MANAGED BY:
SABTU
23 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 21 Februari 2017 17:10
Nasib Produsen Gula Merah di Batilai, Tersaingi Gula Palsu, Harga Tak Semanis Rasanya
HASIL: Junaidi dan Fathul Jannah saat memperlihatkan gula merah asli Desa Batilai Kecamatan Takisung. [Foto: Ardian/Radar Banjarmasin]

PROKAL.CO, Proses pembuatan gula merah yang berbahan baku dari air nira atau aren  cukup panjang. Sayangnya, halk ini tidak diimbangi dengan harga jual yang tinggi. Para pembuat gula merah ini hanya bisa pasrah dengan keadaan.  

----------------------------------------

Ardian Hariyansyah, Pelaihari

----------------------------------------

Sebagian warga tentu masih banyak belum mengetahui Desa Batilai, Kabupaten Tanah Laut. Padahal Desa ini sering dilintasi wisatawan yang akan berkunjung ke wisata Pantai Takisung. Batilai berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Kota Pelaihari.   Desa ini ternyata memiliki potensi gula merah yang sangat besar.  Sebagian besar masyarakat Desa Batilai membuat gula merah.

 Salah seorang yang penulis temui adalah  Junaidi. Warga RT 4 Desa Batilai ini  sedang membuat gula merah.  Bersama Fathul Jannah, selaku anggota Jaringan Pendamping Kebijakan dan Pemerintah (JPKP) Kabupaten Tala, penulis mencoba mewawancarainya.

Junaidi yang berusia sekitar 45 tahun ini ternyata sudah menggeluti sebagai pembuat gula merah sejak di usia remaja.   Kala remaja dia memulai dengan menjadi penyadap pohon aren untuk mengambil air yang lebih dikenal oleh warga dengan sebutan Lahang.

“Dulu saya menyadap lahang, karena orang tua sebagai pembuat,” ucapnya.

Selain itu, dirinya juga menuturkan jika proses pembuatan gula merah itu sangat panjang dan membutuhkan waktu kurang lebih 7 jam, tetapi ini tidak diimbangi dengan pendapatan yang diterima untuk kebutuhan hidup.“Saya juga bekerja sebagai buruh bangunan,” katanya.

Diketahui, untuk membuat gula merah sebanyak 20 kilogram itu membutuhkan sebanyak 100 liter lahang yang disadap atau petik dari pohon dengan ketinggian rata-rata diatas 5 meter sebanyak dua kali setiap pagi dan sore hari.

Setelah mendapatkan lahang, air yang berwarna keruh  berasa manis itu  kemudian dimasak di atas kuali dengan kayu bakar. Proses itu membutuhkan 7 jam untuk mendapatkan kekentalan. Setelah kental dan dirasa sudah matang, maka gula tersebut diangkat mengunakan gayung  untuk dimasukkan ke dalam cetakan.

Nah, proses pencetakan ini, Junaidi ternyata memiliki jenis cetakan yang berbeda, ada cetakan yang terbuat dari kayu ulin dan ada cetakan yang terbuat dari plastik. Tetapi, cetakan yang digunakan sekarang ini terbuat dari plastik, karena sangat praktis dan efisien dibandingkan dengan cetakan kayu.

“Plastik lebih praktis, kalau kayu masih membutuhkan daun pisang yang kering atau klaras,” ungkapnya.

Dirinya juga menjelaskan, perkembangan gula merah asli ini sekarang tersaingi dengan gula merah yang terbuat dari gula pasir. Padahal, sangat jelas perbedaan gula merah asli dengan gula merah palsu itu. Kalau untuk gula merah asli ini tidak saja mudah dipotong menggunakan pisau, juga mudah hancur ditekan dengan tangan. Sedangkan gula merah terbuat dari gula pasir sangat sulit untuk dipecah menggunakan tangan.

“Gula merah palsu harus menggunakan tenaga lebih saat di potong,” jelasnya.

Junaidi berharap, kepada pihak pemerintah dapat mengembangkan gula merah  dalam hal pemasaran, karena disaat harga murah pemasaran juga cukup sepi. Di kalangan para pembuat gula merah sendiri kalimat Harga Gula Merah Tak Semanis Harganya telah menjadi bahan olok-olok dan permakluman. (ay/ran)


BACA JUGA

Rabu, 20 Juni 2018 11:57

Kisah Petugas Posko Mudik di Simpang Empat Banjarbaru

Bertugas sebagai anggota piket di posko mudik, para petugas di Pos Pengamanan Simpang Empat Banjarbaru…

Selasa, 19 Juni 2018 14:16

Masjid-Masjid ini Tetap Sediakan Buka Puasa Pasca Ramadan

Ramadan 1439 Hijriyah telah berlalu. Bagi umat muslim, dianjurkan berpuasa enam hari di bulan Syawal.…

Selasa, 19 Juni 2018 14:08

Mengenal Dokter Fairuz yang Setia Mengawal Kaum Pemudik

Bagi kebanyakan orang, lebaran bersinonim dengan liburan. Tapi untuk segelintir orang, lebaran artinya…

Rabu, 13 Juni 2018 13:18

Gerakan Literasi dari Balik Jeruji Penjara

Lapas Teluk Dalam punya perpustakaan, tapi isinya buku hukum melulu. Mobil perpustakaan keliling Dinas…

Minggu, 10 Juni 2018 13:21

Tempat Cukur Legendaris Banjarmasin: Layani Bayi Sehari Hingga Manula

Beralamat di Jalan Hassanudin HM, no 23. Ada sebuah ruang berbidang segi tiga. Pangkas Rambut Nasional,…

Jumat, 08 Juni 2018 11:15

Kisah Nanang, Penjual Burung Jalak Keliling di Banjarmasin

Dengan mengayuh ontel tua, Nanang (70) berkeliling Kota Banjarmasin. Menjajakan burung jalak, dikurung…

Rabu, 06 Juni 2018 12:53

Geliat Kerajinan Tanggui Pesisir Utara di Banjarmasin

Di balik sumpeknya kehidupan perkotaan. Tepian Utara Kota Banjarmasin ternyata masih menyimpan kearifan…

Selasa, 05 Juni 2018 14:41

Mengintip Kampung Permainan Tradisonal Pendamai di Teluk Tiram Darat

Bulan Ramadan ini Kampung Permainan Tradisional Pendamai bukannya sepi. Tapi makin ramai dikunjungi.…

Senin, 04 Juni 2018 12:54

Melacak Jejak Musyawaratutthalibin, Pergerakan Islam Asli Kalsel

Mempersatukan kaum terpelajar Muslim Kalsel, pergerakan Islam bernama Moesjawaratoetthalibin pernah…

Minggu, 03 Juni 2018 12:29

Senjakala Sastra Lisan Belamut, Jaya Pada Masanya, Kini Minim Apresiasi

Menjadi seniman lamut sejak puluhan tahun, Gusti Jamhar Akbar akhirnya memutuskan pensiun dari panggung…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .