MANAGED BY:
JUMAT
28 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Senin, 27 Februari 2017 15:10
Bincang Santai dengan Yeningsih, Kalapas Perempuan Pertama di Kalsel

Sebut Lapas Wanita Memang Lebih Repot

PENDEKATAN HATI: Yeningsih, berbincang dengan para warga binaan di Lapas Perempuan Martapura. [Foto: Syarafuddin/Radar Banjarmasin]

PROKAL.CO, Siapa juga yang mau berada dibalik jeruji besi yang dikelilingi tingginya tembok penjara, tapi kalau sudah jadi pekerjaan, apa boleh buat.

-------------------------------------------------

MUHAMMAD AMIN, Martapura

-------------------------------------------------

Yunengsih, baru tiga hari menjabat sebagai Kalapas Perempuan di LPP Martapura saat dikunjungi Radar Banjarmasin, beberapa hari lalu. Dia memperkenalkan diri dengan menceritakan masa tugas yang cukup lama dan memanjang dari Bengkulu, balik ke Jawat Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan akhirnya ke Kalsel tepatnya sebagai Kepala LPP Martapura.

Lulusan AKIP Tahun 1987 jadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Kalapas di bumi Antasari.
Yunengsih juga tidak keberatan membahas semua isu yang selama ini tersimpan rapat di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan. Dari proses pembinaan, keseharian napi dan tahanan, sampai nyentil kisah perilaku asmara sejenis.
Ia pun mengaku lebih menyukai bekerja di lapas cowok. Tidak ada kesan menutup-nutupi pergulatan hidup dengan kompleksitas tinggal terisolasi di dalam lapas.

Keunikan perempuan itulah yang membuat petugas harus ekstra bersikap, makluk tuhan ini memang membutuhkan manajemen khusus sehingga sipir pun harus memiliki kesabaran dibarengi ketegasan.”Kalau boleh memilih, saya lebih suka bertugas di lapas cowok. Cewek ini makhluk tuhan yang unik dan kadang sulit diatur, sebagian besar di sini kan kasus narkoba jadi tingkat kesulitanya sangat beda,” ujarnya erbagai pengalaman.

Menurutnya, mengurus 500 warga binaan pria lebih gampang dibanding mengelola 100 manusia berjenis kelamin perempuan. Itu jadi gambaran betapa sulitnya mengurus cewek yang sering susah ditebak, agak rewel. Tidak seperti laki-laki yang mudah diurus serta penurut.

”Saya bisa membandingkan karena sudah bertugas bolak balik di kedua lapas. bahkan, sebelum ke Martapura saya masih dinas di Salatiga yang khusus mengelola napi cowok,” tuturnya.

Kapasitas lapas perempuan hanya cukup untuk 100 orang, kenyataannya diisi 368 orang dengan 28 tahanan serta 5 bayi.”Kemarin ada lagi 10 napi perempuan pindahan. Kalau ditambah terus, bisa tidur berdiri warga binaan, karena sudah dempet-dempetan, ” ujar Yunengsih.

Apalagi, LPP Martapura sangat kekurangan petugas. Yunengsih masih bekerja sendiri dan belum memiliki anak buah dalam satuan kerja. Ia pun harus mengelola keterbasan dengan memaksimalkan 8 petugas. Semua sipir mengikuti jadwal kerja 3 shift dinas yang terbagi dalam 4 regu, sehingga over jam kerja.

”Tiap regu baru 2 orang, idealnya 5 petugas. Kekurangan ini harus diakali dan dicukup-cukupkan,” tambahnya. Masalah tinggal lama dalam satu sel juga menghasilkan hubungan sesama jenis. Perilaku asmara sesama ini jamak ditemui di dalam penjara, seorang napi yang pernah merasakan hubungan suami istri tentu sangat kehilangan kebutuhan rutin tersebut.

Demi memuaskan hasrat biologis yang juga terkekang terpaksa kebutuhan dasar itu disalurkan dengan sesama. Padahal, secara nasional sempat ada wacana menyiapkan bilik asmara namun kandas sering makin meningkatkan kontroversi usulan itu pasalnya rentan disalahgunakan.

“Karena belum ada bilik sebagai wadah penyaluran, akhirnya terjadinya cinta sejenis, ini fakta yang kami temukan sendiri di dalam lapas,” tegasnya.

Keterbatasan petugas yang tidak sebanding dengan warga binaan ikut andil sulitnya mengawasi perilaku ini. Bila ditemukan pun susah dipisah karena tidak ada alternatif sel lagi. Petugas hanya bisa memberikan nasehat tentang fitrah hidup berpasangan antara lelaki dengan perempuan, bukan perempuan dengan perempuan.

“Ada yang sembunyi-sembunyi, ada juga yang kepergok, semua kami tindak lanjuti dengan tegas bila ada temuan. Botol pun digunakan, ini kan serem banget,” katanya.

Itu juga belum lagi dengan kasus cekcok mulut, tambah Yunengsih biasa terjadi antara napi perempuan.
Bagaiman rasanya jadi sipir pun dijawab Yunengsih dengan santai, kendati ada rasa campur aduk, kadang harus menjadi kawan, di satu sisi jadi petugas pemasyarakatan, sudut lain petugas punya kewajiban mengelola pembinaan. Realitas kehidupan terkurung ini mau tidak mau harus dinikmati, dibetah-betahin karena kondisinya sudah begitu sejak dulu.

“Yang pasti, satu perasaan yang paling menakutkan yaitu bila ada napi yang kabur. Sebagus apapun pembinaan dan sukses membuat keterampilan, satu saja ada pelarian semuanya jadi rusak, ibaratnya nila setitik merusak susu sebelanga,” ungkap Yunengsih coba berpantun.

Perasaan campur aduk dan banyak keunikan mengelola Lapas perempuan karena di dalam lapas juga tinggal bayi yang dirawat napi. Sebagai seorang ibu, sipir perempuan tentu ikut merasakan nestapa yang dialami napi ini. Di lapas ini, ujar Yunengsih merawat 5 bayi yang lahir di dalam lapas, itu belum termasuk beberapa napi yang tengah hamil. Yang membuat takjup, semua bayi ini sehat dan montok.

“Kesehatan ibu dan bayi juga perlu kami perhatian, termasuk dampak psikologis si ibu merawat anak di dalam sel,” tambahnya.

Sebutlah Mawar, perempuan yang ditahan akibat kasus narkoba ini merawat bocah berusia 6 bulan. Dari 4 tahun sudah menjalani selama 1 tahun namun belum pernah dijenguk keluarga yang semuanya tinggal di Jawa. Tidak begitu berat, ujarnya merawat bayi di lapas, yang sulit adalah menjaga perasaan sebagai seorang ibu yang harus berada di dalam sel.”Kebetulan dia menyusu badan jadi beban lebih berkurang, Kawan napi sering membantu dan kami dibolehkan memasang ayunan di dalam sel,” pungkasnya. (ay/ran)


BACA JUGA

Rabu, 26 April 2017 13:44

Mencoba Praktik Terapi Alternatif Al Fasdhu, Keluarkan Racun dari Kaki

AL Fasdhu adalah terapi mengeluarkan darah dari pembuluh vena yang di dalamnya terdapat sumbatan-sumbatan…

Sabtu, 22 April 2017 13:25

Kisah Warga Banua Bantu Pengungsi Suriah di Eropa

Niat awal Oce Oktoman Anggakusumah hanya ingin jalan-jalan ke Eropa. Namun, rasa kemanusiaan pemuda…

Sabtu, 22 April 2017 12:46

Yulianti, Kartini dari Pedalaman Meratus, Mengajar Bermodal Ijazah Paket C

Mentari belum sempurna menampakkan diri, Yulianti (24) sudah bergegas mengenakan pakaian rapi untuk…

Jumat, 21 April 2017 16:10

Para Kartini Tangguh Dari Ujung Banua, Mendidik di Perbatasan

Tina Kartina membiarkan air matanya tumpah di pipi. Gempuran angin dan riuh ombak Laut Jawa mengantarnya…

Jumat, 21 April 2017 15:52

Dese Yulianti, Komandan di Dunia Para Pria

Supel, energik dan tegas. Tiga kata ini mewakili sosok Kompol Dese Yulianti. Kapolsek Banjarmasin Timur…

Jumat, 21 April 2017 14:25

Kisah Penghuni Perdana Perumahan Difabel Banjarbaru

Nama Heri Suntara dan Mugniansyah bakal tercatat dalam sejarah kecil kota Banjarbaru. Sebagai penghuni…

Jumat, 21 April 2017 13:58

Kreatif Banget, Siswa ini Bikin Abon dari Kulit Nenas dan Pisang

Rusminah keranjingan buah nenas. Namun, setelah kenyang ia selalu merasa terganggu, melihat tumpukan…

Selasa, 18 April 2017 10:56

Sejarah Masjid Jami Banjarmasin, Kisah yang Perlu Diketahui

Sebagai salah satu masjid tertua di Kota Banjarmasin, Masjid Jami Sungai Jingah tentu memiliki kisah…

Sabtu, 15 April 2017 14:04

Syachrizal, Nama Baru Harapan Banua di Barito Putera

Barito Putera sering kesulitan mencari pemain lokal berkualitas. Kini harapan itu ada di pundak Syachrizal…

Jumat, 14 April 2017 18:27

Mahasiswa Asal Tanbu Rancang Jembatan Kaca Khusus Pejalan Kaki

Kabupaten Tanah Bumbu boleh berbangga memiliki mahasiswa berprestasi seperti Khairul Ahmad (22). Mahasiswa…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .