MANAGED BY:
KAMIS
27 APRIL
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | LIFESTYLE | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | SOCIETY | KOMBIS

FEATURE

Kamis, 06 April 2017 16:30
Saprah Amal, Tradisi Lelang Tradisional yang Masih Dipertahankan di HSU

Kue Bolu Bisa Tembus Jutaan Rupiah

TRADISI: Proses Saprah Amal di Desa Rantau Bujur Kecamatan Sungai Tabukan HSU.

PROKAL.CO, Saprah Amal atau proses lelang jajanan atau barang lekat pada tradisi masyarakat Hulu Sungai Utara. Kebiasaan ini hadir sebagai solusi mencari dana untuk proses pembangunan masjid dan musala bahkan kas kosong desa.

-----------------------------------------------------

MUHAMMAD AKBAR, Amuntai

-----------------------------------------------------

Tradisi Saprah Amal atau Lelang Jajanan dan barang rumah tangga lainnya sudah melekat lama pada kebiasaan masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Utara. Tradisi ini masih bisa dijumpai pada desa sampai sekarang.

Acara Saprah Amal tidak mengenal musim, namun lebih pada kebutuhan fasilitas ibadah masyarakat yang proses pencarian dana dilaksanakan melalui tradisi tersebut. Salah satu kegiatan yang baru dilaksanakan di Desa Rantau Bujur Darat Kecamatan Sungai Tabukan.

Panitia pelaksana Marsuki pada Radar Banjarmasin, belum lama tadi, mengakui bahwa acara Saprah Amal yang dilaksanakan di desanya tidak lain merupakan agenda untuk menggalang dana melalui proses lelang.

Dana yang dikumpulkan akan dimasukkan pada kas pembangunan masjid maupun kas sosial desa. Animo warga sangat baik setiap dilaksanakannya Saprah Amal yang dilaksanakan baru-baru ini.

"Warga kami datang selain untuk melihat kegiatan, ada juga datang sebagai peserta lelang yang niat untuk ikut lelang produk seperti jajanan (kue) ataupun produk rumah tangga yang ditawarkan panitia," ungkapnya.

Untuk pastinya pelaksanaan tradisi ini berjalan, tentu sudah lama dan turun temurun. Dulu masih menggunakan obor atau pertromaks saat ini bertabur cahaya dengan adanya listrik.

Yang disediakan dalam proses lelang yakni kue-kue termasuk gorengan dan alat-alat rumah tangga. Dan yang paling jadi ciri yakni hadirnya kue Gulambin (Bolu, red) yang kerap diburu oleh peserta lelang.

"Karena niat ibadah. Maka warga rela menawar dengan harga tinggi. Jika perang tawaran terjadi kue bisa naik menjadi ratusan ribu. Bahkan tembus jutaan rupiah. Uang Saprah tidak kami ambil namun dimasukkan dalam kas masjid atau kas sosial desa," terangnya.

Sementara itu, menurut pandangan pemerhati tradisi warga Amuntai, Ahdiat Gazali Rahman, menilai bahwa acara Saprah Amal sudah jadi ciri masyarakat Banjar khususnya di HSU.

Makna dari tradisi ini yakni penanaman jiwa gotong royong, sebab mustahil mendapatkan dana puluhan juta untuk pembangunan masjid tanpa urunan dengan warga. Hadirnya tradisi ini di tengah-tengah warga kala itu.

"Sejak saya anak-anak tradisi Saprah Amal sudah ada. Kapan pastinya dan siapa yang memulai belum dikaji mendalam," ungkap Ahdiat yang juga seorang penulis buku budaya tersebut.

Mengapa ada jajanan atau alat-alat rumah tangga yang sederhana nilainya secara ekonomi, namun mampu dijual dengan harga lebih?

"Kue ataupun alat hanya sebagai bentuk penghargaan pada donatur (pemenang lelang, red). Dari pihak panitia. Dan cara ini jitu sebab setiap pelaksanaan sapral amal mampu mendatangkan sumbangan mencapai puluhan juta rupiah," terangnya.

Bahkan masyarakat Amuntai di perantauan yang sukses, apabila mengetahui ada acara ini maka dipastikan mereka akan pulang ke kampung untuk mengikuti lelang di Saprah Amal. "Ini bukti bahwa tradisi ini sangat dinanti-nanti warga," terangnya lagi. (mar)


BACA JUGA

Rabu, 26 April 2017 13:44

Mencoba Praktik Terapi Alternatif Al Fasdhu, Keluarkan Racun dari Kaki

AL Fasdhu adalah terapi mengeluarkan darah dari pembuluh vena yang di dalamnya terdapat sumbatan-sumbatan…

Sabtu, 22 April 2017 13:25

Kisah Warga Banua Bantu Pengungsi Suriah di Eropa

Niat awal Oce Oktoman Anggakusumah hanya ingin jalan-jalan ke Eropa. Namun, rasa kemanusiaan pemuda…

Sabtu, 22 April 2017 12:46

Yulianti, Kartini dari Pedalaman Meratus, Mengajar Bermodal Ijazah Paket C

Mentari belum sempurna menampakkan diri, Yulianti (24) sudah bergegas mengenakan pakaian rapi untuk…

Jumat, 21 April 2017 16:10

Para Kartini Tangguh Dari Ujung Banua, Mendidik di Perbatasan

Tina Kartina membiarkan air matanya tumpah di pipi. Gempuran angin dan riuh ombak Laut Jawa mengantarnya…

Jumat, 21 April 2017 15:52

Dese Yulianti, Komandan di Dunia Para Pria

Supel, energik dan tegas. Tiga kata ini mewakili sosok Kompol Dese Yulianti. Kapolsek Banjarmasin Timur…

Jumat, 21 April 2017 14:25

Kisah Penghuni Perdana Perumahan Difabel Banjarbaru

Nama Heri Suntara dan Mugniansyah bakal tercatat dalam sejarah kecil kota Banjarbaru. Sebagai penghuni…

Jumat, 21 April 2017 13:58

Kreatif Banget, Siswa ini Bikin Abon dari Kulit Nenas dan Pisang

Rusminah keranjingan buah nenas. Namun, setelah kenyang ia selalu merasa terganggu, melihat tumpukan…

Selasa, 18 April 2017 10:56

Sejarah Masjid Jami Banjarmasin, Kisah yang Perlu Diketahui

Sebagai salah satu masjid tertua di Kota Banjarmasin, Masjid Jami Sungai Jingah tentu memiliki kisah…

Minggu, 16 April 2017 18:39

Menyicipi Nikmatnya Kue Cinta di Pasar Amuntai

Kue Cincin Talipuk lazim disebut wadai cinta.  DI Amuntai, ini telah menjadi jajanan yang cukup…

Sabtu, 15 April 2017 14:04

Syachrizal, Nama Baru Harapan Banua di Barito Putera

Barito Putera sering kesulitan mencari pemain lokal berkualitas. Kini harapan itu ada di pundak Syachrizal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .