MANAGED BY:
KAMIS
29 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Sabtu, 01 April 2017 22:10
Kisah Suami Istri Pembuat Gula Merah di Desa Kaliring Dalam

Keterampilan yang Dikuasai Turun-temurun

MEMBUAT GULA MERAH: Siti Munawarah mengaduk bahan gula merah dan memasukkannya ke dalam cetakan.

PROKAL.CO, Wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) menjadi salah satu daerah pembuat gula merah secara tradisional. Berbahan bakunya diambil dari air nira atau aren yang keberadaannya memang berlimpah di daerah ini.

SALAHUDIN, Kandangan

SALAH satu pembuatan gula merah tradisional di Kabupaten HSS terdapat di Kecamatan Padang Batung. Tidak terkecuali Desa Kaliring Dalam yang ditekuni sepasang suami istri bernama Siti Munawarah (39) dan Sakerani (43).
Sore Selasa (28/3) lalu penulis sengaja berkunjung untuk melihat bagaimana cara Munawarah membuat gula merah yang ditekuninya bersama suami.

Saat ditemui, ibu satu anak ini sedang asyik mengaduk-aduk air nira di sekitar rumahnya yang sudah mengental setelah melalui proses direbus atau di masak sekitar tujuh jam sampai delapan jam dalam kuali besar, di atas tungku yang terbuat dari tanah liat. “Jam sembilan pagi tadi mulai memasaknya, ini di aduk-aduk dulu biar merata,” ujarnya mengawali pembicaraan.

Setelah cukup merata, air nira yang sudah mengental dan berwarna merah tersebut langsung dimasukan ke cetakan berbahan plastik. “Satu cetakannya sekitar setengah kilogram,” ucapnya.

Diceritakan Munawarah, menekuni pembuatan gula merah sudah sekitar sepuluh tahun terakhir dilakukannya. Setelah mertuanya yang juga pembuat gula merah meninggal dunia. “Sejak sekitar 2007 lalu saya bersama suami membuat gula merah. Setelah mertua meninggal, jadi bisa dikatakan turunanlah membuat ini (pembuatan gula merah),” tuturnya.

Diungkapkannya, membuat gula merah hampir setiap hari dilakukannya dibantu suaminya. Di pagi harinya suami yang mencari pohon aren untuk mengambil air yang lebih dikenal oleh warga dengan sebutan lahang yang berada di belakang rumahnya.

“Mulai pagi suami mengambil lahang dulu untuk dikumpulkan, setelah terkumpul sekitar 45 liter sampai 50 liter baru di masak di tungku yang sudah ada. Sedangkan buat besoknya lahang diambil sore hari,” ucapnya.

Dijelaskan Munawarah, saat proses memasak baru dirinya yang melakukannya. Meski proses memasak cukup mudah tetapi, ada trik-trik khusus yang dilakukan, agar hasilnya yang didapatkan menjadi lebih manis. “Sebab kalau lahangnya agak tua bisa kurang manis. Tapi, dengan trik-trik tertentu hasilnya menjadi manis,” katanya.

Menurutnya, dalam setiap hari membuat gula merah dari 45 liter sampai 50 liter lahang yang dimasak bisa menghasilkan sekitar sepuluh kilogram gula merah yang siap dijual kepada pembelinya. “Ya sekitar sepuluh kilogramlah setiap harinya saya bersama suami bisa membuat gula merahnya,” terangnya.

Dikatakan Munawarah, gula merah yang sudah jadi dibuatnya kebanyakan tidak dijual ke pasar lagi, karena sudah ada orang yang membelinya. “Langganan nanti langsung datang ke rumah, per kilogramnya dijual Rp 15 ribu,” imbuhnya.

Dari hasil membuat gula merah setiap harinya, Munawarah mengaku cukup membantu untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. “Ya alhamdulillah bisa buat tambah penghasilan keluarga lah selain bertani,” pungkasnya. (yn/ram)


BACA JUGA

Sabtu, 24 Juni 2017 11:52

Ekspedisi Islam 3: Habib Penjaga Kotabaru (habis)

  Situs makam Assyarif Al-Habib Husein menjadi makam keramat paling tertua di Kotabaru. Apabila…

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Rabu, 21 Juni 2017 15:45

Ekspedisi Islam 3: Kain Hijau di Nisan & Kisah Pembantaian Pangeran

Ada makam misterius yang nisannya dibalut kain hijau di Desa Mantewe, kecamatan Mantewe kabupaten Tanah…

Selasa, 20 Juni 2017 17:06

Ekspedisi Islam 3: Keteguhan Iman & Raksasa Mata Satu (Bagian 25)

Praktik melawan tahayul pernah dilakukan habis-habisan oleh warga transmigran di Desa Rejosari, Kecamatan…

Minggu, 18 Juni 2017 18:03

Ekspedisi Islam 3: Meraba Islam di Kampung Tionghoa

Jika Balangan punya Majelis Ta'lim untuk menampung mualaf di punggung Pegunungan Meratus, Tanah Laut…

Sabtu, 17 Juni 2017 14:46

Ekspedisi Islam Kalsel 3: Nyala Pelita di Malam Suka Cita (Bagian 22)

Malam-malam terakhir di bulan Ramadan selalu dinanti warga Desa Kiram Atas. Salah satu desa di pelosok…

Jumat, 16 Juni 2017 15:14

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dianugerahi Kemampuan Menyembunyikan Warga

Syiar Islam di daerah punggung Meratus Balangan juga tak luput dari peran seorang habib. Sisi lain Habib…

Jumat, 16 Juni 2017 14:29

Ekspedisi Islam Jilid 3: Setitik Asa di Kampung Muallaf

Bagaimana jadinya apabila para muallaf yang tinggal di punggung Pegunungan Meratus membentuk sebuah…

Senin, 12 Juni 2017 09:05

Ekspedisi Islam Jilid 3: Tinggalkan Jejak Islam di Tanah Dayak

Khatib Dayan tak main-main soal misinya menyebarkan ajaran agama. Setelah Pangeran Sultan Suriansyah…

Sabtu, 10 Juni 2017 11:28

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dapat Amanah Berdakwah Dari Rasulullah (Bagian 13)

Perintah Rasulullah SAW membawa Syekh Abubakar akhirnya hijrah ke Tanah Banjar untuk berdakwah. Kini,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .