MANAGED BY:
RABU
26 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Kamis, 10 November 2016 13:59
Mengenang Tragedi Sehari Sebelum 10 November di Banjarmasin

Nekat Menyerang, Minim Persenjataan

BERSEJARAH - Alimun Hakim, salah seorang ahli waris di depan rumah 9 November.

PROKAL.CO, Sejarah perlawanan lebih awal singgah di Banjarmasin. Sehari sebelum rakyat Surabaya mengobarkan pertempuran 10 November 1945, para pejuang Banjarmasin terlebih dahulu melakukan kontak senjata dengan penjajah sebagai simbol perlawanan akan kolonialisme.

----
9 November merupakan hari yang paling bersejarah bagi masyarakat di Kalimantan, Banjarmasin khususnya. Sejarah revolusi kemerdekaan Kalsel berawal dari diproklamirkannya kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Gaung proklamasi itu sampai ke Kalsel. Masyarakat merespons dengan semangat. Mereka kemudian bersatu dengan cara membentuk Barisan Pemberontak Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK). Anggotanya terdiri para pemuda mantan anggota Heiho. BPRIK dipimpin oleh M Amin Efendi, Abdul Kadir Uwan, dkk.

Tanggal 1 dan 2 November 1945 para pejuang ini kemudian merencanakan untuk mengambil senjata tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration). NICA sendiri adalah tentara Belanda yang ikut membonceng rombongan tentara Inggris untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda. Tapi sayangnya, gerakan itu ternyata keburu tercium oleh tentara NICA. Sebelum diserang, para tentara Belanda ini menyerang asrama eks Heiho tempat anggota BPRIK.

Beberapa hari kemudian, pada malam hari tepatnya tanggal 5 November malam, puluhan pemuda berkumpul di Pengambangan. Di situ mereka mengadakan rapat untuk merencanakan menyerang tangsi (perumahan tentara Belanda) NICA.

Dalam rapat mereka membahas kapan waktu penyerangan. Sebagian menginginkan strategi penyerangan pada malam hari, sedangkan sebagian lagi ada yang ingin melakukan penyerangan pada siang hari. Kelompok yang ingin menyerang pada malam hari dipimpin Khadariah, sedangkan kelompok pagi hari dipimpin Khalid.

Kelompok Khadariah beralasan, penyerangan pada malam hari lebih baik karena persenjataan yang dimiliki sangat minim. Sementara kelompok Khalid beralasan dapat membedakan orang Australia dan Belanda. Karena orang Australia bersimpatik dengan perjuangan masyarakat Kalsel. Dari hasil pertemuan itu disepakati mereka akan menyerang Jumat 9 November.
“Terbentuk penyerangan dari bagian sayap kiri dipimpin Untung Sabri, sayap kanan Panglima Halid Tafsiar, dan pasukan tengah dipimpin Amin Efendi,” kata Sejarawan Zainal Arifin Anis.

Sore sekitar pukul 16.00 Wita perang pun pecah di kawasan Jalan Jawa (Kini Jalan Mayjen DI Panjaitan. Dengan perlengkapan perang sederhana, mereka menyerang para tentara Belanda. Tapi karena minimnya persenjataan, sekitar pukul 18.30 Wita mereka berhasil dipukul mundur oleh tentara Belanda.

“Pada peperangan itu Amin Efendi terluka, sedangkan Panglima Halid Tafsiar tertangkap, sementara sembilan orang tewas dalam peperangan itu. Badrun, Utuh, Badran, Tain, Jumain, Sepa, Dulah, Marufi, Umar,” tutur pria yang juga sebagai dosen Prodi Sejarah dan Ketua Jurusan IPS FKIP ULM Banjarmasin.

Nah, sebagai tanda kehormatan terhadap mereka yang gugur dalam perang 9 November itu, kesembilan nama warga yang gugur itu kemudian diabadikan pada monumen 9 November (Sekarang kantor KPPN Banjarmasin) yang terletak di kawasan Jalan Mayjen DI Panjaitan. Monumen 9 November juga dibangun di kawasan Jalan Pengambangan.

“Yang dapat dipetik dari peristiwa bersejarah ini bukan dari besar kecilnya peperangannya, tapi persatuan dan kesatuan masyarakat pada saat itu bukan dibangun secara politik tetapi oleh perasaan nasionalisme kultural,” katanya. (gmp/by/ran)

Halaman:

BACA JUGA

Rabu, 26 April 2017 13:44

Mencoba Praktik Terapi Alternatif Al Fasdhu, Keluarkan Racun dari Kaki

AL Fasdhu adalah terapi mengeluarkan darah dari pembuluh vena yang di dalamnya terdapat sumbatan-sumbatan…

Minggu, 16 April 2017 18:39

Menyicipi Nikmatnya Kue Cinta di Pasar Amuntai

Kue Cincin Talipuk lazim disebut wadai cinta.  DI Amuntai, ini telah menjadi jajanan yang cukup…

Minggu, 09 April 2017 17:06
Kiprah Para Novelis Wanita Kalsel

Cantik itu Pujangga

Dunia kepenulisan di Kalimantan Selatan semakin bergairah akhir-akhir ini karena diramaikan para novelis…

Jumat, 07 April 2017 15:14

Kisah Abdulrahman, Lulusan Sarjana Teknik yang Setia Berjualan Koran

Pelintas Jalan A Yani Km 33, Banjarbaru pasti pernah melihatnya. Abdulrahman, adalah lulusan sarjana…

Jumat, 07 April 2017 11:22

Mengunjungi Rumah Lanting Tersisa di Kampung Sasirangan

Di tengah gencarnya pembangunan siring beton yang menggusur pinggiran sungai, masih ada tersisa warga…

Kamis, 06 April 2017 16:30

Saprah Amal, Tradisi Lelang Tradisional yang Masih Dipertahankan di HSU

Saprah Amal atau proses lelang jajanan atau barang lekat pada tradisi masyarakat Hulu Sungai Utara.…

Rabu, 05 April 2017 16:10

Kisah Pilu Yuda, Pengamen Banjarmasin Bersuara Mirip Charly Setia Band

Yuda Karsa Saputra, pengamen bersuara merdu yang suaranya mirip Charly ‘Setia Band’ belakangan…

Rabu, 05 April 2017 15:21

Mengenal LK3, Pengawal Keberagaman di Banua

Di tengah hiruk-pikuk persoalan sentimen SARA yang terjadi akhir-akhir ini, di Banjarmasin ternyata…

Selasa, 04 April 2017 20:56

Subhanallah.. Ada Bayi Kembar Tiga Lahir di Hari Haul Guru Sekumpul

Tangisan bayi kembar tiga menggema di Puskesmas tengah-tengah perkebunan kelapa sawit. Di ujung banua…

Selasa, 04 April 2017 18:46

Menikmati Keindahan Pantai Indah Lestari Tanjung Batu

Kabupaten Tanah Bumbu dikenal akan objek wisata pantainya. Diantaranya adalah Pantai Rindu Alam dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .