MANAGED BY:
SENIN
17 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 18 Mei 2019 10:54
Melihat Tradisi “Tempur Meriam” di Hulu Sungai Tengah
Rayakan dengan Dentuman untuk Pupuk Kebersamaan
DIGELAR TAHUNAN: Sejumlah pemuda mengolah pohon aren menjadi meriam karbit. Tradisi setiap Ramadan ini telah bertahan bertahun-tahun. | Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Setiap Ramadan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah selalu menjadi ajang pertempuran meriam. Tahun ini, Desa Buluan, Kecamatan Pandawan, Hulu Sungai Tengah (HST) menjadi medan tempurnya.

Oleh: WAHYU RAMADHAN, Desa Buluan

Alunan house music mengiringi belasan pemuda yang sibuk menekuri tiga batang pohon aren berukuran besar di halaman rumah penduduk di RT 4, Desa Buluan, Kecamatan Pandawan, HST. Mereka semua tanpak sibuk dan berkeringat. Ada yang membelah batang pohon kemudian membuang isinya, ada yang menyatukan batang pohon yang sudah dibelah, merekatkannya kembali dengan potongan bambu dan rotan.

Kelak, batang pohon aren inilah yang nantinya dijadikan meriam karbit. Beradu dentuman, merayakan hari kemenangan seusai menjalankan ibadah puasa sebulan penuh di Bulan Ramadan.

Tiga batang pohon aren yang diolah Rabu (15/5) malam itu, bukanlah jumlah total meriam yang bakal dibunyikan di hari pelaksanaan festival meriam karbit. Ketua Pelaksana festival meriam karbit, Basirin (45), mengungkapkan bahwa bakal ada lebih dari 80 meriam yang beradu bunyi nantinya. Digelar semalam suntuk. Tepatnya, di hari kedua Idul Fitri, hingga keesokan harinya.

“Pada saat pagelarannya, Meriam bisa berjumlah sampai 100 batang,” ungkapnya.

Festival meriam karbit, bukan lah hal yang baru bagi masyarakat Kabupaten HST. Tradisi ini, sudah dilakukan turun temurun. Digelar hanya sekali dalam setahun, hanya di Kecamatan Pandawan. Dan tahun ini, Desa Buluan, menjadi tuan rumah pagelaran.

“Mulanya, gelaran ada di Desa Banua Supanggal. Kemudian, bergeser ke Desa Pelajau, Pandawan dan disusul dengan Desa Buluan. Bergantian secara terus menerus,” kata Basirin.

Tak ayal, persiapan demi persiapan sudah lebih dahulu dilakukan. Mulai dari mencari batang pohon aren, hingga pada proses pembuatan. Seperti halnya untuk mendapatkan pohon aren yang panjangnya belasan meter dengan lebar hampir satu meter, masyarakat harus rela mencari sampai ke luar masuk hutan yang ada di Pegunungan Meratus, Kabupaten HST.

Di samping itu, tak sedikit biaya yang digelontorkan oleh masyarakat. Beruntung, semua dana untuk festival meriam karbit, dilakukan melalui swadaya masyarakat atau urunan. Seperti yang diungkapkan oleh warga Desa Buluan, Asra (49). Kepada penulis, lelaki ini menjelaskan, bila dihitung-hitung, total biaya yang dibutuhkan masyarakat untuk sekali pagelaran menelan biaya lebih dari Rp60 juta.

Sebagai contoh, untuk 80 meriam, membutuhkan setidaknya 1, 200 ton karbit. Atau sebanyak 12 drum. Yang apabila diuangkan, harga 12 drum karbit, membutuhkan biaya sekira Rp26 juta. Itu belum termasuk biaya pembuatan satu buah meriam yang taksiran harga paling murah Rp1 juta.

“Untuk menekan biaya, tak sedikit warga yang sudah menyiapkan dana pribadi untuk membeli batang pohon aren, dan membayar upah perajin meriam karbit,” ungkapnya.

Proses pencarian bahan, hingga pembuatan tergolong rumit. Pohon aren yang disediakan, tentu tak bisa langsung dipakai. Melainkan harus melalui berbagai proses. Rahman (28), salah satu perajin meriam karbit, menjelaskan bahwa batang pohon aren terlebih dahulu dibelah memanjang menjadi dua bagian.

Proses pembelahannya pun tak bisa menggunakan gergaji mesin. Alias, harus menggergaji secara manual. Alasannya cukup sederhana, penggunaan gergaji mesin dikhawatirkan bakal membuat belahan menjadi lebar dan bila kembali disatukan, malah tidak terlalu rapat.

“Walau pun membelah dengan gergaji manual tidak terlalu rapi, tapi batang pohon masih bisa disatukan lebih rapat,” paparnya.

Selesai dibelah, bagian daging atau isi dari pohon aren harus dibersihkan terlebih dahulu. Mengikuti alur kulit pohon aren. Ke depan, apabila belahan kembali disatukan, sepanjang pohon aren bakal utuh seperti sedia kala, dan memiliki lubang. Hanya bagian ujung yang menjadi tempat memasukkan air dan karbit saja yang dibiarkan ada daging atau isi dari batang pohon aren.

“Di bagian itu pula, nanti akan dibuat lubang untuk menyulut api. Tepatnya, ada di bagian atas meriam,” urai Rahman.

Untuk menghindari rembesan angin atau menghindari uap campuran air dan karbit keluar dari celah bekas belahan gergaji, warga menambal bagian tersebut dengan plat besi tipis. Agar lebih kuat, warga juga melilit batang pohon aren dengan potongan bambu muda berwarna hijau hingga rotan.

“Dari lubang yang dibuat, bunyi menggelegar bakal keluar. Terdengar bersahutan, hingga jarak berkilo-kilo meter,” tambah Rahman.

Ketua Pelaksana Festival Meriam Karbit, Basirin, yang sedari awal menemani penulis, mengungkapkan, warga di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, khususnya yang bermukim di kawasan Kecamatan Pandawan, mendengar bunyi nyaring meriam karbit merupakan hal yang biasa.

Masyarakat bisa memaklumi. Karena ini merupakan festival sekaligus tradisi tahunan. Tapi, untuk mengantisipasi hal yang tidak diinginkan, para orang tua, khususnya yang sudah uzur atau sepuh, diungsikan terlebih dahulu sebelum acara dimulai.

Selain itu, masyarakat juga sudah mengantongi izin dari berbagai pihak. Mulai dari Pemerintah setempat hingga aparat kepolisian. Kemudian, dikuatkan dengan komitmen masyarakat, yang bakal mengganti kerugian, apa bila ada sesuatu hal terjadi akibat dentuman meriam karbit. Sebagai contoh dentuman meriam karbit, bisa jadi memecahkan rumah warga yang berada tak jauh dari area pertempuran.

“Masyarakat yang datang menyaksikan jumlahnya bisa sampai ribuan, datang dari berbagai daerah dan berbagai elemen. Bahkan ada pula turis luar negeri yang menyaksikan,” beber Basirin.

Ada sebuah legenda yang berkembang dimasyarakat setempat. Menurut penuturan Basirin, di sebuah tempat yakni di kawasan Pinang Habang Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), dahulu kala, ada bunyi dentuman yang sangat nyaring terdengar. Bahkan, sampai ke Kabupaten HST.

Dentuman yang didengar pun muncul berulang-ulang. Oleh warga setempat, asal suara dentuman pun akhirnya dicari. Dan ternyata, suara dentuman berasal dari makhluk berukuran besar yang asyik bermain di sungai. Makhluk itu melompat dari daratan menuju ke sungai secara bergantian.

“Bunyi lompatan itu yang nyaring terdengar. Konon, hal itu yang menginspirasi tradisi festival ini di HST. Tapi, ini hanya cerita orang tua dahulu. Benar atau tidaknya, itu belum tentu,” tuturnya.

Terlepas dari keseruan festival hingga legenda yang menyelimutinya, ada banyak pesan yang dapat diambil terkait festival tradisi meriam karbit. Yakni, kebiasaan masyarakat yang gemar bergotong royong, semangat dan ketelitian. Ya, semua warga di Desa Buluan, termasuk warga dari desa lainnya di Kecamatan Pandawan, tumpah ruah memeriahkan gelaran ini. Mereka juga tak segan untuk turut serta membantu.

“Sisi positif ini yang kami pupuk dalam setiap gelaran. Kemudian, menumbuhkan semangat, apapun pekerjaan yang dilakukan hasilnya bakal kurang memuaskan bila tak ada semangat. Kemudian, tanpa ketelitian, dentuman yang keluar dari meriam karbit, juga tak akan bagus,” tuntas Basirin. (war/by/ema)


BACA JUGA

Minggu, 16 Juni 2019 09:11

Melihat dari Dekat Program Mengubah Rawa Jadi Lahan Pertanian

Memiliki banyak daerah rawa yang ganggur menjadi berkah tersendiri. Kalsel…

Rabu, 12 Juni 2019 12:00
Suka-Duka Sipir Muda Wanita di Dalam Lembaga Pemasyarakatan

Para Perempuan Ini Kerap jadi Tempat Napi Curhat

Tak mudah kerja di penjara. Apalagi bagi kaum hawa. Banyak…

Selasa, 11 Juni 2019 17:00
Inilah Panta, Minuman Kebanggaan Generasi 80-an

Panta 'Legend' Kini Cuma Diolah Berdasarkan Pesanan

Panta sebenarnya minuman tradisional. Pada masanya, usaha rumahan pembuatan Panta…

Selasa, 11 Juni 2019 10:27
Melihat Dari Dekat Sisa Banjir Bandang Pulau Laut

Nyawa Hampir Melayang, Embung Kering Mendadak

Sabtu pagi itu Fatimah baru saja usai selamatan. Barang-barang berserakan.…

Senin, 10 Juni 2019 17:45
Sarjana Pendamping Desa Sulap Rumah Pribadi untuk Objek Foto Selfie

Buka Setiap Hari, Mau Foto Harus Janjian Dulu

Ide sarjana pendamping desa (Samping Desa) di Kabupaten Hulu Sungai…

Senin, 03 Juni 2019 11:25
Ketua MUI Banjar KH Fadlan Asyari Bercerita Momen-Momen Istimewa Sewaktu Merawat Guru Sekumpul di Surabaya

Terharu Saksikan Kesabaran Guru Hadapi Penyakit

Ketua MUI Banjar KH Fadlan Asy’ari masih bersepupu dengan KH…

Senin, 03 Juni 2019 09:26
Jadi Orang Tua Asuh Sehari ala IBC

Belikan Baju Lebaran

Pernah kah terbayangkan menjadi orang tua asuh dalam sehari saja?…

Sabtu, 01 Juni 2019 12:25
Perjalanan Dakwah Ketua MUI Tanbu KH Muhammad Fadli Muis

Sempat Jualan Minyak Harum Supaya Bisa Beli Kitab

Lahir dari keluarga sederhana, KH M Fadli Muis harus berjuang…

Kamis, 30 Mei 2019 12:08
MELIHAT FENOMENA PESAN MAKANAN ONLINE DI SIANG BULAN PUASA

SAKADUP? SUDAH KUNO!

Tak semua orang tahu lokasi Warung Sakadup. Sudah tahu pun,…

Selasa, 28 Mei 2019 10:41
Ustaz Pitmanuddin, Pembaca Manakib yang Terkenal di Marabahan

Hapal Banyak Cerita Hidup Wali Allah

Sesuai jabatannya sebagai penyuluh agama Islam fungsional KUA Kecamatan Bakumpai,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*