MANAGED BY:
SELASA
27 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Sabtu, 24 Desember 2016 12:55
Diduduki Penjajah Jepang, Hampir Dibakar Perusuh

Sejarah Gereja Katolik Tertua di Banjarmasin (Bagian Dua)

PROKAL.CO, Berdiri pada April 1936, Gereja Batu dua kali berhasil melewati fase sulit. Masa penjajahan Jepang dan tragedi Jumat Kelabu.

SYARAFUDDIN, Banjarmasin

GEREJA Batu sebenarnya cuma nama julukan. Nama resminya adalah Paroki Katedral Keluarga Kudus. "Saat itu semua rumah sekitar dari kayu, sementara gereja dibangun dari batu. Lalu jadi kebiasaan masyarakat menyebut Gereja Batu," kata Romo Theodorus Yuliono Prasetyo Adi, Kamis (22/12) siang.

Jelang Natal, pengurus sibuk membersihkan dan menghias gereja. Romo mengenakan pakaian kerjanya, celana jins dan kaos oblong yang lengannya digunting. Berumur 62 tahun, ia periang dan suka bercanda. Selain menjadi pastor disitu, Romo juga aktif sebagai Vikarus Jenderal Keuskupan Banjarmasin.

"Cikal bakal gereja berada di samping Balai Pemuda (sekarang Gedung KNPI)," imbuhnya. Tahun 1931 misionaris membeli bekas losmen kayu untuk menjadi tempat peribadatan. Misa digelar sederhana dalam emper-emperan. Inilah gereja Katolik pertama yang berdiri di Banjarmasin.

Empat tahun kemudian dimulai pembangunan Gereja Batu. Total ongkosnya mencapai 29 ribu gulden. Gereja lama diubah menjadi kos mahasiswa Katolik. Belakangan, rumah itu dijual dan sekarang menjadi Plasa Telkom. "Jangan dikira kaya, gereja juga bisa kesulitan duit," ujarnya tertawa.

Yang menarik cerita dibalik lahan di persimpangan Jalan Lambung Mangkurat dan Jalan Pangeran Samudera tersebut. Tanah itu aset sebuah perusahaan dagang. Tahun 1921 diserahkan ke pemerintah untuk pembangunan komplek gubernuran. Rencana itu batal, karena gangguan bau tak sedap dari buruknya sanitasi rumah penjara tua diseberangnya (kini Kantor Pos Indonesia).

Misa pertama di Gereja Batu digelar 19 April 1936. Peresmian dihadiri tamu dari Komandan KNIL (tentara Hindia Belanda), wakil Residen, dan Sarekat Islam. Namun, tak sampai satu dekade, kedamaian di gereja terganggu. Selama masa penjajahan Jepang dari tahun 1942 sampai 1945, gereja disulap menjadi gedung pengadilan.

Sebisa mungkin jemaat melindungi Panti Imam dari penodaan tangan serdadu Jepang. Sebab, inilah bagian paling sakral dan suci dalam sebuah gereja. "Bagi umat Islam persis seperti Mihrab di masjid," tukasnya.

Masa kritis kedua terjadi pada kerusuhan Jumat Kelabu, 23 Mei 1997. Orang-orang tak dikenal coba membakar gereja. Syukur, aksi perusakan itu gagal. Perusak berkali-kali coba menyulut api, tapi selalu padam. "Dia lalu berteriak, menyatakan menyerah pada Nabi Isa," ujarnya tergelak. Kesaksian itu bukan milik mata pengurus gereja, tapi cerita dari mulut ke mulut masyarakat. Jadi boleh dipercaya atau tidak.

Arsitektur asli gereja sendiri masih dipertahankan, termasuk menara jam setinggi 17 meter. Terkecuali atapnya yang sudah diganti. Sejak tahun 2011, Gereja Batu ditetapkan sebagai cagar budaya. "Bersama Masjid Sultan Suriansyah di Kampung Kuin," ujarnya bangga.

Sementara itu, Wakil Ketua II Dewan Pengurus Gereja Andrian Darmawan menyebutkan, binaan gereja mencapai 1.900 jiwa. "Saya sendiri asli Banjarmasin dan dibaptis saat duduk di kelas satu SMA," kata pria berumur 41 tahun tersebut.

Soal kerukunan beragama, Andrian bersyukur karena Banjarmasin sangat kondusif. Jaringan gereja Katolik Roma lainnya di Keuskupan Banjarmasin adalah Paroki Hati Yesus yang Maha Kudus di Jalan Veteran dan Paroki Santa Perawan Maria di Kelayan Barat. (fud)


BACA JUGA

Sabtu, 24 Juni 2017 11:52

Ekspedisi Islam 3: Habib Penjaga Kotabaru (habis)

  Situs makam Assyarif Al-Habib Husein menjadi makam keramat paling tertua di Kotabaru. Apabila…

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Rabu, 21 Juni 2017 15:45

Ekspedisi Islam 3: Kain Hijau di Nisan & Kisah Pembantaian Pangeran

Ada makam misterius yang nisannya dibalut kain hijau di Desa Mantewe, kecamatan Mantewe kabupaten Tanah…

Selasa, 20 Juni 2017 17:06

Ekspedisi Islam 3: Keteguhan Iman & Raksasa Mata Satu (Bagian 25)

Praktik melawan tahayul pernah dilakukan habis-habisan oleh warga transmigran di Desa Rejosari, Kecamatan…

Minggu, 18 Juni 2017 18:03

Ekspedisi Islam 3: Meraba Islam di Kampung Tionghoa

Jika Balangan punya Majelis Ta'lim untuk menampung mualaf di punggung Pegunungan Meratus, Tanah Laut…

Sabtu, 17 Juni 2017 14:46

Ekspedisi Islam Kalsel 3: Nyala Pelita di Malam Suka Cita (Bagian 22)

Malam-malam terakhir di bulan Ramadan selalu dinanti warga Desa Kiram Atas. Salah satu desa di pelosok…

Jumat, 16 Juni 2017 15:14

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dianugerahi Kemampuan Menyembunyikan Warga

Syiar Islam di daerah punggung Meratus Balangan juga tak luput dari peran seorang habib. Sisi lain Habib…

Jumat, 16 Juni 2017 14:29

Ekspedisi Islam Jilid 3: Setitik Asa di Kampung Muallaf

Bagaimana jadinya apabila para muallaf yang tinggal di punggung Pegunungan Meratus membentuk sebuah…

Senin, 12 Juni 2017 09:05

Ekspedisi Islam Jilid 3: Tinggalkan Jejak Islam di Tanah Dayak

Khatib Dayan tak main-main soal misinya menyebarkan ajaran agama. Setelah Pangeran Sultan Suriansyah…

Sabtu, 10 Juni 2017 11:28

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dapat Amanah Berdakwah Dari Rasulullah (Bagian 13)

Perintah Rasulullah SAW membawa Syekh Abubakar akhirnya hijrah ke Tanah Banjar untuk berdakwah. Kini,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .