MANAGED BY:
RABU
26 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 20 Mei 2019 11:38
Tradisi Bapapai, Mandi di Malam Pertama bagi Trah Ulu Benteng
Yang Menghindari Tradisi ini Bisa Gila
BAPAPAI: Pasangan pengantin di Ulu Benteng mengikuti tradisi bapapai. Tiap kali menikah harus bapapai.

PROKAL.CO, Mau jadi penganten di Ulu Benteng, Batola harus siap mental. Menjelang malam pertama pasangan pengantin harus dimandikan bidadari di hadapan masyarakat.

Oleh: AHMAD MUBARAK, MARABAHAN

Jangan bayangkan bidadari ini adalah bidadari dari kahyangan. Bidadari di sini adalah para petugas adat setempat. Merekalah yang memandikan pengaten ini di depan umum.

Mereka dimandikan di malam pertama menjelang acara resepsi perkawinan di Ulu Benteng. Tradisi ini dinamakan 'bapapai'.

Air yang digunakan bukan hanya air biasa. Air sudah dicampur dengan mayang (bunga pinang) dan berbagai tumbuhan liar lainnya. Kadang-kadang jika ada keluarga mempelai yang nakal, air diberi bongkahan es. Terpaksa pasangan pengantin harus menahan dinginnya air di hadapan warga.

Secara bergantian tujuh bidadari yang biasanya dijabat oleh para wanita yang sudah berumur, membasahi tubuh pasangan pengantin dengan air. Mereka hanya menyapukan sabun ke kepala mempelai. Tidak ke seluruh tubuh.

Setelah itu tujuh bidadari juga memecahkan kelapa tua dan mayang kandung (bunga pinang yang belum mekar). Dan yang terakhir dari tradisi Bapapai, pengantin harus melangkah tujuh kali di lingkaran benang. Tujuh bidadari itu akhirnya memecahkan telur saat langkah ke tujuh.

Artiah, warga Ulu Benteng RT 18 yang sering menjadi bidadari di tradisi bapapai mengatakan tradisi ini sudah ada sejak jaman nenek moyangnya dulu. Lebih dari seratus tahun yang lalu. Tradisi ini diwariskan secara turun temurun.

Apabila ada garis keturunan salah satu mempelai melaksanakan bapapai, maka akan dilaksanakan bapapai seterusnya.

"Mereka yang melaksanakan bapapai mempercayai apabila tidak melakukan tradisi saat menikah maka akan mendapat sial," ceritanya seraya menambahkan bahwa tidak ada bacaan khusus yang dilontarkan saat bepapai.

Dia menjelaskan bapapai bisa dilakukan menjelang resepsi dan tiga hari setelahnya, hanya saja paling sering dilakukan pada malam menjelang resepsi perkawinan. Artiah juga menceritakan, terkait kesialan yang pernah menimpa keponakannya benerapa tahun lalu yang menghindari bapapai.

Seketika beberapa hari setelah sesepsi pernikahan, keponakannya sakit. Bahkan keponakannya hampir gila dan suka berbicara sendiri.

"Setelah keluarga sepakat untuk melakukan bapapai, keponakan saya kembali sehat seperti semula," ceritanya.

Percaya tidak percaya, hal serupa juga diungkapkan bidadari lainnya, Masliah (55) warga Ulu Benteng RT 11. Kejadian mistis akibat tidak melakukan tradisi bapapai juga dialami kakaknya.

Kakaknya yang sudah pernah bebapai di pernikahan pertamanya menolak melakukan bapapai di pernikahan kedua. Singkat cerita, menurut Masliah, kakaknya sakit-sakitan serta seperti orang linglung.

Berbagai cara menurut Masliah sudah dilakukan untuk mengobati kakaknya. Tapi hasil tetap nihil, kakaknya semakin hari semakin lemah. Hingga suatu hari terbetik di pikiran untuk dilakukan bapapai lagi.

"Entah keajaiban atau memang ingin bapapai, Kakak saya waktu itu sembuh, dan sampai sekarang masih sehat," ujarnya seraya berpesan agar warga Ulu Benteng yang mempunyai keturunan bapapai bisa melaksanakannnya.

Sementara itu, dari panelusura Radar Banjarmasin di Ulu Benteng, hampir semua pasangan suami istri menyatakan pernah melakukan tradisi bapapai. Hanya sebagian yang tidak melaksanakan, dikarenakan dari kedua mempelai tidak ada keturunan bapapai.

"Namanya keturunan, tetap dilakukan, takut hal buruk terjadi," ujar Rika Suciana (28) warga Ulu Benteng RT 18.(ay/ema)


BACA JUGA

Rabu, 26 Juni 2019 11:17
Mengikuti Trail Pustaka, Terobosan Dispersip Kalsel Menyebar Virus Membaca di Pelosok Kalsel

1 Motor Bawa 200 Buku, Menembus Akses Sulit di Pelosok

Akses kepada buku masih sangat kurang bagi anak-anak di pelosok.…

Selasa, 25 Juni 2019 11:58
Abdulrahman, Loper Koran Km 33 dalam Kenangan Para Kenalannya

Dikenal Rajin ke Masjid, Paksakan Bekerja Meski Kaki Patah

Pelintas Jalan A Yani Km 33, Banjarbaru tidak akan lagi…

Senin, 24 Juni 2019 11:18
Nasib Madihin di Tangan Anak Muda

Lebih Menghibur karena Dimainkan Ramai-ramai

Sekilas, penampilan Sabtu (22/6) malam itu mirip teater rakyat. Ternyata…

Senin, 24 Juni 2019 09:07
DI BALIK MENIPISNYA LAHAN PERTANIAN GAMBUT

GAMBUT TAK DIJUAL..! Kecuali Harganya Cocok

Gambut pernah menjadi lumbung padi yang menyangga kebutuhan pangan Kalimantan…

Sabtu, 22 Juni 2019 13:49
Mengenal Ahmad Ahdal, Siswa MAN ICT yang Jago Kimia dan Hafal Quran 30 Juz

Murajaah di Sela Waktu Belajar, Tiga Semester Selesaikan Hafalan

Sorot mata optimis terlihat dari pandangan Ahmad Ahdal (15), wakil…

Jumat, 21 Juni 2019 16:00
Alana Ramadhan Supit Bikin Berlepotan Wajah Ketua DPRD Kota Banjarmasin

Ditayangkan di YouTube, Batasi Pegang Handhpone

Alana Ramadhan Supit justru tak tertarik mengikuti jejak sang bunda…

Jumat, 21 Juni 2019 10:39
Melihat Aktivitas Perajin Perahu Kayu di Desa Tapus Kabupaten HSU

Penjualan Jukung Tembus Sampai ke Singapura

Seni membuat jukung mulai hilang dari tradisi Urang Banjar. Padahal,…

Rabu, 19 Juni 2019 11:32

Tren ASN Minta Mutasi di Kantor-kantor Pemerintahan

Dengan berbagai alasan, para aparatur sipil negara (ASN) di Banua…

Rabu, 19 Juni 2019 11:28
Judinor, Petani Hortikultura yang Mengubah Lahan Pertanian Menjadi Objek Wisata

Awalnya Tak Seberapa, Sekarang Bisa Pekerjakan 12 Pemuda Desa

Apa yang dilakukan Judinor mungkin bisa ditiru. Petani kelahiran 1975…

Selasa, 18 Juni 2019 12:27
Melihat Penerapan Aturan Baru bagi Ojek Online

Lebih Aman, Penumpang Tidak Was-was

Peraturan Menteri Perhubungan No 118/2018 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sewa Khusus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*