MANAGED BY:
RABU
24 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 04 Juli 2019 10:19
Begadang di Poskamling Terbaik di Kotabaru

Punya Tradisi Jimpitan, Maling dan Berandalan pun Lewat

BUKAN SEKADAR BERJAGA: Warga yang dapat giliran jaga mengambil jimpitan beras di depan rumah warga lainnya. | FOTO: ZALYAN SHODIQIN ABDI/RADAR BANJARMASIN

PROKAL.CO, Poskamling RT 4 Desa Sidomulyo barangkali adalah poskamling yang paling ditakuti maling. Semua warga dapat jatah berjaga. Sanksi sosial lebih ganas daripada denda uang.

-- ZALYAN SHODIQIN ABDI, Kotabaru --

Sudah tiga tahun Aipda Sumantri bertugas di Kelumpang Hulu. Sebelumnya dia adalah Kanit Resirim di Mapolsek Kelumpang Hulu. 15 tahun Sumantri di Reskrim. Tidak sedikit orang kaget. Tidak ada tampang jagoan. Cara jalannya, bicaranya seperti tokoh masyarakat.

Sumantri terkenal di Kelumpang Hulu. Rumahnya besar. Persis di tepi jalan raya. Dari mudah sudah mandiri: menjalankan usaha sendiri dari nol. "Aku punya banyak saudara. Keluarga. Banyak teman yang pengangguran. Makanya aku mesti bisa bikin lapangan kerja buat mereka," ujarnya.

Di mata warga, Sumantri tidak seperti polisi. Tapi sudah jadi tokoh masyarakat. Dihormati bukan karena seragam dan pangkatnya. Dikagumi karena sikap dermawannya. "Hidup cuma sawang sinawang. Orang melihat dari sudut pandang tertentu," kata Sumantri.

Entah kebetulan atau tidak, karakter Sumantri rupanya cocok di tempat tugas dia. Desa Sidomulyo. Dari Reskrim, Sumantri pindah ke Bhabinkamtibmas. "Citra polisi di masyarakat sekarang sangat bergantung bagaimana sosok Bhabin-nya," ujar Kapolsek Kelumpang Hulu Iptu GN Angga Satrya Wibawa.

Jauh sebelum Sumantri tugas di Sidomulyo, warga di sana sudah terbiasa kumpul. Poskamling salah satu tempat bertatap muka para dewasa malam hari. Lepas kerja di kebun dan ladang seharian. Ternak banyak di sana. Jadi warga mesti bahu-membahu menjaga desa. Tidak sedikit kasus pencurian ternak terjadi beberapa tahun silam.

Masuknya Sumantri membawa perubahan pesat. Grup WhatsApp dibuat. Setiap kejadian dikabarkan. Apa pun kejadiannya. Ide-ide mengalir. Salah satunya adalah jimpitan.

Jimpitan inilah yang kemudian membawa nama Sidumolyo bersinar. Kapolres Kotabaru AKBP Suhasto belum lama tadi menggelar lomba Poskamling. Semua Bhabinkamtibmas diperintahkan. Presentasi satu Poskamling yang paling diunggulkan di desa. Kabupaten Kotabaru memiliki 201 desa.

Sumantri menjagokan jimpitan ala Poskamling RT 4 Sidomulyo. "Sebenarnya setiap RT di desa kami menerapkan jimpitan itu," terangnya.

Atas kesepakatan warga. Tiap rumah saat malam hari menaruh setengah sendok beras di depan rumah. Tujuh orang petugas ronda wajib mengambil beras itu.

"Jika besok pagi yang punya rumah melihat berasnya masih utuh, artinya petugas ronda tidak mengontrol rumahnya. Dua kali begitu, yang punya rumah berhak memberi sanksi sama petugas ronda," beber Sumantri.

Mengapa beras? Karena itu dinilai tidak berat. Beras setengah sendok. Setiap malam. Sebulan berarti lima belas sendok beras.

Di RT 4 ada 83 kepala keluarga. Dalam sehari rata-rata bisa terkumpul beras hasil jimpitan sebanyak dua sampai tiga kilogram. Jika sudah banyak, beras itu dijual. Uangnya dipakai lagi sama masyarakat.

"Pernah ada kejadian, ibu-ibu pinjam uang ke Poskamling karena ada keluarganya kecelakaan. Dipinjami pakai uang Poskamling itu tadi." Bahkan bangunan permanen Poskamling sekarang uangnya berasal dari penjualan beras. Juga gapura sepanjang satu kilometer.

Selain jimpitan, warga juga sepakat tiap selapanan (36 hari), satu keluarga iuran Rp5 ribu. Sudah hampir empat tahun kata Heri, tidak pernah ada lagi kabar ternak kemalingan. Juga tidak ada lagi sudut desa yang ada bungkus obat batuknya.

"Semua titik rawan sudah kami petakan. Itu di dinding," tunjuk Heri ke sudut Poskamling. Di sana ada kertas besar. Ada tulisan: daerah rawan mabuk, daerah rawan maling sarang burung. Dan lain-lain.

Masuknya Sumantri ke sana kata Heri membawa banyak perubahan. Polisi muda itu dinilai cakap membawa diri. Komunikasi pun intens dilakukan. Maka ketika semua Bhabinkamtibmas Polres Kotabaru selesai presentasi, tim penilai memutuskan Poskamling Sidomulyo RT 4 sebagai jawara. Dapat hadiah Rp10 juta.

"Luar biasa, peran Poskamling melekat dalam kehidupan warga. Jarang ada yang begitu. Biasa cuma tempat kumpul main kartu," kata Kapolres AKBP Suhasto.

Poskamling pun diikutkan lagi ke lomba tingkat Polda Kalsel. Menyambut puncak Hari Bhayangkara ke 73. Warga antusias. Semua dipersiapkan. Jagung dipanen. Kacang tanah dipanen. Direbus. Para seniman kuda lumping senior asal RT 4 mulai latihan. Warga berebut mau jadi pemeran utama dalam simulasi aksi petugas ronda.

"Kami kumpulan ini (biayanya)," kata Ketua RT Lukman.

Suwanto dan Shodikin, pria paruh baya tapi masih semangat Kamis malam tadi bersama beberapa rekannya memakai pakaian ronda. Baju kaos, celana kain. Pakai rompi yang menyala jika kena sorot lampu.

Sesekali wajah mereka tegang. Malam-malam biasa ronda dalam kesunyian. Sekarang ronda disaksikan ratusan pasang mata warga, yang menanti kedatangan tim penilai dari Polda Kalsel. "Lumayan. Agak gugup," kekeh Suwanto.

Habis Magrib Kamis (27/6) lalu, warga datang memadat. Gamelan mulai berbunyi. Sinden paruh baya melengking suaranya. Sesekali ujung pohon karet bergoyang, tertiup angin. Jadwalnya tim datang pukul 19.00 malam. Tapi hingga lewat Isya belum nongol. Kacang rebus berkurang setengah. Para remaja memakai kostum kuda lumping terlihat gelisah.

Lepas Isya yang ditunggu akhirnya datang. Para penari kuda lumpung maju ke depan. Lebih sepuluh orang jumlahnya.

Ketua tim penilai dari Polda Kalsel Kompol M Hasan berjalan di depan. Meski pakai topi, tapi ubannya jelas terlihat. Kurus tinggi. Di sampingnya Kasat Binmas Polres Kotabaru Ipda Rosadi. Warga bergerombol di tepi jalan. Tiba-tiba seorang remaja yang tergabung dalam aksi kuda lumping seperti kerasukan. Seninan senior merapal mantra, mengusap wajahnya. Sembuh.

Suara Sinden terdengar mistis. Tapi warga tersenyum, ada yang tertawa. Pria tua memakai blangkon angguk-angguk, asap rokok mengepul menutup wajahnya."Bapak-bapak dari Polda, perlu saya tegaskan. Poskamling kami sudah bertahun-tahun aktif. Bukan cuma karena lomba. Bisa ditanya keliling," kata Kepala Desa Karyono.

Karyono sudah dua periode. Dia adalah mantan sopir truk. Malam itu dia memakai baju putih dan peci hitam. Sepintas seperti guru agama."Kami di sini berkebun dan beternak. Kalau bukan kami yang jaga ternak sama-sama, siapa lagi," ujarnya meyakinkan Hasan.

Tiba giliran Hasan berbicara. "Dari semua Poskamling yang sudah kami datangi, ini yang paling meriah sambutan warganya. Ratusan meter di depan kami sudah disambut gerombolan warga," ujarnya tersenyum, walau tak mampu menutup lelah perjalanan dan debu di wajahnya."Ada harapan, ada harapan (juara)," kata Hasan lagi disambut tepuk tangan.

Tiba di puncak acara: peragaan aksi petugas ronda. Awalnya ada komando dari ketua regu. Usai. Tujuh orang keliling ronda. Mendatangi rumah, mengambil beras yang ditaruh depan pintu.Kemudian berkeliling lagi. Di sudut jalan sekelompok pemuda duduk merokok. Mereka diminta balik kanan. "Sudah malam, gak baik. Pulang ya," pinta petugas ronda.

"Ini benar-benar begini tiap malam Pak. Beginilah yang terjadi. Makanya ada portal, lewat tengah malam ada lewat pasti kami periksa," kata Heri yang saat itu bertugas jadi pembaca narasi.

Di sudut jalan lainnya terdengar jeritan wanita. Sekelompok berandal mengganggunya. Sigap petugas ronda berlari. Terjadi perkelahian singkat. Berandal kalah.

"Halo Ndan, kami berhasil mengamankan berandalan. Mohon ke sini cepat," ujar seorang petugas ronda pakai hape. Brum..brum..! Datang melaju polisi dan TNI. Berandal pun dibawa ke Mapolsek.

Dari informasi dihimpun Radar Banjarmasin, Poskamling di sana efektif meniadakan acara anak muda mojok-mojok tengah malam pacaran. Dua kali maling berhasil digagalkan.

Apa yang membuat Poskamling itu bertahan tahunan aktif? Ternyata, semua keluarga wajib berjaga. Tanpa kecuali. Satu malam ada tujuh orang berjaga, dari tujuh keluarga.

Jika tidak jaga dua kali berturut-turut kena denda. Lumayan dendanya. Rp50 ribu. Bahkan yang PNS pun jika tiba gilirannya pasti berjaga.

"Bukan masalah dendanya kalau di sini. Tapi sanksi sosialnya yang berat disandang," ungkap Sumantri. Artinya, benar bahwa ronda sudah jadi bagian yang melekat dalam kehidupan sosial warga di sana.

Usai makan jamuan Kompol Hasan dan timnya pun pulang. Wartawan mengiringi langkahnya ke mobil. Kata Hasan, Sidomulyo adalah satu contoh kekuatan gotong royong. Namun harus diakui katanya, dari masa ke masa warisan nusantara itu semakin luntur.(ran/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*