MANAGED BY:
KAMIS
18 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 04 Mei 2019 16:29
Berbincang dengan Badaruddin, ‘Menteri Penerangan’ dari Sungai Tabuk
Otodidak Perbaiki Lampu, Panen Bila Listrik Sering Padam
Badaruddin, (39) dijuluki ‘menteri penerangan’ oleh warga. Karena dalam hitungan menit, dia mampu menghidupkan kembali lampu CFL (Compact Fluorescent Ligths) yang sudah mati.

PROKAL.CO, Badaruddin, (39) dijuluki ‘menteri penerangan’ oleh warga. Karena dalam hitungan menit, dia mampu menghidupkan kembali lampu CFL (Compact Fluorescent Ligths) yang sudah mati.

Oleh: MAULANA, Banjarmasin.

Lampu anda rusak, jangan dibuang. Serahkan kepada Ibad, panggilan akrab pria yang biasa mangkal di pasar dadakan di kawasan Sungai Gardu, Sungai Lulut, Jalan Keramat dan Jalan A Yani KM 7 Kertak Hanyar.

Sejak sore hingga pukul 9 malam, ia menggelar lapaknya, duduk lesehan diantara susunan lampu bekas yang didagangkan. Di tempat ini juga ia membuka jasa perbaikan. Tak terasa sudah 8 tahun pekerjaan seperti ini jadi rutinitasnya.

Ketika lampu yang sudah padam diserahkan, ia langsung mengamati dan sudah bisa menerka apa kerusakan lampu tersebut.

"Jika kaca lampunya masih bersih, berarti kerusakannya di mesin. Jika kaca lampunya hitam berarti kacanya rusak. Itu sudah pasti kerusakannya, tetapi jika tak ada tanda sama sekali, bisa saja kabel penghantar arus ke kaca lampu putus, itu sulit diperbaiki. Bisa, tapi nyalanya tak maksimal dan tak bertahan lama," terang warga kelahiran Pengambangan 5 Mei 1980 ini.

Ibad yang memang memiliki keahlian servis elektronik ini, memulai usaha ini berkat saran dari seorang kawan. Sebagai latihan, ia mengawali dengan 40 lampu bekas yang didapat dari pemulung.

"Saya coba perbaiki, saya pelajari kerusakannya. Akhirnya banyak yang berhasil. Sampai akhirnya saya berani buka jasa perbaikan lampu ini," ucap warga Kompleks Graha Sejahtera Blok B nomor 12, Jalan Martapura Lama, Sungai Tabuk Kabupaten Banjar.

Sehari Ibad, bisa menerima 15 hingga 17 lampu untuk diperbaiki. Bukan cuma dari rumah warga, tapi juga ada rumah makan, toko sampai salon kecantikan yang memanfaatkan jasanya.  "Ada yang sekali datang membawa puluhan buah," ujarnya.

Untuk biaya perbaikan, tergantung kerusakan. Jika mesin lampu rusak, biayanya Rp10 ribu, jika bola lampunya lebih mahal, Rp20 ribu. Layaknya tukang servis professional, Ibad pun memberi garansi, satu bulan untuk lampu yang diperbaiki.

Untuk spare part, dia bisa membeli komponen dari toko elektronik. “Bisa juga kanibalan dari lampu bekas," katanya.

Barang kanibalan tersebut didapatnya dari tenaga kebersihan yang mengangkut sampah. Biasanya setelah terkumpul satu kantong plastik besar, baru dibawa kepada Ibad.

"Satu kantongan itu biasanya 100 biji lebih, saya hargai Rp150 ribu,” ungkapnya.

Ibad pun mengklasifikasi dari lampu-lampu tersebut, komponen apa yang masih bisa digunakan. Bisa jadi mesin, bisa jadi bola lampunya. Ada pula yang memang sudah rusak, tak berguna.

Menggeluti usaha ini, Ibad mengaku tak pernah sepi. Terlebih bila listrik sering padam. Banyak bola lampu yang jadi korban. "Saya kewalahan, sampai ada yang datang ke rumah," ujarnya.

Ia pun bercerita, sebelum menjadi ‘menteri penerangan’ pekerjaan pria yang hanya sempat menikmati bangku SD ini adalah menerima jasa service HP. Namun ujarnya, memperbaiki HP terlalu menguras pikiran dan rumit.

“Bisa servis HP itu juga otodidak, sering begadang di rumah kawan yang tukang servis HP,” candanya.

Ibad masih ingat awal karir servisnya dari Nokia tipe 3310 yang rusak speakernya. Sekarang, sebenarnya ia juga terus mengupdate kemampuan, belajar dari internet. Ia pun bisa menangani kerusakan HP pintar sejenis android.

Satu lagi keahliannya, ia juga tukang bangunan. Dari berbagai keahlian itulah Ibad menafkahi keluarga kecilnya yang sudah dikaruniai dua orang anak. "Alhamdulillah dengan rezeki ini saya bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” tandasnya. (by/ema)


BACA JUGA

Rabu, 17 Juli 2019 10:29

Berbincang dengan Rachmi Nafissa Ramadhan, Duta Baca Kalsel 2019

Kegemaran membaca majalah anak-anak sejak kecil membuat Rachmi Nafissa Ramadhan…

Selasa, 16 Juli 2019 15:17

Eko Subiyantoro, Bersepeda 1.300 KM untuk Rumah Singgah Kanker Anak

EKO Subiyantoro, Founder/Direktur Eksekutif Tangan Tangan Relawan mulai hari ini…

Selasa, 16 Juli 2019 11:50

Istri Sempat Keberatan, Penyelamat Buah Langka ini Akhirnya Dapat Kalpataru

Dedikasi Mohamad Hanif Wicaksono dalam menyelamatkan buah lokal dan langka…

Senin, 15 Juli 2019 11:07

Mohamad Hanif Wicaksono, Pahlawan Buah-Buahan Lokal dari Balangan

Namanya Mohamad Hanif Wicaksono. Usianya masih relatif muda, 36 tahun.…

Senin, 15 Juli 2019 10:31

Laporan dari Panggung Terbuka Bachtiar Sanderta

Sembilan grup tari asal Banjarmasin, Banjarbaru, Banjar, Hulu Sungai Selatan,…

Minggu, 14 Juli 2019 10:29

Normanto, Kades Karya Maju dan Mimpi Agrowisata Anggurnya

Hidup sebagai warga transmigrasi di desa, membuat Kades Normanto harus…

Sabtu, 13 Juli 2019 12:24

Bawa Kuyang, SMKN 2 Barabai Tembus ke Pentas Nasional

Kuyang, adalah folklor. Tapi cerita tentangnya mampu mengantarkan Miftahul Jannah,…

Jumat, 12 Juli 2019 11:12

Orang Tua Tak Punya Biaya, Tubuh Sudah Ditumbuhi Jamur

Jika anak remaja lainnya bermain dengan teman sebayanya, Siti Sarah…

Kamis, 11 Juli 2019 13:58

Kisah Pasangan Tunanetra di Banjarbaru Perjuangkan Anak Bersekolah Negeri

Ini kisah pilu pasangan tunanetra di Banjarbaru, Fahmi, 41, dan…

Kamis, 11 Juli 2019 10:40

Cerita Pilu dari Kuin Kecil: Penantian Panjang Penderita Atresia Ani

Di Kuin Kecil ada cerita pilu. Seorang bocah empat tahun…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*