MANAGED BY:
SABTU
17 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

RAGAM INFO

Jumat, 12 Agustus 2016 13:37
Beginilah Realitas Kehidupan Perantau Banjar

(OPINI) Oleh: Ahmad Barjie B*

Ilustrasi

PROKAL.CO, dir="LTR">Pergi berburu membawa panah

Mendapat burung dan anak rusa

Sampai mati di kandung tanah

Keluarga yang jauh terkenang jua

 

Tulak madam sambil bapadah

Bajual rumah bajual tanah

Hati yang rindu tak pernah sudah

Mengenang keluarga di luar daerah

 

Sudah sering digelar seminar, konferensi, kongres atau apa pun namanya dengan tema Banjar, mempertemukan para tokoh, intelektual dan budayawan Banjar, di Kalimantan maupun luar pulau, bahkan hingga regional Asia Tenggara. Hal itu pula dilakukan IAIN Antasari pada 9-11 Agustus dengan mengadakan Konferensi Internasional tentang Transformasi Sosial dan Intelektual Orang Banjar Kontemporer.

Seiring itu Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama Lembaga Budaya Banjar dan pihak terkait juga mengadakan Kongres Budaya Banjar ke-4, yang rutin dilaksanakan di Banjarmasin setiap lima tahun, sejak Gubernur Sjachriel Darham yang pada tahun 2000 menggelar Kongres Budaya Banjar pertama.

Kegiatan seperti ini menarik, khidmat dan ramai, karena selalu bernuansa Banjar, baik hiburannya, kulinernya maupun materi-materi yang dibahas. Hadirin  juga dapat saling bernostalgia, mengingat kembali sejarah dan romantisme masa lalu, saling bertukar alamat, dan tak lupa juga ”bacuur”: tinggal di mana, siapa asal keluarga dan ramah-tamah lainnya.

Tidak ketinggalan, masing-masing pihak, baik pemateri tuan rumah maupun pendatang Banjar dari luar, selalu mengurai keunggulan-keunggulan urang Banjar masa lalu dan di tempat tinggalnya kini, sehingga yang terkesan muncul secara general, urang Banjar itu hebat, pintar, sukses dan berani. Bukan hanya berani melawan penjajah di masa lalu dalam perang yang panjang, tetapi juga berani merantau jauh ke negeri urang. Saking beraninya ada yang tidak pulang lagi alias madam, yang menurut Prof Salleh Lambry, menjadi perantau hilang.

Menurut Taufik Arbain urang Banjar juga terpelajar, terbukti Syekh Muhammar Asryad al-Banjari di abad ke-18 sudah sekolah ke luar negeri, dan menyusun kitab dengan pengaruh yang mengglobal. Urang Banjar tidak kalah pintar dibanding etnis lain.

Sayangnya, jarang kita dengar dari masing-masing tokoh Banjar yang bertemu di forum seperti ini bercerita tentang living reality, kehidupan nyata dan sebenarnya dari urang Banjar itu seperti apa, yang selain keunggulannya tentu banyak juga kekurangan, kegagalan dan kealfaannya. Kegiatan begini sangat bermanfaat jika kita mau melakukan otokritik secara jujur dan objektif. Tegasnya kita mau menelanjangi diri sendiri, agar mampu melakukan perbaikan-perbaikan nyata ke depan.

 

Menengah Bawah

Kalau urang Banjar tinggal di Jawa dan Jabodetabek, sulit dikatakan perantau, sebab mereka masih sering pulang ke Banjar. Mereka tinggal di Jawa lebih karena faktor kerja, tugas, kuliah, bahkan ada yang senang menghabiskan hari tuanya di Jawa karena alamnya sejuk dan nyaman, bahkan biaya hidup lebih murah. Urang Banjar lebih tepat disebut perantau dengan status madam, jika mereka merantau jauh, khususnya ke Sumatra dan Malaysia. Sebab mereka inilah yang sering tidak pulang lagi ke tanah Banjar.

Bagi yang tinggal di Malaysia Barat dan Timur (Sabah dan Serawak), kehidupan mereka cukup sejahtera, berada di kelas menengah, apakah bekerja sebagai petani, pedagang, pegawai dan selainnya. Hal ini disebabkan, pertama, Inggris yang dulu menjajah Malaysia sangat terbuka dan membutuhkan perantau Banjar untuk menggarap lahan. Kedua, setelah merdeka Pemerintah Malaysia melakukan politik pembelaan dan pemihakan terhadap suku Melayu, untuk mengimbangi etnis Cina dan India. Maka urang Banjar sebagai rumpun Melayu ikut kena sawabnya. Hasilnya urang Banjar bersama orang Melayu lainnya dari Sumatra dan penduduk asli Malaysia, umumnya hidup sejahtera, sejajar dengan etnis Tionghoa. Karena sudah sejahtera, mereka banyak menjadi ulama, pengusaha, pegawai, pejabat dan profesi lainnya.

Namun sayang, mereka yang hidup sejahtera itu agak malu mengakui sebagai urang Banjar atau keturunan Banjar. Mereka tampil elit dan memilih bergaul dengan urang bukan Banjar. Hanya orang Banjar awam yang tidak segan mengakui jatiridirinya urang Banjar dan suka berhimpun dalam pertubuhan (organisasi) Banjar.

Di Provinsi Jambi, khususnya di Kuala Tungkal (Kabupaten Tanjung Jabung Barat) kehidupan urang Banjar yang berjumlah 30-40% dari 293.594 penduduk, juga cukup baik dan diperhitungkan. Agak memprihatinkan adalah perantau Banjar di belahan Sumatra lainnya, khususnya di Provinsi Kepulauan Riau, seperti di Sapat- Tembilahan (Kabupaten Indragiri Hilir), dengan jumlah suku Banjar mencapai 242.991 jiwa. Seperti disampaikan Dr Zainuddin Oti, Ketua Kerukunan Bububahan Banjar (KBB) saat peresmian pengurus KBB Kepulauan Riau dan Batam di Batam Center (Maret 2015), dari suluruh keturuna perantau Banjar itu 80% hidup dalam taraf menengah bawah, bahkan hanya 20% menengah, sisanya bawah.

Kemudian di Sumatra Utara, urang Banjar ada di 33 kabupaten/kota, terbanyak di Kabupaten Langkat, kemudian Deli Serdang dan Serdang Bedagai. Menurut Effendi Sadli, pengurus Paduan Masyarakat Kulawarga Kalimantan (KMKK), orang Banjar mencapai 300-an ribu orang. Dan menurut Bupati Langkat Haji Ngogesa Sitepu, urang Banjar umumnya bertani. Meski daerahnya berterima kasih kepada urang Banjar sebagai penyandang pangan, pihaknya kesulitan membalas jasa urang Banjar misalnya untuk diangkat sebagai pejabat pemerintahan, sebab yang jabatannya relatif tinggi sulit dicari, karena pendidikan urang Banjar relatif rendah.

Semua fakta ini menunjukkan, selain banyak yang berhasil, masih sangat banyak lagi keturunan perantau Banjar yang hidupnya memprihatinkan. Boleh jadi lebih enak urang Banjar yang ada di tanah Banjar sendiri. Sesakit-sakit kita di banua mungkin tidak sesakit hidup di perantauan.

Meskipun demikian yang namanya hidup tentu tidak semua beruntung. Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Selatan menunjukkan, angka kemiskinan cukup besar, yaitu 189.163 orang (September 2015) dan 195.701 orang (Maret 2016), sebagian besar mereka tinggal di pedesaan. Kalau diilihat dari suku, hampir pasti yang hidup miskin ini juga kita urang Banjar.

Tegasnya, urang Banjar baik di perantauan maupun di tanah Banjar sendiri, masih banyak yang hidup miskin. Artinya mereka perlu saling bantu, yang kaya di perantauan perlu membantu yang miskin di daerannya atau di Banjar, begitu juga sebaliknya.

Namun kita khawatir, orang Banjar, sebagaimana penelitian ahli dari UI, tergolong individual competitor, mereka maju sendiri dan sugih sendiri. Keinginan  membantu orang, termasuk keluarganya sendiri kurang, dekat apalagi jauh. Menurut amatan penulis, orang Banjar yang memiliki jiwa collective competitor adalah urang Kandangan, dan di segi ekonomi yang mau saling membantu keluarganya, menurut penelitian Dr Muhaimin adalah urang Alabio.

Kita berharap urang Banjar mana saja mau saling bantu, apalagi yang ada di perantauan. Mereka dulu merantau bukan karena gagah-gagahan, tapi karena terpaksa akibat tekanan penjajah Belanda. Mereka mengira Belanda menjajah selamanya, sehingga terpaksa pergi jauh meninggalkan sanak saudara, berurai air mata, menantang gelombang laut dan menyabung nyawa.

Belanda memang sering mengimingi hadiah uang dan bebas pajak tujuh turunan bagi siapa saja yang mampu menangkap dan membunuh pejuang. Belanda takabur, tujuh turunan itu bisa lima abad, padahal tak sampai 100 tahun kemudian Indonesia sudah merdeka. Namun perantau Banjar yang terlanjur menjual tanah dan rumah itu tak bisa kembali lagi karena serba keterbatasan. Dan hubungan silaturahim mereka pun banyak yang terputus sampai sekarang.

Kini waktunya menyambung kembali yang terputus dan menguatkan yang renggang. Sudah waktunya kita menghentikan sikap egois dan ingin sugih saurangan. Keluarga adalah bagian dari hidup kita juga. Tak ada gunanya kita sugih, kaya, berpangkat, berkedudukan, kalau masih ada keluarga kita yang sengsara dan menderita. Kasugihan tidak akan dibawa mati, kecuali amal jariah dan sifat mulia. Wallahu ’alam.  

*Penulis buku ”Refleksi Banua Banjar”, dan ”Sejarah, Kebangkitan dan Pengabdian Kesultanan Banjar”.


BACA JUGA

Sabtu, 17 November 2018 13:52

Bawa Dua Penumpang Misterius (3)

Sebelum Pesawat DC-8 Loftleider Icelandic yang membawa 249 jemaah haji asal Indonesia mengalami kecelakaan…

Sabtu, 17 November 2018 13:46

Mimpi Salat di Antara Mayat Dalam Masjid Nabawi (2)

Sementara itu, KH Taberani Basri masih ingat kejadian 40 tahun silam. Ketika pesawat DC-8 63 CF Loftleider…

Sabtu, 17 November 2018 13:35

Ingat Pesawat Kusam dan Kepulangan Yang Tertunda

Tragedi jelang tengah malam di pertengahan November 1978 silam masih membekas diingatan H Muhammad Sjahril,…

Sabtu, 17 November 2018 12:01

Didatangi Peziarah Dari India

BANJARBARU - Meski peristiwa Colombo sudah 40 tahun berlalu. Namun Makam Syuhada Haji di Landasan Ulin,…

Jumat, 16 November 2018 09:27
Asrama Mahasiswa ULM Yang Habiskan Dana Rp1,89 Miliar Diresmikan

Desember Sudah Ditempati, Satu Kamar Muat 4 Orang

BANJARBARU - Akhirnya Asrama Mahasiswa ULM Grha Puspa Cendekia di lingkungan kampus ULM Banjarbaru selesai…

Sabtu, 10 November 2018 10:50

Terpaut 34 Tahun, Wawan Nikahi Acil Mantili

Jodoh dan nasib seseorang memang tidak ada yang menyangka. Seperti yang dialami sepasang warga Desa…

Kamis, 08 November 2018 13:13

Seniman Mancanegara Bakal Kumpul di Kiram

BANJARMASIN - Seniman dari sejumlah negara dipastikan hadir pada gelaran South Borneo Art Festival di…

Rabu, 07 November 2018 11:04

Kisah Muazin Masjid Annur Meninggal di Atas Sajadah: Sempat Ucapkan Kalimat Tauhid

Namanya sama dengan kakek Nabi Muhammad, Abdul Muthalib. Muazin di Masjid Annur Kotabaru Senin (5/11)…

Rabu, 24 Oktober 2018 12:36

Sampai Kapan? Ijazah Pesantren Masih Belum Diakui

BANJARMASIN - Meski disambut dengan gegap-gempita, ada yang mengganjal setiap Peringatan Hari Santri…

Rabu, 17 Oktober 2018 16:34

Yuk! Cobain Wisata Baru di HSS ini, Dijamin Instagramable

Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) memang kaya akan destinasi wisata. Mulai dari pegunungan sampai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .