MANAGED BY:
RABU
25 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Sabtu, 18 Februari 2017 12:56
Wisata Pulau Kembang Kembali Ramai, Sayangnya Kurang Terawat
BERINTERAKSI LANGSUNG: Pengunjung Pulau Kembang dapat berinteraksi langsung dengan kera-kera di sana.

PROKAL.CO, Jika di Ubud, Bali ada Monkey Forest sebagai tempat tinggal monyet, maka di Kalsel, terdapat Pulau Kembang. Ratusan bahkan ribuan kera menghuni destinasi wisata Kalsel yang berada di Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala ini.

MUHAMMAD OSCAR FRABY, Banjarmasin

Dari kota Banjarmasin menuju ke tempat wisata ini ada beberapa akses yang mudah. Jalur favorit pengunjung saat ini tidak lain melalui Siring Sungai Martapura. Beberapa kelotok wisata tersedia siap membawa Anda. Menggunakan kelotok wisata ini, biayanya lumayan mahal, yakni sampai Rp450 ribu.

Namun, bagi Anda yang ingin cepat dan mau mengirit ongkos, menuju ke Pulau Kembang dapat pula melalui Jalan Belitung Darat, Banjarmasin. Di ujung jalan, tempat parkir moda transportasi tersedia beberapa buah.

Tak jauh dari tempat parkir, dermaga kelotok yang akan membawa Anda menuju ke Pulau Kembang yang persis berada di seberang sungai tinggal pilih. Para juragan kelotok akan ramah menawarkan diri membawa Anda berwisata ke Pulau Kembang.

Harga yang ditawarkan pun jauh dari ospi akses pertama tadi. Memang awalnya mereka menawarkan Rp150 ribu untuk menyeberang dan kembali lagi ke tempat semula. Namun, jika Anda pintar menawar, mereka bisa menurunkan harga. Akhir pekan tadi, penulis bersama dua orang lain, juragan kapal mau memberi harga murah, yakni Rp80 ribu.

Tak sampai 15 menit perjalanan, penulis tiba di dermaga Pulau Kembang. Karena akhir pekan, kelotok yang sandar pun banyak. Tak pelak, para sopir kelotok pun harus antri mencari posisi untuk menambatkan kelotok.

Ketika menjajakkan kaki pertama kali di dermaga, penulis langsung disambut puluhan kera-kera yang siap menggeledah tas bawaan. Untungnya, kera-kera tersebut hanya “menggerayangi” tas bawaan, bukan badan kita.

Tak jauh dari dermaga tadi, pintu masuk ke tempat wisata ini sudah di depan mata. Untuk masuk ke kawasan yang sejak tahun 1976, ditetapkan sebagai Hutan Wisata, berdasarkan SK Menteri Pertanian No 788/Kptsum12/1976 pengunjung dikenakan tarif yang sangat terjangkau.

Ongkos khusus akhir pekan, pengunjung lokal hanya dikenakan biaya Rp7.500 per orang. Sedangkan, bagi wisatawan mancanegara, dikenai tarif masuk Rp100 ribu di hari biasa dan Rp150 ribu per orang di hari libur.

Begitu memasuki kawasan ini, satu yang disayangkan penulis. Tempat wisata yang seharusnya dapat menjadi wisata unggulan daerah malah terlihat kurang terawat. Beberapa tempat penunjang seperti pagar pembatas banyak yang sudah rusak.

Padahal, pagar pembatas ini untuk keamanan pengujung agar tidak jatuh ke sungai. Lain lagi beberapa jembatan untuk mengelilingi kawasan tersebut. Di beberapa titik sudah mulai ambrol, sedikit tak hati-hari, Anda bisa tergelincir ke bawah rawa. Belum lagi banyaknya sampah yang berserakan.

Setelah masuk ke dalam, penulis di sambut dua patung kera putih (hanoman) dan kuil kecil yang biasanya dipakai untuk tempat ziarah bagi etnis tionghoa. Salah seorang pemandu wisata Pulau Kembang, Erny menuturkan, ketika hari besar etnis tionghoa, pengunjung yang datang banyak dari kalangan tersebut. “Mereka mempercayai di sini tempat terkuburnya nenek moyang mereka,” tuturnya.

Tak jauh dari kuil, ada pondok kecil tempat pemandian dan pengobatan tradisional. Konon katanya, banyak warga yang datang ke pemandian tersebut untuk meminta dan menunaikan hajat serta untuk mengobati penyakit.

Nah, persis di belakang kuil dan pondok ini, pohon-pohon rindang tempat kera hidup dan berkeliaran menyambut penulis. Suara raungan penjual kacang dan es potong terdengar lantang dan nyaring. Dikatakan Erny, hal ini sengaja dilakukan mereka agar kera-kera keluar dari dalam hutan. Dan dagangan mereka pun laku untuk memberi makan kera-kera yang keluar.

Semakin menelusuri ke dalam perasaan penulis, semakin was-was diserbu kera. Pasalnya, semakin ke dalam, kera-kera semakin banyak bergelantungan di pohon. Tak hanya pekikan suara pedagang yang terdengar, teriakan histeris pengunjung pun terdengar bersahutan.

Dibeberkan, salah seorang petugas tiket, Hamli, pengunjung yang datang sekarang ke Pulau Kembang mulai marak setelah adanya wisata susur sungai milik Pemerintah Kota Banjarmasin saat ini. Namun, demikian menurutnya, jika menilik ke belakang pada tahun 90-an. Pengunjung yang datang lebih ramai dari sekarang.

“Ketika tahun 90 an tersebut, wisata pasar terapung di Sungai Barito lagi ramai, dan berdampak pada pengunjung Pulau Kembang. Akhir-akhir ini yang menjadi ramai karena adanya wisata susur Sungai di Banjarmasin,” tuturnya sembari menceritakan, pada akhir pekan rata-rata pengunjung mencapai seribuan orang. (yn/ram)


BACA JUGA

Selasa, 24 April 2018 15:19

Kisah Khairani, Rela Makan tak Pakai Lauk, Asal Uang Kuliah Anak Tercukupi

Meski memiliki keterbatasan, Khairani punya keinginan tinggi untuk menyukseskan anaknya. Sebagai tuna…

Senin, 23 April 2018 14:47

Hari Pertama Penyerahan Berkas Dukungan Calon Anggota DPD RI Asal Kalsel

Membawa tiga kotak besar, Habib Hamid Abdullah melangkah pasti ke sekretariat KPU Kalsel, Minggu (22/4)…

Senin, 23 April 2018 13:15
Dita Lestari

Hobi Bermusik, Tugas Tetap Oke

Musik is my life. Ungkapan bahasa Inggris itu pas ditujukan pada Dita Lestari. Polwan berpangkat Brigadir…

Sabtu, 21 April 2018 11:58

Jasa Ojek Online Khusus Perempuan di Banjarmasin ini Banjir Orderan

Nafisah boleh dibilang perempuan zaman now. Yang mampu mandiri mencari pendapatan sendiri. Menggunakan…

Sabtu, 21 April 2018 11:48

Norsinah, Kartini dari Pasar Harum Manis

Tahun 1987, Norsinah mengikuti tes PNS dan gagal. Toh, semangatnya mengajar tak pernah surut. Dengan…

Rabu, 18 April 2018 14:33

HEBAT, Petani di Tapin Berhasil Tanam Padi di Lahan Bekas Tambang

Lahan bekas tambang selalu menjadi permasalahan karena tak produktif.Tapi di Tapin, ada yang berhasil…

Selasa, 17 April 2018 15:17
Kisah Penyiar Cantik RTMC Polda Kalsel

Pilih Jadi Polisi Ketimbang Pramugari

Cantik, tangguh dan berdedikasi tinggi. Itu tercermin dari polwan yang satu ini. Namanya Dharma Setiawati.…

Senin, 16 April 2018 14:26

Suci Paradita Sari, Anggota Satgas Kamtib LP Teluk Dalam

Petugas lembaga pemasyarakatan (lapas) tak melulu pria. Perempuan juga ada. Salah satunya, Suci Paradita…

Sabtu, 14 April 2018 11:48

Ikan Melimpah di Pesisir Pulau Laut, Tapi Nelayan tak Kunjung Kaya

Pesisir Pulau Laut memang kaya ikan. Tiga jam saja merengge, nelayan di Desa Semaras bisa menangkap…

Jumat, 13 April 2018 13:11

Perjuangan Heri Hadi Saputra Keliling Dagang Sule

Heri Hadi Saputra dulu berprofesi sebagai ojek. Penghasilannya pas-pasan. Sekarang pria berusia 38 tahun…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .