MANAGED BY:
SABTU
26 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 28 Februari 2017 15:37
Kisah Pesantren Darussana yang Pernah Dipandang sebagai “Ponpes ISIS”

Santri Malah Bertambah karena Sarana Lebih Baik

ASRI-Keberadaan Saung yang tidak hanya diperuntukkan saat belajar, juga untuk tidur santri Ponpes Darussana.

PROKAL.CO, Pondok Pesantren Darussana Desa Sungai Cuka, Kecamatan Kintap   Tanah Laut (Tala) pernah mendapat stigma yang tak sedap beberapa waktu lalu. Pesantren ini dituduh berafiliasi dengan organisasi teroris Islamic State Of Iraq n Syria (ISIS). Bagaimana keadaanya sekarang?

------------------------------------------------------------------

ARDIANSYAH HAIRIYADI, Pelaihari

------------------------------------------------------------------

Peristiwa yang melahirkan anggapan radikal terhadap pesantren Darussanaa itu berawal dari dideportasinya dua santri dari Malaysia, beberapa waktu lalu. Imigrasi Kalsel memulangkan dua santri itu karena masa aktif passport mereka telah habis.

Nah, pendeportasian santri negara luar ini kemudian menimbulkan banyak spekulasi dari masyarakat. Beredar isu pelajaran yang diajarkan adalah pelajaran agama yang radikal, yang dianggap ada hubungannya dengan organisasi ISIS.  Beberapa orang kemudian mendatangi pesantren Darussanaa.

Sang pengasuih Ustadz Mahfuz Zulwafie akhirnya menjelaskan fakta yang sebenarnya tentang materi pelajaran di pesantren yang sebenarnya tak jauh beda dengan pesantren-pesantren lainnya di Kalimantan Selatan.  

"InsyaAllah habis lebaran ini, mereka datang lagi untuk menimba ilmu disini setelah selesai mengurus paspor,” ucap Mahfuz Zulwafie. Orang-orang yang protes itu pun akhirnya pergi.

Pesantren Darussana sendiri sekarang sudah berkembang pesat.  Jika sebelumnya, jalan menuju pesantren terlebih dahulu melintasi pasar dan  lahan kebun karet milik warga, kini tidak lagi. .   Pemerintah Kabupaten Tala  telah memperbaiki akses menuju pesantren.

Sarana di pesantren juga mengalami perubahan. Ada musala yang cukup besar untuk menampung santri.    Hal ini jauh berbeda dibandingkan dulu ketika penulis menginjakkan kaki pertama kali pada awal tahun 2013. Meski demikian, saung yang menjadi khas pesantren yang digunakan santri untuk tidur, masih ada.  

Mahfuz Zulwafie mengatakan, sejak adanya pemberitaan yang ditulis  tentang keberadaan pesantren ini, perlahan  masyarakat tidak lagi menstigmakan negatif. "Banyak kemajuan Ponpes ini sejak ditulis di media, terimakasih," terangnya.

 Dia mengatakan sejatinya pelajaran yang diberikan kepada santri sama dengan pesantren lainnya. Ada   fiqih, nahu syorof, Tafsir hadis, tareh dan pelajaran lain. Bahkan, sekarang ini untuk sekolah mendapat izin dari Kantor Kemenag Tala untuk melaksanakan pendidikan Wustho atau sederajat dengan Tsanawiyah. sedangkan Aliyah belajar bersama dengan Ponpes lain.

Mahfuz juga mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Tala, karena banyak membantu terhadap keberadaan pesantren.  Mulai dari pembangunan musala yang terbuat dari kayu ulin bekas bongkaran bangunan dan jembatan hingga pengerasan jalan dan penmgadaan  sumur dan listrik. Bahkan, ada hibah lahan secara pribadi dari Bupati Tala H Bambang Alamsyah.

"Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Bupati dan Wakil serta Camat, dan Kemenag Tala, saya titip salam," ungkap pria asal Bogor ini.

Jumlah santri pun sekarang bertambah. Tadinya hanya 40  kini sudah mencapai 101 santri. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti dari Aceh, Bogor, Banjarmasin, Tala, hingga Kota Sampit yang merupakan suku dayak.

Mahfuz berharap, keberadaan pesantrennya dapat diterima. Belajar di pesantren ini bisa lebih tenang karena   berada di alam terbuka dengan suasana peohonan yang asri. Tidak ada gangguan atau aktivitas suara bising kendaraan bermotor maupun mesin industri. (ard/ay/ran) 


BACA JUGA

Rabu, 23 Mei 2018 14:59

Menengok Jumat Kelabu Lewat Kliping Koran

23 Mei 1997. Setelah salat Jumat, Tajuddin hendak menuju Lapangan Kamboja. Mengikuti puncak kampanye…

Sabtu, 19 Mei 2018 10:38

Menengok Kelahiran Kampung Mural di Jalan Tunjung Maya

Seusai salat tarawih hingga tibanya waktu sahur, warga dan pelukis berkumpul. Membawa teko kopi dan…

Senin, 14 Mei 2018 15:15

Cerita Ketua MUI Tanbu KH Fadli Muis Mendirikan Pondok Pesantren Zaadul Muttaqiin

Saat ini, pondok pesantren mulai digandrungi anak muda putra dan putri. Pondok pesantren (ponpes) mulai…

Minggu, 13 Mei 2018 05:50

Surat Terakhir Erik Petersen Pria Keturunan Bangsa Viking di Banua Anyar

Erik Petersen adalah keturunan Bangsa Viking. Yang memilih meninggal dunia di Banua Anyar. Warisan Erik,…

Sabtu, 12 Mei 2018 14:14

Menengok Kehidupan di Ponpes Dalam Pagar Kandangan

Santri; terpisah dari keluarga, belajar agama atau menghafal ayat-ayat suci Alquran. Kalau dibayangan…

Jumat, 11 Mei 2018 16:00

Kala Petani Keluhkan Sawah Mereka yang Mengering karena Irigasi Berubah Fungsi

Kejadian yang cukup langka  terjadi di Kampung Handil Buluan, Desa Gudang Hirang Kecamatan Sungai…

Jumat, 11 Mei 2018 15:56

Kisah Purnawirawan TNI yang Menjadi Relawan Penyeberangan Pejalan Kaki

Kopral Effendie sedang menyeberangkan pejalan kaki. Truk tentara melintas. Sejenak dia terdiam. Tangan…

Kamis, 10 Mei 2018 18:57

Kisah Nelayan Pulau Laut yang Menolak Keras Pertambangan

Sama seperti hari cerah lainnya, Ari si pemancing ikan gabus, beberapa hari lalu dapat puluhan kilogram…

Rabu, 09 Mei 2018 16:15

Ini Nih Relawan Ojek Gratis di SBMPTN ULM

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) selalu merepotkan karena digelar di tempat berbeda.…

Selasa, 08 Mei 2018 14:35

Kisah Hidup Mahmud Ropi, Ayah Dua Anak Penyandang Disabilitas

Mahmud Ropi banyak bersyukur dalam hidupnya. Meski mengalami berbagai kesulitan hidup, dia bangkit dan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .