MANAGED BY:
RABU
23 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

BANUA

Jumat, 17 Februari 2017 14:48
Tergenang Air, Ratusan Hektare Lahan Tak Bisa Digarap
TERGENANG: Lahan yang luasnya ratusan hektare ini tak bisa dimanfaatkan untuk bercocok tanam karena tergenang air

PROKAL.CO, MARTAPURA – Tragis nian nasib petani Desa Bincau, Jinggah Habang, dan Labuan Tabu, ketiganya masuk Kecamatan Martapura serta sebagian lahan di Desa Pingaran, Kecamatan Astambul. Kurang lebih 200 hektare areal pertanian empat desa itu nyaris tak bisa digarap, petani pun harus cari kerja serabutan untuk menutupi kebutuhan rumah tangga.

“Kami memperkirakan luas lahan yang tidak bisa digarap sekitar 200 hektar, hampir sebagian besar tergenang akibat air yang berasal dari tambak di sektor perikanan,” terang Fauzi dari Kelompok Tani Sejahtera, Desa Bincau, Kecamatan Martapura memperlihatkan lahan pertanian seperti kolam, Kamis (16/2) siang.

Menurut Fauzi, air yang menggenangi lahan pertanian selama puluhan tahun itu asalnya memang dari air yang melimpah dari tambak ikan yang berjejer di kiri kanan Irigasi Riam Kanan. Akibatnya, lahan petani seperti kolam dan jadi lahan tidur.

”Sebagian yang bisa menanam padi harus puas di bedengan yang lebih tinggi, itu pun hanya cukup buat konsumsi sendiri,” tambah Fauzi yang mengaku memiliki lahan pertanian seluas 25 borongan di Bincau dan sebagian kecil di Pingaran.

Bidang pertanian harus kalah dengan sektor perikanan yang terus booming sedangkan air dari limpahan tambak itu menyebar ke lahan pertanian. Lama-lama, ujarnya, air semakin banyak sehingga lahan persawahan yang letaknya lebih rendah jadi korban.”Kami bingung mau mengadu kemana lagi, ini sudah puluhan tahun,” tegasnya

Kesaksian serupa disampaikan oleh Mansyuri, juga dari Desa Bincau. Panen terakhir yang masih bisa dinikmati sekitar tahun 2006, itu pun hasilnya sangat sedikit. Sebelum 2006 ujarnya, petani biasa menanam bibit yang bisa panen dua tahun atau satu tahun sekali.

“Sekitar bulan Agustus biasanya kami mulai menanam, tapi sekarang lebih banyak air jadi tidak bisa lagi,” timpalnya.

Seluas 30 hektar lahan pertanian yang tergabung di Kelompok Tani Sejahtera Desa Bincau, terangnya habis digenangi air dengan ketinggian bervariasi. Bahkan, lahan itu bisa dilewati dengan jukung kecil untuk mencari ikan.”Ini cerita lama, tapi belum ada solusi yang bisa kami dapatkan, terpaksa teman petani jadi buruh bangunan atau mencari ikan,” tambah Manysuri lagi.

Derita serupa juga dialami Darkuni yang mengaku punya lahan seluas 25 borongan, sebagian besar lahan miliknya didominasi tanaman enceng gondok. Padi hanya bisa ditanam di tepian tanah yang lebih tinggi itu pun belum tentu berhasil karena sering kebanjiran bila air dalam. “Pintu air yang harusnya buka tutup juga tidak berfungsi, areal sawah kami sangat rendah jadi selalu tergenang, padahal dulu tidak,” jelas Darkuni.

Petani di Desa Teluk Selong, Kecamatan Martapura Barat juga mengalami derita akibat banjir. Petani di sini memilih memundurkan masa tanam padi serta memodifikasi lahan di atas banjir. ”Ada juga yang tanam lebih awal, mereka mengalami kerugian setelah terendam,” terang Anang Darman, waga Teluk Selong, kemarin.

Dijelaskan Anang Darman, Modifikasi sawah yang dibuat lebih tinggi dari air itu disebut ambulan, artinya, padi yang ditanam di atas tanah namun di bawahnya dipenuhi enceng gondok. Sehingga tanaman padi itu seperti mengapung.“Jadi, menunggu air surut, benih padi kami tetap hidup dan mengapung dan tidak rusak. Sebagian lagi menanam di tepi jalan atau samping rumah yang tanahnya lebih tinggi,” pungasknya.

Kepala Dinas Perikanan Banjar Noorifansyah Fani menerangkan, air di Riam Kanan memang lebih banyak dimanfaatkan untuk sektor perikanan. Dahulu, ujarnya, air itu tidak maksimal digunakan untuk sektor pertanian, peluang itu justru dimanfaatkan oleh masyarakat perikanan sehingga terus berkembang.         

Pemanfaatan Irigasi itu, ujar Noorifansyah Fani, sudah diatur gubernur yang boleh digunakan oleh PDAM, pertanian, dan sektor perikanan. Dalam klausulnya ada sebuah teknologi air yang harus diterapkan di irigasi dan tidak dibuang sembarang seperti sekarang ini sehingga ada sirkulasi air.

“Namun bok distribusi air itu tidak bisa terealisasi,  jujur kewenangan tata kelola air irigasi ada di provinsi. Kami sudah lama membicarakan ini di level yang lebih tinggi,” kata Pak Ifan, panggilan akrab Noorifansyah Fani.

Sejarahnya, terang Pak Ifan, saluran irigasi mulai sekunder dan tersier itu untuk kemajuan pertanian, namun dalam perkembangannya tidak bisa maksimal akibat banyak saluran yang bermasalah di lahan pertanian sehingga pertanian kurang maksimal memanfaatkannya. Di satu sisi, sektor perikanan terus eksis dan lebih dulu bisa memanfaatkan sebelum bidang pertanian. (mam/yn/ram)


BACA JUGA

Selasa, 22 Agustus 2017 16:33

Innalillah.. Dua Jemaah Banua Dikabarkan Meninggal Dunia

BANJARMASIN - Berita duka datang dari Mekkah. Dua jemaah haji asal Banua dikabarkan telah meninggal…

Selasa, 22 Agustus 2017 16:07

Taksi Online Boleh Mengantar ke Bandara, Tapi Tak Boleh Menjemput

Meski sukses menjadi layanan transportasi idaman di berbagai daerah, kehadiran taksi online di Banua…

Selasa, 22 Agustus 2017 12:13

Proyek Tak Ada Anggaran, Bina Marga Masih Tutup Mulut

KOTABARU - Kisruh pekerjaan pemeliharaan jalan di Kecamatan Pulau Laut Timur terus berlanjut. Warga…

Selasa, 22 Agustus 2017 11:57

Perekrutan di RS Idaman Dijamin Bebas Titipan dan Intrik

BANJARBARU - Walikota Banjarbaru Nadjmi Adhani memberi garansi perekrutan pegawai Rumah Sakit Idaman…

Selasa, 22 Agustus 2017 11:50

Nadjmi: Setop Ribut Tanah Uruk di Bandara Syamsudin Noor

BANJARBARU - Polemik tanah uruk untuk pengembangan Bandara Syamsudin Noor berlanjut. Diulas di media…

Selasa, 22 Agustus 2017 11:40

Tanbu Gelar Tablig Akbar Dalam Rangka HUT RI ke-72

BATULICIN - Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu menggelar Tablig Akbar dalam rangka HUT Proklamasi Kemerdekaan…

Selasa, 22 Agustus 2017 11:38

HUT RI ke-72 Momentum Membangun Daerah

BATULICIN - Peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke-72 bertema Indonesia Kerja Bersama. Dengan tema…

Selasa, 22 Agustus 2017 11:37

Ini Dia Tiga Reperda Disahkan DPRD Tanbu

BATULICIN - Sebanyak tiga buah Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tahun 2017 mendapat persetujuan…

Selasa, 22 Agustus 2017 11:14
Kabar Batola

Kepala BPKAD Batola: Barang yang Dimanfaatkan Masyarakat Harus Diretribusi

MARABAHAN - Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Barito Kuala (Batola)…

Selasa, 22 Agustus 2017 11:09

Kelotok Karam, Tiga Orang Tenggelam

MARABAHAN - Sebuah kelotok yang ditumpangi 9 orang tenggelam di Perairan Sungai Barito, Desa Belandean,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .