MANAGED BY:
JUMAT
27 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 21 Februari 2017 17:10
Nasib Produsen Gula Merah di Batilai, Tersaingi Gula Palsu, Harga Tak Semanis Rasanya
HASIL: Junaidi dan Fathul Jannah saat memperlihatkan gula merah asli Desa Batilai Kecamatan Takisung. [Foto: Ardian/Radar Banjarmasin]

PROKAL.CO, Proses pembuatan gula merah yang berbahan baku dari air nira atau aren  cukup panjang. Sayangnya, halk ini tidak diimbangi dengan harga jual yang tinggi. Para pembuat gula merah ini hanya bisa pasrah dengan keadaan.  

----------------------------------------

Ardian Hariyansyah, Pelaihari

----------------------------------------

Sebagian warga tentu masih banyak belum mengetahui Desa Batilai, Kabupaten Tanah Laut. Padahal Desa ini sering dilintasi wisatawan yang akan berkunjung ke wisata Pantai Takisung. Batilai berjarak kurang lebih 10 kilometer dari Kota Pelaihari.   Desa ini ternyata memiliki potensi gula merah yang sangat besar.  Sebagian besar masyarakat Desa Batilai membuat gula merah.

 Salah seorang yang penulis temui adalah  Junaidi. Warga RT 4 Desa Batilai ini  sedang membuat gula merah.  Bersama Fathul Jannah, selaku anggota Jaringan Pendamping Kebijakan dan Pemerintah (JPKP) Kabupaten Tala, penulis mencoba mewawancarainya.

Junaidi yang berusia sekitar 45 tahun ini ternyata sudah menggeluti sebagai pembuat gula merah sejak di usia remaja.   Kala remaja dia memulai dengan menjadi penyadap pohon aren untuk mengambil air yang lebih dikenal oleh warga dengan sebutan Lahang.

“Dulu saya menyadap lahang, karena orang tua sebagai pembuat,” ucapnya.

Selain itu, dirinya juga menuturkan jika proses pembuatan gula merah itu sangat panjang dan membutuhkan waktu kurang lebih 7 jam, tetapi ini tidak diimbangi dengan pendapatan yang diterima untuk kebutuhan hidup.“Saya juga bekerja sebagai buruh bangunan,” katanya.

Diketahui, untuk membuat gula merah sebanyak 20 kilogram itu membutuhkan sebanyak 100 liter lahang yang disadap atau petik dari pohon dengan ketinggian rata-rata diatas 5 meter sebanyak dua kali setiap pagi dan sore hari.

Setelah mendapatkan lahang, air yang berwarna keruh  berasa manis itu  kemudian dimasak di atas kuali dengan kayu bakar. Proses itu membutuhkan 7 jam untuk mendapatkan kekentalan. Setelah kental dan dirasa sudah matang, maka gula tersebut diangkat mengunakan gayung  untuk dimasukkan ke dalam cetakan.

Nah, proses pencetakan ini, Junaidi ternyata memiliki jenis cetakan yang berbeda, ada cetakan yang terbuat dari kayu ulin dan ada cetakan yang terbuat dari plastik. Tetapi, cetakan yang digunakan sekarang ini terbuat dari plastik, karena sangat praktis dan efisien dibandingkan dengan cetakan kayu.

“Plastik lebih praktis, kalau kayu masih membutuhkan daun pisang yang kering atau klaras,” ungkapnya.

Dirinya juga menjelaskan, perkembangan gula merah asli ini sekarang tersaingi dengan gula merah yang terbuat dari gula pasir. Padahal, sangat jelas perbedaan gula merah asli dengan gula merah palsu itu. Kalau untuk gula merah asli ini tidak saja mudah dipotong menggunakan pisau, juga mudah hancur ditekan dengan tangan. Sedangkan gula merah terbuat dari gula pasir sangat sulit untuk dipecah menggunakan tangan.

“Gula merah palsu harus menggunakan tenaga lebih saat di potong,” jelasnya.

Junaidi berharap, kepada pihak pemerintah dapat mengembangkan gula merah  dalam hal pemasaran, karena disaat harga murah pemasaran juga cukup sepi. Di kalangan para pembuat gula merah sendiri kalimat Harga Gula Merah Tak Semanis Harganya telah menjadi bahan olok-olok dan permakluman. (ay/ran)


BACA JUGA

Kamis, 26 April 2018 13:45

Berawal dari Hobi, Kini Kerajinan Tangannya Bernilai Ekonomi

Kreatif. Begitulah Nur Kolipah. Dia menjadikan kerajinan tangan sederhana bernilai ekonomi. ENDANG SYARIFUDDIN,…

Rabu, 25 April 2018 15:03

Menengok Ujian Nasional di SLB Pelambuan

Darmawati boleh saja menolak. Tapi dia malah mengikutkan putranya yang autis, Gusti Muhammad  Fahreza…

Selasa, 24 April 2018 15:19

Kisah Khairani, Rela Makan tak Pakai Lauk, Asal Uang Kuliah Anak Tercukupi

Meski memiliki keterbatasan, Khairani punya keinginan tinggi untuk menyukseskan anaknya. Sebagai tuna…

Senin, 23 April 2018 14:47

Hari Pertama Penyerahan Berkas Dukungan Calon Anggota DPD RI Asal Kalsel

Membawa tiga kotak besar, Habib Hamid Abdullah melangkah pasti ke sekretariat KPU Kalsel, Minggu (22/4)…

Senin, 23 April 2018 13:15
Dita Lestari

Hobi Bermusik, Tugas Tetap Oke

Musik is my life. Ungkapan bahasa Inggris itu pas ditujukan pada Dita Lestari. Polwan berpangkat Brigadir…

Sabtu, 21 April 2018 11:58

Jasa Ojek Online Khusus Perempuan di Banjarmasin ini Banjir Orderan

Nafisah boleh dibilang perempuan zaman now. Yang mampu mandiri mencari pendapatan sendiri. Menggunakan…

Sabtu, 21 April 2018 11:48

Norsinah, Kartini dari Pasar Harum Manis

Tahun 1987, Norsinah mengikuti tes PNS dan gagal. Toh, semangatnya mengajar tak pernah surut. Dengan…

Rabu, 18 April 2018 14:33

HEBAT, Petani di Tapin Berhasil Tanam Padi di Lahan Bekas Tambang

Lahan bekas tambang selalu menjadi permasalahan karena tak produktif.Tapi di Tapin, ada yang berhasil…

Selasa, 17 April 2018 15:17
Kisah Penyiar Cantik RTMC Polda Kalsel

Pilih Jadi Polisi Ketimbang Pramugari

Cantik, tangguh dan berdedikasi tinggi. Itu tercermin dari polwan yang satu ini. Namanya Dharma Setiawati.…

Senin, 16 April 2018 14:26

Suci Paradita Sari, Anggota Satgas Kamtib LP Teluk Dalam

Petugas lembaga pemasyarakatan (lapas) tak melulu pria. Perempuan juga ada. Salah satunya, Suci Paradita…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .