MANAGED BY:
RABU
21 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 19 Januari 2017 14:45
Mengenal Barjo, Sang Penemu Cabai Hiyung, Berawal dari Kegagalan Menanam Padi
BERSIHKAN LAHAN – Barjo memetik cabai yang sudah dipenuhi belukar di pengujung musim panen di lahan seluas dua hektare miliknya di Desa Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah.

PROKAL.CO, Nama Cabai Rawit Hiyung sekarang sudah asing lagi. Selain terkenal di Kalsel, sejak tiga tahun yang lalu cabai rawit ini pun sudah dikenal hingga ke tingkat nasional. Tapi tahukah Anda, siapa yang pertama kami menanam dan mengembangkan cabai ini di Tapin. 

SUNARTI, Rantau

Lelaki berperawakan kurus dengan tinggi sekitar 159 sentimeter  ini awalnya mengembangkan tanaman padi di desanya di Hiyung, Kecamatan Tapin Tengah. Tapi karena daerahnya merupakan daerah pasang surut dengan kadar air yang asam, produksi padinya tidaklah menggembirakan. Hasil produksinya menurun dari tahun ke tahun.

“Saya berpikir, tanaman apa ya yang kira-kira cocok dikembangkan di lahan yang ada di desa kami ini. Saya main ke tempat keluarga di Desa Linuh Kecamatan Bungur dan melihat ada tanaman Cabai rawit yang tumbuh subur. Lalu muncul ide, kenapa tidak mencoba nanam cabai saja,” ujar Barjo, yang dikunjungi penulis di rumahnya di RT 4 Desa Hiyung Kecamatan Tapin Tengah, sore kemarin.

Karena lahannya merupakan lahan pasang surut, cabai rawit ini ditanam di bedengan atau surjan, agar pohonnya tidak terendam air kalau musim penghujan. “Awalnya saya buat bibit sendiri dan berhasil menanam 200 pohon cabai di belakang rumah. Ternyata dari mencoba secara otodidak ini, hasilnya memuaskan, lalu saya teruskan menanam cabainya di lahan yang saya pinjam dari tetangga di desa pada tahun 1992 silam ini,” ujar lelaki lulusan SD ini.

Waktu awal menjual harganya hanya Rp1500 per liternya, dan lama kelamaan ada tetangga yang tertarik dan mencoba menanam cabai seperti yang saya tanam. “Si tetangga usai panen bilang kalau cabai rawit saya ini rasanya lebih pedas, tahan lama, dan lebih tahan dari serangan hama penyakit dibandingkan  cabai yang ada di desa ini,” ujar Barjo.

Dengan cepatnya kabar itu pun menyebar dari mulut ke mulut warga di desanya, dan mulai ada beberapa tetangga di desanya yang menanam cabai rawit ini sekitar tahun 1999 lalu. “Uniknya cabai ini kalau di tanam di lahan yang ada di luar desa rasanya tidak sepedas yang ditanam di Desa Hiyung, termasuk di Desa Linuh, tempat pertama kalinya Cabai ini dibawa,” ujar Barjo.

Seiring waktu, banyak warga desa yang meminta dan membeli bibit dari Barjo, dan Barjopun tidak pelit dengan ilmu yang dimilikinya. Dan hasil dari panen cabai dikumpulkan sedikit demi sedikit untuk dibelikan tanah, yang disisihkan setiap kali panen.

“Awalnya saya membeli dua hektare lahan, setiap kali panen uangnya saya sisihkan terus dan sekarang Alhamdulillah sekarang saya sudah bisa beli rumah yang terbuat dari ulin, kendaraan, dan lahan sebanyak 20 borongan di desa,” kisah Barjo.

Dan cabai inipun sekarang dikenal dengan nama Cabai Hiyung hingga sekarang. Menanam cabai ini hanya perlu waktu tiga bulan saja sudah bisa dipanen hingga tiga bulan berikutnya sudah bisa produksi, kata Barjo. Kalau dulu dirinya menjual cabai ke pasar atau dibawa ke Banjar, sekarang pengumpul yang datang langsung ke desa membeli cabainya. “Kalau lagi musim panen serentak di desa ini pada bulan November, biasanya harga cabai sangat murah berkisar Rp15 ribu sampai 25 ribu per kilonya, baru memasuki Desember hingga Januari harga cabai mulai merangkak naik hingga mencapai Rp45 ribu bahkan Rp100 ribu,” ujar Barjo.

Ini disebabkan produksi cabai di desa mulai menurun dan curah hujan yang cukup tinggi, sehingga sebagian cabai membusuk, hingga harga cabai pun jadi melambung di pasaran. “Untuk harga tertinggi yang pernah dialami petani mulai dari Rp100 ribu per kilo dan termahal ya sekarang Rp120 ribu di tingkat petani dan jangka waktunya cukup lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya,” kisah Barjo.

Diakui Barjo dirinya akan terus mengembangkan tanaman cabai dengan sistem surjan ini di desanya termasuk di lahan yang sudah dibelinya dari petani yang ada di desa ini. “Alhamdulillah sejak awal menanam cabai hingga sekarang hasilnya memuaskan, dan akan terus saya kembangkan, sesuai dengan kemampuan dan kekuatan yang saya miliki,” ujarnya. (yn/ram)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .