MANAGED BY:
SABTU
24 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Kamis, 06 April 2017 16:30
Saprah Amal, Tradisi Lelang Tradisional yang Masih Dipertahankan di HSU

Kue Bolu Bisa Tembus Jutaan Rupiah

TRADISI: Proses Saprah Amal di Desa Rantau Bujur Kecamatan Sungai Tabukan HSU.

PROKAL.CO, Saprah Amal atau proses lelang jajanan atau barang lekat pada tradisi masyarakat Hulu Sungai Utara. Kebiasaan ini hadir sebagai solusi mencari dana untuk proses pembangunan masjid dan musala bahkan kas kosong desa.

-----------------------------------------------------

MUHAMMAD AKBAR, Amuntai

-----------------------------------------------------

Tradisi Saprah Amal atau Lelang Jajanan dan barang rumah tangga lainnya sudah melekat lama pada kebiasaan masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Utara. Tradisi ini masih bisa dijumpai pada desa sampai sekarang.

Acara Saprah Amal tidak mengenal musim, namun lebih pada kebutuhan fasilitas ibadah masyarakat yang proses pencarian dana dilaksanakan melalui tradisi tersebut. Salah satu kegiatan yang baru dilaksanakan di Desa Rantau Bujur Darat Kecamatan Sungai Tabukan.

Panitia pelaksana Marsuki pada Radar Banjarmasin, belum lama tadi, mengakui bahwa acara Saprah Amal yang dilaksanakan di desanya tidak lain merupakan agenda untuk menggalang dana melalui proses lelang.

Dana yang dikumpulkan akan dimasukkan pada kas pembangunan masjid maupun kas sosial desa. Animo warga sangat baik setiap dilaksanakannya Saprah Amal yang dilaksanakan baru-baru ini.

"Warga kami datang selain untuk melihat kegiatan, ada juga datang sebagai peserta lelang yang niat untuk ikut lelang produk seperti jajanan (kue) ataupun produk rumah tangga yang ditawarkan panitia," ungkapnya.

Untuk pastinya pelaksanaan tradisi ini berjalan, tentu sudah lama dan turun temurun. Dulu masih menggunakan obor atau pertromaks saat ini bertabur cahaya dengan adanya listrik.

Yang disediakan dalam proses lelang yakni kue-kue termasuk gorengan dan alat-alat rumah tangga. Dan yang paling jadi ciri yakni hadirnya kue Gulambin (Bolu, red) yang kerap diburu oleh peserta lelang.

"Karena niat ibadah. Maka warga rela menawar dengan harga tinggi. Jika perang tawaran terjadi kue bisa naik menjadi ratusan ribu. Bahkan tembus jutaan rupiah. Uang Saprah tidak kami ambil namun dimasukkan dalam kas masjid atau kas sosial desa," terangnya.

Sementara itu, menurut pandangan pemerhati tradisi warga Amuntai, Ahdiat Gazali Rahman, menilai bahwa acara Saprah Amal sudah jadi ciri masyarakat Banjar khususnya di HSU.

Makna dari tradisi ini yakni penanaman jiwa gotong royong, sebab mustahil mendapatkan dana puluhan juta untuk pembangunan masjid tanpa urunan dengan warga. Hadirnya tradisi ini di tengah-tengah warga kala itu.

"Sejak saya anak-anak tradisi Saprah Amal sudah ada. Kapan pastinya dan siapa yang memulai belum dikaji mendalam," ungkap Ahdiat yang juga seorang penulis buku budaya tersebut.

Mengapa ada jajanan atau alat-alat rumah tangga yang sederhana nilainya secara ekonomi, namun mampu dijual dengan harga lebih?

"Kue ataupun alat hanya sebagai bentuk penghargaan pada donatur (pemenang lelang, red). Dari pihak panitia. Dan cara ini jitu sebab setiap pelaksanaan sapral amal mampu mendatangkan sumbangan mencapai puluhan juta rupiah," terangnya.

Bahkan masyarakat Amuntai di perantauan yang sukses, apabila mengetahui ada acara ini maka dipastikan mereka akan pulang ke kampung untuk mengikuti lelang di Saprah Amal. "Ini bukti bahwa tradisi ini sangat dinanti-nanti warga," terangnya lagi. (mar)


BACA JUGA

Kamis, 22 Juni 2017 16:58

Berpuasa di Negeri Ratu Elizabeth; Belajar Toleransi dan Persaudaraan

  Hari itu adalah puasa hari kelima. Setelah bersahur, saya teringat bahwa saya harus bertemu dengan…

Rabu, 21 Juni 2017 15:45

Ekspedisi Islam 3: Kain Hijau di Nisan & Kisah Pembantaian Pangeran

Ada makam misterius yang nisannya dibalut kain hijau di Desa Mantewe, kecamatan Mantewe kabupaten Tanah…

Selasa, 20 Juni 2017 17:06

Ekspedisi Islam 3: Keteguhan Iman & Raksasa Mata Satu (Bagian 25)

Praktik melawan tahayul pernah dilakukan habis-habisan oleh warga transmigran di Desa Rejosari, Kecamatan…

Minggu, 18 Juni 2017 18:03

Ekspedisi Islam 3: Meraba Islam di Kampung Tionghoa

Jika Balangan punya Majelis Ta'lim untuk menampung mualaf di punggung Pegunungan Meratus, Tanah Laut…

Sabtu, 17 Juni 2017 14:46

Ekspedisi Islam Kalsel 3: Nyala Pelita di Malam Suka Cita (Bagian 22)

Malam-malam terakhir di bulan Ramadan selalu dinanti warga Desa Kiram Atas. Salah satu desa di pelosok…

Jumat, 16 Juni 2017 15:14

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dianugerahi Kemampuan Menyembunyikan Warga

Syiar Islam di daerah punggung Meratus Balangan juga tak luput dari peran seorang habib. Sisi lain Habib…

Jumat, 16 Juni 2017 14:29

Ekspedisi Islam Jilid 3: Setitik Asa di Kampung Muallaf

Bagaimana jadinya apabila para muallaf yang tinggal di punggung Pegunungan Meratus membentuk sebuah…

Senin, 12 Juni 2017 09:05

Ekspedisi Islam Jilid 3: Tinggalkan Jejak Islam di Tanah Dayak

Khatib Dayan tak main-main soal misinya menyebarkan ajaran agama. Setelah Pangeran Sultan Suriansyah…

Sabtu, 10 Juni 2017 11:28

Ekspedisi Islam Jilid 3: Dapat Amanah Berdakwah Dari Rasulullah (Bagian 13)

Perintah Rasulullah SAW membawa Syekh Abubakar akhirnya hijrah ke Tanah Banjar untuk berdakwah. Kini,…

Jumat, 09 Juni 2017 16:37

Ekspedisi Islam Jilid 3: Oase Islam di Punggung Meratus

  Keberadaan pondok pesantren Raudhatul Ulum yang persis berada di punggung pegunungan meratus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .