MANAGED BY:
SENIN
27 MARET
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 21 Februari 2017 17:10
Nasib Produsen Gula Merah di Batilai, Tersaingi Gula Palsu, Harga Tak Semanis Rasanya
HASIL: Junaidi dan Fathul Jannah saat memperlihatkan gula merah asli Desa Batilai Kecamatan Takisung. [Foto: Ardian/Radar Banjarmasin]

PROKAL.CO, Proses pembuatan gula merah yang berbahan baku dari air nira atau aren  cukup panjang. Sayangnya, halk ini tidak diimbangi dengan harga jual yang tinggi. Para pembuat gula merah ini hanya bisa pasrah dengan keadaan.  

----------------------------------------

Ardian Hariyansyah, Pelaihari

----------------------------------------

Sebagian warga tentu masih banyak belum mengetahui Desa Batilai, Kabupaten Tanah Laut. Padahal Desa ini sering dilintasi wisatawan yang akan berkunjung ke wisata Pantai Takisung. Batilai berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Kota Pelaihari.   Desa ini ternyata memiliki potensi gula merah yang sangat besar.  Sebagian besar masyarakat Desa Batilai membuat gula merah.

 Salah seorang yang penulis temui adalah  Junaidi. Warga RT 4 Desa Batilai ini  sedang membuat gula merah.  Bersama Fathul Jannah, selaku anggota Jaringan Pendamping Kebijakan dan Pemerintah (JPKP) Kabupaten Tala, penulis mencoba mewawancarainya.

Junaidi yang berusia sekitar 45 tahun ini ternyata sudah menggeluti sebagai pembuat gula merah sejak di usia remaja.   Kala remaja dia memulai dengan menjadi penyadap pohon aren untuk mengambil air yang lebih dikenal oleh warga dengan sebutan Lahang.

“Dulu saya menyadap lahang, karena orang tua sebagai pembuat,” ucapnya.

Selain itu, dirinya juga menuturkan jika proses pembuatan gula merah itu sangat panjang dan membutuhkan waktu kurang lebih 7 jam, tetapi ini tidak diimbangi dengan pendapatan yang diterima untuk kebutuhan hidup.“Saya juga bekerja sebagai buruh bangunan,” katanya.

Diketahui, untuk membuat gula merah sebanyak 20 kilogram itu membutuhkan sebanyak 100 liter lahang yang disadap atau petik dari pohon dengan ketinggian rata-rata diatas 5 meter sebanyak dua kali setiap pagi dan sore hari.

Setelah mendapatkan lahang, air yang berwarna keruh  berasa manis itu  kemudian dimasak di atas kuali dengan kayu bakar. Proses itu membutuhkan 7 jam untuk mendapatkan kekentalan. Setelah kental dan dirasa sudah matang, maka gula tersebut diangkat mengunakan gayung  untuk dimasukkan ke dalam cetakan.

Nah, proses pencetakan ini, Junaidi ternyata memiliki jenis cetakan yang berbeda, ada cetakan yang terbuat dari kayu ulin dan ada cetakan yang terbuat dari plastik. Tetapi, cetakan yang digunakan sekarang ini terbuat dari plastik, karena sangat praktis dan efisien dibandingkan dengan cetakan kayu.

“Plastik lebih praktis, kalau kayu masih membutuhkan daun pisang yang kering atau klaras,” ungkapnya.

Dirinya juga menjelaskan, perkembangan gula merah asli ini sekarang tersaingi dengan gula merah yang terbuat dari gula pasir. Padahal, sangat jelas perbedaan gula merah asli dengan gula merah palsu itu. Kalau untuk gula merah asli ini tidak saja mudah dipotong menggunakan pisau, juga mudah hancur ditekan dengan tangan. Sedangkan gula merah terbuat dari gula pasir sangat sulit untuk dipecah menggunakan tangan.

“Gula merah palsu harus menggunakan tenaga lebih saat di potong,” jelasnya.

Junaidi berharap, kepada pihak pemerintah dapat mengembangkan gula merah  dalam hal pemasaran, karena disaat harga murah pemasaran juga cukup sepi. Di kalangan para pembuat gula merah sendiri kalimat Harga Gula Merah Tak Semanis Harganya telah menjadi bahan olok-olok dan permakluman. (ay/ran)


BACA JUGA

Kamis, 23 Maret 2017 18:01

Kisah Empat Bersaudara Anak Rawa Penghuni Dusun Terpencil di Pedalaman HSU

Siapa sangka, Dusun Sambujurdi Hulu Sungai Utara ternyata menyimpan kisah anak rawa. Mereka hidup terpencil…

Selasa, 21 Maret 2017 11:46

Kiprah Windi Novianto, Pemuda yang Berdayakan Petani Jagung

Banyak pemuda yang memilih bekerja di kantor ketimbang menjadi seorang petani. Tapi anggapan itu tak…

Senin, 20 Maret 2017 16:12

Rayakan Milad Batalyon Infanteri 623/BWU di Tengah Medan Konflik Sudan

Di tengah misi sebagai pasukan perdamaian di Darfur, Sudan, sebanyak 352 personel Batalyon Infanteri…

Minggu, 19 Maret 2017 13:02

Kala Wakil Rakyat Menetapkan target untuk Kelulusan, Ngotot 100 Persen, Tak Boleh Kurang

  DPRD boleh habis-habisan mengkritik, tapi Dinas Pendidikan tetap ngotot. Dengan segala masalah…

Sabtu, 18 Maret 2017 20:05
Berita HSS

Binmas Polres HSS Gelar Lomba Hidupkan Kembali Pos Kamling

Jajaran Binmas Polres HSS punya ide menarik untuk menghidupkan kembali Pos Kamling. Mereka menggelar…

Jumat, 17 Maret 2017 15:37

Kisah Iptu Misransyah dan Pengalamannya Membina Para Tahanan

Tegas tak mesti keras, itulah prinsip teguh dipegang oleh Iptu Misransyah dalam melaksanan tugas. Sebagai…

Rabu, 15 Maret 2017 15:19

Tak Ada Anggaran, Halaman Kantor Gubernur Lama yang Terendam Dibiarkan

BANJARMASIN – Kepala Biro Umum Setdaprov Kalsel M Rusli mengatakan, tergenangnya halaman perkantoran…

Selasa, 14 Maret 2017 12:57
Berita Tanah Bumbu

Saat Bupati Tanbu Mardani H Maming Membiayai Operasi Warganya

Sugra Noor Mappatunru (60) hidup bersama anak dan cucunya di rumah kontrakan yang beralamat di Jalan…

Jumat, 10 Maret 2017 10:11

Suami Istri Penjual Elektronik Bekas ini Raup Untung Jutaan Rupiah Tiap Hari

Pekerjaan jual-beli barang bekas kerap dipandang sebelah mata. Tapi tak disangka, dengan bermodal ketekunan,…

Kamis, 09 Maret 2017 15:06

Banjar-Banjarbaru Bersiap Gawe Besar Persiapan Haul ke-12 Guru Sekumpul

Jelang pelaksanaan Haul ke-12 KH Muhammad Zaini bin Abdul Gani atau Guru Sekumpul pada tanggal 2 April…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .