MANAGED BY:
JUMAT
27 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

RAGAM INFO

Senin, 23 Januari 2017 09:34
Menjadi Pengguna Medsos yang Bijak

Oleh: Kompol Arief Prasetya, S.IK., M.Med.Kom

Kompol Arief Prasetya SIk, M.Med.Kom

PROKAL.CO, Apakah Anda memiliki akun media sosial seperti Facebook, Instagram, Google+ atau Twitter? Kalau Anda telah memiliki akun media sosial, berarti Anda adalah satu dari 83,7 juta orang pengguna internet di Indonesia. Menurut lembaga riset pasar e-Marketer, pada tahun 2014 populasi netter di Indonesia telah mencapai hampir 84 juta atau berada pada peringkat ke-6 terbesar di dunia dalam jumlah pengguna internet.

Pada tahun 2017, e-Marketer memperkirakan netter di Indonesia bakal mencapai 112 juta orang, mengalahkan Jepang di peringat ke-5 yang pertumbuhan pengguna internetnya lebih lamban. Sayangnya, tingginya jumlah pengguna internet di Indonesia tak diimbangi dengan pemahaman yang bijak tentang etika dan aspek hukum penggunaan internet di dunia maya.

Media sosial yang sejatinya menjadi sarana berkomunikasi, berinteraksi maupun media untuk bersilaturahmi dan mendekatkan orang-orang yang jauh, kini malah menjadi alat untuk saling menghujat, memfitnah dan menyebarkan kebencian.

Fenomena saling hujat dan perang opini di dunia maya ini muncul seiring terbukanya arus informasi politik dalam dunia maya. Munculnya spin doctor atau buzzer, yaitu orang-orang di balik mesin komputer yang bertugas menyebar informasi dengan tujuan menjatuhkan lawan politik atau membangun opini positif terhadap tokoh yang didukung, telah menjadi tren komunikasi politik di era digital saat ini.

Keterbukaan informasi di era digital ini tentu membawa konsekuensi yang mungkin tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tanpa kita sadari perang opini di dunia maya telah menyeret bangsa kita ke dalam situasi yang bisa menimbulkan disharmoni. Semua orang dengan bebas bisa mengunggah, mengupload, menyebar, mentransmisikan dan mendistribusikan informasi elektronik baik berupa tulisan, foto dan gambar, tanpa peduli terhadap dampak yang bisa ditimbulkan.

Inilah realitas yang tak bisa kita hindari. Dunia menjadi kecil dalam genggaman yang bisa kita mainkan melalui keypad smartphone. Realita kehidupan kini telah beralih pada dunia maya. Siapapun bisa memengaruhi pikiran dan menggerakkan orang untuk melakukan sesuatu tanpa harus bertemu dan bertatap muka secara langsung.

Ketika dulu Wilbur Schram (1950-1970) dalam teori jarum hipodermik (teori peluru) menyatakan bahwa media massa sangat perkasa dengan efek yang langsung pada masyarakat, kini pengaruh media mainstream seperti koran dan televisi telah digeser oleh media sosial yang mampu membuat khalayak seperti terhipnotis oleh berbagai jutaan pesan dari berbagai komunikator (sumber).

Di tengah arus globalisasi dan keterbukaan informasi yang membuat jutaan informasi bersebaran dalam dunia maya, diperlukan sikap bijak dan cerdas untuk menyikapi berbagai kabar dan informasi tersebut. Bagi generasi baby boomers yang lahir pasca perang dunia II (1946-1964), media sosial bagi mereka tak lebih dari sekadar sarana untuk bersilaturahmi, berkomunikasi dan mencari informasi.

Namun, bagi generasi X yang lahir di era tahun 1965-1980, apalagi generasi Y  yang lahir pada tahun 1981-1994, dan generasi Z yang lahir antara tahun 1995-2010, media sosial tak lagi sekadar untuk eksistensi diri. Media sosial menjadi sarana bagi mereka untuk mencari dan berbagi informasi, bahkan terlibat dalam penyebaran informasi yang tanpa disadari telah menimbulkan dampak sosial dan psikologis yang besar terhadap publik.

Melihat banyaknya pengguna internet di Indonesia, maka publik dunia maya tak bisa hanya dianggap sebagai pengguna media sosial. Lebih dari itu, publik dunia maya juga memiliki peran dan pengaruh besar dalam menentukan situasi dan kondisi sosial politik bangsa.

Inilah yang sejatinya harus dipahami oleh masyarakat bahwa Negara (pemerintah) telah membuat regulasi yang mengatur agar lalu lintas informasi yang berseliweran dalam media sosial tak dijadikan alat untuk memfitnah, menyebar berita bohong, dan menyebar kebencian yang bisa menimbukan gejolak di tengah masyarakat.

Perangkat aturan itu adalah UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Undang-undang ini muncul untuk menyikapi maraknya informasi dan transaksi elektronik dalam bentuk pesan dan gambar melalui pemanfaatan teknologi informasi yang bisa menimbulkan dampak negatif.

UU ini juga mengatur pengguna teknologi informasi agar lebih berhati-hati dan lebih bijak dalam melakukan transaksi elektronik melalui media sosial. Dalam pasal 27 ayat 1 sampai 4 disebutkan dengan tegas larangan bagi setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan (ayat 1), yang memiliki muatan perjudian (ayat 2), memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik (3) serta yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman (ayat 4).

Pasal 28 ayat 1 UU ITE juga melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik. Sementara Pasal 28 ayat 2 dengan tegas melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Bagi yang melanggar ketentuan Pasal 27 dan 28 UU ITE, maka dapat dijerat dan disanksi pidana. Sanksinya sesuai Pasal 45 ayat 1 dan 2 bahwa setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 maupun 28 dapat dipidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

Namun, faktanya masih banyak pengguna media sosial yang tak mengetahui dan memahami bahwa semua transaksi elektronik baik dalam bentuk informasi (berita), foto (gambar) dan video memiliki konsekuensi hukum bila melanggar pasal 27 dan 28. Dengan sengaja masih banyak orang-orang dengan akun anonim (palsu) menyebar hoax (informasi bohong) yang kemudian disebarkan kembali hingga menjadi viral.

Inilah yang sedang mewabah dalam dunia maya saat ini. Mesin-mesin buzzer dan spin doctor dengan gencarnya menyebar berbagai informasi yang dibuat  seolah-olah benar dan diyakini kebenarannya. Tak hanya para spin doctor, tapi orang-orang yang punya motif dan kepentingan pribadi atau kelompok kemudian juga menyebarkan informasi menyesatkan.

Ironisnya, informasi menyesatkan ini justru diyakini kebenarannya dan disebarkan kembali dengan ditambahi opini pribadi oleh pengguna medsos tanpa menyaring atau memilah dulu kebenaran faktanya. Minimnya pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang kebenaran fakta tersebut, ditambah dengan sajian data dan analisa yang dibuat meyakinkan, membuat pengguna medsos terjebak dan mudah percaya bahwa informasi sesat tersebut adalah sahih.

Tak heran, informasi hoax ini dengan mudah menjadi viral yang kemudian membuat publik dunia maya percaya dan meyakini kebenarannya tanpa menelaah lebih dalam. Kesesatan informasi yang membuat kesesatan berpikir ini telah menjadi tren yang begitu mengkhawatirkan.

Itulah mengapa mantan Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti mengeluarkan surat edaran untuk seluruh jajaran kepolisian menindak semua  bentuk ujaran kebencian (hate speech). Surat edaran yang mengacu pada UU ITE ini merupakan upaya dari pihak kepolisian untuk menjaga agar jangan sampai fitnah dan kebencian menjadi virus yang merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mari kita berpikir dan bertindak bijak dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana berinteraksi, mencari informasi dan berbagi info yang menyejukkan, mencerdaskan dan membawa kebaikan bagi semua. Karena semua informasi yang disebarkan yang mengandung hasutan, kebohongan, fitnah dan kebencian serta SARA, bisa membuat Anda menjadi tersangka dan berakhir di balik jeruji besi.

Mari menjadi pengguna media sosial yang cerdas dengan lebih selektif dan berhati-hati mengakses semua informasi dari sumber yang tak jelas. Jangan mudah terprovokasi, apalagi jadi provokator dengan ikut-ikutan menyebar informasi hoax. Karena dunia maya bukanlan dunia yang bebas hukum. Semua perbuatan yang melanggar tentu saja bisa berdampak secara hukum.

*) Kompol Arief Prasetya, S.IK, M.Med.Kom (Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin dan alumni Magister Media dan Komunikasi Unair Surabaya)


BACA JUGA

Kamis, 26 April 2018 14:24

WOW..!! Warga Banua Lagi Demam Infinity War, Ribuan Penonton Serbu Bioskop

BANJARMASIN - Pemutaran perdana film Avengers: Infinity War, Rabu (25/4) kemarin disambut antusias masyarakat.…

Selasa, 24 April 2018 14:19

MALAS Ganti Handuk, Kuman Mengincar

MESKI tampak sepele, menjaga kebersihan handuk mandi perlu dilakukan secara rutin. Handuk yang kotor…

Sabtu, 21 April 2018 11:41

Ternyata Sering Berbohong Bisa Menimbulkan Penyakit Serius

BANJARMASIN - Hampir setiap orang pernah merasa dibohongi atau berkata bohong. Ada beragam alasan seseorang…

Jumat, 20 April 2018 13:17

Waspada Anak Sering Mimisan, Ini Cara Tepat Menanganinya

MIMISAN atau keluar darah dari hidung pada anak kerap membuat orang tua khawatir. Meski umumnya tidak…

Kamis, 19 April 2018 11:41

Keluar Cairan di Telinga, Berikut Cara Menanganinya

BANJARMASIN - Secara normal, telinga akan memproduksi kotoran telinga. Kotoran telinga, mengandung minyak…

Rabu, 18 April 2018 11:44

Pernah Gatal di Selangkangan? Atasi dengan ini

RASA gatal tak hanya dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Apalagi rasa gatal dialami di daerah…

Rabu, 18 April 2018 11:41

Cara Merapikan Gigi Gingsul dengan Kawat Gigi

BAGI sebagian orang, mempunyai gigi gingsul bisa membuat senyuman terlihat lebih manis. Namun bagi sebagian…

Selasa, 17 April 2018 12:06

Ngeri, Ternyata Begadang Memicu Timbulnya Penyakit Berat

TERPENUHINYA waktu tidur membuat tubuh seseorang segar dan fit ketika bangun. Namun bila waktu tidur…

Minggu, 15 April 2018 15:57

Kala Ekonomi Kalsel Mulai Move On dari Pertambangan: Sekarang Giliran Sektor Pariwisata

Jika tahun-tahun sebelumnya Kalsel selalu bertumpu pada sektor pertambangan dalam meningkatkan pertumbuhan…

Jumat, 13 April 2018 11:48

Awas Infeksi, Kotoran Mata Harus Segera Dibuang

KOTORAN mata sering kali dianggap tidak berbahaya. Namun, sebagian kotoran mata bisa menimbulkan infeksi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .