MANAGED BY:
MINGGU
17 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 28 Februari 2017 15:37
Kisah Pesantren Darussana yang Pernah Dipandang sebagai “Ponpes ISIS”

Santri Malah Bertambah karena Sarana Lebih Baik

ASRI-Keberadaan Saung yang tidak hanya diperuntukkan saat belajar, juga untuk tidur santri Ponpes Darussana.

PROKAL.CO, Pondok Pesantren Darussana Desa Sungai Cuka, Kecamatan Kintap   Tanah Laut (Tala) pernah mendapat stigma yang tak sedap beberapa waktu lalu. Pesantren ini dituduh berafiliasi dengan organisasi teroris Islamic State Of Iraq n Syria (ISIS). Bagaimana keadaanya sekarang?

------------------------------------------------------------------

ARDIANSYAH HAIRIYADI, Pelaihari

------------------------------------------------------------------

Peristiwa yang melahirkan anggapan radikal terhadap pesantren Darussanaa itu berawal dari dideportasinya dua santri dari Malaysia, beberapa waktu lalu. Imigrasi Kalsel memulangkan dua santri itu karena masa aktif passport mereka telah habis.

Nah, pendeportasian santri negara luar ini kemudian menimbulkan banyak spekulasi dari masyarakat. Beredar isu pelajaran yang diajarkan adalah pelajaran agama yang radikal, yang dianggap ada hubungannya dengan organisasi ISIS.  Beberapa orang kemudian mendatangi pesantren Darussanaa.

Sang pengasuih Ustadz Mahfuz Zulwafie akhirnya menjelaskan fakta yang sebenarnya tentang materi pelajaran di pesantren yang sebenarnya tak jauh beda dengan pesantren-pesantren lainnya di Kalimantan Selatan.  

"InsyaAllah habis lebaran ini, mereka datang lagi untuk menimba ilmu disini setelah selesai mengurus paspor,” ucap Mahfuz Zulwafie. Orang-orang yang protes itu pun akhirnya pergi.

Pesantren Darussana sendiri sekarang sudah berkembang pesat.  Jika sebelumnya, jalan menuju pesantren terlebih dahulu melintasi pasar dan  lahan kebun karet milik warga, kini tidak lagi. .   Pemerintah Kabupaten Tala  telah memperbaiki akses menuju pesantren.

Sarana di pesantren juga mengalami perubahan. Ada musala yang cukup besar untuk menampung santri.    Hal ini jauh berbeda dibandingkan dulu ketika penulis menginjakkan kaki pertama kali pada awal tahun 2013. Meski demikian, saung yang menjadi khas pesantren yang digunakan santri untuk tidur, masih ada.  

Mahfuz Zulwafie mengatakan, sejak adanya pemberitaan yang ditulis  tentang keberadaan pesantren ini, perlahan  masyarakat tidak lagi menstigmakan negatif. "Banyak kemajuan Ponpes ini sejak ditulis di media, terimakasih," terangnya.

 Dia mengatakan sejatinya pelajaran yang diberikan kepada santri sama dengan pesantren lainnya. Ada   fiqih, nahu syorof, Tafsir hadis, tareh dan pelajaran lain. Bahkan, sekarang ini untuk sekolah mendapat izin dari Kantor Kemenag Tala untuk melaksanakan pendidikan Wustho atau sederajat dengan Tsanawiyah. sedangkan Aliyah belajar bersama dengan Ponpes lain.

Mahfuz juga mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Tala, karena banyak membantu terhadap keberadaan pesantren.  Mulai dari pembangunan musala yang terbuat dari kayu ulin bekas bongkaran bangunan dan jembatan hingga pengerasan jalan dan penmgadaan  sumur dan listrik. Bahkan, ada hibah lahan secara pribadi dari Bupati Tala H Bambang Alamsyah.

"Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Bupati dan Wakil serta Camat, dan Kemenag Tala, saya titip salam," ungkap pria asal Bogor ini.

Jumlah santri pun sekarang bertambah. Tadinya hanya 40  kini sudah mencapai 101 santri. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti dari Aceh, Bogor, Banjarmasin, Tala, hingga Kota Sampit yang merupakan suku dayak.

Mahfuz berharap, keberadaan pesantrennya dapat diterima. Belajar di pesantren ini bisa lebih tenang karena   berada di alam terbuka dengan suasana peohonan yang asri. Tidak ada gangguan atau aktivitas suara bising kendaraan bermotor maupun mesin industri. (ard/ay/ran) 


BACA JUGA

Jumat, 15 Desember 2017 15:23

Setengah Hari di Hutan Mangrove Langadai Kelumpang Hilir Kotabaru

Tombak ulin yang tengahnya berlubang mereka angkat ke depan wajah. Kemudian mereka tiup pangkalnya,…

Senin, 11 Desember 2017 13:14

Melihat Tradisi Mandi Kebal di Hulu Sungai Selatan

Masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) selain akrab dengan tradisi membawa senjata tajam (sajam)…

Senin, 11 Desember 2017 10:38

Wayang Kulit Banjar Hibur Pengunjung Perpusda

Asam pauh dalima pauh, rama-rama batali banang. Ndiiiiiiih yaaaaaing. Ikam jauh aku jauh, sama-sama…

Rabu, 06 Desember 2017 12:05

Meriahnya Perayaan Baayun Maulid di Masjid Nurul Amilin

Ribuan manusia berjejal di Masjid Nurul Amilin, di Jalan Kelayan B Timur, Kelurahan Haur Kuning, Kecamatan…

Selasa, 05 Desember 2017 14:01

Masyarakat Lawan Pemburu Telur Penyu

Sejak dinyatakan sebagai salah satu hewan langka oleh pemerintah, penyu dan telurnya tak lagi diperjualbelikan.…

Selasa, 05 Desember 2017 11:49

Duel Berdarah Lagi di Kelayan, Begini Kronologisnya

BANJARMASIN - Dua orang pria dilarikan ke rumah sakit berbeda karena terlibat perkelahian menggunakan…

Senin, 04 Desember 2017 15:30

Memprihatinkan..!! Sulitnya Akses Pendidikan di Pulau Sembilan

Tak hanya persoalan kesehatan, masyarakat Pulau Sembilan juga masih tertinggal dalam urusan pendidikan.…

Sabtu, 02 Desember 2017 19:47

Naik Kapal Perang, Terjang Gelombang Dua Meter

Dengan kecepatan angin 15 sampai 30 knot, kapal perang yang kami tumpangi bertolak dari Dermaga Stagen,…

Jumat, 01 Desember 2017 15:06

Pukulan Telak Bagi Guru Daerah Terpencil

Tiga edisi laporan masyarakat Paminggir sudah diterbitkan. Tulisan ini ibarat catatan kaki. Menyuarakan…

Kamis, 30 November 2017 15:20

ML Siang-Malam, Iwak Karing Bikin Hipertensi

JELANG AZAN ISYA, diawali lampu yang berkedap-kedip, listrik mendadak padam. Tanpa dikomando, para guru…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .