MANAGED BY:
JUMAT
24 MARET
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

BANUA

Jumat, 17 Februari 2017 14:48
Tergenang Air, Ratusan Hektare Lahan Tak Bisa Digarap
TERGENANG: Lahan yang luasnya ratusan hektare ini tak bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam karena tergenang air

PROKAL.CO, MARTAPURA – Tragis nian nasib petani Desa Bincau, Jinggah Habang, dan Labuan Tabu, ketiganya masuk Kecamatan Martapura serta sebagian lahan di Desa Pingaran, Kecamatan Astambul. Kurang lebih 200 hektare areal pertanian empat desa itu nyaris tak bisa digarap, petani pun harus cari kerja serabutan untuk menutupi kebutuhan rumah tangga.

“Kami memperkirakan luas lahan yang tidak bisa digarap sekitar 200 hektar, hampir sebagian besar tergenang akibat air yang berasal dari tambak di sektor perikanan,” terang Fauzi dari Kelompok Tani Sejahtera, Desa Bincau, Kecamatan Martapura memperlihatkan lahan pertanian seperti kolam, Kamis (16/2) siang.

Menurut Fauzi, air yang menggenangi lahan pertanian selama puluhan tahun itu asalnya memang dari air yang melimpah dari tambak ikan yang berjejer di kiri kanan Irigasi Riam Kanan. Akibatnya, lahan petani seperti kolam dan jadi lahan tidur.

”Sebagian yang bisa menanam padi harus puas di bedengan yang lebih tinggi, itu pun hanya cukup buat konsumsi sendiri,” tambah Fauzi yang mengaku memiliki lahan pertanian seluas 25 borongan di Bincau dan sebagian kecil di Pingaran.

Bidang pertanian harus kalah dengan sektor perikanan yang terus booming sedangkan air dari limpahan tambak itu menyebar ke lahan pertanian. Lama-lama, ujarnya, air semakin banyak sehingga lahan persawahan yang letaknya lebih rendah jadi korban.”Kami bingung mau mengadu kemana lagi, ini sudah puluhan tahun,” tegasnya

Kesaksian serupa disampaikan oleh Mansyuri, juga dari Desa Bincau. Panen terakhir yang masih bisa dinikmati sekitar tahun 2006, itu pun hasilnya sangat sedikit. Sebelum 2006 ujarnya, petani biasa menanam bibit yang bisa panen dua tahun atau satu tahun sekali.

“Sekitar bulan Agustus biasanya kami mulai menanam, tapi sekarang lebih banyak air jadi tidak bisa lagi,” timpalnya.

Seluas 30 hektar lahan pertanian yang tergabung di Kelompok Tani Sejahtera Desa Bincau, terangnya habis digenangi air dengan ketinggian bervariasi. Bahkan, lahan itu bisa dilewati dengan jukung kecil untuk mencari ikan.”Ini cerita lama, tapi belum ada solusi yang bisa kami dapatkan, terpaksa teman petani jadi buruh bangunan atau mencari ikan,” tambah Manysuri lagi.

Derita serupa juga dialami Darkuni yang mengaku punya lahan seluas 25 borongan, sebagian besar lahan miliknya didominasi tanaman enceng gondok. Padi hanya bisa ditanam di tepian tanah yang lebih tinggi itu pun belum tentu berhasil karena sering kebanjiran bila air dalam. “Pintu air yang harusnya buka tutup juga tidak berfungsi, areal sawah kami sangat rendah jadi selalu tergenang, padahal dulu tidak,” jelas Darkuni.

Petani di Desa Teluk Selong, Kecamatan Martapura Barat juga mengalami derita akibat banjir. Petani di sini memilih memundurkan masa tanam padi serta memodifikasi lahan di atas banjir. ”Ada juga yang tanam lebih awal, mereka mengalami kerugian setelah terendam,” terang Anang Darman, waga Teluk Selong, kemarin.

Dijelaskan Anang Darman, Modifikasi sawah yang dibuat lebih tinggi dari air itu disebut ambulan, artinya, padi yang ditanam di atas tanah namun di bawahnya dipenuhi enceng gondok. Sehingga tanaman padi itu seperti mengapung.“Jadi, menunggu air surut, benih padi kami tetap hidup dan mengapung dan tidak rusak. Sebagian lagi menanam di tepi jalan atau samping rumah yang tanahnya lebih tinggi,” pungasknya.

Kepala Dinas Perikanan Banjar Noorifansyah Fani menerangkan, air di Riam Kanan memang lebih banyak dimanfaatkan untuk sektor perikanan. Dahulu, ujarnya, air itu tidak maksimal digunakan untuk sektor pertanian, peluang itu justru dimanfaatkan oleh masyarakat perikanan sehingga terus berkembang.         

Pemanfaatan Irigasi itu, ujar Noorifansyah Fani, sudah diatur gubernur yang boleh digunakan oleh PDAM, pertanian, dan sektor perikanan. Dalam klausulnya ada sebuah teknologi air yang harus diterapkan di irigasi dan tidak dibuang sembarang seperti sekarang ini sehingga ada sirkulasi air.

“Namun bok distribusi air itu tidak bisa terealisasi,  jujur kewenangan tata kelola air irigasi ada di provinsi. Kami sudah lama membicarakan ini di level yang lebih tinggi,” kata Pak Ifan, panggilan akrab Noorifansyah Fani.

Sejarahnya, terang Pak Ifan, saluran irigasi mulai sekunder dan tersier itu untuk kemajuan pertanian, namun dalam perkembangannya tidak bisa maksimal akibat banyak saluran yang bermasalah di lahan pertanian sehingga pertanian kurang maksimal memanfaatkannya. Di satu sisi, sektor perikanan terus eksis dan lebih dulu bisa memanfaatkan sebelum bidang pertanian. (mam/yn/ram)


BACA JUGA

Jumat, 24 Maret 2017 11:00
Kabar Banjarbaru

Kreatifnya Ibu-ibu di Banjarbaru, Jerami Disulap Jadi Souvenir

BANJARBARU - Kepedulian pada lingkungan tak mesti ditunjukkan dengan cara-cara bombastis. Ia bisa dimulai…

Jumat, 24 Maret 2017 10:39
Kabar Banjarbaru

Begini Cara Pemko Banjarbaru Menstimulus Kreativitas Rumah Tangga

BANJARBARU - Untuk mendorong kreativitas rumah tangga di Banjarbaru. Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian,…

Jumat, 24 Maret 2017 10:35
Parlementaria Banjarbaru

Sambut UNBK SMP, Ini Pesan Penting Ketua DPRD

BANJARBARU – Ujian Nasional (UN) tingkat SMP bakal digelar pada 3 sampai 8 Mei mendatang. Ketua…

Jumat, 24 Maret 2017 10:30
Parlementaria Banjarbaru

Minta Portal Parkir Q Mall Dipindah

BANJARBARU – Komisi III DPRD Banjarbaru, menyoroti pindahnya portal parkir mobil Q Mall Banjarbaru…

Kamis, 23 Maret 2017 18:39
Jelang Haul Guru Sekumpul ke-12

Pengemis Dilarang Beroperasi di Acara Haul Abah Guru Sekumpul

MARTAPURA - Tak ingin merusak momen Haul ke-12 Guru Sekumpul, Dinas Sosial (Dinsos) Banjar akan mulai…

Kamis, 23 Maret 2017 17:08

Tinggal Selangkah Lagi IAIN Antasari Menuju UIN

BANJARMASIN – Selangkah lagi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari bertransformasi menjadi…

Kamis, 23 Maret 2017 16:30

Aksi Warga Tambal Jalan Negara di Paringin, Tamparan Keras Buat Pemprov

BANJARMASIN – Turun tangan warga memperbaiki jalan Negara sesungguhnya jadi tamparan keras bagi…

Kamis, 23 Maret 2017 16:24
Berita Tanah Bumbu

Bekerjasama Wujudkan Tanbu Hebat

BATULICIN - Dalam rangka memeriahkan HUT Kabupaten Tanah Bumbu ke-14 dan pesta adat Mappanretasi 2017,…

Kamis, 23 Maret 2017 16:18
Berita Tanah Bumbu

Karyawan Perusahaan Donorkan Darah

BATULICIN - Ratusan karyawan perusahaan PT Batulicin Enam Sembilan (B69) mendonorkan darahnya untuk…

Kamis, 23 Maret 2017 14:31
Berita Tanah Bumbu

Contoh Meningkatkan Ekonomi Keluarga

BATULICIN - Halaman Asri Teratur Indah dan Nyaman (HATINYA) Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .