MANAGED BY:
SENIN
11 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

RAGAM INFO

Senin, 23 Januari 2017 09:34
Menjadi Pengguna Medsos yang Bijak

Oleh: Kompol Arief Prasetya, S.IK., M.Med.Kom

Kompol Arief Prasetya SIk, M.Med.Kom

PROKAL.CO, Apakah Anda memiliki akun media sosial seperti Facebook, Instagram, Google+ atau Twitter? Kalau Anda telah memiliki akun media sosial, berarti Anda adalah satu dari 83,7 juta orang pengguna internet di Indonesia. Menurut lembaga riset pasar e-Marketer, pada tahun 2014 populasi netter di Indonesia telah mencapai hampir 84 juta atau berada pada peringkat ke-6 terbesar di dunia dalam jumlah pengguna internet.

Pada tahun 2017, e-Marketer memperkirakan netter di Indonesia bakal mencapai 112 juta orang, mengalahkan Jepang di peringat ke-5 yang pertumbuhan pengguna internetnya lebih lamban. Sayangnya, tingginya jumlah pengguna internet di Indonesia tak diimbangi dengan pemahaman yang bijak tentang etika dan aspek hukum penggunaan internet di dunia maya.

Media sosial yang sejatinya menjadi sarana berkomunikasi, berinteraksi maupun media untuk bersilaturahmi dan mendekatkan orang-orang yang jauh, kini malah menjadi alat untuk saling menghujat, memfitnah dan menyebarkan kebencian.

Fenomena saling hujat dan perang opini di dunia maya ini muncul seiring terbukanya arus informasi politik dalam dunia maya. Munculnya spin doctor atau buzzer, yaitu orang-orang di balik mesin komputer yang bertugas menyebar informasi dengan tujuan menjatuhkan lawan politik atau membangun opini positif terhadap tokoh yang didukung, telah menjadi tren komunikasi politik di era digital saat ini.

Keterbukaan informasi di era digital ini tentu membawa konsekuensi yang mungkin tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Tanpa kita sadari perang opini di dunia maya telah menyeret bangsa kita ke dalam situasi yang bisa menimbulkan disharmoni. Semua orang dengan bebas bisa mengunggah, mengupload, menyebar, mentransmisikan dan mendistribusikan informasi elektronik baik berupa tulisan, foto dan gambar, tanpa peduli terhadap dampak yang bisa ditimbulkan.

Inilah realitas yang tak bisa kita hindari. Dunia menjadi kecil dalam genggaman yang bisa kita mainkan melalui keypad smartphone. Realita kehidupan kini telah beralih pada dunia maya. Siapapun bisa memengaruhi pikiran dan menggerakkan orang untuk melakukan sesuatu tanpa harus bertemu dan bertatap muka secara langsung.

Ketika dulu Wilbur Schram (1950-1970) dalam teori jarum hipodermik (teori peluru) menyatakan bahwa media massa sangat perkasa dengan efek yang langsung pada masyarakat, kini pengaruh media mainstream seperti koran dan televisi telah digeser oleh media sosial yang mampu membuat khalayak seperti terhipnotis oleh berbagai jutaan pesan dari berbagai komunikator (sumber).

Di tengah arus globalisasi dan keterbukaan informasi yang membuat jutaan informasi bersebaran dalam dunia maya, diperlukan sikap bijak dan cerdas untuk menyikapi berbagai kabar dan informasi tersebut. Bagi generasi baby boomers yang lahir pasca perang dunia II (1946-1964), media sosial bagi mereka tak lebih dari sekadar sarana untuk bersilaturahmi, berkomunikasi dan mencari informasi.

Namun, bagi generasi X yang lahir di era tahun 1965-1980, apalagi generasi Y  yang lahir pada tahun 1981-1994, dan generasi Z yang lahir antara tahun 1995-2010, media sosial tak lagi sekadar untuk eksistensi diri. Media sosial menjadi sarana bagi mereka untuk mencari dan berbagi informasi, bahkan terlibat dalam penyebaran informasi yang tanpa disadari telah menimbulkan dampak sosial dan psikologis yang besar terhadap publik.

Melihat banyaknya pengguna internet di Indonesia, maka publik dunia maya tak bisa hanya dianggap sebagai pengguna media sosial. Lebih dari itu, publik dunia maya juga memiliki peran dan pengaruh besar dalam menentukan situasi dan kondisi sosial politik bangsa.

Inilah yang sejatinya harus dipahami oleh masyarakat bahwa Negara (pemerintah) telah membuat regulasi yang mengatur agar lalu lintas informasi yang berseliweran dalam media sosial tak dijadikan alat untuk memfitnah, menyebar berita bohong, dan menyebar kebencian yang bisa menimbukan gejolak di tengah masyarakat.

Perangkat aturan itu adalah UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Undang-undang ini muncul untuk menyikapi maraknya informasi dan transaksi elektronik dalam bentuk pesan dan gambar melalui pemanfaatan teknologi informasi yang bisa menimbulkan dampak negatif.

UU ini juga mengatur pengguna teknologi informasi agar lebih berhati-hati dan lebih bijak dalam melakukan transaksi elektronik melalui media sosial. Dalam pasal 27 ayat 1 sampai 4 disebutkan dengan tegas larangan bagi setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan (ayat 1), yang memiliki muatan perjudian (ayat 2), memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik (3) serta yang memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman (ayat 4).

Pasal 28 ayat 1 UU ITE juga melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam transaksi elektronik. Sementara Pasal 28 ayat 2 dengan tegas melarang setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA).

Bagi yang melanggar ketentuan Pasal 27 dan 28 UU ITE, maka dapat dijerat dan disanksi pidana. Sanksinya sesuai Pasal 45 ayat 1 dan 2 bahwa setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 maupun 28 dapat dipidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

Namun, faktanya masih banyak pengguna media sosial yang tak mengetahui dan memahami bahwa semua transaksi elektronik baik dalam bentuk informasi (berita), foto (gambar) dan video memiliki konsekuensi hukum bila melanggar pasal 27 dan 28. Dengan sengaja masih banyak orang-orang dengan akun anonim (palsu) menyebar hoax (informasi bohong) yang kemudian disebarkan kembali hingga menjadi viral.

Inilah yang sedang mewabah dalam dunia maya saat ini. Mesin-mesin buzzer dan spin doctor dengan gencarnya menyebar berbagai informasi yang dibuat  seolah-olah benar dan diyakini kebenarannya. Tak hanya para spin doctor, tapi orang-orang yang punya motif dan kepentingan pribadi atau kelompok kemudian juga menyebarkan informasi menyesatkan.

Ironisnya, informasi menyesatkan ini justru diyakini kebenarannya dan disebarkan kembali dengan ditambahi opini pribadi oleh pengguna medsos tanpa menyaring atau memilah dulu kebenaran faktanya. Minimnya pengetahuan dan informasi yang dimiliki tentang kebenaran fakta tersebut, ditambah dengan sajian data dan analisa yang dibuat meyakinkan, membuat pengguna medsos terjebak dan mudah percaya bahwa informasi sesat tersebut adalah sahih.

Tak heran, informasi hoax ini dengan mudah menjadi viral yang kemudian membuat publik dunia maya percaya dan meyakini kebenarannya tanpa menelaah lebih dalam. Kesesatan informasi yang membuat kesesatan berpikir ini telah menjadi tren yang begitu mengkhawatirkan.

Itulah mengapa mantan Kapolri Jenderal Pol Badrodin Haiti mengeluarkan surat edaran untuk seluruh jajaran kepolisian menindak semua  bentuk ujaran kebencian (hate speech). Surat edaran yang mengacu pada UU ITE ini merupakan upaya dari pihak kepolisian untuk menjaga agar jangan sampai fitnah dan kebencian menjadi virus yang merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Mari kita berpikir dan bertindak bijak dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana berinteraksi, mencari informasi dan berbagi info yang menyejukkan, mencerdaskan dan membawa kebaikan bagi semua. Karena semua informasi yang disebarkan yang mengandung hasutan, kebohongan, fitnah dan kebencian serta SARA, bisa membuat Anda menjadi tersangka dan berakhir di balik jeruji besi.

Mari menjadi pengguna media sosial yang cerdas dengan lebih selektif dan berhati-hati mengakses semua informasi dari sumber yang tak jelas. Jangan mudah terprovokasi, apalagi jadi provokator dengan ikut-ikutan menyebar informasi hoax. Karena dunia maya bukanlan dunia yang bebas hukum. Semua perbuatan yang melanggar tentu saja bisa berdampak secara hukum.

*) Kompol Arief Prasetya, S.IK, M.Med.Kom (Kasat Reskrim Polresta Banjarmasin dan alumni Magister Media dan Komunikasi Unair Surabaya)


BACA JUGA

Jumat, 08 Desember 2017 15:15

Ratusan Peserta Meriahkan Baayun Maulid di Banjarbaru

BANJARBARU - Tradisi Baayun Maulid Kamis (7/12) kemarin digelar di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru.…

Senin, 04 Desember 2017 15:43

Banjarbaru Bikin Nasi Kabuli Terpanjang di Indonesia

BANJARBARU - Kota Banjarbaru, Minggu (3/12) kemarin memecahkan rekor pembuatan nasi kabuli terpanjang…

Jumat, 01 Desember 2017 15:29

Makam Tua Telok Selong yang Masih Misterius

MARTAPURA - Sejak heboh ditemukan awal November lalu, belum diketahui makam siapa di kompleks makam…

Selasa, 28 November 2017 14:51

Kunjungi Auckland University of Technology, Jajal Virtual Reality

Hari ketiga Zetizen Fun Adventure Trip nggak kalah seru dari hari-hari sebelumnya. Yup, seluruh Alpha…

Senin, 27 November 2017 11:46

Pawai Budaya Meriahkan Siring

BANJARMASIN – Suasana sepanjang Siring Sudirman, Siring Tendean, serta Menara Pandang terlihat…

Senin, 27 November 2017 11:33

Tower Sasirangan di Banjarbaru Diresmikan

BANJARBARU - Setelah hampir tiga bulan dilukis oleh perupa Sulistyono Hilda, tower PDAM di Taman Van…

Senin, 27 November 2017 10:09

Cantiknya Warna-Warni di Gang Kalimantan I

BANJARMASIN – Jika Banjarbaru memiliki Kampung Pelangi, kini Banjarmasin memiliki Kampung Warna-warni.…

Sabtu, 25 November 2017 16:46

Naik Truk Militer, Anak TK Kunjungi Gedung Biru

BANJARBARU - Pagi-pagi, Jumat (24/11) kemarin, dua truk militer tiba-tiba memasuki halaman gedung Biru…

Rabu, 22 November 2017 12:25

Liat Nih.. Demam Tiang Listrik Rambah Banua

BANJARMASIN – Demam tiang listrik yang terjadi sejak Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Setya…

Minggu, 19 November 2017 10:22

Masih Ada 43 Rumah Kampung Pelangi Belum Berwarna

BANJARBARU - Digarap sejak pertengahan April 2017, kini Kampung Pelangi menjadi destinasi populer…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .