MANAGED BY:
RABU
24 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Kamis, 10 November 2016 13:59
Mengenang Tragedi Sehari Sebelum 10 November di Banjarmasin

Nekat Menyerang, Minim Persenjataan

BERSEJARAH - Alimun Hakim, salah seorang ahli waris di depan rumah 9 November.

PROKAL.CO, Sejarah perlawanan lebih awal singgah di Banjarmasin. Sehari sebelum rakyat Surabaya mengobarkan pertempuran 10 November 1945, para pejuang Banjarmasin terlebih dahulu melakukan kontak senjata dengan penjajah sebagai simbol perlawanan akan kolonialisme.

----
9 November merupakan hari yang paling bersejarah bagi masyarakat di Kalimantan, Banjarmasin khususnya. Sejarah revolusi kemerdekaan Kalsel berawal dari diproklamirkannya kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Gaung proklamasi itu sampai ke Kalsel. Masyarakat merespons dengan semangat. Mereka kemudian bersatu dengan cara membentuk Barisan Pemberontak Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK). Anggotanya terdiri para pemuda mantan anggota Heiho. BPRIK dipimpin oleh M Amin Efendi, Abdul Kadir Uwan, dkk.

Tanggal 1 dan 2 November 1945 para pejuang ini kemudian merencanakan untuk mengambil senjata tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration). NICA sendiri adalah tentara Belanda yang ikut membonceng rombongan tentara Inggris untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda. Tapi sayangnya, gerakan itu ternyata keburu tercium oleh tentara NICA. Sebelum diserang, para tentara Belanda ini menyerang asrama eks Heiho tempat anggota BPRIK.

Beberapa hari kemudian, pada malam hari tepatnya tanggal 5 November malam, puluhan pemuda berkumpul di Pengambangan. Di situ mereka mengadakan rapat untuk merencanakan menyerang tangsi (perumahan tentara Belanda) NICA.

Dalam rapat mereka membahas kapan waktu penyerangan. Sebagian menginginkan strategi penyerangan pada malam hari, sedangkan sebagian lagi ada yang ingin melakukan penyerangan pada siang hari. Kelompok yang ingin menyerang pada malam hari dipimpin Khadariah, sedangkan kelompok pagi hari dipimpin Khalid.

Kelompok Khadariah beralasan, penyerangan pada malam hari lebih baik karena persenjataan yang dimiliki sangat minim. Sementara kelompok Khalid beralasan dapat membedakan orang Australia dan Belanda. Karena orang Australia bersimpatik dengan perjuangan masyarakat Kalsel. Dari hasil pertemuan itu disepakati mereka akan menyerang Jumat 9 November.
“Terbentuk penyerangan dari bagian sayap kiri dipimpin Untung Sabri, sayap kanan Panglima Halid Tafsiar, dan pasukan tengah dipimpin Amin Efendi,” kata Sejarawan Zainal Arifin Anis.

Sore sekitar pukul 16.00 Wita perang pun pecah di kawasan Jalan Jawa (Kini Jalan Mayjen DI Panjaitan. Dengan perlengkapan perang sederhana, mereka menyerang para tentara Belanda. Tapi karena minimnya persenjataan, sekitar pukul 18.30 Wita mereka berhasil dipukul mundur oleh tentara Belanda.

“Pada peperangan itu Amin Efendi terluka, sedangkan Panglima Halid Tafsiar tertangkap, sementara sembilan orang tewas dalam peperangan itu. Badrun, Utuh, Badran, Tain, Jumain, Sepa, Dulah, Marufi, Umar,” tutur pria yang juga sebagai dosen Prodi Sejarah dan Ketua Jurusan IPS FKIP ULM Banjarmasin.

Nah, sebagai tanda kehormatan terhadap mereka yang gugur dalam perang 9 November itu, kesembilan nama warga yang gugur itu kemudian diabadikan pada monumen 9 November (Sekarang kantor KPPN Banjarmasin) yang terletak di kawasan Jalan Mayjen DI Panjaitan. Monumen 9 November juga dibangun di kawasan Jalan Pengambangan.

“Yang dapat dipetik dari peristiwa bersejarah ini bukan dari besar kecilnya peperangannya, tapi persatuan dan kesatuan masyarakat pada saat itu bukan dibangun secara politik tetapi oleh perasaan nasionalisme kultural,” katanya. (gmp/by/ran)

Halaman:

BACA JUGA

Sabtu, 20 Januari 2018 11:07

Sisi Lain Parade Jukung Barenteng, Berawal dari Request Fotografer Asing

Belakangan sering digelar parade jukung di Kota Banjarmasin. Menampilkan berbagai formasi unik. Di balik…

Kamis, 18 Januari 2018 18:57

Dibalik Kegagalan Rumah Sakit Idaman Meraih Akreditasi Bintang Lima

Dua spanduk besar bertuliskan "RSID Kita Semua, RSID Paripurna, RSID Yes! Yes! Yes!" terpasang di lobi…

Sabtu, 13 Januari 2018 15:55

Salut..!! Ini Nih Para Srikandi Relawan Kebakaran Banjarmasin

Pernah mendengarkan lagu Sang Penakluk Api dari The Cangcuters? Kalau belum, coba saja dengarkan. Liriknya…

Sabtu, 13 Januari 2018 15:10

Kisah Perajin Purun di Bahalayung, Rumput Tergusur Kelapa Sawit

Perajin  topi purun  masih bertahan,  meski bahan baku rumput mulai langka akibat tergusur…

Jumat, 12 Januari 2018 13:52

Pelajaran Berharga AKP Ade Papa Rihi dari DEA dan FBI

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri China. Ungkapan itu pantas dialamatkan untuk Ajun Komisaris Polisi (AKP)…

Kamis, 11 Januari 2018 13:19

Darmatasiah, TKW yang Dua Tahun Stroke di Arab Saudi akhirnya Kembali

Darmatasiah tak mampu menutupi rasa harunya, saat diturunkan dari pesawat oleh petugas menggunakan tandu.…

Kamis, 11 Januari 2018 12:39

Rifky, Atlet Muda Banjarmasin. Raih Prestasi Lewat Karate

Muda, berprestasi. Dua kata itu cukup untuk menggambarkan seorang Rifky Akbar Khair. Dia adalah siswa…

Rabu, 10 Januari 2018 15:27

Mengenal Pemeran Saranti Dalam Film Sejarah Perang Banjar

Film Perang Banjar sudah ditayangkan beberapa waktu lalu. Yang menontonnya tentu ingat dengan sosok…

Selasa, 09 Januari 2018 14:32

FKH Banjarmasin Tak Gentar Menanam Rambai di Tengah Kota

Gbo Green bukan sekadar kaos oblong bertema lingkungan. Atau kemana-mana pakai sepatu gunung. Ini menyangkut…

Senin, 08 Januari 2018 13:21

Kisah Sukses Moses, Berawal dari Sebuah Pahat Pemberian Ayah

  Siapa bilang hobi tak bisa dijadikan bisnis menjanjikan. Sudah banyak contoh mereka yang sukses.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .