MANAGED BY:
MINGGU
28 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Kamis, 10 November 2016 13:59
Mengenang Tragedi Sehari Sebelum 10 November di Banjarmasin

Nekat Menyerang, Minim Persenjataan

BERSEJARAH - Alimun Hakim, salah seorang ahli waris di depan rumah 9 November.

PROKAL.CO, Sejarah perlawanan lebih awal singgah di Banjarmasin. Sehari sebelum rakyat Surabaya mengobarkan pertempuran 10 November 1945, para pejuang Banjarmasin terlebih dahulu melakukan kontak senjata dengan penjajah sebagai simbol perlawanan akan kolonialisme.

----
9 November merupakan hari yang paling bersejarah bagi masyarakat di Kalimantan, Banjarmasin khususnya. Sejarah revolusi kemerdekaan Kalsel berawal dari diproklamirkannya kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Gaung proklamasi itu sampai ke Kalsel. Masyarakat merespons dengan semangat. Mereka kemudian bersatu dengan cara membentuk Barisan Pemberontak Republik Indonesia Kalimantan (BPRIK). Anggotanya terdiri para pemuda mantan anggota Heiho. BPRIK dipimpin oleh M Amin Efendi, Abdul Kadir Uwan, dkk.

Tanggal 1 dan 2 November 1945 para pejuang ini kemudian merencanakan untuk mengambil senjata tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration). NICA sendiri adalah tentara Belanda yang ikut membonceng rombongan tentara Inggris untuk mengembalikan Indonesia kepada administrasi pemerintahan Belanda. Tapi sayangnya, gerakan itu ternyata keburu tercium oleh tentara NICA. Sebelum diserang, para tentara Belanda ini menyerang asrama eks Heiho tempat anggota BPRIK.

Beberapa hari kemudian, pada malam hari tepatnya tanggal 5 November malam, puluhan pemuda berkumpul di Pengambangan. Di situ mereka mengadakan rapat untuk merencanakan menyerang tangsi (perumahan tentara Belanda) NICA.

Dalam rapat mereka membahas kapan waktu penyerangan. Sebagian menginginkan strategi penyerangan pada malam hari, sedangkan sebagian lagi ada yang ingin melakukan penyerangan pada siang hari. Kelompok yang ingin menyerang pada malam hari dipimpin Khadariah, sedangkan kelompok pagi hari dipimpin Khalid.

Kelompok Khadariah beralasan, penyerangan pada malam hari lebih baik karena persenjataan yang dimiliki sangat minim. Sementara kelompok Khalid beralasan dapat membedakan orang Australia dan Belanda. Karena orang Australia bersimpatik dengan perjuangan masyarakat Kalsel. Dari hasil pertemuan itu disepakati mereka akan menyerang Jumat 9 November.
“Terbentuk penyerangan dari bagian sayap kiri dipimpin Untung Sabri, sayap kanan Panglima Halid Tafsiar, dan pasukan tengah dipimpin Amin Efendi,” kata Sejarawan Zainal Arifin Anis.

Sore sekitar pukul 16.00 Wita perang pun pecah di kawasan Jalan Jawa (Kini Jalan Mayjen DI Panjaitan. Dengan perlengkapan perang sederhana, mereka menyerang para tentara Belanda. Tapi karena minimnya persenjataan, sekitar pukul 18.30 Wita mereka berhasil dipukul mundur oleh tentara Belanda.

“Pada peperangan itu Amin Efendi terluka, sedangkan Panglima Halid Tafsiar tertangkap, sementara sembilan orang tewas dalam peperangan itu. Badrun, Utuh, Badran, Tain, Jumain, Sepa, Dulah, Marufi, Umar,” tutur pria yang juga sebagai dosen Prodi Sejarah dan Ketua Jurusan IPS FKIP ULM Banjarmasin.

Nah, sebagai tanda kehormatan terhadap mereka yang gugur dalam perang 9 November itu, kesembilan nama warga yang gugur itu kemudian diabadikan pada monumen 9 November (Sekarang kantor KPPN Banjarmasin) yang terletak di kawasan Jalan Mayjen DI Panjaitan. Monumen 9 November juga dibangun di kawasan Jalan Pengambangan.

“Yang dapat dipetik dari peristiwa bersejarah ini bukan dari besar kecilnya peperangannya, tapi persatuan dan kesatuan masyarakat pada saat itu bukan dibangun secara politik tetapi oleh perasaan nasionalisme kultural,” katanya. (gmp/by/ran)

Halaman:

BACA JUGA

Minggu, 28 Mei 2017 13:35

Ekspedisi Islam Jilid III; Bubur Legenda Masjid Sultan Suriansyah (Bagian 2)

Bubur Ayam Khas Banjar yang acap kali jadi santapan khas buka di Masjid Sultan Suriansyah mempunyai…

Sabtu, 27 Mei 2017 08:48

Ekspedisi Islam Jilid III; Tradisi Rumpi Jelang Berbuka di Tanah “Merdeka” (Bagian 1)

Setelah sukses melakukan Ekspedisi Islam di Kawasan Pesisir pada Ramadan lalu, kini Ekspedisi Islam…

Jumat, 26 Mei 2017 18:01

Nonton Film "Bara di Bongkahan Batu" Kisah Nasib Warga di Sekitar Tambang

Debu berterbangan mengurangi jarak pandang, truk-truk besar lalu-lalang. Lubang-lubang menganga di tengah-tengah…

Minggu, 14 Mei 2017 17:31

EKSLUSIF, Wawancara dengan Ajeng, Teman Dekat Siswa yang Tewas Bunuh Diri

Ajeng Siti Aisyah bersedia berbagi kisahnya secara ekslusif kepada Radar Banjarmasin. Ajeng adalah pacar…

Jumat, 21 April 2017 16:10

Para Kartini Tangguh Dari Ujung Banua, Mendidik di Perbatasan

Tina Kartina membiarkan air matanya tumpah di pipi. Gempuran angin dan riuh ombak Laut Jawa mengantarnya…

Jumat, 21 April 2017 15:52

Dese Yulianti, Komandan di Dunia Para Pria

Supel, energik dan tegas. Tiga kata ini mewakili sosok Kompol Dese Yulianti. Kapolsek Banjarmasin Timur…

Jumat, 21 April 2017 14:25

Kisah Penghuni Perdana Perumahan Difabel Banjarbaru

Nama Heri Suntara dan Mugniansyah bakal tercatat dalam sejarah kecil kota Banjarbaru. Sebagai penghuni…

Jumat, 21 April 2017 13:58

Kreatif Banget, Siswa ini Bikin Abon dari Kulit Nenas dan Pisang

Rusminah keranjingan buah nenas. Namun, setelah kenyang ia selalu merasa terganggu, melihat tumpukan…

Selasa, 18 April 2017 10:56

Sejarah Masjid Jami Banjarmasin, Kisah yang Perlu Diketahui

Sebagai salah satu masjid tertua di Kota Banjarmasin, Masjid Jami Sungai Jingah tentu memiliki kisah…

Minggu, 16 April 2017 18:39

Menyicipi Nikmatnya Kue Cinta di Pasar Amuntai

Kue Cincin Talipuk lazim disebut wadai cinta.  DI Amuntai, ini telah menjadi jajanan yang cukup…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .