MANAGED BY:
RABU
26 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 21 Juni 2016 00:18
Ekspedisi Islam Pesisir: 'Meracuni Andi di Meja Perundingan'
BUKU HARIAN KERAJAAN - Makam Raja-raja Pagatan. (inzet) Lontara yang berisikan semua kejadian seputar wilayah kerajaan, kerajaan, falsafah hidup.

PROKAL.CO, Belanda sangat bernafsu menguasai Kerajaan Pagatan. Diplomasi dan peperangan berakhir, ketika penjajah berhasil meracuni raja terakhir Pagatan. Andi Sallo sang raja kesembilan.


===============================

WAHYU RAMADHAN, Pagatan

===============================

PAGATAN berjarak 20 kilometer dari Batulicin, ibukota Tanah Bumbu. Dari Banjarmasin tak kurang dari 242 kilometer. Pagatan dulu terkenal sebagai daerah penghasil kopra. Daging buah kelapa yang dikeringkan untuk bahan baku minya kelapa.



Selain kopra, pesisir yang mayoritas dihuni Suku Bugis ini juga tersohor dengan sejarah Kerajaan Pagatan. Saya berutang banyak pada Rahmat, pegawai Dinas Kelautan Tanbu. Kami bertemu secara tidak sengaja di sebuah warung saat berbuka puasa. Lewat bantuan Rahmat, saya dipertemukan dengan Andi S Jaya.



Lelaki berumur 52 tahun ini merupakan cicit Raja Pagatan terakhir, Andi Sallo atau yang bergelar Arung Abdurrahman. Kami bertemu di Masjid Amizhaam Muhammadiyah yang beralamat di Desa Pasar Baru, Kecamatan Kusan Hilir. Orangnya penuh semangat, membuat Andi tampak lebih muda dari umur sebenarnya.



Saat ini, Andi masih aktif sebagai Kepala Desa Kampung Baru Mattone. Tempat dimana kakek moyangnya dulu memerintah Kerajaan Pagatan. Dituturkan Andi, Kerajaan Pagatan dibangun Suku Bugis Wajo dari Sulawesi Selatan. Kedatangan mereka ke Banjarmasin dipicu perang saudara sekitar tahun 1670.



Yaitu ketika Raja Bone, Arung Palakka menyerang Wajo. Motif serangan ini adalah balas dendam. Lantaran Raja Wajo membantu Kerajaan Gowa selagi berperang dengan Bone. Mendekati kekalahan, tak disangka Bone meminta bantuan pada Belanda.



Kerajaan Wajo menderita kekalahan. Banyak dari rakyatnya yang mengungsi dan terpencar ke berbagai daerah. "Ada yang ke Makassar, Sumbawa, Bima, Kutai, Donggala dan Banjarmasin. Di setiap tempat, kami selalu mengangkat seorang pemimpin yang bergelar Macoa atau Matoa," jelasnya.



Memasuki abad ke-18, saudagar yang juga bangsawan bernama Puanna Dekke berlayar dan tiba di wilayah pesisir yang disenanginya. Kepada Kesultanan Banjar, ia memohon izin membuka pemukiman di wilayah tersebut. Saat itu masa pemerintahan Sultan Kuning, gelarnya Panembahan Batu alias Panembahan Kaharuddin Khalillullah.



Sultan Kuning merestui. Dengan syarat ongkos ditanggung sendiri oleh Puanna. Sultan juga memperingatkan wilayah itu berbahaya karena terkenal sebagai pangkalan bajak laut. "Sultan memberi jaminan, Puanna boleh mewariskan wilayah itu pada anak-cucunya dan tidak ada yang berhak menggugat," imbuhnya.



Puanna segera memerintahkan pengikutnya untuk membuka hutan tersebut. Daerah itu diberinya nama Pagatang (kini dieja Pagatan). Tak berapa lama, menyusul saudara Puanna dari Pontianak bernama Pua Janggo. Keduanya berunding dan memutuskan menjemput cucunya yang bernama La Pangewa dari Desa Kampiri, Sulawesi Selatan.



La Pangewa masih keturunan raja Suku Bugis. Setiba di Pagatan, La Pangewa dikhitan, dinikahkan dan dinobatkan menjadi Raja Pagatan pertama. Karena masih terlampau muda, baru 15 tahun, La Pangewa sebenarnya hanya simbol. Pemegang kekuasaan de facto tetaplah Puanna.

---------- SPLIT TEXT ----------

Mengutip catatan kerajaan (lontara), jauh sebelum kedatangan Puanna, wilayah itu sudah disebut dengan nama Tanah Bumbu. Jangan pula dikira wilayah itu kosong melompong. Penduduk dari Suku Banjar sudah lebih awal mendiami Pagatan sebagai pencari rotan.



Meski secara formal Kerajaan Pagatan masuk dalam wilayah Kesultanan Banjar, kerajaan baru ini punya otonomi. "Campur tangan Kesultanan Banjar hampir tidak ada. Hukum yang berlaku juga Hukum Adat Bugis, sementara agama resminya Islam," tukasnya.



Kerajaan muda ini juga mampu mengirim bala bantuan saat terjadi pemberontakan di Kesultanan Banjar. Ceritanya, Pangeran Muhammad Aminullah alias Pangeran Anom, anak Sultan Kuning, memblokade muara sungai Banjarmasin. Kapal yang hendak memasuki Banjarmasin dihalang-halangi, arus perdagangan pun terganggu.


Mendengar kabar tersebut, Puanna mengirimkan La Pangewa untuk menggempur Pangeran Anom. Kalah, Pangeran Anom beserta pengikutnya terpaksa mundur sampai ke Kuala Kapuas. Sebagai ucapan terima kasih, sultan menghadiahi La Pangewa gelar Kapiten Laut Pulo (Pulau Laut).



Kapiten Laut Pulo memerintah Pagatan sejak tahun 1750 hingga 1830. Memasuki masa raja kedelapan, Pagatan diperintah oleh Andi Tangkung atau Petta Ratu (Raja Perempuan) dari tahun 1883 sampai 1893. Namun, karena ia perempuan, kekuasaan diserahkan pada suaminya dengan gelar Pangeran Mangkubumi.



Seraya menunggu saudara lelakinya Andi Sallo cukup umur untuk menyandang gelar raja kesembilan. Pada masa Andi Sallo inilah, pemerintah Hindia Belanda habis-habisan berupaya menundukkan Pagatan.



Segala daya dikerahkan penjajah dari diplomasi sampai serentetan penyerbuan. Sallo tewas pada usia empat puluh tahun. Dengan licik, Belanda meracuni Sallo dalam sebuah perundingan damai di Kotabaru. Menutup masa pemerintahan raja kesembilan yang teramat singkat dari tahun 1893 sampai 1908.



Namun, berakhirnya riwayat kerajaan bukan berarti perlawanan terhadap Belanda padam. Beberapa dekade kemudian, saat Yogyakarta ditetapkan sebagai ibukota darurat oleh Presiden Sukarno, hubungan pejuang Pagatan dengan Yogya terjalin akrab. "Belanda mendapat informasi di Pagatan ada pejuang dalam jumlah besar," pungkasnya.



Informasi itu memicu serangan berdarah ke Pagatan pada 7 Februari 1946. Episode bersejarah yang dinamai Serangan 7 Februari itu akan dikupas dalam laporan ekspedisi berikutnya. (war/fud/by/ran)


BACA JUGA

Senin, 24 Juni 2019 11:18
Nasib Madihin di Tangan Anak Muda

Lebih Menghibur karena Dimainkan Ramai-ramai

Sekilas, penampilan Sabtu (22/6) malam itu mirip teater rakyat. Ternyata…

Senin, 24 Juni 2019 09:07
DI BALIK MENIPISNYA LAHAN PERTANIAN GAMBUT

GAMBUT TAK DIJUAL..! Kecuali Harganya Cocok

Gambut pernah menjadi lumbung padi yang menyangga kebutuhan pangan Kalimantan…

Sabtu, 22 Juni 2019 13:49
Mengenal Ahmad Ahdal, Siswa MAN ICT yang Jago Kimia dan Hafal Quran 30 Juz

Murajaah di Sela Waktu Belajar, Tiga Semester Selesaikan Hafalan

Sorot mata optimis terlihat dari pandangan Ahmad Ahdal (15), wakil…

Jumat, 21 Juni 2019 16:00
Alana Ramadhan Supit Bikin Berlepotan Wajah Ketua DPRD Kota Banjarmasin

Ditayangkan di YouTube, Batasi Pegang Handhpone

Alana Ramadhan Supit justru tak tertarik mengikuti jejak sang bunda…

Jumat, 21 Juni 2019 10:39
Melihat Aktivitas Perajin Perahu Kayu di Desa Tapus Kabupaten HSU

Penjualan Jukung Tembus Sampai ke Singapura

Seni membuat jukung mulai hilang dari tradisi Urang Banjar. Padahal,…

Rabu, 19 Juni 2019 11:32

Tren ASN Minta Mutasi di Kantor-kantor Pemerintahan

Dengan berbagai alasan, para aparatur sipil negara (ASN) di Banua…

Rabu, 19 Juni 2019 11:28
Judinor, Petani Hortikultura yang Mengubah Lahan Pertanian Menjadi Objek Wisata

Awalnya Tak Seberapa, Sekarang Bisa Pekerjakan 12 Pemuda Desa

Apa yang dilakukan Judinor mungkin bisa ditiru. Petani kelahiran 1975…

Selasa, 18 Juni 2019 12:27
Melihat Penerapan Aturan Baru bagi Ojek Online

Lebih Aman, Penumpang Tidak Was-was

Peraturan Menteri Perhubungan No 118/2018 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sewa Khusus…

Senin, 17 Juni 2019 10:54

Menengok Kegiatan Persatuan Sopir Truk di Banua

Sopir truk di Banua punya komunitas untuk wadah bersilaturahmi. Namanya,…

Minggu, 16 Juni 2019 09:11

Melihat dari Dekat Program Mengubah Rawa Jadi Lahan Pertanian

Memiliki banyak daerah rawa yang ganggur menjadi berkah tersendiri. Kalsel…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*