MANAGED BY:
JUMAT
28 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Rabu, 01 Februari 2017 16:19
Menengok Rumah Banjar yang Berusia Ratusan Tahun di Lawahan

Tak Berani Perbaiki karena Ahli Waris Banyak

BUBUNGAN TINGGI: Rumah Banjar di Lawahan. Kondisinya sudah memprihatinkan karena tak ada yang mau memperbaiki.

PROKAL.CO, Di Desa Lawahan RT 06 RW Kecamatan Tapin Selatan Kabupaten Tapin ada sebuah rumah bubungan tinggi atau Rumah Banjar yang sudah berusia ratusan tahun.

SUNARTI, Rantau

Namun sayang, karena sudah tidak ditempati lagi, Rumah Banjar ini jadi kurang terawat dan mulai rusak di beberapa bagian rumahnya.

Menurut generasi keempat dari pemilik Rumah Banjar Supian Suri (42) Rumah Banjar ini merupakan milik Sugagau, orang tua dari Datu mereka yang dibangun sekitar 170 tahun yang lalu.

“Orang tua dari Datu kami dikenal memiliki banyak tanah di desa ini, dan rumah yang kami bangun bersama sanak-saudara dan keponakan kamipun adalah peninggalan dari orang tua Datu Sugagau,” ujar Supian membuka kisah.

Dikisahkan Supian, dia pun mendapatkan kisah tentang Rumah Banjar ini dari sang ibu yang sudah berusia 90 tahun lebih saat meninggal dunia di tahun 2000 lalu. Waktu kecil, Supian bersama kedua orang tua dan 6 saudaranya pernah menempati Rumah Banjar ini. Namun karena sudah mampu membangun rumah sendiri di sampingnya, Rumah Banjar inipun ditinggalkannya.

Rumah Banjar ini dibangun dengan tinggi mencapai 20 meter atap bumbungan tingginya, sedangkan tinggi dari tanah mencapai 3 meter. Luas bangunan mencapai 5 dikali 25 meter panjangnya, dengan dua kamar tidur di sayap kanan dan kiri rumah dengan ukuran 4 dikali 4 meter.

Kalau dilihat dari luar, rumah ini terkesan kecil, tapi setelah kita masuk ke dalam, kesan itu hilang, yang ada malah terkesan sangat luas dan tinggi. Bahkan tiang utamanya terbuat dari kayu ulin berukuran 20 sampai 30 meter dengan ketebalan 10 centimeter.

Kalau mau masuk ke dalam rumah, pengunjung harus naik tangga setinggi 2 meter dari kayu ulin, disusul teras dan masuk ke ruang tengah yang besar, tanpa sekat. Begitu juga di bagian dalam dan dapurnya, ukurannya justru lebih besar dan luas lagi dari ruang tengah, tetap tanpa sekat.

Di bagian pintu masuk, kusen pintu dan jendelanya terlihat ukiran kayu begitu juga di bagian atapnya terlihat ukiran bunga. Sebagian besar rumah ini terbuat dari kayu ulin, kecuali lantainya saja yang berasal dari kayu lurus, kata Supian.

Rumah Banjar ini hanya mempunyai 4 jendela besar dengan tinggi 2 meter dan lebarnya 1 meter. Pintu rumah di bagian depan tingginya mencapai 4 meter, sedangkan pintu yang menghubungkan bagian ruang tengah dan belakang seperti pintu di bar-bar yang ada di luar negeri, tetap dengan ukiran bunga.

Meskipun mempunyai atap yang sangat tinggi, namun rumah ini tidak ada plaponnya, sehingga terlihat kayu sirap yang menjadi atapnya yang sebagian besar mulai lapuk di makan usia.

“Lantai kayu rumah ini sudah pernah diganti, sedangkan yang lainnya masih asli sejak dibikin dulu,” terangnya.

Dulu kata Supian, di rumah ini masih banyak terdapat barang antik, seperti piring, mangkuk melamin, benggol, lampu antik, dan peti besi, peninggalan almarhum orang tua datunya. Tapi lama-kelamaan barang-barang antik tersebut dibawa oleh saudara yang datang bertamu ke rumah, tanpa ada tersisa satupun saat ini.

“Saya pernah berniat memperbaiki rumah ini, tapi karena ahli warisnya banyak, jadi saya tidak berani merehab atau memperbaikinya sedikit demi sedikit, makanya saya lebih baik membangun rumah sendiri di sebelahnya,” ujar Supian.

Sejak kepindahannya itulah, rumah bubungan tinggi ini mulai rusak sedikit demi sedikit. “saat ini Rumah Banjar ini kerap didatangi pelajar yang ingin melihat bangunan Rumah Banjar. Tapi ya itu harus berhati-hati kalau masuk ke dalam rumah, karena sebagian besar lantainya bolong karena dimakan rayap. Hanya bagian teras dan bagian tengah saja yang tersisa lantainya, sedangkan bagian belakang dan dua kamar sudah tanpa lantai. Sedangkan bagian atap rumah masih utuh berdiri tegak.

“Kalau ada yang mau berkunjung atau sekedar melihat-lihat kami persilahkan dan gratis saja, tapi ya beginilah keadaannya,” ujar anak keenam ini.

Supian berharap pihak pemerintah bisa menjadikan Rumah Banjar ini sebagai cagar budaya yang tetap dilestarikan, karena hanya rumah inilah satu-satunya yang tersisa di Tapin. (by/ran)


BACA JUGA

Rabu, 26 April 2017 13:44

Mencoba Praktik Terapi Alternatif Al Fasdhu, Keluarkan Racun dari Kaki

AL Fasdhu adalah terapi mengeluarkan darah dari pembuluh vena yang di dalamnya terdapat sumbatan-sumbatan…

Sabtu, 22 April 2017 13:25

Kisah Warga Banua Bantu Pengungsi Suriah di Eropa

Niat awal Oce Oktoman Anggakusumah hanya ingin jalan-jalan ke Eropa. Namun, rasa kemanusiaan pemuda…

Sabtu, 22 April 2017 12:46

Yulianti, Kartini dari Pedalaman Meratus, Mengajar Bermodal Ijazah Paket C

Mentari belum sempurna menampakkan diri, Yulianti (24) sudah bergegas mengenakan pakaian rapi untuk…

Jumat, 21 April 2017 16:10

Para Kartini Tangguh Dari Ujung Banua, Mendidik di Perbatasan

Tina Kartina membiarkan air matanya tumpah di pipi. Gempuran angin dan riuh ombak Laut Jawa mengantarnya…

Jumat, 21 April 2017 15:52

Dese Yulianti, Komandan di Dunia Para Pria

Supel, energik dan tegas. Tiga kata ini mewakili sosok Kompol Dese Yulianti. Kapolsek Banjarmasin Timur…

Jumat, 21 April 2017 14:25

Kisah Penghuni Perdana Perumahan Difabel Banjarbaru

Nama Heri Suntara dan Mugniansyah bakal tercatat dalam sejarah kecil kota Banjarbaru. Sebagai penghuni…

Jumat, 21 April 2017 13:58

Kreatif Banget, Siswa ini Bikin Abon dari Kulit Nenas dan Pisang

Rusminah keranjingan buah nenas. Namun, setelah kenyang ia selalu merasa terganggu, melihat tumpukan…

Minggu, 16 April 2017 18:39

Menyicipi Nikmatnya Kue Cinta di Pasar Amuntai

Kue Cincin Talipuk lazim disebut wadai cinta.  DI Amuntai, ini telah menjadi jajanan yang cukup…

Sabtu, 15 April 2017 14:04

Syachrizal, Nama Baru Harapan Banua di Barito Putera

Barito Putera sering kesulitan mencari pemain lokal berkualitas. Kini harapan itu ada di pundak Syachrizal…

Jumat, 14 April 2017 18:27

Mahasiswa Asal Tanbu Rancang Jembatan Kaca Khusus Pejalan Kaki

Kabupaten Tanah Bumbu boleh berbangga memiliki mahasiswa berprestasi seperti Khairul Ahmad (22). Mahasiswa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .