MANAGED BY:
RABU
26 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 22 Juni 2016 02:30
Ekspedisi Islam Pesisir: 'Sembilan Jam Menempur Pagatan'
MENGHADAP LAUT - Monumen Benteng Perjuangan di tepi pantai, Pagatan. Monumen ini memperingati pahlawan yang gugur dalam peristiwa serangan Belanda ke Pagatan pada 7 Februari 1946.

PROKAL.CO, Sejarah lazimnya milik para raja dan panglima. Namun, dalam serangan 7 Februari 1946, sejarah adalah milik orang biasa. Puluhan penduduk Pagatan yang gugur dalam serbuan lima kapal Belanda.

====================================
WAHYU RAMADHAN, Pagatan
====================================

ADA dua monumen penting di Pantai Pagatan. Yang pertama di alun-alun kota, berupa patung tangan memegang tombak. Lokasinya tak jauh dari gerbang masuk objek wisata pantai. Yang kedua monumen benteng perjuangan di tepi pantai. Berupa tembok kokoh yang berdiri mengarah ke laut.

Kedua monumen ini memperingati peristiwa yang sama. Serangan Belanda ke Pagatan pada 7 Februari 1946. Kedua monumen ini dibangun untuk memperingati pahlawan yang gugur dalam peristiwa bersejarah tersebut. Semuanya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Pagatan, berseberangan dengan monumen benteng.

Saya masih bersama Andi S Jaya, cicit Raja Pagatan terakhir, yang membeberkan sejarah Kerajaan Pagatan dalam laporan ekspedisi sebelumnya. Dari awal mula berdirinya pada pertengahan abad ke-18 dan keruntuhannya pada awal abad ke-20.

"Serangan itu jatuh pada hari Jumat," kata Andi membuka wawancara. Dalam serangan itu, 37 pahlawan gugur. Hanya satu jenazah yang tak dikenali, alias dimakamkan tanpa nama.

"Kepala pasukan juga ditawan. Ditambah tujuh orang lainnya, termasuk ayah saya. Beliau sempat dipenjara selama delapan bulan di Banjarmasin," imbuhnya. Ayahnya bernama Andi Usman.

Ada tiga pemicu serangan ini. Pertama, hubungan baik antara pejuang Pagatan dengan kaum republiken di ibukota darurat Yogyakarta. Kedua, Pantai Pagatan sangat strategis untuk menempatkan armada laut Belanda. Mengingat posisinya berhadapan dengan sisi selatan Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru sekarang.

Dan pemicu terakhir, mosi rakyat Pagatan pada 6 Desember 1945. Bunyinya, siap berdiri tegak di belakang Republik Indonesia yang diproklamirkan oleh Sukarno dan Hatta. Mosi itu lahir menyusul perundingan para pemimpin Pagatan, Tanah Bumbu dan Kotabaru di Pagatan.

"Pertemuan itu berlangsung pada 1 Desember 1945. Rakyat bertekad, jika NICA (Belanda) berani menginjakkan kakinya ke daerah ini, kami siap mempertahankan dengan segala kekuatan yang ada," kata Andi bersemangat.

Dengan pertemuan 1 Desember tersebut, sudah cukup bagi Belanda untuk mengambil kesimpulan. Bahwa di Pagatan sedang berkumpul pasukan pemberontak dalam jumlah besar. Serangan untuk menghancurkan Pagatan segera dirancang.

Kabar serangan akhirnya sampai ke telinga pejuang. Para pejuang yang bersikap waspada, mendapati kedatangan Belanda lebih awal. "Kamis malam, para pejuang sudah melihat lampu-lampu kapal yang hendak bersandar di pantai," tuturnya.

Pejuang lantas menyiapkan segala senjata yang bisa diraih. Dari senapan dan granat hasil rampasan perang. Sampai tombak, parang, badik dan keris khas Suku Bugis. Di pagi buta, penduduk sudah bersiap mempertahankan garis pantai tersebut sampai titik darah penghabisan.

Pusat pertempuran berada satu kilometer dari monumen benteng. Namun, penjajah dengan licik mengelabui pejuang. Tentara bayaran Belanda asal Jawa dan Ambon, menyematkan lencana merah putih di dada mereka.

Tiang kelima buah kapal itu juga mengibarkan bendera dwi warna. Mengira yang datang adalah bala bantuan, kewaspadaan pejuang buyar. Kapal-kapal Belanda bisa berlabuh di Pantai Pagatan. Sementara lambung kapal yang penuh sesak serdadu Belanda tersembunyi dengan aman.

"Ketika pejuang menyambut dengan mesra, tiba-tiba Belanda menyerbu. Menawan dan melucuti senjata para pejuang," tukas Andi. Pengkhianatan ini dikenang masyarakat Pagatan dengan perih. Mengingat yang mengenakan lencana merah putih tersebut masih lahir di tanah air yang sama.

Pelucutan ini mengawali pertempuran hebat di hari itu. Penduduk dari pelosok-pelosok desa serempak memberi perlawanan. Pertempuran sengit berlangsung selama sembilan jam. Belanda akhirnya berhasil merangsek masuk. Menerobos garis pertahanan rakyat dan menduduki pusat kota pada petang hari.

Tak sedikit mayat yang bergelimpangan dari kedua belah pihak. "Untuk mewariskan semangat kepahlawanan pada generasi muda, setiap 7 Februari diperingati sebagai hari pahlawan lokal," tandas Andi.

Setelah garis pertahanan Pagatan berhasil dijebol, daerah-daerah di sekitarnya pun berjatuhan. Tak menunggu lama, pada 8 Februari dini hari, Belanda mengepung Kotabaru. Dari arah Pagatan dan Balikpapan, Belanda serentak menyerbu. Akhirnya pada 9 Februari, Tanah Bumbu dan Kotabaru berhasil diduduki. (war/fud)


BACA JUGA

Senin, 24 Juni 2019 11:18
Nasib Madihin di Tangan Anak Muda

Lebih Menghibur karena Dimainkan Ramai-ramai

Sekilas, penampilan Sabtu (22/6) malam itu mirip teater rakyat. Ternyata…

Senin, 24 Juni 2019 09:07
DI BALIK MENIPISNYA LAHAN PERTANIAN GAMBUT

GAMBUT TAK DIJUAL..! Kecuali Harganya Cocok

Gambut pernah menjadi lumbung padi yang menyangga kebutuhan pangan Kalimantan…

Sabtu, 22 Juni 2019 13:49
Mengenal Ahmad Ahdal, Siswa MAN ICT yang Jago Kimia dan Hafal Quran 30 Juz

Murajaah di Sela Waktu Belajar, Tiga Semester Selesaikan Hafalan

Sorot mata optimis terlihat dari pandangan Ahmad Ahdal (15), wakil…

Jumat, 21 Juni 2019 16:00
Alana Ramadhan Supit Bikin Berlepotan Wajah Ketua DPRD Kota Banjarmasin

Ditayangkan di YouTube, Batasi Pegang Handhpone

Alana Ramadhan Supit justru tak tertarik mengikuti jejak sang bunda…

Jumat, 21 Juni 2019 10:39
Melihat Aktivitas Perajin Perahu Kayu di Desa Tapus Kabupaten HSU

Penjualan Jukung Tembus Sampai ke Singapura

Seni membuat jukung mulai hilang dari tradisi Urang Banjar. Padahal,…

Rabu, 19 Juni 2019 11:32

Tren ASN Minta Mutasi di Kantor-kantor Pemerintahan

Dengan berbagai alasan, para aparatur sipil negara (ASN) di Banua…

Rabu, 19 Juni 2019 11:28
Judinor, Petani Hortikultura yang Mengubah Lahan Pertanian Menjadi Objek Wisata

Awalnya Tak Seberapa, Sekarang Bisa Pekerjakan 12 Pemuda Desa

Apa yang dilakukan Judinor mungkin bisa ditiru. Petani kelahiran 1975…

Selasa, 18 Juni 2019 12:27
Melihat Penerapan Aturan Baru bagi Ojek Online

Lebih Aman, Penumpang Tidak Was-was

Peraturan Menteri Perhubungan No 118/2018 tentang Penyelenggaraan Angkutan Sewa Khusus…

Senin, 17 Juni 2019 10:54

Menengok Kegiatan Persatuan Sopir Truk di Banua

Sopir truk di Banua punya komunitas untuk wadah bersilaturahmi. Namanya,…

Minggu, 16 Juni 2019 09:11

Melihat dari Dekat Program Mengubah Rawa Jadi Lahan Pertanian

Memiliki banyak daerah rawa yang ganggur menjadi berkah tersendiri. Kalsel…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*