MANAGED BY:
SELASA
27 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Sabtu, 18 Februari 2017 12:56
Wisata Pulau Kembang Kembali Ramai, Sayangnya Kurang Terawat
BERINTERAKSI LANGSUNG: Pengunjung Pulau Kembang dapat berinteraksi langsung dengan kera-kera di sana.

PROKAL.CO, Jika di Ubud, Bali ada Monkey Forest sebagai tempat tinggal monyet, maka di Kalsel, terdapat Pulau Kembang. Ratusan bahkan ribuan kera menghuni destinasi wisata Kalsel yang berada di Kecamatan Alalak, Kabupaten Barito Kuala ini.

MUHAMMAD OSCAR FRABY, Banjarmasin

Dari kota Banjarmasin menuju ke tempat wisata ini ada beberapa akses yang mudah. Jalur favorit pengunjung saat ini tidak lain melalui Siring Sungai Martapura. Beberapa kelotok wisata tersedia siap membawa Anda. Menggunakan kelotok wisata ini, biayanya lumayan mahal, yakni sampai Rp450 ribu.

Namun, bagi Anda yang ingin cepat dan mau mengirit ongkos, menuju ke Pulau Kembang dapat pula melalui Jalan Belitung Darat, Banjarmasin. Di ujung jalan, tempat parkir moda transportasi tersedia beberapa buah.

Tak jauh dari tempat parkir, dermaga kelotok yang akan membawa Anda menuju ke Pulau Kembang yang persis berada di seberang sungai tinggal pilih. Para juragan kelotok akan ramah menawarkan diri membawa Anda berwisata ke Pulau Kembang.

Harga yang ditawarkan pun jauh dari ospi akses pertama tadi. Memang awalnya mereka menawarkan Rp150 ribu untuk menyeberang dan kembali lagi ke tempat semula. Namun, jika Anda pintar menawar, mereka bisa menurunkan harga. Akhir pekan tadi, penulis bersama dua orang lain, juragan kapal mau memberi harga murah, yakni Rp80 ribu.

Tak sampai 15 menit perjalanan, penulis tiba di dermaga Pulau Kembang. Karena akhir pekan, kelotok yang sandar pun banyak. Tak pelak, para sopir kelotok pun harus antri mencari posisi untuk menambatkan kelotok.

Ketika menjajakkan kaki pertama kali di dermaga, penulis langsung disambut puluhan kera-kera yang siap menggeledah tas bawaan. Untungnya, kera-kera tersebut hanya “menggerayangi” tas bawaan, bukan badan kita.

Tak jauh dari dermaga tadi, pintu masuk ke tempat wisata ini sudah di depan mata. Untuk masuk ke kawasan yang sejak tahun 1976, ditetapkan sebagai Hutan Wisata, berdasarkan SK Menteri Pertanian No 788/Kptsum12/1976 pengunjung dikenakan tarif yang sangat terjangkau.

Ongkos khusus akhir pekan, pengunjung lokal hanya dikenakan biaya Rp7.500 per orang. Sedangkan, bagi wisatawan mancanegara, dikenai tarif masuk Rp100 ribu di hari biasa dan Rp150 ribu per orang di hari libur.

Begitu memasuki kawasan ini, satu yang disayangkan penulis. Tempat wisata yang seharusnya dapat menjadi wisata unggulan daerah malah terlihat kurang terawat. Beberapa tempat penunjang seperti pagar pembatas banyak yang sudah rusak.

Padahal, pagar pembatas ini untuk keamanan pengujung agar tidak jatuh ke sungai. Lain lagi beberapa jembatan untuk mengelilingi kawasan tersebut. Di beberapa titik sudah mulai ambrol, sedikit tak hati-hari, Anda bisa tergelincir ke bawah rawa. Belum lagi banyaknya sampah yang berserakan.

Setelah masuk ke dalam, penulis di sambut dua patung kera putih (hanoman) dan kuil kecil yang biasanya dipakai untuk tempat ziarah bagi etnis tionghoa. Salah seorang pemandu wisata Pulau Kembang, Erny menuturkan, ketika hari besar etnis tionghoa, pengunjung yang datang banyak dari kalangan tersebut. “Mereka mempercayai di sini tempat terkuburnya nenek moyang mereka,” tuturnya.

Tak jauh dari kuil, ada pondok kecil tempat pemandian dan pengobatan tradisional. Konon katanya, banyak warga yang datang ke pemandian tersebut untuk meminta dan menunaikan hajat serta untuk mengobati penyakit.

Nah, persis di belakang kuil dan pondok ini, pohon-pohon rindang tempat kera hidup dan berkeliaran menyambut penulis. Suara raungan penjual kacang dan es potong terdengar lantang dan nyaring. Dikatakan Erny, hal ini sengaja dilakukan mereka agar kera-kera keluar dari dalam hutan. Dan dagangan mereka pun laku untuk memberi makan kera-kera yang keluar.

Semakin menelusuri ke dalam perasaan penulis, semakin was-was diserbu kera. Pasalnya, semakin ke dalam, kera-kera semakin banyak bergelantungan di pohon. Tak hanya pekikan suara pedagang yang terdengar, teriakan histeris pengunjung pun terdengar bersahutan.

Dibeberkan, salah seorang petugas tiket, Hamli, pengunjung yang datang sekarang ke Pulau Kembang mulai marak setelah adanya wisata susur sungai milik Pemerintah Kota Banjarmasin saat ini. Namun, demikian menurutnya, jika menilik ke belakang pada tahun 90-an. Pengunjung yang datang lebih ramai dari sekarang.

“Ketika tahun 90 an tersebut, wisata pasar terapung di Sungai Barito lagi ramai, dan berdampak pada pengunjung Pulau Kembang. Akhir-akhir ini yang menjadi ramai karena adanya wisata susur Sungai di Banjarmasin,” tuturnya sembari menceritakan, pada akhir pekan rata-rata pengunjung mencapai seribuan orang. (yn/ram)


BACA JUGA

Sabtu, 24 Juni 2017 11:52

Ekspedisi Islam 3: Habib Penjaga Kotabaru (habis)

  Situs makam Assyarif Al-Habib Husein menjadi makam keramat paling tertua di Kotabaru. Apabila…

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Rabu, 21 Juni 2017 15:45

Ekspedisi Islam 3: Kain Hijau di Nisan & Kisah Pembantaian Pangeran

Ada makam misterius yang nisannya dibalut kain hijau di Desa Mantewe, kecamatan Mantewe kabupaten Tanah…

Selasa, 20 Juni 2017 17:06

Ekspedisi Islam 3: Keteguhan Iman & Raksasa Mata Satu (Bagian 25)

Praktik melawan tahayul pernah dilakukan habis-habisan oleh warga transmigran di Desa Rejosari, Kecamatan…

Minggu, 18 Juni 2017 18:03

Ekspedisi Islam 3: Meraba Islam di Kampung Tionghoa

Jika Balangan punya Majelis Ta'lim untuk menampung mualaf di punggung Pegunungan Meratus, Tanah Laut…

Sabtu, 17 Juni 2017 14:46

Ekspedisi Islam Kalsel 3: Nyala Pelita di Malam Suka Cita (Bagian 22)

Malam-malam terakhir di bulan Ramadan selalu dinanti warga Desa Kiram Atas. Salah satu desa di pelosok…

Jumat, 16 Juni 2017 15:14

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dianugerahi Kemampuan Menyembunyikan Warga

Syiar Islam di daerah punggung Meratus Balangan juga tak luput dari peran seorang habib. Sisi lain Habib…

Jumat, 16 Juni 2017 14:29

Ekspedisi Islam Jilid 3: Setitik Asa di Kampung Muallaf

Bagaimana jadinya apabila para muallaf yang tinggal di punggung Pegunungan Meratus membentuk sebuah…

Senin, 12 Juni 2017 09:05

Ekspedisi Islam Jilid 3: Tinggalkan Jejak Islam di Tanah Dayak

Khatib Dayan tak main-main soal misinya menyebarkan ajaran agama. Setelah Pangeran Sultan Suriansyah…

Sabtu, 10 Juni 2017 11:28

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dapat Amanah Berdakwah Dari Rasulullah (Bagian 13)

Perintah Rasulullah SAW membawa Syekh Abubakar akhirnya hijrah ke Tanah Banjar untuk berdakwah. Kini,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .