MANAGED BY:
MINGGU
30 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Jumat, 23 Desember 2016 16:09
Takut Ngayau, Misionaris Dikawal Pasukan Sultan

Sejarah Gereja Protestan Tertua di Banjarmasin (Bagian Satu)

MISIONARIS PERTAMA - Pendeta Besel Jerias bersama potret rombongan pertama misionaris dari Jerman.

PROKAL.CO, Masyarakat Banjarmasin tempo doeloe punya panggilan sayang untuk Gereja Dayak (kini Gereja Kalimantan Evangelis), yakni Gereja Dangsanak.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

TAHUN 1835, misionaris asal Jerman tiba di Banjarmasin. Foto hitam putih berukuran besar rombongan pertama itu terpampang di ruang kerja Ketua Resort GKE Banjarmasin Pendeta Besel Jerias. "Selain membawa misi Injil, mereka juga membawa misi pendidikan dan kesehatan," kata Besel, 54 tahun.

Kepemimpinan Besel di gereja di Jalan DI Panjaitan itu terbagi dua periode. Dari tahun 1993 sampai 1997, berlanjut dari tahun 2012 sampai sekarang. Selasa (20/12) pagi itu Besel mengenakan kemeja Sasirangan warna merah darah. Ia asli Suku Daya Kapuas.

Pendaratan awal misionaris di Banjarmasin tidaklah aneh. Mengingat sebelum pemecahan provinsi, ibukota Kalimantan atau Borneo adalah Banjarmasin. Keraton pertama Kesultanan Banjar juga berada di Kampung Kuin.

Diperkirakan usia GKE sudah menginjak 1,5 abad lebih. Inilah gereja Kristen Protestan tertua di tanah Banjar. "Bangunan awalnya kecil dari kayu ulin," sebutnya. Sebelum berubah nama menjadi GKE, namanya adalah Gereja Dayak. Perubahan nama diputuskan dalam musyawarah tahun 1950.

Alasannya, khawatir umat Kristiani dari suku lain tak kerasan. Selepas Indonesia merdeka, pengurus gereja yakin suku dari berbagai nusantara bakal berlomba merantau kemari. "Kalimantan bak perempuan cantik yang misterius. Wajar semua suku terpikat menyuntingnya," ujarnya tersenyum.

Sekarang, gereja berdaya tampung 890 orang itu membina tiga ribu orang (khusus untuk Banjarmasin). Selama memimpin GKE, ia mengaku makin memahami tugas seorang pendeta. Pendeta ibarat talenan, tempat menetak daging ayam atau mengeluarkan jeroan ikan. "Yang baik dan buruk ditimpakan ke pendeta semua," ujarnya tertawa.

Besel lantas mengajak penulis berkeliling gereja. Dari aula utama yang dihiasi lukisan Perjamuan Terakhir karya Leonardo da Vinci. Sampai kamar khusus tempat pendeta bersiap menghadapi jemaat. Kamar itu gelap, cahaya merambat pelan dari jendela berbentuk salip.

Sementara itu, Senin (19/12) pagi penulis mengunjungi Prof Melkiannus Paul Lambut di rumahnya di Jalan Cendrawasih. Guru Besar FKIP Universitas Lambung Mangkurat itu juga aktif sebagai pembina Gereja Eben Ezer di Jalan Sudirman, pusat jaringan GKE di lima provinsi Kalimantan.

Dosen sastra berumur 85 tahun itu punya banyak kisah menarik tentang sejarah pendirian GKE. "Gereja dibangun di atas tanah hadiah Kesultanan Banjar pada seorang kapten berdarah Ambon, namanya Hendrik Hehanusa," ujarnya.

Bantuan pada gereja bukan cuma lahan. Tapi juga kawalan pasukan untuk misionaris saat masuk pedalaman. Hutan rimba Kalimantan terkenal seram. Sebagian suku masih memegang tradisi Ngayau, penggal kepala ala Dayak. "Berkat pasukan kesultanan, kepala para misionaris tetap utuh terpasang," imbuhnya.

Pertanyaannya, apa dasar kedekatan kesultanan dengan misionaris? Jawabannya kental aroma politis. Pertama, kesultanan berperang dengan Belanda, tapi tak anti Jerman. Kedua, perjanjian tidak mengkristenkan muslim. Tawaran masuk Kristen hanya berlaku untuk penganut Animisme. "Kami tidak akan mengkristenkan saudara Banjar yang muslim," tegas Lambut.

Bukti kerukunan tampak jelas dari panggilan sayang masyarakat Banjarmasin untuk Gereja Dayak, yakni Gereja Dangsanak (artinya saudara). "Saat pembangunan gereja, saudara muslim juga turun tangan membantu," ujarnya.

Faktor lain mengapa Protestan bisa bergerak luwes karena pemerintah Belanda sempat menahan masuknya misionaris Katolik. Alasannya khawatir terjadi gesekan. "Uniknya Belanda, anti sekali dengan keributan berbau agama," pungkasnya. (fud/by/ran)


BACA JUGA

Minggu, 30 April 2017 16:51

Mengikuti Kampung Purun Banjarbaru Studi Banding ke Desa Palimbangan Sari

Pagi masih buta. Tiga buah mobil dipenuhi para pengrajin purun yang kebanyakan perempuan terlihat melaju…

Sabtu, 29 April 2017 12:50

Melihat Indahnya Masjid Agung Al-Falah di Batulicin

Mengunjungi masjid dengan gaya arsitektur timur tengah tidak perlu ke Arab. Di Batulicin sudah berdiri…

Sabtu, 29 April 2017 12:34

Lihat Nih Aksi Nyentrik Aiptu Mujianto, Acara Nikahan Jadi Heboh

Masih ingat dengan polisi yang suka bagi-bagikan sembako ke fakir miskin? Usai ledakan popularitasnya…

Rabu, 26 April 2017 13:44

Mencoba Praktik Terapi Alternatif Al Fasdhu, Keluarkan Racun dari Kaki

AL Fasdhu adalah terapi mengeluarkan darah dari pembuluh vena yang di dalamnya terdapat sumbatan-sumbatan…

Sabtu, 22 April 2017 13:25

Kisah Warga Banua Bantu Pengungsi Suriah di Eropa

Niat awal Oce Oktoman Anggakusumah hanya ingin jalan-jalan ke Eropa. Namun, rasa kemanusiaan pemuda…

Sabtu, 22 April 2017 12:46

Yulianti, Kartini dari Pedalaman Meratus, Mengajar Bermodal Ijazah Paket C

Mentari belum sempurna menampakkan diri, Yulianti (24) sudah bergegas mengenakan pakaian rapi untuk…

Jumat, 21 April 2017 16:10

Para Kartini Tangguh Dari Ujung Banua, Mendidik di Perbatasan

Tina Kartina membiarkan air matanya tumpah di pipi. Gempuran angin dan riuh ombak Laut Jawa mengantarnya…

Jumat, 21 April 2017 15:52

Dese Yulianti, Komandan di Dunia Para Pria

Supel, energik dan tegas. Tiga kata ini mewakili sosok Kompol Dese Yulianti. Kapolsek Banjarmasin Timur…

Jumat, 21 April 2017 14:25

Kisah Penghuni Perdana Perumahan Difabel Banjarbaru

Nama Heri Suntara dan Mugniansyah bakal tercatat dalam sejarah kecil kota Banjarbaru. Sebagai penghuni…

Jumat, 21 April 2017 13:58

Kreatif Banget, Siswa ini Bikin Abon dari Kulit Nenas dan Pisang

Rusminah keranjingan buah nenas. Namun, setelah kenyang ia selalu merasa terganggu, melihat tumpukan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .