MANAGED BY:
RABU
26 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 01 Juni 2019 12:25
Perjalanan Dakwah Ketua MUI Tanbu KH Muhammad Fadli Muis
Sempat Jualan Minyak Harum Supaya Bisa Beli Kitab
KH M Fadli Muis, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tanbu yang juga pendiri Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin yang terletak di Desa Sarigadung Kecamatan Simpang Empat.

PROKAL.CO, Lahir dari keluarga sederhana, KH M Fadli Muis harus berjuang untuk menuntut ilmu di Pesantren Darussalam Martapura. Tempat yang jauh dari tanah kelahirannya di Tanjung Batu, Kelumpang Tengah, Kabupaten Kotabaru.

--- Oleh: Karyono, Batulicin ---

SOSOK KH M Fadli Muis memang sangat familiar di Kabupaten Tanbu. Beliau adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Tanbu yang juga pendiri Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin yang terletak di Desa Sarigadung Kecamatan Simpang Empat.

Sosoknya bersahaja dan dikenal ramah kepada setiap orang. Tutur katanya sangat santun, menghormati yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih muda.

Semasa kecil, Guru Fadli-begitu biasa disapa-tinggal di sebuah kampung yang terletak di Desa Tanjung Batu, Kelumpang Tengah, Kabupaten Kotabaru. Mengawali pendidikan di sekolah dasar kampung kelahirannya, ia dikenal sebagai anak pandai, selalu menjadi juara kelas. Begitu pula ketika di Madrasah Tsanawiyah, ulama kelahiran Tanjung Batu, Kotabaru 24 April 1969 ini selalu ranking.

Melihat prestasinya, seorang kerabat orang tua Guru Fadli memintanya untuk masuk sekolah umum, supaya kelak menjadi seorang insinyur. “Kebetulan beliau memiliki usaha tambak ikan,” kenang Guru Fadli kepada Radar Banjarmasin, Kamis (31/5) sore.

Namun, permintaan itu ditolak orang tua Guru Fadli yang menginginkan anaknya mendalami ilmu agama. Apalagi melihat kebiasaan Guru Fadli yang banyak menghabiskan waktu di musala di samping rumah. Bahkan, ketika usianya 15 tahun, ia sudah sering memimpin salat tarawih.

“Ayah memang berkomitmen menyekolahkan anaknya di sekolah agama saja. Ujar beliau ‘untuk bekal saya mati nanti. Kalau sekolah umum, kelak kalau sudah kerja dan menerima gaji yang enak dia sama istrinya saja, sedangkan saya tidak. Sementara kalau sekolah agama, anak saya menjadi alim, saya bisa mendapatkan pahalanya’. Memang dorongan orang tua itu sangat luar biasa,” ujar Guru Fadli.

Akhirnya, walaupun dengan kondisi ekonomi terbatas, Guru Fadli dikirim untuk menimba ilmu di Ponpes Darussalam Martapura pada bulan Juli tahun 1985. Bukan jarak yang dekat, saat ini saja, menurut Google map jarak Tanjung Batu – Martapura nyaris 400 kilometer jika melewati Tanbu, Tala dan Banjarbaru dengan waktu tempuh 10 jam.

Sedangkan ketika itu, Guru Fadli harus menempuh perjalan melewati laut, sehari semalam naik kapal.

“Sebenarnya sangat berat meninggalkan orang tua di rumah, namun karena ingin menimba ilmu agama, akhirnya saya berangkat juga,” terangnya.

Jauhnya jarak, membuat ia baru bisa pulang kampung setahun sekali. Komunikasi dengan keluarga juga sangat terbatas, belum ada telepon. Pilihan melewati surat, atau kalau ada keperluan mendesak, dengan telegram.

“Orang tua kirim uang sebulan sekali, itu pun bisa salah alamat, karena nama M Fadli Muis ada 3 orang waktu itu. Jadi pernah satu bulan tidak dapat kiriman, karena dikira punya kawan yang sama namanya,” kenangnya.

Sadar dengan kondisi orang tua yang pas-pasan, Guru Fadli berusaha mandiri dengan berjualan minyak wangi. “Kalau pulang kampung, saya diberi uang lebih oleh keluarga ayah. Uang tersebut saya belikan minyak harum (wangi, Red), kemudian dijual kembali kepada teman di ponpes. Hasilnya untuk membeli kitab,” ceritanya.

Ia juga harus menyesuaikan diri dengan metode pembelajaran di pesantren, tanpa mata pelajaran umum satupun. “Agak kaget juga, perlu dua tahun untuk menyesuaikan diri, sehingga bisa mendalami kitab-kitab yang diajarkan di Darussalam,” ungkapnya.

Setelah 9 tahun, pendidikan di Ponpes Darussalam tuntas, Guru Fadli ingin melanjutkan ke Bangil, Jawa Timur. Namun kali ini, ayahnya tak sanggup lagi membiayai. Ia pun diminta pulang kampung. Tak lama setelah ia kembali, tahun 1995 keluarganya pindahan ke Kota Batulicin.

Di sinilah Guru Fadli mulai membuka majelis taklim di rumahnya, membacakan kitab, meski jemaahnya baru 8-12 orang. Ia juga mulai diminta khutbah dan ceramah. “Malam Ahad majelis bapak-bapak, sedangkan Ahad sore majelis ibu-ibu. Hingga saat ini masih tetap berjalan. Istikamah Alhamdulillah,” katanya.

Tapi karena jemaah yang semakin banyak, mencapai 600 orang setiap kalinya, kegiatan majelis dipindahkan ke masjid yang ada di lingkungan Ponpes Pesantren Zaadul Muttaqiin yang didirikan Guru Fadli.

Berawal di tahun 2000-an, Guru Fadli punya keinginan untuk mendirikan pondok pesantren. Jemaah mendukung niat baik tersebut, ada yang menyumbang tanah seluas 2 hektare. Dari situ lahan ponpes berkembang menjadi 4 hektare.

Awal tahun 2004 peletakan batu pertama pembangunan, tahun 2005 mulai penerimaan murid baru. Sehingga kini usia ponpes sudah 14 tahun. Kawasan ponpes yang dulunya hutan belantara, sekarang sudah ramai jadi permukiman warga.

“Ponpes awalnya diikuti 11 santri, namun sekarang jumlah santri putra dan santri putri di ponpes tersebut sebanyak 400 orang,” sebut Guru Fadli.

Perjalanan mendirikan Ponpes ini pun sempat tidak mulus. Panitia yang ditunjuk untuk pembangunan ponpes sempat bubar. Akhirnya Guru Fadli sendiri yang mengelolanya. Dia berkeyakinan, pembangunan ponpes yang ada hingga saat ini karena adanya campur tangan dari Allah SWT.

“Sebenarnya ponpes ini masih butuh dana yang cukup banyak, setiap tahun menghabiskan Rp600 juta sampai Rp800 juta. Belum lagi dana rutin yang dibutuhkan setiap bulan yang mencapai Rp45 juta,” paparnya.

Dana tersebut digunakan untuk gaji guru, bayar listrik, bayar satpam, biaya makan, sementara santri hanya dipungut uang SPP sebesar Rp50 ribu saja, itupun setiap bulan tidak semua yang bayar SPP.

“Dari 400 santri, palingan yang bayar hanya 300 orang, karena disitu ada anak yatim, anak orang susah, anak Habib, Sayed, mereka tidak kami mintai SPP. Tapi alhamdulillah berkat bantuan para donatur, kegiatan di ponpes ini tetap berjalan. Kami yakin kegiatan keagamaan seperti ini pasti dibantu oleh Allah SWT,” pungkasnya. (kry/ema)


BACA JUGA

Rabu, 26 Juni 2019 11:17
Mengikuti Trail Pustaka, Terobosan Dispersip Kalsel Menyebar Virus Membaca di Pelosok Kalsel

1 Motor Bawa 200 Buku, Menembus Akses Sulit di Pelosok

Akses kepada buku masih sangat kurang bagi anak-anak di pelosok.…

Selasa, 25 Juni 2019 11:58
Abdulrahman, Loper Koran Km 33 dalam Kenangan Para Kenalannya

Dikenal Rajin ke Masjid, Paksakan Bekerja Meski Kaki Patah

Pelintas Jalan A Yani Km 33, Banjarbaru tidak akan lagi…

Senin, 24 Juni 2019 11:18
Nasib Madihin di Tangan Anak Muda

Lebih Menghibur karena Dimainkan Ramai-ramai

Sekilas, penampilan Sabtu (22/6) malam itu mirip teater rakyat. Ternyata…

Senin, 24 Juni 2019 09:07
DI BALIK MENIPISNYA LAHAN PERTANIAN GAMBUT

GAMBUT TAK DIJUAL..! Kecuali Harganya Cocok

Gambut pernah menjadi lumbung padi yang menyangga kebutuhan pangan Kalimantan…

Sabtu, 22 Juni 2019 13:49
Mengenal Ahmad Ahdal, Siswa MAN ICT yang Jago Kimia dan Hafal Quran 30 Juz

Murajaah di Sela Waktu Belajar, Tiga Semester Selesaikan Hafalan

Sorot mata optimis terlihat dari pandangan Ahmad Ahdal (15), wakil…

Jumat, 21 Juni 2019 16:00
Alana Ramadhan Supit Bikin Berlepotan Wajah Ketua DPRD Kota Banjarmasin

Ditayangkan di YouTube, Batasi Pegang Handhpone

Alana Ramadhan Supit justru tak tertarik mengikuti jejak sang bunda…

Jumat, 21 Juni 2019 10:39
Melihat Aktivitas Perajin Perahu Kayu di Desa Tapus Kabupaten HSU

Penjualan Jukung Tembus Sampai ke Singapura

Seni membuat jukung mulai hilang dari tradisi Urang Banjar. Padahal,…

Rabu, 19 Juni 2019 11:32

Tren ASN Minta Mutasi di Kantor-kantor Pemerintahan

Dengan berbagai alasan, para aparatur sipil negara (ASN) di Banua…

Rabu, 19 Juni 2019 11:28
Judinor, Petani Hortikultura yang Mengubah Lahan Pertanian Menjadi Objek Wisata

Awalnya Tak Seberapa, Sekarang Bisa Pekerjakan 12 Pemuda Desa

Apa yang dilakukan Judinor mungkin bisa ditiru. Petani kelahiran 1975…

Selasa, 18 Juni 2019 12:27
Melihat Penerapan Aturan Baru bagi Ojek Online

Lebih Aman, Penumpang Tidak Was-was

Peraturan Menteri Perhubungan No 118/2018 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sewa Khusus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*