MANAGED BY:
SENIN
17 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 17 Mei 2019 11:38
Berbincang dengan Nelayan Tanjung Selayar di Musim Tenggara
Jangankan Baju Baru, Buat Makan Saja Susah
PERBAIKI JALA: Ahmad memintal tali membuat perangkap kepiting. Musim angin tenggara biasa dimanfaatkan nelayan untuk memperbaiki jala. | FOTO: ZALYAN SHODIQIN ABDI/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Angin tenggara berembus kencang. Pondok Ahmad di tepi pantai bergetar hebat. Sudah banyak bagang rubuh. Anak lelakinya tidur beralaskan mimpi. Jangankan baju baru lebaran, buat makan saja susah.

Oleh ZALYAN SHODIQIN ABDI, Kotabaru

Ahmad tinggal di Desa Tanjung Pelayar Kecamatan Pulau Laut Tanjung Selayar. Sekitar 120 kilometer dari pusat kota. Pesisir desa Ahmad persis menghadap tenggara.

Sejak awal Ramadan, tenggara berembus. Ini musim paling ditakuti para nelayan Tanjung Pelayar. Juga Teluk Kemuning, Tanjung Lalak dan sekitarnya.

Angin tenggara kurang ramah. Menampar keras deretan bangunan bagang para nelayan. Bagang terbuat dari bambu, untuk menangkap ikan teri dan cumi di laut.

Tenggara datang, Ahmad dan ribuan nelayan bagang terpaksa kerja lain. Memaksa diri ke bagang, risikonya bisa nyawa.

Ahmad sejak tenggara datang, mulai merajut tali temali. Membuat perangkap kepiting. Turun pagi, siang atau sore memeriksa perangkap.
"Puasa tidak bisa full. Cepat haus."

Kamis (16/5) petang kemarin. Dengan bibir kering, didampingi anak lelakinya yang masih SD, Ahmad bercerita. "Ya, biasa dapat kepiting lima ekor," getirnya.

Berapa harga lima ekor itu? Katanya tergantung ukuran. Anggap saja Rp40 ribu. Sehari dapat segitu, cukup buat apa?

"Makanya itu. Jangankan untuk beli baju baru lebaran. Buat makan saja susah," nyaring suara Supaidah. Istri Ahmad datang dari pondok menemani suaminya.

Hasil bagang bulan lalau bagaimana? Kata suami istri itu, sudah habis. Hasil bagang memang lumayan. Tapi biaya operasional juga tinggi.

Bagang dibangun dari bambu. Biasanya tahan setahun. Biayanya Rp15 juta. Sekitar itu. Uang hasil penjualan teri disisihkan dulu buat membangun bagang di musim depan, sisanya untuk makan sehari-hari.

"Bagang itu tidak pasti. Minggu ini kita dapat misalnya lima juta. Nanti minggu yang lain tidak dapat. Hasil setahun cukup buat hidup saja," kata Sahmad, rekan Ahmad.

Sama dengan Ahmad. Sahmad juga mengaku risau. Anaknya tiga orang. Semua masih sekolah. Berbicara baju lebaran, matanya berkaca-kaca."Terpaksa habis lebaran ini saya ke kota. Kerja bangunan. Angin ini sampai lepas Agustus baru teduh," ujarnya.

Sahmad tidak punya ladang luas. Tidak ada pilihan bagi dia. Nelayan menurut pria ini harus punya keahlian lain selain mencari ikan.

"Kalau tidak punya kerjaan lain, menderita," ucapnya.

Sementara ini Sahmad belum ke kota. Dia mengaku ingin puasa dulu. Urusan dunia, soal baju lebaran, dia serahkan sama Tuhan saja.

Sekarang Sahmad seperti Ahmad. Kerja apa yang ada. Jika ada tetangga perlu diadukkan semen. Atau turun ke muara laut pakai sampan. Cari kepiting. Kepiting dijual hasilnya dibelikan beras.

Tak terasa azan Magrib berkumandang. Jalanan sepi. Tapi pintu-pintu rumah terbuka. Radar Banjarmasin bisa melihat keluarga-keluarga nelayan berbuka puasa.

Rembulan bersinar. Posisinya naik seperempat langit di arah timur. Memantul keemasan warnanya. Masyarakat Tanjung Pelayar rata-rata dihuni warga suku Mandar. Mereka relijius, kebanyakan.

Anak-anak ramai SD ke masjid. Membawa pulpen dan kertas. A'mang kaum masjid sibuk. Dulu A'mang juga nelayan. Sejak diminta jadi pengurus masjid dia berhenti.

"Berat memang jadi nelayan. Kalau dipikir tidak akan cukup. Tapi kuasa Tuhan, hidup saja kita semua. Bisa saja kita makan," ujarnya.

Dari dulu parade nelayan bagang tidak berubah hidupnya. Syaripuddin akrab disapa Pudding mengatakan, perlu peran pemerintah.

"Selama ini mereka terpaksa jual murah teri-teri itu. Dapat dikeringkan langsung jual, tidak punya kekuatan negosiasi," paparnya.

Padahal ratusan ton teri mereka dijual kembali oleh para pengepul ke Jawa. Di Jawa diolah lagi teri itu jadi beberapa macam produk, dengan harga lebih mahal.

"Para pengepul dan pengusaha makanan teri yang panen. Mereka menikmati teri harga murah dijual harga tinggi. Kita tidak punya pengolahan itu," pasrahnya. (zal/ay/ema)


BACA JUGA

Minggu, 16 Juni 2019 09:11

Melihat dari Dekat Program Mengubah Rawa Jadi Lahan Pertanian

Memiliki banyak daerah rawa yang ganggur menjadi berkah tersendiri. Kalsel…

Rabu, 12 Juni 2019 12:00
Suka-Duka Sipir Muda Wanita di Dalam Lembaga Pemasyarakatan

Para Perempuan Ini Kerap jadi Tempat Napi Curhat

Tak mudah kerja di penjara. Apalagi bagi kaum hawa. Banyak…

Selasa, 11 Juni 2019 17:00
Inilah Panta, Minuman Kebanggaan Generasi 80-an

Panta 'Legend' Kini Cuma Diolah Berdasarkan Pesanan

Panta sebenarnya minuman tradisional. Pada masanya, usaha rumahan pembuatan Panta…

Selasa, 11 Juni 2019 10:27
Melihat Dari Dekat Sisa Banjir Bandang Pulau Laut

Nyawa Hampir Melayang, Embung Kering Mendadak

Sabtu pagi itu Fatimah baru saja usai selamatan. Barang-barang berserakan.…

Senin, 10 Juni 2019 17:45
Sarjana Pendamping Desa Sulap Rumah Pribadi untuk Objek Foto Selfie

Buka Setiap Hari, Mau Foto Harus Janjian Dulu

Ide sarjana pendamping desa (Samping Desa) di Kabupaten Hulu Sungai…

Senin, 03 Juni 2019 11:25
Ketua MUI Banjar KH Fadlan Asyari Bercerita Momen-Momen Istimewa Sewaktu Merawat Guru Sekumpul di Surabaya

Terharu Saksikan Kesabaran Guru Hadapi Penyakit

Ketua MUI Banjar KH Fadlan Asy’ari masih bersepupu dengan KH…

Senin, 03 Juni 2019 09:26
Jadi Orang Tua Asuh Sehari ala IBC

Belikan Baju Lebaran

Pernah kah terbayangkan menjadi orang tua asuh dalam sehari saja?…

Sabtu, 01 Juni 2019 12:25
Perjalanan Dakwah Ketua MUI Tanbu KH Muhammad Fadli Muis

Sempat Jualan Minyak Harum Supaya Bisa Beli Kitab

Lahir dari keluarga sederhana, KH M Fadli Muis harus berjuang…

Kamis, 30 Mei 2019 12:08
MELIHAT FENOMENA PESAN MAKANAN ONLINE DI SIANG BULAN PUASA

SAKADUP? SUDAH KUNO!

Tak semua orang tahu lokasi Warung Sakadup. Sudah tahu pun,…

Selasa, 28 Mei 2019 10:41
Ustaz Pitmanuddin, Pembaca Manakib yang Terkenal di Marabahan

Hapal Banyak Cerita Hidup Wali Allah

Sesuai jabatannya sebagai penyuluh agama Islam fungsional KUA Kecamatan Bakumpai,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*