayah Fahrul hampir lima kali lipat banyaknya.

Langit semakin cerah. Kapal-kapal nelayan berkumpul di depan pulau. Merapat ke kapal ukuran lebih besar. Asap dapur mengebul dari beberapa rumah di pesisir yang masih memasak dengan kayu api.

Burung-burung terbang rendah. Suara ibu-ibu di pesisir terdengar. Menanti suami dan anak mereka. Fahrul kemudian juga mengarahkan kapal ke kumpulan kapal nelayan. Ternyata mereka sedang menjual cumi ke saudagar cumi.

Fahrul dan ayahnya total mendapat 27 kilogram cumi. Dibeli Rp270 ribu semua. Kami pun pulang. Di dermaga, ibunya Fahrul sudah menunggu dengan gerobak kecil. Baju kaos dan kain sarung.

Ikan teri dan sebagian cumi dinaikkan dalam gerobak. Pria-pria tua asyik cerita dan merokok di pinggir dermaga. Para ibu asyik menjemur ikan teri di para-para. Pagi buta semua sibuk.

Para tetangga yang tidak punya bagang, datang ke rumah yang punya bagang. Pulang mereka membawa ikan. Musim bagang, semua seperti hidup. Penjual kue dan nasi kuning laris manis. Kami disuguhkan sarapan pagi dengan untuk-untuk dan terang bulan manis, hasil jajan istri Fahrul.

Satu malam, setiap bagang menghabiskan sekitar lima liter bensin. Biaya solar kapal sekitar dua liter. Jadi dari hasil jual cumi, sudah nutup semua biaya menangkap teri.

Satu musim sekitar empat bulan lamanya itu, setiap bagang rata-rata meraup puluhan juta bersih. Luar biasa. Tapi itu uang diputar selama setahun. Pembagang rata-rata hanya punya kapal kecil, tidak mampu mencari ikan ke laut lepas. Bagang saja andalan mereka.

Kelemahan para nelayan di pulau, mereka menjual langsung ikan teri ke tengkulak. Murah pun dijual. Tidak punya modal membuat olahan teri, dan tidak tahu cara memasarkannya.

Mungkin potensial jika ada keterlibatan pemerintah membantu mereka. Membuat koperasi, membantu teknik pengolahan teri. Dan membantu peluang pemasarannya. Selama ini teri dari Pulau Laut mayoritas dikirim ke Jawa. Di pulau Jawa, produsen besar mengolahnya lagi jadi untuk dijual mahal. (by/bin)


BACA JUGA

Jumat, 24 Mei 2019 09:11
Ustad Arifin Ilham, Ulama Kondang Asal Kalsel Berpulang

Ingin Dimakamkan di Gunung Sindur, Minta Dikubur Malam Jumat

Ustad Arifin Ilham berpulang semalam. Setelah sempat kritis selama satu…

Kamis, 23 Mei 2019 15:01
Mengikuti Peringatan Nuzulul Quran di Masjid Lapas Banjarbaru

Berderai Air Mata, Ratusan Napi Teringat Keluarga

Ratusan napi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Banjarbaru berkumpul.…

Kamis, 23 Mei 2019 09:48

Kisah Kerusuhan 23 Mei: Telepon Guru Sekumpul Bikin Karno Tenang

Peristiwa itu masih melekat kuat di ingatan H Karno. Pria…

Rabu, 22 Mei 2019 12:54
Berkunjung ke Eks Bangunan Rumah Sakit Paru dr H Andi Abdurrahman Noor di Batulicin

Tak Terawat, Mulai Jadi Sumber Cerita Angker

Eks bangunan rumah sakit Andi Abdurrahman Noor ini sudah tidak…

Senin, 20 Mei 2019 11:38
Tradisi Bapapai, Mandi di Malam Pertama bagi Trah Ulu Benteng

Yang Menghindari Tradisi ini Bisa Gila

Mau jadi penganten di Ulu Benteng, Batola harus siap mental.…

Minggu, 19 Mei 2019 10:22

Berbincang dengan Guru Haji Abul Hasan Desa Gadung Keramat Bakarangan

Desa Gadung Keramat Kecamatan Bakarangan dari dulu terkenal akan banyaknya…

Sabtu, 18 Mei 2019 10:54
Melihat Tradisi “Tempur Meriam” di Hulu Sungai Tengah

Rayakan dengan Dentuman untuk Pupuk Kebersamaan

Setiap Ramadan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah selalu menjadi ajang pertempuran…

Jumat, 17 Mei 2019 11:38
Berbincang dengan Nelayan Tanjung Selayar di Musim Tenggara

Jangankan Baju Baru, Buat Makan Saja Susah

Angin tenggara berembus kencang. Pondok Ahmad di tepi pantai bergetar…

Kamis, 16 Mei 2019 12:21
Ustaz Muhammad Kasim, Pengajar Alquran di Pegunungan Meratus HST

Ajarkan Alquran Sambil Memasak, Jadikan Santri Sebagai Keluarga

Tak rela menyaksikan sebuah surau di atas pegunungan terbengkalai, Muhammad…

Rabu, 15 Mei 2019 15:41
Pengasuh Ponpes Tarbiyatul Furqan, Cetak Para Pendakwah Tangguh

Ratusan Ustaz Dikirim ke Desa Terpencil sampai Perkotaan

Tinggal sedikit pesantren yang memiliki misi untuk mencetak para dai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*