MANAGED BY:
SELASA
27 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Rabu, 01 Februari 2017 16:19
Menengok Rumah Banjar yang Berusia Ratusan Tahun di Lawahan

Tak Berani Perbaiki karena Ahli Waris Banyak

BUBUNGAN TINGGI: Rumah Banjar di Lawahan. Kondisinya sudah memprihatinkan karena tak ada yang mau memperbaiki.

PROKAL.CO, Di Desa Lawahan RT 06 RW Kecamatan Tapin Selatan Kabupaten Tapin ada sebuah rumah bubungan tinggi atau Rumah Banjar yang sudah berusia ratusan tahun.

SUNARTI, Rantau

Namun sayang, karena sudah tidak ditempati lagi, Rumah Banjar ini jadi kurang terawat dan mulai rusak di beberapa bagian rumahnya.

Menurut generasi keempat dari pemilik Rumah Banjar Supian Suri (42) Rumah Banjar ini merupakan milik Sugagau, orang tua dari Datu mereka yang dibangun sekitar 170 tahun yang lalu.

“Orang tua dari Datu kami dikenal memiliki banyak tanah di desa ini, dan rumah yang kami bangun bersama sanak-saudara dan keponakan kamipun adalah peninggalan dari orang tua Datu Sugagau,” ujar Supian membuka kisah.

Dikisahkan Supian, dia pun mendapatkan kisah tentang Rumah Banjar ini dari sang ibu yang sudah berusia 90 tahun lebih saat meninggal dunia di tahun 2000 lalu. Waktu kecil, Supian bersama kedua orang tua dan 6 saudaranya pernah menempati Rumah Banjar ini. Namun karena sudah mampu membangun rumah sendiri di sampingnya, Rumah Banjar inipun ditinggalkannya.

Rumah Banjar ini dibangun dengan tinggi mencapai 20 meter atap bumbungan tingginya, sedangkan tinggi dari tanah mencapai 3 meter. Luas bangunan mencapai 5 dikali 25 meter panjangnya, dengan dua kamar tidur di sayap kanan dan kiri rumah dengan ukuran 4 dikali 4 meter.

Kalau dilihat dari luar, rumah ini terkesan kecil, tapi setelah kita masuk ke dalam, kesan itu hilang, yang ada malah terkesan sangat luas dan tinggi. Bahkan tiang utamanya terbuat dari kayu ulin berukuran 20 sampai 30 meter dengan ketebalan 10 centimeter.

Kalau mau masuk ke dalam rumah, pengunjung harus naik tangga setinggi 2 meter dari kayu ulin, disusul teras dan masuk ke ruang tengah yang besar, tanpa sekat. Begitu juga di bagian dalam dan dapurnya, ukurannya justru lebih besar dan luas lagi dari ruang tengah, tetap tanpa sekat.

Di bagian pintu masuk, kusen pintu dan jendelanya terlihat ukiran kayu begitu juga di bagian atapnya terlihat ukiran bunga. Sebagian besar rumah ini terbuat dari kayu ulin, kecuali lantainya saja yang berasal dari kayu lurus, kata Supian.

Rumah Banjar ini hanya mempunyai 4 jendela besar dengan tinggi 2 meter dan lebarnya 1 meter. Pintu rumah di bagian depan tingginya mencapai 4 meter, sedangkan pintu yang menghubungkan bagian ruang tengah dan belakang seperti pintu di bar-bar yang ada di luar negeri, tetap dengan ukiran bunga.

Meskipun mempunyai atap yang sangat tinggi, namun rumah ini tidak ada plaponnya, sehingga terlihat kayu sirap yang menjadi atapnya yang sebagian besar mulai lapuk di makan usia.

“Lantai kayu rumah ini sudah pernah diganti, sedangkan yang lainnya masih asli sejak dibikin dulu,” terangnya.

Dulu kata Supian, di rumah ini masih banyak terdapat barang antik, seperti piring, mangkuk melamin, benggol, lampu antik, dan peti besi, peninggalan almarhum orang tua datunya. Tapi lama-kelamaan barang-barang antik tersebut dibawa oleh saudara yang datang bertamu ke rumah, tanpa ada tersisa satupun saat ini.

“Saya pernah berniat memperbaiki rumah ini, tapi karena ahli warisnya banyak, jadi saya tidak berani merehab atau memperbaikinya sedikit demi sedikit, makanya saya lebih baik membangun rumah sendiri di sebelahnya,” ujar Supian.

Sejak kepindahannya itulah, rumah bubungan tinggi ini mulai rusak sedikit demi sedikit. “saat ini Rumah Banjar ini kerap didatangi pelajar yang ingin melihat bangunan Rumah Banjar. Tapi ya itu harus berhati-hati kalau masuk ke dalam rumah, karena sebagian besar lantainya bolong karena dimakan rayap. Hanya bagian teras dan bagian tengah saja yang tersisa lantainya, sedangkan bagian belakang dan dua kamar sudah tanpa lantai. Sedangkan bagian atap rumah masih utuh berdiri tegak.

“Kalau ada yang mau berkunjung atau sekedar melihat-lihat kami persilahkan dan gratis saja, tapi ya beginilah keadaannya,” ujar anak keenam ini.

Supian berharap pihak pemerintah bisa menjadikan Rumah Banjar ini sebagai cagar budaya yang tetap dilestarikan, karena hanya rumah inilah satu-satunya yang tersisa di Tapin. (by/ran)


BACA JUGA

Sabtu, 24 Juni 2017 11:52

Ekspedisi Islam 3: Habib Penjaga Kotabaru (habis)

  Situs makam Assyarif Al-Habib Husein menjadi makam keramat paling tertua di Kotabaru. Apabila…

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Rabu, 21 Juni 2017 15:45

Ekspedisi Islam 3: Kain Hijau di Nisan & Kisah Pembantaian Pangeran

Ada makam misterius yang nisannya dibalut kain hijau di Desa Mantewe, kecamatan Mantewe kabupaten Tanah…

Selasa, 20 Juni 2017 17:06

Ekspedisi Islam 3: Keteguhan Iman & Raksasa Mata Satu (Bagian 25)

Praktik melawan tahayul pernah dilakukan habis-habisan oleh warga transmigran di Desa Rejosari, Kecamatan…

Minggu, 18 Juni 2017 18:03

Ekspedisi Islam 3: Meraba Islam di Kampung Tionghoa

Jika Balangan punya Majelis Ta'lim untuk menampung mualaf di punggung Pegunungan Meratus, Tanah Laut…

Sabtu, 17 Juni 2017 14:46

Ekspedisi Islam Kalsel 3: Nyala Pelita di Malam Suka Cita (Bagian 22)

Malam-malam terakhir di bulan Ramadan selalu dinanti warga Desa Kiram Atas. Salah satu desa di pelosok…

Jumat, 16 Juni 2017 15:14

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dianugerahi Kemampuan Menyembunyikan Warga

Syiar Islam di daerah punggung Meratus Balangan juga tak luput dari peran seorang habib. Sisi lain Habib…

Jumat, 16 Juni 2017 14:29

Ekspedisi Islam Jilid 3: Setitik Asa di Kampung Muallaf

Bagaimana jadinya apabila para muallaf yang tinggal di punggung Pegunungan Meratus membentuk sebuah…

Senin, 12 Juni 2017 09:05

Ekspedisi Islam Jilid 3: Tinggalkan Jejak Islam di Tanah Dayak

Khatib Dayan tak main-main soal misinya menyebarkan ajaran agama. Setelah Pangeran Sultan Suriansyah…

Sabtu, 10 Juni 2017 11:28

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dapat Amanah Berdakwah Dari Rasulullah (Bagian 13)

Perintah Rasulullah SAW membawa Syekh Abubakar akhirnya hijrah ke Tanah Banjar untuk berdakwah. Kini,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .