MANAGED BY:
SELASA
22 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Selasa, 28 Februari 2017 15:37
Kisah Pesantren Darussana yang Pernah Dipandang sebagai “Ponpes ISIS”

Santri Malah Bertambah karena Sarana Lebih Baik

ASRI-Keberadaan Saung yang tidak hanya diperuntukkan saat belajar, juga untuk tidur santri Ponpes Darussana.

PROKAL.CO, Pondok Pesantren Darussana Desa Sungai Cuka, Kecamatan Kintap   Tanah Laut (Tala) pernah mendapat stigma yang tak sedap beberapa waktu lalu. Pesantren ini dituduh berafiliasi dengan organisasi teroris Islamic State Of Iraq n Syria (ISIS). Bagaimana keadaanya sekarang?

------------------------------------------------------------------

ARDIANSYAH HAIRIYADI, Pelaihari

------------------------------------------------------------------

Peristiwa yang melahirkan anggapan radikal terhadap pesantren Darussanaa itu berawal dari dideportasinya dua santri dari Malaysia, beberapa waktu lalu. Imigrasi Kalsel memulangkan dua santri itu karena masa aktif passport mereka telah habis.

Nah, pendeportasian santri negara luar ini kemudian menimbulkan banyak spekulasi dari masyarakat. Beredar isu pelajaran yang diajarkan adalah pelajaran agama yang radikal, yang dianggap ada hubungannya dengan organisasi ISIS.  Beberapa orang kemudian mendatangi pesantren Darussanaa.

Sang pengasuih Ustadz Mahfuz Zulwafie akhirnya menjelaskan fakta yang sebenarnya tentang materi pelajaran di pesantren yang sebenarnya tak jauh beda dengan pesantren-pesantren lainnya di Kalimantan Selatan.  

"InsyaAllah habis lebaran ini, mereka datang lagi untuk menimba ilmu disini setelah selesai mengurus paspor,” ucap Mahfuz Zulwafie. Orang-orang yang protes itu pun akhirnya pergi.

Pesantren Darussana sendiri sekarang sudah berkembang pesat.  Jika sebelumnya, jalan menuju pesantren terlebih dahulu melintasi pasar dan  lahan kebun karet milik warga, kini tidak lagi. .   Pemerintah Kabupaten Tala  telah memperbaiki akses menuju pesantren.

Sarana di pesantren juga mengalami perubahan. Ada musala yang cukup besar untuk menampung santri.    Hal ini jauh berbeda dibandingkan dulu ketika penulis menginjakkan kaki pertama kali pada awal tahun 2013. Meski demikian, saung yang menjadi khas pesantren yang digunakan santri untuk tidur, masih ada.  

Mahfuz Zulwafie mengatakan, sejak adanya pemberitaan yang ditulis  tentang keberadaan pesantren ini, perlahan  masyarakat tidak lagi menstigmakan negatif. "Banyak kemajuan Ponpes ini sejak ditulis di media, terimakasih," terangnya.

 Dia mengatakan sejatinya pelajaran yang diberikan kepada santri sama dengan pesantren lainnya. Ada   fiqih, nahu syorof, Tafsir hadis, tareh dan pelajaran lain. Bahkan, sekarang ini untuk sekolah mendapat izin dari Kantor Kemenag Tala untuk melaksanakan pendidikan Wustho atau sederajat dengan Tsanawiyah. sedangkan Aliyah belajar bersama dengan Ponpes lain.

Mahfuz juga mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Kabupaten Tala, karena banyak membantu terhadap keberadaan pesantren.  Mulai dari pembangunan musala yang terbuat dari kayu ulin bekas bongkaran bangunan dan jembatan hingga pengerasan jalan dan penmgadaan  sumur dan listrik. Bahkan, ada hibah lahan secara pribadi dari Bupati Tala H Bambang Alamsyah.

"Saya mengucapkan banyak terimakasih kepada Bupati dan Wakil serta Camat, dan Kemenag Tala, saya titip salam," ungkap pria asal Bogor ini.

Jumlah santri pun sekarang bertambah. Tadinya hanya 40  kini sudah mencapai 101 santri. Mereka berasal dari berbagai daerah, seperti dari Aceh, Bogor, Banjarmasin, Tala, hingga Kota Sampit yang merupakan suku dayak.

Mahfuz berharap, keberadaan pesantrennya dapat diterima. Belajar di pesantren ini bisa lebih tenang karena   berada di alam terbuka dengan suasana peohonan yang asri. Tidak ada gangguan atau aktivitas suara bising kendaraan bermotor maupun mesin industri. (ard/ay/ran) 


BACA JUGA

Minggu, 20 Agustus 2017 13:19

Sejarah Panjang Kain Sasirangan: Hasil Bertapa Patih Lambung Mangkurat 40 Hari 40 Malam

Seperti kain nusantara umumnya, kain sasirangan punya banyak cerita. Kain khas Kalsel ini dipercaya…

Sabtu, 19 Agustus 2017 12:25

Hunting Bareng di  Desa Wisata Wadian Tambai Halong

Keelokan Desa Wisata Wadian Tambai, Kabupaten Balangan, yang menyimpan ragam seni  dan budaya serta…

Jumat, 18 Agustus 2017 16:33

Begini Kemeriahaan Hari Kemerdekaan di Lembaga Pemasyarakatan

Hari Kemerdekaan menjadi hari yang selalu ditunggu para narapidana setiap tahunnya. Alasannya lebih…

Jumat, 18 Agustus 2017 15:54

Ketika Warga Angkasa Gelar Apel Sendiri

Upacara bendera 17 Agustus bukan milik kantor pemerintah atau sekolah semata. Itulah yang coba dibuktikan…

Jumat, 18 Agustus 2017 15:37

Ketika Tahanan Polsekta Banjarmasin Timur Ikut Rayakan Kemerdekaan RI

Para tahanan Polsekta Banjarmasin Timur juga bisa merasakan kemeriahan HUT Kemerdekaan RI ke-72. Bahkan…

Sabtu, 12 Agustus 2017 15:30

Melihat Kondisi Rehabilitasi Pecandu Narkoba di Kalsel

Meski gencar diperangi, kasus-kasus narkoba di Kalsel terus meningkat. Hukuman mati yang diterapkan…

Kamis, 10 Agustus 2017 11:14

Mengenal Komunitas Yamaha Vixion Club Indonesia Chapter Seribu Sungai

BANJARMASIN – Jika club motor pada umumnya melakukan touring di wilayah perkotaan dengan menyusuri…

Rabu, 09 Agustus 2017 15:02

Rio, Remaja Penderita Leukimia Perlu Pengobatan

Di saat teman-teman sebayanya sedang asik menikmati masa sekolah, M Rio Ramadhan terbaring lemas di…

Sabtu, 05 Agustus 2017 18:10

Kisah Jambret Muda yang Sudah Tiga Kali Masuk Penjara

Baru berumur 18 tahun, LB sudah punya riwayat kejahatan yang panjang. Aksi terakhirnya menjambret di…

Kamis, 03 Agustus 2017 15:46

Kisah Ahmad Sofyan, Tukang Urut yang Akhirnya Naik Haji

Kisah perjuangan yang luar biasa dari orang biasa, untuk pergi berhaji mampu memotivasi siapapun. Seperti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .