MANAGED BY:
RABU
23 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 21 Februari 2017 17:10
Nasib Produsen Gula Merah di Batilai, Tersaingi Gula Palsu, Harga Tak Semanis Rasanya
HASIL: Junaidi dan Fathul Jannah saat memperlihatkan gula merah asli Desa Batilai Kecamatan Takisung. [Foto: Ardian/Radar Banjarmasin]

PROKAL.CO, Proses pembuatan gula merah yang berbahan baku dari air nira atau aren  cukup panjang. Sayangnya, halk ini tidak diimbangi dengan harga jual yang tinggi. Para pembuat gula merah ini hanya bisa pasrah dengan keadaan.  

----------------------------------------

Ardian Hariyansyah, Pelaihari

----------------------------------------

Sebagian warga tentu masih banyak belum mengetahui Desa Batilai, Kabupaten Tanah Laut. Padahal Desa ini sering dilintasi wisatawan yang akan berkunjung ke wisata Pantai Takisung. Batilai berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Kota Pelaihari.   Desa ini ternyata memiliki potensi gula merah yang sangat besar.  Sebagian besar masyarakat Desa Batilai membuat gula merah.

 Salah seorang yang penulis temui adalah  Junaidi. Warga RT 4 Desa Batilai ini  sedang membuat gula merah.  Bersama Fathul Jannah, selaku anggota Jaringan Pendamping Kebijakan dan Pemerintah (JPKP) Kabupaten Tala, penulis mencoba mewawancarainya.

Junaidi yang berusia sekitar 45 tahun ini ternyata sudah menggeluti sebagai pembuat gula merah sejak di usia remaja.   Kala remaja dia memulai dengan menjadi penyadap pohon aren untuk mengambil air yang lebih dikenal oleh warga dengan sebutan Lahang.

“Dulu saya menyadap lahang, karena orang tua sebagai pembuat,” ucapnya.

Selain itu, dirinya juga menuturkan jika proses pembuatan gula merah itu sangat panjang dan membutuhkan waktu kurang lebih 7 jam, tetapi ini tidak diimbangi dengan pendapatan yang diterima untuk kebutuhan hidup.“Saya juga bekerja sebagai buruh bangunan,” katanya.

Diketahui, untuk membuat gula merah sebanyak 20 kilogram itu membutuhkan sebanyak 100 liter lahang yang disadap atau petik dari pohon dengan ketinggian rata-rata diatas 5 meter sebanyak dua kali setiap pagi dan sore hari.

Setelah mendapatkan lahang, air yang berwarna keruh  berasa manis itu  kemudian dimasak di atas kuali dengan kayu bakar. Proses itu membutuhkan 7 jam untuk mendapatkan kekentalan. Setelah kental dan dirasa sudah matang, maka gula tersebut diangkat mengunakan gayung  untuk dimasukkan ke dalam cetakan.

Nah, proses pencetakan ini, Junaidi ternyata memiliki jenis cetakan yang berbeda, ada cetakan yang terbuat dari kayu ulin dan ada cetakan yang terbuat dari plastik. Tetapi, cetakan yang digunakan sekarang ini terbuat dari plastik, karena sangat praktis dan efisien dibandingkan dengan cetakan kayu.

“Plastik lebih praktis, kalau kayu masih membutuhkan daun pisang yang kering atau klaras,” ungkapnya.

Dirinya juga menjelaskan, perkembangan gula merah asli ini sekarang tersaingi dengan gula merah yang terbuat dari gula pasir. Padahal, sangat jelas perbedaan gula merah asli dengan gula merah palsu itu. Kalau untuk gula merah asli ini tidak saja mudah dipotong menggunakan pisau, juga mudah hancur ditekan dengan tangan. Sedangkan gula merah terbuat dari gula pasir sangat sulit untuk dipecah menggunakan tangan.

“Gula merah palsu harus menggunakan tenaga lebih saat di potong,” jelasnya.

Junaidi berharap, kepada pihak pemerintah dapat mengembangkan gula merah  dalam hal pemasaran, karena disaat harga murah pemasaran juga cukup sepi. Di kalangan para pembuat gula merah sendiri kalimat Harga Gula Merah Tak Semanis Harganya telah menjadi bahan olok-olok dan permakluman. (ay/ran)


BACA JUGA

Rabu, 23 Agustus 2017 16:04

Kisah-Kisah Kehidupan Mahasiswa Banua di Ibukota Jakarta

Radar Banjarmasin menyambangi asrama tempat tinggal mahasiswa Kalimantan Selatan yang terletak di kawasan…

Senin, 21 Agustus 2017 18:04

Upaya Atlet Mempersiapkan Masa Depan

Banyak beredar cerita para atlet bernasib tragis di masa tuanya lantaran tak punya pekerjaan tetap dan…

Minggu, 20 Agustus 2017 13:19

Sejarah Panjang Kain Sasirangan: Hasil Bertapa Patih Lambung Mangkurat 40 Hari 40 Malam

Seperti kain nusantara umumnya, kain sasirangan punya banyak cerita. Kain khas Kalsel ini dipercaya…

Sabtu, 19 Agustus 2017 14:04

Ini Dia Sosok Penjahit Pakaian Adat Presiden Jokowi di Hari Kemerdekaan

Warga Banua bangga ketika menyaksikan Presiden Joko Widodo mengenakan pakaian adat khas Banjar dan tenun…

Jumat, 18 Agustus 2017 16:33

Begini Kemeriahaan Hari Kemerdekaan di Lembaga Pemasyarakatan

Hari Kemerdekaan menjadi hari yang selalu ditunggu para narapidana setiap tahunnya. Alasannya lebih…

Jumat, 18 Agustus 2017 15:54

Ketika Warga Angkasa Gelar Apel Sendiri

Upacara bendera 17 Agustus bukan milik kantor pemerintah atau sekolah semata. Itulah yang coba dibuktikan…

Jumat, 18 Agustus 2017 15:37

Ketika Tahanan Polsekta Banjarmasin Timur Ikut Rayakan Kemerdekaan RI

Para tahanan Polsekta Banjarmasin Timur juga bisa merasakan kemeriahan HUT Kemerdekaan RI ke-72. Bahkan…

Rabu, 16 Agustus 2017 15:35

Wow, Di Banjarbaru Ada Konter Puisi, Pertama di Indonesia Loh!

Biasanya konter identik dengan handphone atau permak levis. Di Banjarbaru, ada sebuah konter yang baru…

Selasa, 15 Agustus 2017 16:40

Kisah Anak-Anak Darussalam Menyiasati Pengeluaran Uang Kiriman

Menjadi anak kos yang jauh dari orangtua, tentu harus bisa mengatur uang sebaik mungkin agar jatah bulanan…

Sabtu, 12 Agustus 2017 15:21

Sekolah di Tengah Perkebunan Sawit, Tidak Terurus, Siswa Tinggal Sembilan

Bangunan sekolahnya masih lengkap, ruang kelasnya pun tidak kurang. Tetapi kondisinya tidak terurus.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .