MANAGED BY:
RABU
26 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Selasa, 28 Mei 2019 10:08
Kasus Gangguan Asam Lambung Meningkat
BELUM KLB: Pihak RSD Idaman Banjarbaru menyebut selama bulan Ramadan terjadi peningkatan kasus GERD hampir 100 persen dibanding satu bulan sebelumnya. Pihak rumah sakit menjamin bahwa pasien telah ditangani dan diakomodir sempurna. Foto sendiri di ambil saat penyakit Demam Berdarah Dengue melanda kota Banjarbaru beberapa waktu lalu. | FOTO: MUHAMMAD RIFANI/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, BANJARBARU - Selama bulan Ramadan. Beberapa macam jenis penyakit terdeteksi mengalami peningkatan di Kota Banjarbaru. Walaupun tak ada yang begitu signifikan.

Dari data di Rumah Sakit Daerah (RSD) Idaman Banjarbaru. Terdapat dua penyakit yang paling banyak ditangani. Yakni Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) dan juga Tipes.

Kasi Bina Mutu Pelayanan RSD Idaman Banjarbaru, Harun Arrasyid menerangkan jika peningkatan memang terasa di bulan Ramadan. Persentasenya pun katanya mencapai 100 persen.

"Dari data kita, untuk penyakit GERD ada peningkatan 31 kasus. Yang mana di bulan April terdata 32 kasus sedangkan sampai Mei ini sudah ada 63 kasus. Naik 100 persen," katanya.

Untuk tipes sendiri, Harun mengatakan jika penyakit ini di urutan kedua pasca GERD. "Dari bulan April ke bulan Mei tambahan kasus tipes hanya ada 10 kasus. Tidak begitu besar seperti GERD."

Secara umum, GERD sendiri merupakan gangguan asam lambung yang diderita seseorang. Kondisinya ditandai dengan adanya nyeri pada ulu hati. Juga kerap merasakan sensasi terbakar di dada akibat naiknya asam lambung menuju esofagus.

Esofagus atau lebih dikenal sebagai kerongkongan. Merupakan bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan mulut dan lambung. Di Indonesia, penyakit asam lambung merupakan masalah kesehatan yang cukup umum terjadi di masyarakat.

Terkait ada peningkatan atau lonjakan kasus GERD ini. RSD Idaman klaim Harun tak sampai kewalahan. Lantaran lonjakan sebutnya masih dalam batas normal dan tidak berstatus KLB (Kejadian Luar Biasa).

"Pelayanan seperti biasa. Kita masih bisa mengakomodirnya. Kamar masih tersedia, obat-obatan juga ada dan pelayanan tetap normal. Rata-rata juga yang pasien GERD tidak sampai rawat inap," jelas Harun.

Lantas apa sebenarnya penyebab lonjakan ini? Menurut Harun, GERD di bulan Ramadan memang kerap terjadi. Salah satunya faktornya adalah soal nafsu makan yang tidak terkendali ketika berbuka puasa tiba.

"GERD umumnya disebabkan pola makan. Mungkin sewaktu berbuka asupannya terlalu berlebihan. Sehingga membuat ada gangguan di asam lambung," bebernya.

Sementara itu, salah seorang warga Banjarbaru, Antoni Fitriansyah mengaku pernah mengalami kasus GERD di awal Ramadan lalu. Ia pun harus dilarikan ke rumah sakit lantaran selalu mual hingga muntah.

"Baru pertama mengalaminya. Mirip Maag awalnya, tapi ini mualnya berkepanjangan dan ada rasa panas di tenggorokan. Alhamdulillah saya rawat jalan saja, sekitar lima hari minum obat dan mengatur pola makan sudah fit," ceritanya. (rvn/by/ema)


BACA JUGA

Kamis, 24 September 2015 23:03

Ada Presiden, Pengamanan Ketat, Antre Panjang, Ratusan Jemaah Tak Bisa Salat

<p><strong>LANTARAN</strong> dihadiri oleh orang nomor satu di Indonesia pengamanan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*