MANAGED BY:
SELASA
27 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Jumat, 24 Maret 2017 15:04
Berita Tanah Laut
Tiga Desa di Tanah Laut Siaga Serangan Bangkui

Tangkap Bangkui Putih Dapat 1 Juta

BERJAGA-Puluhan Warga dan aparat Polsek Batu Ampar serta pihak BKSDA sedang berjaga adanya gerombolan Bangkui memasuki perkebunan.

PROKAL.CO, Tiga Warga Desa di Kabupaten Tanah Laut (Tala) resah  dengan keberadaan beruk atau di Banua biasa disebut bangkui.  Jenis hewan yang menyerupai kera namun tidak berekor panjang itu suka menyerang warga yang sedang berkebun.

------------------------------------------------------------

ARDIAN HAIRIANSYAH, PELAIHARI

------------------------------------------------------------

Diketahui, ketiga desa itu diantaranya Desa Bluru, Desa Pantai Linuh di Kecamatan Batu Ampar dan Desa Pamalongan Kecamatan Bajuin. Secara geografis ketiga desa itu sangat berdekatan dengan batas perkebunan karet dan sawit, baik itu lahan milik pribadi maupun milik perusahaan.

Kemunculan bangkui ini datang secara bergerombol yang berada di tengah perkebunan tersebut, dalam satu gerombolan itu dipenuhi baik bangkui dewasa maupun masih anak. Sehingga keberadaaan bangkui itu membuat warga tidak berani pergi ke kebun.

Slamet Purwadi (30) warga RT 7 Desa Bluru Kecamatan Batu Ampar menjadi korban keganasan bangkui tersebut bersama Istrinya Siti Fadilah.“Saya luka diterjang bangkui itu,” ucapnya kepada Radar Banjarmasin, Kamis (22/5).

Dirinya menceritakan, saat itu dirinya sedang menyadah pohon karet pada pagi  dan secara tiba-tiba dari belakang datang dua ekor bangkui.  Satu bangkui menerjangnya sementara bangkui yang lain menunggu. Slamet pun bergumul dengan bangkui sembari berteriak-teriak minta tolong.   

“Leher saya mau digigit dan tangan saya dipelintir oleh bangkui,” jelasnya.

Beruntung, suara tolong tersebut didengar warga lain dan akhirnya bangkui berlari. Luka di punggung dan di tangan Slamet   harus mendapat perawatan dari petugas kesehatan. “Saya luka langsung ke mantri dan disuntik antibiotik,” ungkapnya.

Kejadian ini juga dialami oleh Supriyono warga RT 6 Desa Pantai Linuh. Namun dia masih beruntung saat diserang oleh bangkui karena sempat berlari manjauhi binatang primata tersebut.

“Saya lari, tak berani melawan hewan itu,” tandasnya.

Kejadian ini membuat Kepala Desa Pantai Linuh  M Ali Ma’ruf selama seminggu ini dipusingkan oleh keresahan warga dengan keberadaan Bangkui, sehingga dirinya membuat status desanya “siaga satu” terhadap keberadaan bangkui ini.

“Seratus ekor lebih ada berkeliaran di desa kami,” sebutnya.

Selain itu, pihaknya juga membuat sayembara bagi warganya yang berhasil menangkap Bangkui ini, akan mendapat imbalan Rp 200 ribu dan jika menemukan bangkui berwarna putih akan mendapatkan imbalan Rp 1 Juta.

“Ada 7 ekor yang menyerang warga dan yang berwarna putih itu paling besar,” jelasnya.

Adanya bangkui ini juga sudah didengar oleh Pihak Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Banjarbaru dan Polsek Batu Ampar, dan jajarannya sudah melakukan penjagaan terhadap keberadaan bangkui ini.

Saragih salah satu Polisi Kehutanan BKSDA Kalsel menyebutkan, keberadaan Bangkui memasuki areal perkebunan warga ini, akibat kawasan yang menjadi tempat tinggalnya terusik. Lantaran hutan yang seharusnya menjadi habitat bangkui menjadi terganggu. Sehingga kelompok Bangkui ini mencari lokasi baru sebagai tempat tinggal.

“Ini semua ulah manusia sendiri,” tutupnya.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Desa Pantai Linuh masih melakukan pencarian, bahkan malam hari perburuan juga dilakukan  warga. (ard/ay/ran) 


BACA JUGA

Sabtu, 24 Juni 2017 11:52

Ekspedisi Islam 3: Habib Penjaga Kotabaru (habis)

  Situs makam Assyarif Al-Habib Husein menjadi makam keramat paling tertua di Kotabaru. Apabila…

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Rabu, 21 Juni 2017 15:45

Ekspedisi Islam 3: Kain Hijau di Nisan & Kisah Pembantaian Pangeran

Ada makam misterius yang nisannya dibalut kain hijau di Desa Mantewe, kecamatan Mantewe kabupaten Tanah…

Selasa, 20 Juni 2017 17:06

Ekspedisi Islam 3: Keteguhan Iman & Raksasa Mata Satu (Bagian 25)

Praktik melawan tahayul pernah dilakukan habis-habisan oleh warga transmigran di Desa Rejosari, Kecamatan…

Minggu, 18 Juni 2017 18:03

Ekspedisi Islam 3: Meraba Islam di Kampung Tionghoa

Jika Balangan punya Majelis Ta'lim untuk menampung mualaf di punggung Pegunungan Meratus, Tanah Laut…

Sabtu, 17 Juni 2017 14:46

Ekspedisi Islam Kalsel 3: Nyala Pelita di Malam Suka Cita (Bagian 22)

Malam-malam terakhir di bulan Ramadan selalu dinanti warga Desa Kiram Atas. Salah satu desa di pelosok…

Jumat, 16 Juni 2017 15:14

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dianugerahi Kemampuan Menyembunyikan Warga

Syiar Islam di daerah punggung Meratus Balangan juga tak luput dari peran seorang habib. Sisi lain Habib…

Jumat, 16 Juni 2017 14:29

Ekspedisi Islam Jilid 3: Setitik Asa di Kampung Muallaf

Bagaimana jadinya apabila para muallaf yang tinggal di punggung Pegunungan Meratus membentuk sebuah…

Senin, 12 Juni 2017 09:05

Ekspedisi Islam Jilid 3: Tinggalkan Jejak Islam di Tanah Dayak

Khatib Dayan tak main-main soal misinya menyebarkan ajaran agama. Setelah Pangeran Sultan Suriansyah…

Sabtu, 10 Juni 2017 11:28

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dapat Amanah Berdakwah Dari Rasulullah (Bagian 13)

Perintah Rasulullah SAW membawa Syekh Abubakar akhirnya hijrah ke Tanah Banjar untuk berdakwah. Kini,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .