MANAGED BY:
RABU
26 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 11 Juni 2019 17:00
Inilah Panta, Minuman Kebanggaan Generasi 80-an
Panta 'Legend' Kini Cuma Diolah Berdasarkan Pesanan
MASIH BERTAHAN: Sayuti adalah satu dari segelintir pembuat minuman Panta yang masih bertahan di Banjarmasin. Sekalipun bisnis itu sudah sangat lesu. | Foto: Maulana/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Panta sebenarnya minuman tradisional. Pada masanya, usaha rumahan pembuatan Panta menjamur di Banjarmasin. Seiring waktu, minuman manis ini kalah bersaing oleh minuman kemasan yang lebih praktis.

--- Ditulis: MAULANA, Banjarmasin ---

TAK mudah mencari pembuat Panta yang masih bertahan. Salah satunya adalah Sayuti, 60 tahun. Dia masih membuat Panta dari sebuah rumah di Gang Maluku Jalan Sulawesi, Banjarmasin Tengah.

Usaha rumahan ini berdiri sejak tahun 1978. Mereknya Panta UDIPA. Sekarang berganti menjadi Panta Sport. Namun, merek itu sebetulnya cuma julukan. Karena tak ada label atau logo yang ditempelkan pada botol minuman.

Sayuti mengolah enam varian rasa. Rasa apel, pisang ambon, anggur, salak, jeruk, hingga kopi. Ketika penulis mengunjunginya kemarin (9/6), Sayuti sedang sibuk membersihkan botol-botol Panta kosong.

Di ujung teras rumah dengan hanya mengenakan kolor coklat. Sambil menggosok botol, dia mengisap kretek. Tempat produksi ini sebenarnya rumah milik saudaranya. Rumahnya sendiri berada di Sungai Bilu, Banjarmasin Timur.

"Memang Panta ini laris manis pada zamannya. Tapi sekarang sudah kalah bersaing. Jika saya tak salah ingat, penurunan pembeli dimulai sejak tahun 1995," ungkapnya.

Panta kalah karena kurang praktis. Minuman ini dimasukkan dalam botol kaca limun yang rawan pecah. Dari segi rasa, Panta sangat manis. Dengan sentuhan sensasi soda.

"Bisnis ini mulai lesu sejak kemunculan minuman es kocok. Apalagi jumlah pedagangnya banyak," imbuhnya. Pesaing yang dimaksudnya berkeliling dari sekolah sampai ke gang-gang.

Dulu, Sayuti sanggup memproduksi 125 peti sehari. Satu peti berisi 24 botol Panta. Atau setara tiga ribu botol. Sekarang, dia hanya menjalankan proses produksi tiga atau empat kali dalam sebulan.

"Jauh! Penjualannya turun sekali. Sekarang cuma 40 peti. Itu pun tak produksi setiap hari," tambahnya.

Urusan harga, Panta sangat terjangkau. Hampir tak ada kenaikan harga berarti. Saat berjaya, tiga dekade lalu, per botol dijual Rp500 hingga Rp750. Sekarang cuma dijual Rp2 ribu.

"Terserah pelanggan mau menjual berapa ke pembelinya. Karena untuk sekali produksi saya cuma perlu beberapa ratus ribu rupiah. Jujur, saya tak pernah menghitung-hitung modalnya berapa," kisahnya.

Peminat Panta kebanyakan datang dari daerah pinggiran kota. Seperti Belitung, Alalak, dan Kuin. Sayuti bertekad untuk terus membuat Panta. Selama masih ada peminat yang datang untuk memesan.

"Soal rasa, biarlah pembeli yang menilai. Selama ini, mereka bilang rasa Panta buatan saya berbeda dengan yang lain. Saya sendiri tak pernah mencicipi. Kecuali ada yang menyebut Panta-nya hambar," imbuhnya.

Untuk komposisi, Sayuti menggunakan gula, aroma perasa, Co2, dan ekstrak buah. Masa kedaluwarsa Panta mencapai tiga bulan. "Tanda-tandanya adalah perubahan rasa dan aroma," ujarnya.

Sayuti asli orang Jombang, Jawa Timur. Dia merantau karena diminta seorang kawan menjalankan usaha Panta di Banjarmasin. Pada awalnya, usaha ini dimiliki banyak orang. Sekarang, dia hampir-hampir seorang diri meneruskannya.

"Kala itu teman saya bercerita. Dia punya kenalan orang Banjarmasin. Sudah membeli mesin produksi Panta, tapi tak bisa mengoperasikan. Saya lalu diajak gabung," kenangnya.

Temannya pula yang memaksanya untuk menetap di Kalimantan. "Logat Jawa saya sampai-sampai hilang. Gara-gara setiap hari berkumpul bersama orang Alabio," candanya. (at/ema)


BACA JUGA

Senin, 24 Juni 2019 11:18
Nasib Madihin di Tangan Anak Muda

Lebih Menghibur karena Dimainkan Ramai-ramai

Sekilas, penampilan Sabtu (22/6) malam itu mirip teater rakyat. Ternyata…

Senin, 24 Juni 2019 09:07
DI BALIK MENIPISNYA LAHAN PERTANIAN GAMBUT

GAMBUT TAK DIJUAL..! Kecuali Harganya Cocok

Gambut pernah menjadi lumbung padi yang menyangga kebutuhan pangan Kalimantan…

Sabtu, 22 Juni 2019 13:49
Mengenal Ahmad Ahdal, Siswa MAN ICT yang Jago Kimia dan Hafal Quran 30 Juz

Murajaah di Sela Waktu Belajar, Tiga Semester Selesaikan Hafalan

Sorot mata optimis terlihat dari pandangan Ahmad Ahdal (15), wakil…

Jumat, 21 Juni 2019 16:00
Alana Ramadhan Supit Bikin Berlepotan Wajah Ketua DPRD Kota Banjarmasin

Ditayangkan di YouTube, Batasi Pegang Handhpone

Alana Ramadhan Supit justru tak tertarik mengikuti jejak sang bunda…

Jumat, 21 Juni 2019 10:39
Melihat Aktivitas Perajin Perahu Kayu di Desa Tapus Kabupaten HSU

Penjualan Jukung Tembus Sampai ke Singapura

Seni membuat jukung mulai hilang dari tradisi Urang Banjar. Padahal,…

Rabu, 19 Juni 2019 11:32

Tren ASN Minta Mutasi di Kantor-kantor Pemerintahan

Dengan berbagai alasan, para aparatur sipil negara (ASN) di Banua…

Rabu, 19 Juni 2019 11:28
Judinor, Petani Hortikultura yang Mengubah Lahan Pertanian Menjadi Objek Wisata

Awalnya Tak Seberapa, Sekarang Bisa Pekerjakan 12 Pemuda Desa

Apa yang dilakukan Judinor mungkin bisa ditiru. Petani kelahiran 1975…

Selasa, 18 Juni 2019 12:27
Melihat Penerapan Aturan Baru bagi Ojek Online

Lebih Aman, Penumpang Tidak Was-was

Peraturan Menteri Perhubungan No 118/2018 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sewa Khusus…

Senin, 17 Juni 2019 10:54

Menengok Kegiatan Persatuan Sopir Truk di Banua

Sopir truk di Banua punya komunitas untuk wadah bersilaturahmi. Namanya,…

Minggu, 16 Juni 2019 09:11

Melihat dari Dekat Program Mengubah Rawa Jadi Lahan Pertanian

Memiliki banyak daerah rawa yang ganggur menjadi berkah tersendiri. Kalsel…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*