MANAGED BY:
SELASA
27 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 28 Februari 2017 15:37
Kisah Pesantren Darussana yang Pernah Dipandang sebagai “Ponpes ISIS”

Santri Malah Bertambah karena Sarana Lebih Baik

ASRI-Keberadaan Saung yang tidak hanya diperuntukkan saat belajar, juga untuk tidur santri Ponpes Darussana.

PROKAL.CO, Pondok Pesantren Darussana Desa Sungai Cuka, Kecamatan Kintap   Tanah Laut (Tala) pernah mendapat stigma yang tak sedap beberapa waktu lalu. Pesantren ini dituduh berafiliasi dengan organisasi teroris Islamic State Of Iraq n Syria (ISIS). Bagaimana keadaanya sekarang?

------------------------------------------------------------------

ARDIANSYAH HAIRIYADI, Pelaihari

------------------------------------------------------------------

Peristiwa yang melahirkan anggapan radikal terhadap pesantren Darussanaa itu berawal dari dideportasinya dua santri dari Malaysia, beberapa waktu lalu. Imigrasi Kalsel memulangkan dua santri itu karena masa aktif passport mereka telah habis.

Nah, pendeportasian santri negara luar ini kemudian menimbulkan banyak spekulasi dari masyarakat. Beredar isu pelajaran yang diajarkan adalah pelajaran agama yang radikal, yang dianggap ada hubungannya dengan organisasi ISIS.  Beberapa orang kemudian mendatangi pesantren Darussanaa.

Sang pengasuih Ustadz Mahfuz Zulwafie akhirnya menjelaskan fakta yang sebenarnya tentang materi pelajaran di pesantren yang sebenarnya tak jauh beda dengan pesantren-pesantren lainnya di Kalimantan Selatan.  

"InsyaAllah habis lebaran ini, mereka datang lagi untuk menimba ilmu disini setelah selesai mengurus paspor,” ucap Mahfuz Zulwafie. Orang-orang yang protes itu pun akhirnya pergi.

Pesantren Darussana sendiri sekarang sudah berkembang pesat.  Jika sebelumnya, jalan menuju pesantren terlebih dahulu melintasi pasar dan  lahan kebun karet milik warga, kini tidak lagi. .   Pemerintah Kabupaten Tala  telah memperbaiki akses menuju pesantren.

Sarana di pesantren juga mengalami perubahan. Ada musala yang cukup besar untuk menampung santri.    Hal ini jauh berbeda dibandingkan dulu ketika penulis menginjakkan kaki pertama kali pada awal tahun 2013. Meski demikian, saung yang menjadi khas pesantren yang digunakan santri untuk tidur, masih ada.  

Mahfuz Zulwafie mengatakan, sejak adanya pemberitaan yang ditulis  tentang keberadaan pesantren ini, perlahan  masyarakat tidak lagi menstigmakan negatif. "Banyak kemajuan Ponpes ini sejak ditulis di media, terimakasih," terangnya.

 Dia mengatakan sejatinya pelajaran yang diberikan kepada santri sama dengan pesantren lainnya. Ada   fiqih, nahu syorof, Tafsir hadis, tareh dan pelajaran lain. Bahkan, sekarang ini untuk sekolah mendapat izin dari Kantor Kemenag Tala untuk melaksanakan pendidikan Wustho atau sederajat dengan Tsanawiyah. sedangkan Aliyah belajar bersama dengan Ponpes lain.

Mahfuz juga mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Tala, karena banyak membantu terhadap keberadaan pesantren.  Mulai dari pembangunan musala yang terbuat dari kayu ulin bekas bongkaran bangunan dan jembatan hingga pengerasan jalan dan penmgadaan  sumur dan listrik. Bahkan, ada hibah lahan secara pribadi dari Bupati Tala H Bambang Alamsyah.

"Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Bupati dan Wakil serta Camat, dan Kemenag Tala, saya titip salam," ungkap pria asal Bogor ini.

Jumlah santri pun sekarang bertambah. Tadinya hanya 40  kini sudah mencapai 101 santri. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti dari Aceh, Bogor, Banjarmasin, Tala, hingga Kota Sampit yang merupakan suku dayak.

Mahfuz berharap, keberadaan pesantrennya dapat diterima. Belajar di pesantren ini bisa lebih tenang karena   berada di alam terbuka dengan suasana peohonan yang asri. Tidak ada gangguan atau aktivitas suara bising kendaraan bermotor maupun mesin industri. (ard/ay/ran) 


BACA JUGA

Sabtu, 24 Juni 2017 11:52

Ekspedisi Islam 3: Habib Penjaga Kotabaru (habis)

  Situs makam Assyarif Al-Habib Husein menjadi makam keramat paling tertua di Kotabaru. Apabila…

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Rabu, 21 Juni 2017 15:45

Ekspedisi Islam 3: Kain Hijau di Nisan & Kisah Pembantaian Pangeran

Ada makam misterius yang nisannya dibalut kain hijau di Desa Mantewe, kecamatan Mantewe kabupaten Tanah…

Selasa, 20 Juni 2017 17:06

Ekspedisi Islam 3: Keteguhan Iman & Raksasa Mata Satu (Bagian 25)

Praktik melawan tahayul pernah dilakukan habis-habisan oleh warga transmigran di Desa Rejosari, Kecamatan…

Minggu, 18 Juni 2017 18:03

Ekspedisi Islam 3: Meraba Islam di Kampung Tionghoa

Jika Balangan punya Majelis Ta'lim untuk menampung mualaf di punggung Pegunungan Meratus, Tanah Laut…

Sabtu, 17 Juni 2017 14:46

Ekspedisi Islam Kalsel 3: Nyala Pelita di Malam Suka Cita (Bagian 22)

Malam-malam terakhir di bulan Ramadan selalu dinanti warga Desa Kiram Atas. Salah satu desa di pelosok…

Jumat, 16 Juni 2017 15:14

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dianugerahi Kemampuan Menyembunyikan Warga

Syiar Islam di daerah punggung Meratus Balangan juga tak luput dari peran seorang habib. Sisi lain Habib…

Jumat, 16 Juni 2017 14:29

Ekspedisi Islam Jilid 3: Setitik Asa di Kampung Muallaf

Bagaimana jadinya apabila para muallaf yang tinggal di punggung Pegunungan Meratus membentuk sebuah…

Senin, 12 Juni 2017 09:05

Ekspedisi Islam Jilid 3: Tinggalkan Jejak Islam di Tanah Dayak

Khatib Dayan tak main-main soal misinya menyebarkan ajaran agama. Setelah Pangeran Sultan Suriansyah…

Sabtu, 10 Juni 2017 11:28

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dapat Amanah Berdakwah Dari Rasulullah (Bagian 13)

Perintah Rasulullah SAW membawa Syekh Abubakar akhirnya hijrah ke Tanah Banjar untuk berdakwah. Kini,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .