MANAGED BY:
MINGGU
24 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 23 Desember 2016 16:09
Takut Ngayau, Misionaris Dikawal Pasukan Sultan

Sejarah Gereja Protestan Tertua di Banjarmasin (Bagian Satu)

MISIONARIS PERTAMA - Pendeta Besel Jerias bersama potret rombongan pertama misionaris dari Jerman.

PROKAL.CO, Masyarakat Banjarmasin tempo doeloe punya panggilan sayang untuk Gereja Dayak (kini Gereja Kalimantan Evangelis), yakni Gereja Dangsanak.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

TAHUN 1835, misionaris asal Jerman tiba di Banjarmasin. Foto hitam putih berukuran besar rombongan pertama itu terpampang di ruang kerja Ketua Resort GKE Banjarmasin Pendeta Besel Jerias. "Selain membawa misi Injil, mereka juga membawa misi pendidikan dan kesehatan," kata Besel, 54 tahun.

Kepemimpinan Besel di gereja di Jalan DI Panjaitan itu terbagi dua periode. Dari tahun 1993 sampai 1997, berlanjut dari tahun 2012 sampai sekarang. Selasa (20/12) pagi itu Besel mengenakan kemeja Sasirangan warna merah darah. Ia asli Suku Daya Kapuas.

Pendaratan awal misionaris di Banjarmasin tidaklah aneh. Mengingat sebelum pemecahan provinsi, ibukota Kalimantan atau Borneo adalah Banjarmasin. Keraton pertama Kesultanan Banjar juga berada di Kampung Kuin.

Diperkirakan usia GKE sudah menginjak 1,5 abad lebih. Inilah gereja Kristen Protestan tertua di tanah Banjar. "Bangunan awalnya kecil dari kayu ulin," sebutnya. Sebelum berubah nama menjadi GKE, namanya adalah Gereja Dayak. Perubahan nama diputuskan dalam musyawarah tahun 1950.

Alasannya, khawatir umat Kristiani dari suku lain tak kerasan. Selepas Indonesia merdeka, pengurus gereja yakin suku dari berbagai nusantara bakal berlomba merantau kemari. "Kalimantan bak perempuan cantik yang misterius. Wajar semua suku terpikat menyuntingnya," ujarnya tersenyum.

Sekarang, gereja berdaya tampung 890 orang itu membina tiga ribu orang (khusus untuk Banjarmasin). Selama memimpin GKE, ia mengaku makin memahami tugas seorang pendeta. Pendeta ibarat talenan, tempat menetak daging ayam atau mengeluarkan jeroan ikan. "Yang baik dan buruk ditimpakan ke pendeta semua," ujarnya tertawa.

Besel lantas mengajak penulis berkeliling gereja. Dari aula utama yang dihiasi lukisan Perjamuan Terakhir karya Leonardo da Vinci. Sampai kamar khusus tempat pendeta bersiap menghadapi jemaat. Kamar itu gelap, cahaya merambat pelan dari jendela berbentuk salip.

Sementara itu, Senin (19/12) pagi penulis mengunjungi Prof Melkiannus Paul Lambut di rumahnya di Jalan Cendrawasih. Guru Besar FKIP Universitas Lambung Mangkurat itu juga aktif sebagai pembina Gereja Eben Ezer di Jalan Sudirman, pusat jaringan GKE di lima provinsi Kalimantan.

Dosen sastra berumur 85 tahun itu punya banyak kisah menarik tentang sejarah pendirian GKE. "Gereja dibangun di atas tanah hadiah Kesultanan Banjar pada seorang kapten berdarah Ambon, namanya Hendrik Hehanusa," ujarnya.

Bantuan pada gereja bukan cuma lahan. Tapi juga kawalan pasukan untuk misionaris saat masuk pedalaman. Hutan rimba Kalimantan terkenal seram. Sebagian suku masih memegang tradisi Ngayau, penggal kepala ala Dayak. "Berkat pasukan kesultanan, kepala para misionaris tetap utuh terpasang," imbuhnya.

Pertanyaannya, apa dasar kedekatan kesultanan dengan misionaris? Jawabannya kental aroma politis. Pertama, kesultanan berperang dengan Belanda, tapi tak anti Jerman. Kedua, perjanjian tidak mengkristenkan muslim. Tawaran masuk Kristen hanya berlaku untuk penganut Animisme. "Kami tidak akan mengkristenkan saudara Banjar yang muslim," tegas Lambut.

Bukti kerukunan tampak jelas dari panggilan sayang masyarakat Banjarmasin untuk Gereja Dayak, yakni Gereja Dangsanak (artinya saudara). "Saat pembangunan gereja, saudara muslim juga turun tangan membantu," ujarnya.

Faktor lain mengapa Protestan bisa bergerak luwes karena pemerintah Belanda sempat menahan masuknya misionaris Katolik. Alasannya khawatir terjadi gesekan. "Uniknya Belanda, anti sekali dengan keributan berbau agama," pungkasnya. (fud/by/ran)


BACA JUGA

Minggu, 24 Juni 2018 11:27

Setelah Toko Kaset-CD di Banjarmasin Berguguran: Membeli Karya Orisinal adalah Perlawanan

Diserang aplikasi pemutar musik dan barang bajakan, sebagian orang memilih bertahan. Mengkoleksi kaset…

Sabtu, 23 Juni 2018 13:06

Kisah Haru Pedagang BBM Eceran Tunanetra di Banjarmasin

Kebutaan tak menghalangi ayah satu anak ini mencari nafkah. Nistam Juhansyah (66) mengais rejeki dengan…

Sabtu, 23 Juni 2018 12:12

Kiprah Youtuber Banua Meraih Silver Play Button dan Sukses dari Youtube

Di era digital sekarang, dunia maya tidak hanya menjadi tempat memanjakan mata, melainkan juga bisa…

Rabu, 20 Juni 2018 11:57

Kisah Petugas Posko Mudik di Simpang Empat Banjarbaru

Bertugas sebagai anggota piket di posko mudik, para petugas di Pos Pengamanan Simpang Empat Banjarbaru…

Selasa, 19 Juni 2018 14:16

Masjid-Masjid ini Tetap Sediakan Buka Puasa Pasca Ramadan

Ramadan 1439 Hijriyah telah berlalu. Bagi umat muslim, dianjurkan berpuasa enam hari di bulan Syawal.…

Selasa, 19 Juni 2018 14:08

Mengenal Dokter Fairuz yang Setia Mengawal Kaum Pemudik

Bagi kebanyakan orang, lebaran bersinonim dengan liburan. Tapi untuk segelintir orang, lebaran artinya…

Rabu, 13 Juni 2018 13:18

Gerakan Literasi dari Balik Jeruji Penjara

Lapas Teluk Dalam punya perpustakaan, tapi isinya buku hukum melulu. Mobil perpustakaan keliling Dinas…

Minggu, 10 Juni 2018 13:21

Tempat Cukur Legendaris Banjarmasin: Layani Bayi Sehari Hingga Manula

Beralamat di Jalan Hassanudin HM, no 23. Ada sebuah ruang berbidang segi tiga. Pangkas Rambut Nasional,…

Jumat, 08 Juni 2018 11:15

Kisah Nanang, Penjual Burung Jalak Keliling di Banjarmasin

Dengan mengayuh ontel tua, Nanang (70) berkeliling Kota Banjarmasin. Menjajakan burung jalak, dikurung…

Rabu, 06 Juni 2018 12:53

Geliat Kerajinan Tanggui Pesisir Utara di Banjarmasin

Di balik sumpeknya kehidupan perkotaan. Tepian Utara Kota Banjarmasin ternyata masih menyimpan kearifan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .